featureIsu Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) saat ini sedang menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Upaya untuk meluruskan pemahaman  pemuda terhadap fitrahnya  sebagai seorang manusia dalam menyikapi isu ini perlu gencarkan dilaksanakan. Oleh sebab itu, pada hari Jum’at, 25 Maret 2016, Center of Leadership bekerjasama dengan Bakti Nusa UNS dan BEM FK UNS mengadakan Seminar Menjaga Fitrah dengan tema ‘LGBT: Antara HAM, Fitrah Kemanusiaan dan Kehendak Tuhan’.  Sebanyak 160 peserta hadir memenuhi Aula Gedung Pendidikan Dokter FK UNS. Moderator dalam seminar ini adalah Hasan Fahrur Rozi, PM Bakti Nusa 5. Pembicara pada seminar ini adalah Triana Rahmawati, Sholahuddin Al-Fatih dan Muhammad Syafi’ie.

f1

Sebagai aktivis sosial, Triana Rahmawati  menyampaikan tentang LGBT dari Aspek Sosial.  “Identitas atau jati diri seseorang tergantung dengan siapa kita bergaul,” ungkapnya. Triana menjelaskan beberapa contoh-contoh kasus kecenderungan penyimpangan dari fitrah manusia dan penyikapannya.  Dalam seminar tersebut, Triana menjelaskan tentang konsensus yang akan membentuk norma dan nilai yang akan menjadi pakem dalam penentuan penyimpangan atau bukan penyimpangan. Nilai dan norma di negara lain belum tentu sesuai dengan nilai dan norma di Indonesia. Nilai dan norma kesepakatan masyarakat, sehingga tidak bisa disamakan. Sehingga nilai dan norma yang berlaku di Indonesia lah yang akan menentukan LGBT menyimpang atau tidak.  “Entah menolak atau menerima tugas kita  adalah meluruskan, sebab nilai dan norma  tidak bisa disampaikan dengan kekerasan. Bahkan hal yang baik harus disampaikan dengan cara yang baik. Orang-orang yang memiliki kecenderungan LGBT bisa sembuh dengan  bantuan makhluk sosial yang ada disekitarnya.” imbuhnya.

Pembicara kedua yaitu Sholahuddin Al-Fatih yang lebih menyoroti kesesuaian  LGBT dengan moralitas dan hukum positif yang berlaku di Indonesia. “Rasio-rasio kita akan terkontrol menjadi baik apabila moral kita baik. Moral yang baik adalah landasan untuk berperilaku,” ungkap beliau. Menurut pemaparan beliau, moral bisa ditransformasikan sebagai bentuk hukum positif, dan hukum bisa dipaksakan supaya masyarakat taat dengan hukum tersebut. Namun beberapa kalangan masyarakat mengatasnamakan HAM sebagai landasan LGBT, padahal secara moralitas LGBT adalah penyimpangan. Di akhir pemaparan materinya, beliau menyimpulkan bahwa LGBT tidak sesuai dengan moralitas dan falsafah  kebangsaan Indonesia dan LGBT bertentangan dengan konstitusi dan hukum positif. Sehingga sebagai bentuk preventifnya, pemerintah bisa mendirikan lembaga-lembaga konseling.

Pembicara ketiga adalah Muhammad Syafi’ie, Praktisi Pendidikan Remaja dan Exc- Director Sahabat Remaja,  yang biasanya akrab dipanggil Kak Syaf. Beliau  menyampaikan materi tentang LGBT dan kaitannya dengan parenting serta psikologi perkembangan.  Kak Syaf menyatakan bahwa identitas seseorang  salah satunya dipengaruhi oleh pola asuh dari orang tuanya.  Peran orang tua untuk mencegah LGBT ini bisa dilakukan sejak kecil dengan mengenalkan anak pada fitrah perannya sebagai manusia. Kesalahan pengasuhan akan memacu kecenderungan menyimpang, sehingga orang tua harus berhati-hati dalam mengambil sikap pengasuhan terhadap anak. Selain pola pengasuhan, pola pergaulan juga sangat menentukan kerusakan kepribadian seseorang.  Jika merunut pada fitrah semesta, maka kita harusnya menyadari bahwa semesta saja yang tidak berakal pun dipasangkan dengan segala sesuatu yang berbeda.  Maka dari itu,  perilaku LGBT jelas-jelas menyimpang dari fitrah manusia  bahkan fitrah semesta. “Ketika perzinaan semakin menuju puncaknya, dan puncaknya  perkawinan sesama jenis. Maka jangan sampai peradaban manusia hancur karena perilaku diluar fitrahnya,” ungkap Kak Syaf.

Setelah pemaparan materi,  peserta diberikan waktu untuk bertanya pada 2 sesi tanya jawab. Diakhir sesi seminar tersebut pembicara kembali menekankan kepada peserta untuk meluruskan pemikiran terhadap LGBT, bahwa LGBT adalah penyimpangan tatanan sosial, hukum dan fitrah  manusia.

f2