Kamis, 16 Mei 2013,sempat bedebar menanti hidupnya lampu penerangan Pesantren Mahasiswa Ar Royan di sela sela persiapan training value perdana Beasiswa Aktivis Nusantara 3 UNS. Sempat terpikirkan, “Masak baru perdana udah kaya gini..” Astaghfirullah, betapa lemahnya iman ini pada kekuasaan Allah SWT, padahal prasangka Allah adalah selalu lebih baik pada makhluk-Nya. Benar memang, hakikatnya diri kita memang tidak ada kuasa di dunia fana ini, semua adalah karena Ridho-Nya.

img_0009

Selanjutnya, selama kurang lebih 1 jam (18.30-19.30) kami dari Beasiswa Aktivis (BA) Angkatan 3 di brandstorming oleh Saudara Ikhsan dari  BA 2 mengenai project sosial “Gerakan Cinta Budaya Indonesia” yang memang menjadi satu dari sekian targetan yang coba dibangun dalam beasiswa berbasis pembinaan dan kontibusi masyarakat ini. Panjang pembahasan disertai lempar tangkap diskusi tanya jawab menyertai sesi ini. Dari mulai, alasan penangkatan budaya, konsep dasar, periodisasi hingga teknis pelaksanaan menjadi bahan yang tak berujung. Memang, inilah serunya para aktivis, tidak berhenti berpikir dan bertindak dalam upaya menyelesaikan berbagai krisis multidimensional.

Training value pun akhirnya dimulai pada pukul 20.00 bersama Mbak Rizka dan Bu Nur Hidayah (biasa dipanggil Bu Nuk) dari manajemen pusat Dompet Dhuafa memaparkan mengenai apa yang disebut dengan trustworthy atau kepercayaan. Diawali dengan definisi,” Trustworthy: Jujur dan dapat diandalkan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban“ kami dibawa mengarugi samudera ilmu yang berasal dari galian hikmah perjalanan, perjuangan dan pengalaman Bu Nuk dalam mengelola ibu ibu sekitar rumah hingga menjadi direktur pendidikan Dompet Dhuafa. Dalam sharing experience beliau ingin mengatakan bahwa yang terbaik adalah menanamkan nilai dengan melakukan (experience), karena disana ranah ranah emosi akan bercampur dengan idealisme mengalahkan sekadar teori teori di buku yang sering kali terlalu kaku.

Sebelum memaparkan berbagai argumentasi, ide dan prinsip prinsip trustworthy, beliau menayakan satu per persatu anak BA 3 tentang amanah, aktivitas dan nilai nilai yang ingin disebarluaskan sebagai seorang aktivis. Beliau mengatakan bahwasannya beliau disini justru akan lebih banyak belajar dari para aktivis, bukan pasif satu arah mengajar layaknya seorang guru konvensional. Kami pun mendapat jatah untuk mencatat setiap mimpi dan idealisme teman teman kami agar ketika ada salah satu yang kendor, maka tinggal disetrum dengan pengingatan dan arahan. Memang, tidak dapat dipungkiri para aktivis ini ibarat striker striker kampus yang memiliki ego dan garapannya masing masing. Maka, bagaimana potensi sekaligus tantangan ini mampu dijadikan keunggulan kolaboratif, hal tersebut menjadi pekerjaan komunal.

Dalam Sharing Experience, ada 4 hal yang menjadi ini pembahasan kali ini, yaitu:

  1. Kuantitas: Besar Vs Kecil
  2. Optimalisasi Potensi Bukan Eksploitasi Kelemahan
  3. Nilai Tambah (Added Value)
  4. Pembangunan Karakter

Pertama, dikatakan beliau bahwa amanah tidak ada hubungannya dengan besar kecilnya jumlah. Sering kali, ketika kita diberikan uang terbatas, misalnya 1 juta, maka kita akan merinci dengan detail bagaiaman jumlah tersebut mampu dikonversi dan dipilah pilah agar dapat optimal dimanfaatkan. Namun, ketika kita memperoleh dana besar, sebut saja 50juta, kita akan sangat tergiur untuk segera menghabiskannya dengan berbagai alasan yang terkadang kurang bisa dipertanggungjawabkan. Ini adalah ranah moral dan value yang apalagi dikorelasikan dengan agama samawi, pertanggungjawabannya tidak hanya didunia namun jauh lebih besar di akhirat nanti. Hal ini didasarkan pada hadist “Setiap muslim atas muslim yg lain haram darahnya, hartanya & kehormatannya. “ (Hadits ibnumajah 3923) Yang mana, kita sebagai para penggerak aktivitas kampus sangat sering dibenturkan dengan dana alokasi lembaga, delegasi dan hibah pemerintah. Karena, uang pemerintah berasal dari rakyat, maka kewajiban bagi kita kitalah mempertanggungjawabkannya sesuai kaidah hukum dan agama agar tetap merupakan uapaya riil berkontibusi pada rakyat, baik langsung maupun tak langsung.

Kedua, dalam membangun sebuah gerakan sosial atau pengembangan komunitas yang perlu menjadi fokus adalah keunggulan potensi SDM dan lingkungannya, bukan justru mengelak, mengeluh dan meyalahkan kekurangan yang ada di masyarakat tersebut. Kita hanya perlu memikirkan apa yang tepat sasaran dan tujuan agar setiap yang dilakukan dapat membaea perubahan pada masyarakat. Seringkali, kita menemui mahasiswa terlalu tinggi bahasanya, sementara masyarakat butuh sesuatu yang sederhana dan aplikatif sesuai kebutuhannya. Maka, ketelatenan untuk mengenali, memahami dan saling mengisi antara mahasiswa dan masyarakat merupakan tahapan tahapan yang mesthi dipijaki satu per satu. Bahkan, mewanti wanti agar tidak jadi mahasiswa nomaden, yaitu berpindah pindah sasaran masyarakat ketika dianggap terlalu sulit diatur atau bahkan dianggap sudah selesai urusannya. Padahal, satu poin penting bahwasannya permasalahan di msayarakat tidak akan pernah selesai, dari mulai ekonomi, sosial, agama dan pendidikan menjadi begitu genit untuk begejolak mengikuti perkembangan zaman. Contohnya, jamkesda yang hingga saat ini banyak rakyat yang memegang tapi tidak mengerti dan tidak berani untuk menggunakannya ketika berhadapan dengan pihak rumah sakit yang semestinya bermurah hati menampung dan melayani.

Ketiga, fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan dimana posisi mahasiswa adalah sebagai jembatan penyambung tiga kepentingan (pemerintah, masyarakat dan pengusaha) yaitu menambah nilai (added value) sebuah masyarakat. Modal posisi dan kompetensi mahasiswa, amatlah sayang jika dibiarkan terbengkalai dan terkalahkan dengan desakan tuntutan perkuliahan yang tak kunjung ada habisnya. Memang bikan untuk menaifkan kewajiban kuliah, tetapi rasanya tidak seru kalau mahasiswa keluar dari kampus hanya mendapatkan ijazah tanpa mampu meninggalkan sesuatu, misal sistem, generasi penerus maupun perubahan di masyarakat. Kata Ki Hajar Dewantara, “Sekolah yang justru menjauhkan siswanya dengan masyarakat adalah sekolah gagal.”

Keempat, pembangunan karakter adalah solusi paling dekat dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Kita dilecehkan, bukan hanya karena bangsa lain lebih hebat, tetapi karena kita pantas dilecehkan, karena kita tak punya karakter, ethos, kompetensi dan keunggulan kompetitif. Ini adalah rasionalitas yang nyata kita dapati di ranah implementatif. Hari ini, ketika sistem pendidikan formal hanya mampu mewadahi pengembangan kompetensi, maka peran kita sebagai aktivis yaitu mengembangkan pola kritis, karakter dan budaya. Dimulai dari diri sendiri, orang sekitar hingga media yang sekarang menjadi corong propaganda dan intrik politik. Ya, kata Pramudia Hananta, “Kalau kamu cerdas, tapi tak menulis, maka buanglah kecerdasanmu ke liang lahat.

Tantangan Diri

Secara khusus, saya ditantang Bu Nuk untuk meluruskan paradigma berpikir dalam penggunaan dana PKM. Ya, karena saat memaparkan aktivitas, saya katakan bahwa dengan saya menulis, saya mampu menyalurkan sedikitnya 100 juta rupiah selama kuliah untuk kepentingan masyarakat, misal melalui PKMM, Hibah Bina Desa, dan KKN LPPM UNS. Namun, seketika itu pula paparan saya dipotong dengan pertanyaan, “Berapa program yang berhasil dan berlanjut serta berapa yang sudah berhenti?” Memang harus saya akui, selama ini alur pemikiran saya memilih bahwasannya ketika kita mampu menggunakan dana terbeut tetap pada jalur kebaikan, itu tidak masalah. Namun, menurut beliau hal ini tetaplah salah dan harus diluruskan agar pertanggungjawaban tetap sesuai dengan apa yang diajukan. Misalnya, ketika kita menuliskan 3 juta untuk pengadaan barang, maka jatah ini tidak boleh dipotong untuk kepentingan transportasi dan honoarium mahasiswa. Ini perlu dibedakan, bahkan apabila perlu harus dikembalikan ketika tidak dapat dipergunakan sesuia dengan semestinya.

Sendika dawuh, saya pun akan segera berkonsultasi dengan guru saya dibidang keuangan untuk mengetahui fiqih pengelolaan dana seperti ini. Selanjutnya, saya ingin menginisiasi untuk membuat komunitas “PKM JUJUR!” dimana kita berkhidmat mengelola dana rakyat ini secara bertanggungjawab dan berkesinambungan menjadi program berkelanjutan dengan saling memberikan pertolongan antara satu anggota dengan anggota lainnya. Gerakan moral ini, akan saya mulai di UKM SIM UNS sendiri sebagai penyumbang proposal lolos Dikti, DIPA, dan hibah yang cukup besar. Kemudian, gerakan ini saya harapkan mampu tersebar luas menjadi pergerakan komunal yang akan menjadi ciri UNS Berbudaya.

Terakhir, prinsip Probono Publico yaitu jika kita mampu memberikan bayaran bagi tenaga bergaji, kita juga harus mampu memberikan atau menolong orang yang tak berbayar. Termasuk dalam Bakti Nusa ini, kita dituntut agar kebaikan dan amanah dari uang masyarkat ini tidak berhenti di kita. Kita jaris mampu meng-create beasiswa ini menjadi lebih banyak penerima manfaatnya. Misalnya dengan bersama membangun masyarakat, mengawal organisasi kemahasiswaan hingga membuka kran informasi sebanyak banyaknya bagi lingkungan sekitar. “SIAP”, kata terakhir yang menutup training value perdana sekaligu mengawali jejak langkah perjuangan meruntuhkan egoisme dan membangun jatidiri untuk memperoleh Ridho-Nya. BA 3 UNS: DINAMIS PRODUKTIF JAYA!!!! (Oleh: Dwi Prasetyo)