Lokasi             : RS 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Pemateri          : Mas Udhi

Tema               : Sinergi

Tanggal           : 30 Mei 2015

Pukul               : 9.00-11.30 WIB

Notulis            : Elvia Rahmi M.P.

PENDAHULUAN

Kita harus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Berkembang berbeda artinya dengan berubah, karena berkembang berarti kita tidak mengganti ideologi awalnya, hanya membuatnya menjadi semakin besar dan terasa keberadaanya. Karena itulah Dompet Dhuafa juga berkembang dan bertransformasi menjadi lembaga pengelola dana umat yang terpercaya dalam memberdayakan masyarakat dan membentuk kepribadian yang kuat. Dompet Dhuafa berfokus pada pemberdayaan masyarakat marginal yang memiliki core activity dalam pendidikan yang berkualitas.

Dalam sebuah organisasi, ada sebuah segitiga kunci yang harus diperhatikan.

Visi atau tujuan merupakan hal yang ingin kita capai. Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan suatu sistem yang jelas dan sumber daya manusia yang mumpuni. Ketiga hal ini terikat dengan value (nilai) yang membuat organisasi lebih bermakna dan lebih mudah dalam mencapai tujuannya. Yayasan pendidikan dompet dhuafa tahun ini merubah beberapa value yang ada di dalam program-programnya terkait dengan pemisahan antara yayasan pendidikan dengan dompet dhuada itu sendiri. Nilai-nilai ataupun value yang diharapkan ada dalam sumber daya dan sistem pada Yayasan pendidikan dompet dhuafa meliputi, (1) Sinergi, (2) Persistent (Keuletan, kegigihan), (3) Inovatif, (4) Care (Peduli, melayani), (5) Continues Improvement (Perbaikan berkelanjutan), dan (6) Trustworthy (Amanah).

SINERGIS

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran….” (QS. Al Maidah : 2)

Dalam suatu hubungan yang sinergis, Stephen Covey mendefinisikannya sebagai 1+1>2, karena dalam sinergis kita bicara tentang proses, nilai tambah yang tidak terbatas. Satu kebaikan ditambah dengan 1 kebaikan, bisa jadi hasilnya berlipat-lipat kebaikan. Dompet Dhuafa memiliki definisi tersendiri untuk sinergis, yaitu menjalin hubungan kerjasama produktif dengan sumber internal dan sumber eksternal sehingga kemudian dapat mewujudkan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas diri dan masyarakat. Ada proses berupa membentuk kerjasama produktif dan ada output berupa meningkatnya kualitas diri dan masyarakat. Untuk itu, kita perlu merubah paradigma SUPERMAN menjadi SUPERTEAM.

Saat ini, dunia meunjukkan tren untuk bergerak bersama, berkolaborasi untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya saja AFTA (Asean Free Trade Area) sebagai salah satu program dari MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang memiliki tujuan bersama untuk memajukan ekonomi asia tenggata, bukan lagi perekonomian negara masing-masing. Atau kita juga bisa melihat NATO, SEATO ataupun organisasi sejenis yang lain. Dalam hal kemanusiaan pun, orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap sesuatu akan menyalurkan kepeduliannya itu lewat komunitas, komunitas-komunitas juga dapat saling berkolaborasi dan bergerak bersama untuk membangun kualitas masyarakat, semakin banyak yang terlibat dan bersinergi makan kebaikan yang dihasilkan pun semakin ‘berdampak’. Di era global ini pun, manusia ataupun komunitas-komunitas tidak hanya terhubung secara fisik, tapi juga lewat virtual melalui media-media sosial, website, dan sebagainya. Maka, memang saat ini bukan lagi masanya untuk bergerak sendiri-sendiri dan menjadi single fighter. Kolaborasi dan semangat menyinergiskan potensi-potensi kebaikan akan memberikan efek lebih besar dibandingkan dengan mengerjakan sendiri.

Dalam membangun sebuah sinergisitas, maka diperlukan kesatuan misi dan nilai, pembagian peran, dan hubungan yang harmonis. Membangun pola sinergis yang baik, dimulai dari kepercayaan yang wajar dan komitmen yang jelas. Tidak ada sinergisitas tanpa tanggung jawab masing-masing pemainnya. Dengan begitu kita sebagai ‘pemain utama’ menjadi tahu kapan harus bersabar dan kapan harus berhenti. Terkadang untuk membuat suatu sinergisitas yang baik, diperlukan sebuah musuh bersama yang nyata dan sama-sama dirasakan, disamping dari tujuan awal kita. Musuh bersama atau common enemy ini bisa benar-benar ada atau dimunculkan berdasarkan kebutuhan kondisi, Selain itu, dalam menyikapi perbedaan-perbedaan dalam internal sehingga menimbulkan ketidakharmonisan, manajemen diri dan emosi sangat penting. Kontrol diri yang baik, terutama pada pemimpin, akan membuat konflik lebih terkontrol dan termanajemen dengan baik.

Sinergisitas dalam era modern, dikembangkan dan dijaga melalui evaluasi dan monitoring yang jelas. Dasar evaluasinya adalah kesepakatan yang dibuat diawal dan output yang tercapai, sehingga dalam prosesnya harus ada administrasi yang tercatat dan akuntabel. Sinergisitas tidak hanya bicara person-to-person, namun sering kali juga system-to-system.

PENUTUP

Salah satu tugas dari seorang pemimpin adalah mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya. Namun, tugas utama pemimpin adalah mengkader, membentuk orang-orang baru yang bisa merawat dan mengembangkan ide-ide dan gagasan-gagasan kebaikan.

Bicara tentang value adalah bicara tentang realitas, pola pikir, dan tindakan. Value ini akan membawa kita untuk menjawab tantangan di masa depan, bagaimana Islam bisa menjadi solusi atas permasalahan umat hari ini.