Tahun baru selalu diidentikkan dengan harapan-harapan baru untuk kehidupan. Jika sebagian orang memilih untuk menyambut tahun baru dengan berpesta pora di detik-detik pergantian tahun, maka tim ACBI Bakti Nusa UNS memilih cara tersendiri menyambut tahun baru 2016 ini.

Jum’at, 1 Januari 2016, PM Bakti Nusa 5 UNS mengunjungi 2 pasar tradisional. Misi kali ini berbeda dengan misi di hari-hari sebelumnya. Kali ini kami ingin memberikan kado apresiasi sederhana untuk para’pejuang’ yang selama ini tangguh dan konsisten menyambung pengharapan hidupanya dengan bekerja keras di pasar tradisional.

Awalnya kami mengunjungi Pasar Ledoksari. Setelah mengelilingi pasar tersebut, akhirnya kami menemukan 2 orang perempuan lanjut usia yang begitu luar biasa.

IMG-20160101-WA0018

Mbah Parmi, sosok pertama yang kami temui. Meskipun umur beliau sudah sekitar 65 tahun beliau tetap semangat menjalani profesinya sebagai pedagang. Cabuk rambak adalah makanan tradisional yang beliau jual selama lebih dari 35 tahun. Dari penjualan makanan tersebut beliau bisa menghidupi keluarganya. Beliau biasanya berjualan mulai jam 06.00 WIB hingga 11.00 WIB. Apabila cabuk rambak yang beliau bawa tidak habis terjual di pasar, beliau berkeliling ke kampung-kampung untuk menghabiskannya. Meskipun hanya tinggal berdua dengan Mbah Kakung, beliau tetap semangat untuk mencari penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika kami menanyakan harapan beliau di awal tahun baru ini, beliau hanya mengungkapkan jika masih diberi hidup sehat di tahun ini, masih tetap ingin melestarikan Cabuk Rambak, sebab selama ini makanan tradisional ini  sering dilupakan atau bahkan banyak orang yang belum tahu.

IMG-20160101-WA0014 Sosok kedua yang kami temui adalah Mbah Waginem, salah seorang penjual tempe tahu di Pasar Ledoksari. Sosok perempuan lanjut usia yang bekerja lebih dari 30 tahun ini, bahkan sudah tak ingat berapa usia beliau saat ini. Fisik yang cukup renta dengan penglihatan yang sudah terbatas, ternyata tak senada dengan semangat beliau untuk memperjuangkan kehidupan. Meskipun terkadang sedikit kesulitan untuk melayani pembeli, namun tak sedikit pun patah semangat beliau untuk bekerja keras menghidupi keluarganya. Beliau biasanya berangkat cukup pagi dengan menumpang kendaraan yang membawa beliau ke Pasar, lantas pulangnya jalan kaki membawa tumpukan ember. Penghasilan RP 30.000 rupiah per hari yang beliau gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saat kami bertanya apa harapan beliau di tahun ini? Beliau terlihat menitikkan air mata, kemudian menjawab, “mboten pengen nopo-nopo mbak…“. Diberi kesehatan untuk bisa berjualan terus adalah nikmat tersendiri bagi beliau, karena hingga saat ini anak-anak beliau belum ‘mentas’ sehingga beliau pun harus menanggung kebutuhan sehari-hari mereka.

Usai dari Pasar Ledoksari, kami beranjak ke Pasar Legi. Di salah satu pasar tertua di Solo itu, kami menjumpai banyak sekali ibu-ibu yang berprofesi sebagai kuli gendong. Bahkan ada ibu-ibu lanjut usia yang masih menjalani profesi tersebut. Pagi itu tim ACBI Bakti Nusa UNS mendadak menjadi seperti detektif yang mengikuti para kuli gendong di pasar tersebut. Hingga akhirnya kami bertemu dengan 2 orang yang luar biasa.

IMG-20160101-WA0026Sosok ketiga yang kami temui adalah Mbah Tuminah. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai kuli gendong. Beliau sudah menjalani profesi ini selama lebih 30 tahun untuk membiayai 7 orang anaknya. Alasan beliau menjadi kuli panggul adalah  sejak umur 10 tahun, beliau sudah ditinggal oleh orang tua, sehingga sejak kecil beliau hanya bisa menjadi buruh. Hingga saat ini, hanya bermodal tenaga, beliau mendapatkan sekitar Rp 20.000/hari untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Padahal itu pun masih beliau gunakan untuk naik kendaraan dari Kaliyoso menuju ke Solo, PP. Akan tetapi, meskipun sudah sepuh beliau rela mengangkat  beban lebih dari 50 kg dalam sekali gendong dengan upah Rp 2000- Rp 3000. Padahal di Pasar Legi terdapat tangga yang membuat pekerjaan tersebut semakin tak mudah, tapi beliau bersedia menjalani dengan sepenuh hati.

IMG-20160101-WA0023Sosok terakhir yang kami temui adalah Mbah Wakinah. Perempuan berumur 65 tahun, yang juga berprofesi sebagai kuli gendong. Beliau sudah menjalani profesi ini selama 40 tahun. Sejak masih muda beliau sudah menjadi kuli panggul agar dapat membiayai kehidupan sehari-hari keluarga hingga menyekolahkan anak-anak beliau. Perjuangan mengangkat beban yang awalnya bisa mengangkat hingga 150 kg berangsur-angsur turun, hingga saat ini hanya bisa mengangkat 50-60 kgi sekali gendong. Perjuangan beliau dari jam 08.00 WIB -16.00 WIB setiap hari tak sia-sia, sebab akhirnya beliau bisa menguliahkan 3 dari 4 orang anaknya. Saat kami mengikuti beliau, beliau terlihat harus beberapa kali istirahat saat mengangkat beban 50 kg menaiki tangga dan menempuh jarak cukup jauh ke sudut belakang pasar. Sosok yang cukup sepuh, dengan perawakan yang kecil membuat beliau tak kuasa mengangkat beban tersebut tanpa istirahat. Dalam sehari beliau mendapatkan uang Rp 20.000-Rp 30.000 untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipun sudah berhasil menuntaskan anak-anak beliau hingga selesai kuliah dan saat ini memiliki pekerjaan sendiri-sendiri, beliau tidak mau menjadi orang tua yang bermalas-malasan dan mengharap pemberian anak-anak beliau. Beliau tetap semangat menjalani profesi beliau ini agar tidak menganggur di rumah.

Setengah hari berada di pasar tradisinal dan menemui para ‘pejuang-pejuang’ hebat merupakan refleksi awal tahun yang istimewa. Kegiatan ACBI Berbagi ini adalah salah satu upaya untuk melanjutkan kebermanfaatan dari Snack ACBI agar senantiasa memberikan manfaat-manfaat lainnya bagi lebih banyak orang. Semoga cuplikan kisah para ‘pejuang’ tersebut bisa menjadi introspeksi dan semangat tersendiri untuk kita semua.