(reported by Aviaddina Ramadhani) 

Penerima beasiswa aktivis harus menulis. Barangkali itulah alasan kuat mengapa para BA UNS mengadakan kegiatan kali ini. Tepat hari Kamis tanggal 24 Mei 2012 lalu, BA UNS mengunjungi salah satu tokoh esais ternama di kota Solo yaitu Bandung Mawardi. Tujuan BA UNS ini apa lagi kalau bukan untuk mencari sedikit cipratan asam garam beliau yang sudah melanglang buana menjadi kolumnis di berbagai media massa.

Pertama kali menginjakkan kaki di rumah beliau, pandangan mata langsung tertuju pada tumpukan buku yang hampir memenuhi seluruh ruang tamu. Bukan main banyaknnya. Pantaslah kiranya beliau menjadi penulis yang mumpuni karena buku sudah menjadi santapan lahapnya setiap hari.

Dengan kaos oblong kesayangan dan sarung nyaman, mas Bandung (demikian kami menyebutnya) menyambut kami dengan tangan terbuka. Kami saling duduk bersila sembari menikmati senja yang mulai turun. Obrolan semula masih terkesan formal. Mulai dari mengapa ingin menulis, bagaimana agar dimuat, dan masalah klise lainnya. Namun dengan ciri khas mas Bandung yang memang kerap berbicara tanpa tedeng aling-aling, suasana pun perlahan mencair. Bahkan tak jarang mas Bandung melontarkan sindiran tajam pada mahasiswa yang tentunya seorang intelektual tapi kalah darinya yang justru lebih banyak menulis dan membaca.

Awalnya Mas Bandung meralat tujuan kami semula. Beliau beranggapan bahwa dimuat di media bukanlah segala-galanya. Yang lebih penting adalah bagaimana menyampaikan gagasan itu dan bagaimana gagasan itu bisa dibaca oleh orang banyak. Sedikit banyak visi yang diluruskan oleh mas Bandung ini telah seiring dengan visi yang diusung oleh Dompet Dhuafa lewat program Beasiswa Aktivisnya, yaitu bagaimana para aktivis yang biasanya berpikiran kritis mampu mengomunikasikan pikirannya kepada masyarakat. Hanya perkaranya, sasaran masyarakat yang dibidik oleh para BA memang lebih mudah dicapai jika disalurkan lewat media massa.

Gagasan yang disampaikan para mahasiswa seringkali terlalu muluk dan jauh di awang-awang. Barangkali gagasannya memang brilliant, bahkan terlalu brilliant sampai-sampai tak layak untuk dituangkan di sebuah media massa. Mas Bandung memberikan saran agar mahasiswa berpikir semuanya secara holistic. Kritisi segala hal dari hal yang terkecil. Contohnya, mulai dari definisi masalahnya itu sendiri karena terkadang hanya dengan mencerna definisi kata saja kita sudah dapat mengurai permasalahannya.

Hal yang tak kalah penting lainnya yaitu bahasa mahasiswa yang cenderung kaku layaknya penulisan deskriptif. Mahasiswa sejak awal hanya dilatih menggunakan inderanya hingga terbentuk deskripsi yang terkotak-kotak dan terangkai menjadi sebuah kata. Namun, alangkah lebih baiknya jika semuanya dituturkan dalam bahasa pengisahan. Penyampaian akan lebih mengalir dan tentunya aliran pesan pun akan lebih bisa tersampaikan.

Sebagai seorang intelektual, apalagi dengan embel-embel aktivis, mahasiswa seharusnya mampu membuat esai dengan mudah. Sayangnya, label aktivis tersebut justru seringkali dijadikan alasan bagi para mahasiswa untuk tidak menulis. Mas Bandung sendiri sebagai pengelola diskusi sastra ‘Pengajian Malam Senin’ sering mengritik habis-habisan anggota diskusinya yang tak disiplin hanya karena kesibukan kampus semata. Bagi Mas Bandung tak ada alasan apapun, bahkan setiap alasan pasti bisa terbantahkan. Artinya jika memang serius ingin menulis, serius ingin membagikan pemikiran pada khalayak, harus ada keseriusan pula dalam menyisihkan waktu untuk menulis dengan membaca.

Obrolan santai tersebut cukup membekas di hati para BA UNS. Bahkan rencana silaturahim yang hanya hingga Magrib bisa berlanjut hingga hampir jam delapan malam. Semua itu karena bius Mas Bandung yang membuat para BA UNS terhipnosis dan tergerak untuk segera mengisahkan pemikiran-pemikiran kritisnya lewat sebuah tulisan.

Di akhir kunjungan, BA UNS dan Mas Bandung saling bertukar buku. BA UNS memberikan buku ‘Belajar Merawat Indonesia’ sebagai bukti bahwa kami mahasiswa aktivis benar-benar akan serius untuk menulis demi menelurkan gagasan brilian kami. Dan Mas Bandung menghadiahi kami buletin esai sebagai bukti bahwa mereka gigih mengisahkan kehidupan dengan penuh kekritisan.