ekonomiIni adalah cerita tentang hasil silaturahim tokoh oleh tim Bakti Nusa Dompet Dhuafa UNS (termasuk aku dong) ke salah satu dosen Fakultas Ekonomi UNS kemarin sore. Agendanya spesial karena ada buka bersama, lah jelas suka dong aku. Asli mahasiswa nih. Hemm, sejak menunggu beliau datang, kawanku dah ngasih gambaran bahwa orang yang akan datang sore ini nyentrik dan penuh kejutan. Benar saja, seorang laki-laki paruh baya, tapi kayaknya lebih tepat disebut tua, memarkirkan motor Fixionnya di depan warung makan tempat kami menunggu. Dan tahukah, ini warung makan kepunyaannya (sambil berharap nanti bukanya digratisi). Dan inilah cerita selengkapnya. Simak ya!

Dosen Super Idealis

Aku sering sih ketemu beberapa dosen yang dikatakan idealis. Memegang prinsip-prinsip dasar sebagai orang yang dikatakan berilmu. Tapi kali ini, udah aneh, nyentrik dan benar ternyata penuh kejutan. Mulai dari perkenalan aku udah disemprot habis-habisan gara-gara ku kuliah di FKIP. Katanya, pendidikan Indonesia di bawah bayang-bayang konspirasi kekuatan asing, dan aku barangkali kedepan akan jadi calon-calon generasi pendukung yang akan merusak bangsa. Ngeri kan! Aku udah ditantang, padahal baru kenalan aja.

Konon katanya, dosen ini memiliki beberapa program pemberdayaan masyarakat dan udah sekian tahun malang melintang di dunia sosial yang berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebagai seorang dosen ekonomi lulusan negeri kanguru, ternyata perilaku dan ajarannya justru inkonvensional. Makanya itu menjadi lebih menarik dan penuh dengan kejutan. Mau tahu apa aj? Sabar, satu-satu ya

Barat Vs Timur

Pertama, beliau itu adalah dosen ekonomi yang justru menjauhkan mahasiswanya dari berbagai teori modern. Bayangkan, masak justru beliau menentang habis-habisan berbagai kebijakan pendidikan saat ini. Kata beliau, konsep ijazah dalam pendidikan adalah sistem yang merusak tatanan masyarakat timur. Hemm, mudahnya begini

Sistem kapitalis barat kan membentuk karakter individualisme yang tinggi. Orang barat kalau kerja untuk menghidupi siapa? Dirinya sendiri kan. Jadi mereka berbuat dan belajar karena memang tantangan hidup mengharuskan begitu. Ga usaha, ga kerja, ga dapat uang, akhirnya ga makan dan ga bisa senang-senang, Begitulah kira-kira.

Sedangkan sistem budaya ketimuran kita, khususnya Indonesia aslinya adalah membentuk karakter komunal. Gotong royong dan saling menanggung hidup satu sama lain adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Contoh nyata mari kita lirik masyarakat Badui yang di Banten. Mereka representasi manusia sosial yang masih murni dan ada di negeri ini. Mereka bahkan bisa memberi sedekah bumi kepada pemprov Banten setiap tahun. Padahal mereka menolak menerima berbagai pengaruh modernisasi dan bantuan aneh-aneh dari pemerintah. Ternyata bersama alam mereka hidup begitu damai. Sederhana dan saling memberi.

Nah, kekacauan yang sesungguhnya adalah perkawinan dua sistem tersebut terlebih yang mempraktekan adalah orang-orang kita yang baru saja mengalami derita panjang akibat penjajahan. Apa hasil perkawinannya? Itulah yang sekarang dinamakan sebagai sistem carut marut. Menurut beliau, dua kata dari barat yang dikawinkan dengan tradisi kita sehingga jauh lebih merusak dari kapitalis barat, yaitu akumulasi dan kepemilikan.

Akumulasi adalah tambahan secara berkala atas suatu jumlah pokok, misalnya laba atas modal atau cadangan, bunga atas simpanan atau utang pokok (accumulation) akun rekening (account) (http://bisnis.deskripsi.com/akumulasi). Sedangkan kepemilikan diartikan sebagai tindakan memiliki dan mengendalikan property atau yang lainnya.

Nah, analisisnya begini. Karena sistem lokal kita yang sosialis dan komunal, ketika dikotori oleh dua istilah diatas maka hasilnya adalah lahirnya manusia-manusia serakah. Bagaimana tidak? Ketika dia berkuasa, maka dia akan meraih akumulasi dan kepemilikan sebanyak-banyaknya dengan dalih sosialmya untuk dibagi-bagikan kepada orang yang terdekat atau yang punya relasi dengannya, atau bahkan untuk rakyat yang membutuhkan. Rakyat yang mana? Logis memang, tapi ini ternyata memang benar-benar mengerikan. Formula barat yang kapitalis ini ketika diujicobakan pada bangsa Indonesia yang baru saja sembuh dari sakit kesengsaraan justru menimbulkan keberingasan dan keserakahan yang hebat. Maka tak heran bagaimana rakusnya para pejabat dan “wakil rakyat” dalam mengambil apa pun yang ada di negara ini untuk diakumulasi dan dimiliki sendiri. Ini lebih berbahaya dari ajaran asli kapitalisme itu sendiri. Subhanallah! Alangkah rusaknya.

Dan celakanya, sistem pengawinan dua sistem ekonomi itu dibentuk di sistem pendidikan kita. Sadar atau tidak, saat ini keberadaan ijazah itu telah membuat kacau pemahaman orang tua dan siswa itu sendiri. Jika kita telah berijazah SMA atau sarjana, masih maukah kita mencangkul ke sawah, masih maukah kita jualan angkringan, masih maukah kita jadi tukang sapu? Kebanyakan akan menjawab tidak. Apalagi orang tua yang telah menyekolahkan anaknya mahal-mahal. Tahu anaknya sarjana ternyata hanya kerja sebagai penjual angkringan tentu mereka akan malu dan marah-marah. Begitupun yang akan jadi calon mertua pasti segera menolak mentah-mentah. Itulah.

Pertanyaannya, apakah pekerjaan-pekerjaan itu hina? Jawabannya tentu tidak. Tapi inilah sistem pendidikan kita yang ada saat ini yang mampu membuat pola pikir orang berubah drastic tentang definisi hidup dan mencari kehidupan. Bukankah semakin banyak sarjana berarti angka pengangguran akan meningkat. Akibatnya orang-orang asing dengan mudahnya mempekerjakan para pemuda kita yang terlanjur malu kerja sebagai petani. Alhasil, perusahaan-perusahaan asing di Indonesia panen pekerja bagus dan murah. Bagus, karena memang SDM Indonesia itu sebenarnya bagus-bagus. Murah, karena semahal apa pun menggaji karyawan, masih tetap lebih mahal membentuk mereka jadi seperti itu. Nah logika yang cerdas, lebih baik memakai dengan ongkos sedikit mahal dari pada membuat. Sayangnya kita hanya kebagian konsep itu dalam ilmu konsumsi.

Lokalisasi vs Internasionalisasi

Sebagai seorang dosen yang sangat idealis. Beliau kemudian bertekad mengajak siapapun yang mau untuk melawan sistem barat yang parah itu. Jika sekarang pemerintah sedang menggalakkan ISO, R-SBI, dan berbagai branding internasionalisasi, beliau justru menggalakkan “lokalisasi”, maksudnya bagaimana revitalisasi segala hal yang berbau lokal untuk mengganti sistem yang ada. Yah ini adalah peperangan idealisme yang sesungguhya. Menuntut komitmen dari pengusungnya. Maka tantangan yang terberat adalah bagaimana kita bisa menciptakan sistem sendiri yang tidak lagi mengekor pada sistem asing. Kita harus mampu menghidupkan kembali sistem lokal. Bagaimana membangun ekonomi riil masyarakat sebagai kekuatan ekonomi bangsa.

Tantanganya tidak hanya disektor ekonomi. Ternyata sistem politik kita pun justru mengalami ketidakjelasan. Sistem demokrasi yang digadang-gadang menjadi solusi justru sekarang semakin merusak, karena jiwanya diisi dengan hasil perkawinan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis yang telah berpadu harmoni tadi. Hingga akhirnya, hanya ada satu kesimpulan yang beliau katakana dengan lantang

“Bangsa ini butuh orang-orang yang mau berkorban”

Ya, pengorbanan. Hanya itu yang akan mampu menjebol paradigma akumulasi dan kepemilikan tadi. Saat kita memiliki kepuasan untuk segera mencukupkan diri dari materi dan banyak memberi maka saat itulah sebenarnya kita merealisasikan arti pengorbanan.

Teladan dalam Berkorban

Dan sudah pasti kita punya seorang panutan yang super dalam hal keteladanan. Dialah uswah hasanah kita, Rasulullah Muhammad shallallhu alayhi wa sallam. Bagaimana hidup beliau yang benar-benar menjadi teladan untuk mengajarkan umat Islam bagaimana hidup layaknya seperti burung yang terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang. Alangkah luar biasanya.

Beliau adalah orang yang berhak atas seperlima harta rampasan perang, tapi apakah rumah beliau kemudian mewah. Bahkan jika beliau masih memegang emas di tangan, tentu orang yang meminta akan segera beliau beri. Kepemilikankah itu? Aku rasa tidak. Apalagi sebuah akumulasi. Beliau yakin jika esok hari bekerja, maka rezeki Allah akan datang lagi.

Kiranya ini penting untuk menjadi perenungan kita sebagai umat Islam agar tidak terjebak dengan berbagai modernisasi yang ada. Pak Baros, beliau bukan ulama ahli fiqh, tapi dari penjelasannya nyata sekali bagaimana gagasan beliau jauh lebih berpihak kepada rakyat kecil. Bukankah itu juga yang diteladankan oleh para nabi dan rasul. Lalu kita (atau lebih tepatnya aku) yang masih jadi mahasiswa, apakah kita sudah malu untuk sekedar mencangkul di ladang atau bertanam padi di sawah. Atau kita terobsesi kerja di kota dengan fasilitas mewah, dan kita terlena bahwa barangkali di bawah tanah kelahiran kita masih ada timbunan emas yang tersimpan. Maukah emas itu diambil cuma-cuma melalui sebuah transaksi yang terlalu murah.

Dan yang pasti, mari lakukan apa yang riil dapat kita lakukan. Usahlah berdiskusi dan rapat melulu. Boleh-boleh saja, tapi jika bisa segera bertindak, mengapa masih betah di ruang-ruang ga jelas seperti itu. Semoga dengan kesadaran bersama ini akan melahirkan sebuah sistem baru ekonomi Indonesia yang asli.