IMG_0843 “Bengawan Solo… riwayatmu kini..,” senandung syair dari Gesang seolah menggambarkan pasrahnya sang sungai pada kelakuan manusia manusia tak beradab. Manusia yang dahulu memulai kehidupan dari sungai, hari ini justru menodai kesucian sungai dengan berbagai perilaku senonoh seenak udel-nya, baik dengan membuang sampah sembarangan hingga meracuni ikan dengan berbagai kombinasi zat kimia berbahaya. Akankah sebegitu bodohnya manusia hingga kemudian rela menukar sejarah hanya untuk memenuhi nafsu perut yang terus membengkak? Tidakkah kita lupa, bahwa pada akhirnya manusialah yang akan menuai hasil perbuatannya?

Sebagai generasi muda, apalagi calon intelektual yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Perasaan geram dan kecewa terus berkecambuk hingga menggiring pada keinginan untuk ikut serta memerangi penjajahan alam ini. Seketika, peluangpun datang untuk kemudian mendorong kami membuat proposal Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM). Setelah melewati proses seleksi yang ketat dan panjang dari Tim Direktorat Perguruan Tinggi (DIKTI), proposal kami diterima dan didanai bersama ratusan tim lainnya dari Univeristas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

Awal bulan Maret 2013 menjadi awal langkah perjalanan kami, mengabdi pada Bengawan Solo. Setelah berdiskusi panjang, kami memilih Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS) di daerah Juwiring, Klaten sebagai pusat kegiatan. Pendidikan kami pilih sebagai cluster pengabdian dengan pertimbangan bahwa guna memperoleh hasil yang maksimal dan berkesinambungan, anak anak adalah kata kunci untuk masa depan. Ditambah dengan konsep SABS yang mengintegrasikan sekolah, masyarakat dan alam sebagai segitiga kekuatan pembangunan menambah keyakinan kami untuk bermitra dengan pengelola SABS.

Ruang terbuka yang dipadu dengan pulau pulau gazebo beratap non permanen menjadi bagian dari kisah perjalanan SABS. Dua tahun perjalanan sekolah senantiasa disertai senyum kecerian 17 pandhawa dan srikandi kecil. Para murid ini berasal dari desa desa sekitar yang mencoba melawan mainstream pendidikan yang hanya berorientasi pada nilai kognitif dan ujian. Entah, apa yang ada dibenak anak anak ini, bagi kami merekalah mutiara mutiara bangsa yang dikemudian hari kami yakini akan menjadi agent of change peradaban.

Kegiatan pengabdian kami berfokus pada 3 hal, yaitu pemanfaatan barang barang bekas, pemanfaan lahan menjadi apotik hidup dan penanaman karakter cinta lingkungan pada anak. Beberapa kegiatan yang kami lakukan, yaitu menonton film kartun tentang lingkungan, pembuatan souvenir dari botol bekas, menggambar, melukis, menghias tempat sampah dan deklarasi “Save Our Environtment.” Harapannya, anak anak memiliki kepekaan dan usaha untuk mendaur ulang sampah guna menjadi karya yang lebih bermanfaat. Selanjutnya anak anak diajak menanam berbagai tanaman obat untuk apotik hidup di area sekolah, sepeti binahong, jahe merah dan alang alang.  Dikemudian hari, ternyata orangtuapun turut memanfaatkan beberapa tanaman ini ketika terkena sakit, seperti flu dan demam. Sebagai penutup, di bulan Juni kami mengajak anak anak outing class ke desa sadar lingkungan di daerah Sukunan, Yogyakarta, sekitar 3 jam perjalanan dari Kklaten. Disana, kami mendapatkan banyak ilmu seperti bagaimana menjernihkan air limbah dengan bakteri, pembuatan kompos dan briket serta daur ulang limbah plastik menjadi tas dan dompet kreatif.

Pasca  kegiatan, berdasarkan hasil wawancara dan evaluasi bersama Kepala SABS, Jefri Nur Arifin, ST dapat dikatakan bahwa kegiatan ini berdampak postif dan signifikan terhadap perkembangan pengetahuan dan karakter cinta lingkungan pada anak. Selanjutnya, untuk menjamin keberlanjutan dari program ini, kami bersama menggagas “Forum Peduli Bengawan” yang nantinya akan menjadi embrio pelaksanaan “Bengawan Solo in Action” dengan memasukkan unsur mahasiswa, sekolah, pemerintah, pengusaha dan masyarakat. Dipadu dengan pengelolaan website www.pedulibengawan.com dan fanspage facebook “Bengawan Solo in Action” kami mengajak segenap masyarakat untuk ikut serta dalam program peduli sungai Bengawan Solo ini. Bergerak, bersinergi dengan alam. (Oleh: Dwi Prasetyo)