Reported by Anggel D. Satria

Siang itu selepas salat Dzuhur kita (teman-teman BA UNS) akan menlajutkan diskusi dengan Mas Yusuf Maulan untuk yang kedua kalinya. Jika yang pertama kita sempat sharing mengenai “How to Find Our Passion to Writing”, pertemuan kedua ini lebih kepada mengelaborasikan banyak pengetahuan sehingga menjadi titik temu dalam menulis. Bingung?? Mari simak terus.. J

Seperti biasa Mas Krisna (Mentor BA UNS) menjarkomkan kepada kita untuk berkumpul sharing chapter 2 dengan mas Yusuf Maulana. Akhirnya kita memutuskan hari Kamis tanggal 12 Juni 2012 pukul 13.00 untuk sharing dengan mas Yusuf Maulana, yang pada saat itu diputuskan di Ruang Sidang Kecil Kemahasiswaaan UNS. Ketika semua sudah sepakat untuk sharing pada hari itu, kita pun menyiapkan agenda tersebut.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, tepat pada hari itu, ternyata diluar dugaan Mas Yusuf Maula datang lebih awal dari. Mas Krisna, mentor kami yang melakukan koordinasi dengan Mas Yusuf pun kaget. Yang tadinya perkiraan kami, kalau janjian kita untuk sharing pukul 13.00, paling tidak prediksi kita Mas Yusuf Maulana datang datang ke UNS pukul 12.00 atau mejelang Dzuhur atau setelah Dzuhur pukul 12.30. Akhirnya tiba-tiba saya dan teman-teman yang laki khususnya di kontak sekitar pukul 09.00, dan Mas Krisna bilang “Mas Yusuf sudah sampai UNS dan sekarang sudah di Masjid Kampus”. Yang jadi pertanyaan “kok bisa?” Dan kita pun yang laki khususnya, tidak ada yang bisa menemani Mas Yusuf di Masjid Kampus pada jam itu. Agus (FK UNS) dan Dika (FKIP UNS) sedang ada agenda dengan organisasinya, dan tidak bisa ditinggal, kemudian Greget (FE UNS) sedang menjalani seleksi mahasiswa berprestasi di Jakarta, Ichsan (FP UNS) sedang magang di luar, Mas Krisna masih berada di Klaten dan saya sendiri sedang rapat dengan instansi salah satu percetakan di Solo.

Namun, itupun tak lantas ditanggapi sebagai hal yang terkesan negatif, walaupun Mas Yusuf kita biarkan sendiri di Masjid Kampus kurang lebih satu jam lebih, hanya untuk menunggu kami. Saya pribadi menganggap yang pertama, Mas Yusuf pasti terkesan melihat para aktivis BA UNS sibuk-sibuk dengan berbagai macam agenda, dan pada saat itu momentum yang tepat untuk membuktikkannya (*heee). Yang kedua, Mas Yusuf mungkin saja dengan lamanya menunggu kami di Masjid Kampus bisa menambah amalan ibadah bagi beliau, seperti sambil menunggu tilawah Qur’an, salat duha, dan satu lagi hot spotan. Semoga!

Well, itu sedikit awalan saya untuk mengawalai hasil sharing dan diskusi kami dengan Mas Yusuf Maulana. Di aula Mawa UNS, kami berkumpul dan memulai sharing, walaupun memang jumlah kami tidak lengkap. Mas Yusuf seperti biasa memulai dengan pembukaan yang simple dan langsung to the point dengan sedikit mengevaluasi pertemuan sebelumnya. Kalau dipertemuan sebelumnya diakhir sesi kita diberi tugas untuk menulis tentang “Mengapa saya mencintai Kampus?” dipertemuan kedua ini kita sedikit mengevaluasi dan membahas terkait tulisan kita. Banyak masukan yang bermanfaat yanga dapat kami terima, terkait tulisan kami. Seperti tata bahasanya, sistematikan alur berfikir dan bagaimana menfokuskan tulisan kita. Dengan evaluasi yang sebentar saja kita dapat menerima ilmu yang aplikatif dari Mas Yusuf.

Materi kedua pun dimulai. Slide pun sudah disiapkan. Slide pertama yang kemudian mas Yusuf tampilkan adalah sebuah judul “KEKUATAN TITIK TEMU DALAM MENULIS”. Ini seperti halnya, tanpa kita sadari kita memiliki banyak potensi seperti wacana ilmu pengetahuan, walaupun itu bukan berasal dari bidangan keilmuaan yang kita kuasai sekalipun. Namun, yang menjadi pertanyaan terkadang kita sulit mempertemukan , menyatukan atau menyambungkan itu semua sehingga menjadi satu kekuatan titik temu di dalam tulisan kita.

Mas Maulana meneruskan materinya dengan “Gagasan Kreatif”. Dalam menulis sebanyak apapun atau sedikit apapun yang terpenting adalah gagasan kreatif apa yang kemudian ingin kita tawarkan kepada sasaran pembaca tulisan kita. Mas maulana pun mendefinisikan secara sederhana kepada kami apa itu “Gagasan Kreatif”. Gagasan Kreatif paling tidak ada tiga poin yang perlu kita ingat. Yang pertama “Baru”, dalam artian disini adalah kita pun harus melek pengetahuan atau wacana terbaru update yang berkembang di masyarakat. Semua itu ditujukan untuk membuat tulisan kita atau wacana kita tidak ‘basi’. Sehingga ketika orang membaca tulisan kita, merasa mereka mendapatkan wacana atau pengetahuan baru dari tulisan itu. Dan itu pun akan membuat orang terkesan dan terus menyimak. Terlebih lagi kita dapat menjadi seorang penulis yang prediktif karena kaya akan wacana ter-update- yang berkembang di masyarakat.

Kemudian yang kedua adalah, “Kreatif”, yang kedua inilah menurut penulis cukup abstrak, karena boleh jadi antar pembaca satu dan lain akan memiliki persepsi yang berbeda ketika membaca tulisan kita. Serta kreativitas orang pun berbeda-beda dan juga memiliki frekuensi penalaran yang berbeda-beda pula. Disini paling tidak Mas Yusuf menjelaskan, gagasan kreatif ada dua hal penting yang perlu kita ingat di dalam tulisan kita, yaitu yang pertama Gagasan Terarah dan yang kedua Gagasan Titik Temu. Perbedaan antara gagasan terarah dan titik-temu disini adalah bahwa kita tahu kemana kita akan menuju dengan gagasan terarah. Gagasan itu mempunyai sebuah arah. Inovasi terarah meningkatkan suatu produk dalam langkah-langkah yang dapat diperkirakan, di dalam dimensi yang telah ditetapkan. Contoh-contoh inovasi terarah banyak terdapat di sekitar kita dan merupakan mayoritas inovasi. Misalnya, sebuah perusahaan yang meningkatkan efisiensi dengan mempersingkat dan menghaluskan proses yang sudah ada. Sasarannya adalah mengembangkan gagasan yang sudah ada dengan melakukan perbaikan dan penyesuaian.

Sebaliknya gagasan titik-temu mengubah dunia dengan loncatan menuju arah baru. Biasanya ia meretas jalan untuk sebuah bidang baru, dan karena itu penemunya menjadi pemimpin di bidang yang mereka ciptakan. Inovasi titik-temu juga tidak memerlukan banyak keahlian seperti inovasi terarah dan, karena itu, bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak kita duga. Inovasi titik-temu mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Mengejutkan dan memesona
  • Meloncat ke arah baru
  • Membuka bidang yang baru sama sekali

Inovasi titik-temu pun memiliki kekuatan tersendiri yaitu diantaranya:

  • Perpindahan orang
  • Konvergesi ilmu pemgetahuan
  • Dan lompatan penggunaan komputer

Yang ketiga, mas yusuf melanjutkan dengan gagasan kreatif kita harus “nyata. Maksudnya disini adalah selain kita menulis sebuah gagasan berupa artikel, esai, opini dan lain sebagainya akan lebih berasa hidup jika kita memiliki data-data yang nyata. Tidak bisa pungkiri data merupakan suatu bagian terpenting dalam tiulisan, yang ditujukkan untuk membuat analisis tulisan kita menjadi lebih tajam, aktual dan berani.

Selanjutnya, mas yusuf menerangkan suatu bentuk penghalang yang tanpa kita sadari sering kita dapati, dan apabila ini dilakukan terus-menerus akan menjadi momok pragmatis dari sang penulis itu sendiri, penghalang itu adalah “Rantai Asosiasi”. Tidak bisa dipungkiri wacana yang berkembang di media telivisi, masyarakat dan lain sebagainya terkadang menggiring cara berfikir seseorang pada suatu hal tertentu. Misalnya, baru-baru ini ketika maraknya bom bunuh diri di Indonesia, pelaku bom itu menyatakan dirinya sebagai muslim dengan menampilkan karakter atau penampilan muslim pada umumnya, berjenggot, celana cingkrang, jidat nya hitam dan lainnya sebaginya. Sehingga persepsi seperti itu akhiranya berkembang di masyarakat karena terjadi terus-menerus. Ketika seseorang ditanyai “celana cingkrang, berjenggot panjang, jidat hitam apa?” kebanyakan orang akan menjawab teroris. Dengan demikian Islam selalu diidentikkan dengan teroris. Ada lagi seperti profesi sebagai “Dokter”, kebanyakan orang akan berfikir ketika disebutkan profesi “Dokter” akan membayangakan seorang laki-laki alias “Pak Dokter”.

Hal ini nampaknya seperti biasa saja, namun apabila dibiarkan dan terus melekat pada persepsi kita, yang terjadi adalah kita akan susah menuliskan suatu gagasan baru (kreatif) dan berani di dalam tulisan kita. Mas yusuf memberikan beberapa tips bagaimana meruntuhkan penghalang asosiasi tersebut diantaranya adalah:

  • Mengapresiasi pada ragam budaya
  • Belajar dengan cara yang berbeda
  • Membalikkan asumsi
  • Melihat suatu kejadian dengan sudut pandang yang berbeda

Diakhir perjumpaan mas yusuf memberikan tips dalam menuliskan gagasan kreatif. Mas yusuf menjelaskan pada dasarnya gagasan kreatif bisa kita dapatkan atau temui bagaikan kilatan yang tak terduga bak seperti tiba-tiba jatuh dari langit. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita siap untuk mengambil atau tidak, seorang yang cerdas akan selalu menuliskan kejadian-kejadian penting di dalam buku hariannya. Sehingga akan benar-benar terekam kejadian tersebut. Dengan demikian mas yusuf menyarankan untuk terus mencatat atau menulis dimanapun, kapanpun dan sedang melakukan apa.