Minggu, 10 Januari 2016, PM Bakti Nusa 5 UNS mengadakan diskusi online bersama calon pendaftar Bakti Nusa 6 dalam sebuah group Whats App bertitel “Negarawan Muda UNS”. Kurang lebih dua jam lamanya salah satu penerima manfaat (PM) Bakti Nusa angkatan 5 UNS, Elvia Rahmi memandu diskusi online tersebut. Antusiasme yang sangat tinggi ditunjukkan para peserta saat mengikuti diskusi bersama Muhammad Nurdin,  PM BA UGM angkatan 5 yang lahir di Cirebon, 22 tahun lalu. Hal ini di tunjukkan dengan banyaknya pertanyaan yang diberikan para peserta dan keunikan dari pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Beberapa kali Bang Nurdin sempat mengatakan dalam tulisannya, “Pertanyaan yang sangat bagus” atau “Pertanyaannya berat nih..”.

 

Diskusi yang dilaksanakan antara jam 19.30-21.30 WIB ini dibagi menjadi dua sesi, dimana setiap sesi diawali dengan pemaparan materi singkat oleh Bang Nurdin dan dilanjutkan dengan tanya jawab dari para peserta. Sesi pertama dibuka dengan tema gerakan sosial yang dilakukan oleh Bang Nurdin dan teman-teman PM Bakti Nusa UGM, kemudian sesi kedua dilanjutkan dengan penjelasan Beasiswa Aktivis Nusantara ala Bang Nurdin.

 

Pada sesi pertama, aktivis yang hobi menulis ini menyampaikan seluk-beluk gerakan sosial Sekolah Tjokro. Gersos yang terinspirasi dari tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto ini, dipaparkan begitu runtut sejak inisiasi awal hingga teknis pelaksanaannya. Sebagai cuplikan dari penjelasan Bang Nurdin, Sekolah Tjokro baru digagas dan langsung dijalankan oleh para PM BA UGM angkatan 5, sehingga termasuk gersos yang paling belia keberlangsungannya. Namun begitu, Sekolah Tjokro yang sering digaungkan di media sosial dengan tagar #SekolahTjokro ini sudah dilirik oleh Malang dan Semarang untuk diduplikasi dengan memasukkan unsur lokal didalamnya. Lebih lanjut, Bang Nurdin juga menjelaskan, sebagai bentuk nyata output gersos sekolah Tjokro adalah dibuatnya beasiswa BATAS (Bersama Tunas Bangsa) yaitu beasiswa yang menyasar anak-anak marginal usia akhir Sekolah Dasar di Yogyakarta.

 

Diantara pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta pada sesi pertama, salah satu pertanyaan yang menurut Bang Nurdin sangat menariik adalah pertanyaan dari Muhammad Arifin. Pertanyaan yang diberikan oleh Ipin di awali dengan sebuah prolog yang menyinggung soal komunisme dan gerakan kiri oleh beberapa anak didik Tjokroaminoto yang dianggap keluar dari “semurni-murni tauhid”, yang kemudian dengan jelas Bang Nurdin  menjawab bahwa ideologisme memang hal yang butuh penjagaan. Maka para negarawan muda agar tak menyimpang dari esensi gerakan yang diajarkan oleh Bapak Guru Bangsa yaitu dengan memberi keteladanan nyata (kepemimpinan karismatik)  atas kemanfaatan dan kontribusi terhadap penyelesaian permasalahan bangsa.

 

Pada sesi yang kedua barulah aktivis yang berkuliah di fakultas hukum ini menjelaskan progres dirinya selama berada dilingkaran beasiswa Bakti Nusa. Bertambah luasnya cara pandang, pemikiran dan pengambilan keputusan adalah hal mencolok yang berubah pada dirinya. Selain itu adanya usaha diri untuk selalu mencapai indikator-indikator kompetensi dan kontribusi di dalam masyarakat juga di setting agar dirinya mampu menjadi negarawan muda yang berperan aktif untuk Indonesia yang lebih baik. Sesi ini ditutup dengan ajakan kepada semua peserta diskusi untuk tetap semangat dalam memenuhi aplikasi pendaftaran beasiswa Aktivis Nusantara, dan tentunya juga bersemangat berkontribusi dalam kebaikan.

 

#BaktiNusa