“Menata Jiwa, Menera Kata”

Note Pertemuan #3 . Pertemuan Jurnalistik BA UNS dengan Pak Yusuf Maulana

 Reported By Erny Ratnawati

218321_0_kursus_menulis_writing_courseRabu siang 15 Agustus 2012 yang mencerahkan. Hari ini seolah kami mendapat air segar bagi otak dan jiwa kami. Gizi tentang karakter dalam menulis menjadi sajian menarik di siang yang terik. Memang karakter adalah menu yang sering kami lahap selama menjadi penerima manfaat Beasiswa aktivis nusantara (BAKTINUSA)Dompet Dhuafa. Brainwash kami sehari hari adalah tentang karakter, Alhamdulillah semoga nilai dan aplikasinya akan terinfiltrasi  meninggalkan atsar dalam jiwa kami, sekarang dan selamanya dan dalam aspek apa saja.

Kali ini mentor kami pak Yusuf Maulana memaparkan materi tentang bagaimana menjadi penulis berkarakter. Ya, Training jurnalistik ketiga kali ini kami mendapat suntikan suplemen yang cukup berbeda dibanding pertemuan sebelumnya, dimana sebelumnya lebih ke arah teknis. Hari ini, pandangan kami dibuka dan dicerahkan  melalui suplemen tentang value karakter dalam menulis.

Diskusi berawal  dengan pancingan Pak Yusuf, tentang fenomena merebaknya buku buku pasaran,buku musiman, buku pesanan tokoh politik,  buku momentum dan sederet lainnya yang membuat dunia perbukuan  yang “menggugah jiwa” menjadi semakin langka. Semakin susah ditemui spirit yang menular dari seorang penulis yang mampu terpancar di gelegak deretan  kata katanya yang memilki daya gedor terhadap soul pembacanya. Ini semua jika ditilik lebih dalam, maka diksi  yang akan bermain disanaa adalah tentang karakter tulisan dan aliran energy “bernyawa” dari sang penulis.

Simaklah secuil contoh mahakarya anak negeri ini. Buku Di bawah Bendera Revolusi  goresan Bung Karno, Untukmu Negriku karya Muh. Hatta,dan Capita Selecta nya Muh. Natsir  bisa jadi menjadi sekian contoh buku yang mengalirkan energy bernyawa dari para penulisnya. Bagaimana seolah ketiga buku tersebut menjadi wakil  visualisasi ekspressi dan transfer pemikiran mereka. Tergambar, bayang wajah betapa berapi api Putra sang Fajar,Sukarno saat itu untuk menggelorakan jiwa muda bangsanya. Betapa tajamnya Natsir meramu kekritisanya dan betapa piawainya Hatta menyampaikan gagasan untuk bangsanya.

Sejenak kemudian, kita seolah merasakan nyawa itu kembali hadir dalam atmosfir perjuangan dibalik jeruji penjara yang terpancar dari Tafsir Al- Azhar yang  Fenomal dari seorang tokoh ulama menyejarah dari Minang Buya Hamka. Begitupula yang kita rasakan saat  haru merasa  betapa menderunya Sayyid Quthb dalam  menuliskan Tafsir Fi Dhilalil Qur’an  di balik penjara rejim Gamal A. Naser saat itu menunggu vonis hukumannya ditiang gantung.

Dalam sejarah, buku memang terbukti menjadi sumbu ledak.  Bahkan radius ledaknya mampu meradiasi puluhan generasi setelahnya. Energi beryawa dari sang penulis secara ajaib turun temurun merasuk dari generasi ke  meski dalam konteks “kerasukan” yang berbeda satu yang lainnya . Seperti yang kita tahu Buku Das Capital Karl Mark ternyata menjadi kitab suci dan rujukan golongan komunis hingga saat ini, begitupula daya ledak Majmuah Rasail (risalah pergerakan) coretan Imam syahid Hasan Al- Banna menjadi sumbu ledak perjuangan ikhwan –al muslimun di penjuru dunia

Sejenak hal tersebut memberikan kita secercah pelajaran bagaimana tulisan yang dahsyat sejatinya adalah pantulan energy dahsyat sang penulis yang seringkali bersimpul dengan kondisi si penulis, setting saat kejadian, dan yang paling kuat adalah niatan, komitmen dan kekuatan keinginan menyampaikan pesan dan hal hal invisible lain yang seringkali dikesempingkan. Disana kita menemukan, inti kekuatan sebuah tulisan yang sebenarnya. Tidak sekedar keindahan bahasa, rapihnya penulisan atau cantiknya kemasan saja.  Namun setruman jiwa penulis ternyata punya andil yang tak kalah besarnya.

 

Simpul Karakter-Komitmen&Visi

Dalam hiruk pikuk wabah plagiatisme yang ramai, yang mana sering kita tertohok pada banyaknya plagiator di dunia penulisan, hatta seorang akademisi yang bergelar tinggi  dapat dengan enteng memplagiat karya mahasiswanya. Maka diksi karakter  akan kembali didengungkan. Karakter akan kembali pada dua kata yakni komitmen dan visi.

Dua kata sakti ini seakan beradu pada dimensi dunia abjad seorang penulis. Tervisualisasikan dalam rekam nyata tulisan dan kebersampaian pesan yang dialirkan.  Dua tulisan meski dengan penulis yang sama namun dengan atmosfir niat yang berbeda  bisa jadi akan memiliki efek pantul yang berbeda pula.

Laskar pelangi mungkin boleh jadi salah satu kisah yang bisa kita baca. Bagaimana buku yang ditolak dari satu penerbit ke penerbit lain, ternyata di ending skenarionya mampu menjadi buku fenomenal yang mendobrak lebih dari lima juta pembacanya. Ya. Energi ketulusan Andrea Hirata untuk mempersembahkan tulisan untuk sang Guru masa kecilnya, bisa jadi adalah invisible energy yang ikut menyetrum jutaan pembaca tersebut. Bandingkan dengan karya Andrea setelahnya, mungkin bisa jadi hingga saat ini belum ada bukunya yang menyamai rekor Novel Laskar Pelangi. Bukan masalah karya perdana, tapi karena pancaran energy  yang dibawa memang selalu punya daya potensial  diluar logika manusia. Hal ini mengingatkan kita sepotong kalimat ‘sesuatu yang ditulis dari hati akan sampai ke hati’.

 

Berbicara Idealisme Penulis

Terkadang kita masih jua tak cukup menggelengkan kepala, jika mendengar bermacam corak buku yang begitu “abu- abu” bahkan samar samar hitam justru ditulis oleh seseorang dengan latar belakang fondasi religi dan pemahaman keber-agama-an yang tinggi. Ya, memang demikian kiranya yang terjadi sekarang. Demikian analisis Pak Yusuf kali ini mencoba memancing nalar kritis kami para BAKTINUSA. Kini, fenomena panggilan hati lebih sering tergradasi dengan panggilan rupiah bernominal tinggi. Maka tak heran, idealisme mudah begitu terapuhkan dengan iming iming lembaran rupiah yang menyalak.  Bahkan dititik ekstrim, mampu me “murtad” kan si penulis dari koridor dan pegangan hidup paling dasarnya.

Bicara lagi tentang Karakter memang sekali lagi bicara  soal komitmen dan Visi. Materialisme dalam menulis menjadi sekian tantangan bagi penulis yang benar benar berkomitmen. Meski materi adalah hak buah karya penulis, namun ketika justru menjadi tujuan utama, maka terkadang hal ini dapat menjadi factor dalam menggeser komitmen bersahaja. Outputnya sekilas bisa dilihat tulisan mana yang lebih tulus mana yang lebih mencari fulus. Karena tenyata emosi dan feel pembaca itu tidak bisa dipaksa, tidak bisa dibeli dan tidak bisa direka reka.

Karakter dalam penulis memang bukan suatu yang bisa kita paksakan dengan instan. Satu orang dengan yang lain memiliki  gaya dan karakter yang berbeda beda. Gaya timbul dari karakter.  Jika  gaya bisa dicari dan dipelajari, maka sejatinya karakter ditemukan dari rangkaian kehidupan kita sehari hari berbaur dalam dimensi fikir, jiwa dan pengalaman hidup . Dimana itu semua memberikan “Pasir” dalam tulisan. Pasir yang lebih identik dengan makna lugas dari spirit tulisan ini  seolah bak bayang tulisan yang berasal dari kombinasi psikomotorik dan psikis si penulis. Pada akhirnya disimpul ini, kredibilitas dan kepribadian penulis juga akan bermain. Semakin seiring lurusnya  si penulis dalam menuliskan kata katanya di dunia pena dan bertumbuk dengan kehidupan nyatanya, maka ia akan lebih dipercaya begitu juga sebaliknya. Misal, seorang menulis tentang buku keluarga harmonis tapi si penulisnya sendiri gagal berumahtangga, atau seorang motivator kaya raya, sedangkan ia sendiri masih miskin tentu akan lebih susah dipercaya apa yang ia tuliskan.

Buku musiman, asal comot tulis, buku buku pesanan golongan atau tokoh atau bahkan paham tertentu dapat mudah lahir secara instan. Namun,  tulisan yang biasa jadi proyek para penulis proyektor( yang sering terima proyek) atau penulis penulis hantu  jika nawaitunya dengan bumbu pencitraan atau serak serak niat lain yang sarat politik kepentingan tentu berimbas beda dengan buku yang dituturkan secara tulus untuk berbagi inspirasi.  Atau buku musiman yang sering mengekor atau musiman yang tengah tenar untuk berebut popularitas, atau bahkan buku potong tempel  tulisan orang, Oke Sah sah saja. Apalagi jika dilihat dari sisi materi sudah jelas cukup menguntungkan. Namun, jika mampu dilihat lagi buku buku semacam ini tidak terlalu tangguh bertahan dalam masa yang lama. Hanya sesingkat waktu euphoria saja biasanya. Daya gedor nya juga biasa biasa saja. Hal ini yang menjadi pembeda buku tersebut dengan buku yang lebih “berkarakter”  disisi daya “Long lastingnya”. Buku buku berkarakter jenis ini- akan dikenal lebih lama, dan cenderung awet  diingat dan dikenang oarng.  Dan begitu pun juga kebalikan yang terjadi di buku buku jenis sebaliknya.

 

 Meniati Menjadi Penulis Berkarater

#  PERTAMA : Niat kenceng jadi orang baik, niat menulis mau apa. Niat akan memancang kita untuk tetap dijalan lurus. Usaha maksimal dan tidak usah terburu ingin meraih best seller. Biarkan kualitas apa yg kita tulis sendiri yang akan memberikan judgement layak tidaknya predikat Best Seller akan bersanding.

# KEDUA. Perkuat  “Nyawa” di Gaya Menulis

 Nyawa=komitmen- koneksi yang menghubungkan- daya ketok kita daya sentuh yang beda. Karakter kita tercermin dalm tulisan kita. GAYA MENULIS ITU BUKAN KARAKTER-MELAINKAN CERMIN SIAPA KITA.  KONKRET DAN BISA DITERAPKAN, tak usah muluk muluk yang penting real dan ada nilai kontribusi

Gaya yang akan dilakoni adalah pangkal dan muara dari kemauan isi kepala kita

# ketiga Mood baik- potensi tulisan baik- sedang sehat

 Apa yang kita lakukan sejatinya  akan  memancar. Itu pula yang sering mempengaruhi mood kita dalam menulis.  Perbagus mood dengan banyak melakukan kebiasaan postif. Hal postif mampu jadi energy pendobrak yang turut merasuk dalam ruh sebuah tulisan

Penutup

AURA tulisan diipancarkan dari NYAWA   

Nyawa adalah pancaran energy dari integritas dan Kepribadian sang penulisnya. Tulisan yang beraura, spiritnya tidak sekedar berhenti di karya. Namun, mampu jauh melewati tahap energy yang lebih besar hingga mampu merubah banyak orang. A drop of Ink can move million people to think. Setetes tinta dapat menggerakkan jutaan orang untuk Berfikir. Namun, tentu bukan tinta biasa pastinya yang mampu sedemikian besar menjangkah jutaan manusia. Tintanya adalah tinta yang memiliki nyawa. Hingga saatnya akan banyak manusia mengikuti sang penulis dan karya karyannya. Ia menjadi abadi meski jasadnya mati, karena jejak manfaat tulisannya tak musnah dikalang bumi. Subhanallah!Wawwllahu muwaafiq- Ilaa aqwaami thoriq

 

 Rabu, 15 Agustus 2012