Sedikit berbagi mengenai training menenjemen konflik sore ini Jumat 27  juli 2012 bertempatkan di ruang sidang kecil mawa UNS dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Training ini menghadirkan pembicara aktivi senior,  Samsul basri yang sekarang masih menempuh kuliah S2 di fakultas ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta, sebenarnya beliau tidak ingi disebut sebagai senior karena bagi beliau tidak ada nama senior dan tidak senior, bahkan pembatasnya tak terlihat dan sangat tipis, dan orang dikatakan senior tergantung konsistensi dalam medan perjuangan, itu pendapat beliau. Mas Samsul Basri yang akrab dengan sapaan mas samsul ini  merupakan sekretaris jendral  di kamwil, dahulu beliau juga bermulai dari komsat kampus. training ini dihadiri enam  dari delapan penerima manfaat beasiswa aktifis, karena yang dua berhalangan hadir,

Pemaparan mengenai menejemen konflik oleh mas Samsul Bahri dimulai dengan memperkenalkan diri  masing-masing kemudian dilanjutkan para perserta mengceritakan konflik yang pernah dialami semasa hidupnya. Hampir setiap dari kita memaparkan setiap konflik yang pernah kita alami, berbagai konflik ada, baik dari konflik internal yang muncul pada diri, seperti konflik kepribadian yang muncul seperti halnya perang batin, perbedaan antara pikiran dan kata hati, konflik yang terjadi pada dunia organisasi, konflik social yang ada dimasyarakat sampai konflik yang menyangkut perbedaan kelompok keyakinan agama.

Sedikit inti dari materi yang disampaikan adalah jangan pernah menghindar dari wilayah konflik, karena dari sanalah kita akan mendapatan pendewasaan sikap dalam menangani masalah dan pelajaran hidup, dan justru tekananlah yang membesarkan kita, ibarat padi harus bergesekan dengan padi agar kulit padi mau terkelupas untuk menjadi beras dan dapat dimanfaatkan oleh manusia. “Sekali lagi kita jangan menhindar dari konflik” karenan itu kata- kata yang berulang kali dilontarkan oleh pemateri kita, karena akan lebih baik jika kita hadir dalam sebuah konflik dan kita bereksperimen memberikan berbagai pemecahan masalah dalam konflik tersebut.

Kita akan bisa banyak berbicara tentang konflik  jika kita sudah pernah masuk pada ruang realita, kareana konflik akan semakin pelik dan komplek jika kita sudah masuk pada ruang realita, terkadang idealita yang tak sesuai dengan ralita yang  kita alami dalam menganalisis sebuah permasalahan dan cara menyelesaikan, kita tidak akan perah matang dalam menangani sebuah konflik,  “sekali lagi “ kata mas samsul, kita janga pernah menghindar dari konflik dan ruang realitas, maka dari sanalah kita dapat belajar dan mengambil hikmah pelajaran untuk kita gunakan kelak jika menhadapai konflik yang lebih besar lagi.

Kita sebagai mahasiswa konflik yang kita alami masih sebatas konflik yang terjadi didunia kampus, disanan kita dihimbau untuk jangan takut masuk pada konflik realitas sesunguhnya. Kareana realita diluar tembok kampus permasalahannya lebih nyata dan lebih komplek dan mungkin berbeda dengan yang ada dikampus, konflik ada dimana-mana bahkan konflik sudah rawan dimana-mana. Permasalahan semakin pelik, kasus-kasus terjadi dimana-mana, kondisi kasus korupsi sudah mendarah daging dan dirasa lumrah, kondisi bangsa semakin carut-marut dan akut, sehingga kebutuhan akan orang baik di Indonesia ini sudah sangat mendesak. Para pengelola Negara ini belum sepenuhnya memiliki roh bernegara karena masih ditimpali dengan kepentingan-kepentingan. Oleh karena itu, sekali lagi kita dihimbau dalam training value ini untuk semestinya merasa terpangil  turut serta dalam pemecahan masalah bangsa ini.

Beberapa solusi yang bisa kita gunakan dalam menajeman konflik antara lain kita harus membuat diagnose terlebih dahulu dan melihat kepentingan-kepentingan apa yang dibawa perkelompok dan kita kaitkan antara kelompok dan stake holder,  kita disana sebagai mediasi. Solusinya bisa dengan memcari titik temu dari seluruh kepentingan kelompok yang dibawa atau dengan memenangkan salah satu kelompok. Sebelumnya kita harus menentukan posisioning  dimana kita berdiri, karena tanpa ada posisi kita tidak akan punya kekuatan. Kematangna kita dalam melihat konflik dan memetakan masalah sangatlah diperlukan untuk mencari solusi dan juga kita harus bebas dari belenggu keberpihakan untuk menghindari permasalahan yang semakin panjang dan ketidakadilan. Konflik memang rawan pertikaian, maka dari itu kita mesti jeli dan tepat dalam menyelesaikannya jika kita dalam penanganannnya dan dalam pengambilan keputusan, maka hal tersebut akan bersifat eksponensial dan masalah akan semakin rumit. Hal terpenting adalah kita harus jeli dan tepat dalam menganalisis parmasalahan sebelum kita terapkan strategi untuk menyelesaikan. Jika kita memiliki kesungguhan dalam menjalani hidup dengan berlandaskan nilai dan kebenaran, maka kita akan mendapatkan efek samping yang dapat kita pelajari untuk masalah dikemudian hari yang bernama hikmah.