dekadeSabtu, 24 Agustus 2013 bertempat di Wisma milik Kementrian Pertanian RI di wilayah Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Hampir 500 pelajar dan mahasiswa dari Sabang hingga Ambon berkumpul dalam satu event besar, “Dua Dekade Beastudi Dompet Dhuafa.” Acara ini digagas oleh manajemen pusat Dompet Dhuafa guna memperingati ataupun menyelami 20 tahun perjalanan Dompet Dhuafa dalam mengawal proses pendidikan di Indonesia, dikatakan bahwa ada 3 fase dalam mengarungi long march ini, yaitu fase akses (1993-1999), fase pengembangan kepercayaan diri dan prestasi (2000-2010), dan fase kepemimpinan dan jaringan (2011-sekarang). Isu negarawan terus diangkat untuk meng-otak atik paradigma negarwan secara formal yang hanya mengacu pada birokrasi dan politik strukutural. Disini, oleh Bang Romi Ardiansyah, Direktur Beastudi Indonesia, coba dipahamkan kepada para penerima manfaat bahwa negarawan adalah mereka yang berpikir, peduli dan bertindak untuk bangsa dan masyarakat. Entah sebagai pengusaha, guru, ataupun budayawan, ketika kita murni berbuat untuk kepentingan masa depan negara, maka itulah sosok negawaran sejati.

Perjalanan 12 laskar beasiswa aktivis nusantara Universitas Sebelas Maret Surakarta (Baktinusa UNS), yaitu Febrian Indra, Siswandi, Putra Pamungkas, Satria Adi, Greget Kalla Buana, Agus Sholikhin, Dwi Prasetyo, Erma Malinda, Erny Ratnawati, Titis, Roffiul, dan Woro dimulai dengan membawa misi “Aksi Cinta Budaya Indonesia” yang kemudian diwujudkan dalam “Majalah Aktivis” yang terbit pertama di tahun 2013. Selain itu, penggunaan seragam batik khas Solo semakin menambah suasana tradisional dan ethnic. Unsur budaya kita angkat selain karena latar belakang Solo dan UNS, juga dikarenakan kegeraman kita terhadap sikap pemuda saat ini yang semakin praktis dan pragmatis dalam memandang kepentingan modernisasi. Kealfaan terhadap internalisasi budaya sebagai benteng kesatuan,tergerus oleh globalisasi atas nama kesetaraan dengan negara lain. Padahal tidak semuanya baik, contohnya budaya ketimuran dengan gotong royong telah begeser di wilayah perkotaan yang seringkali membangun rumah dengan tembok tinggi sehingga satu sama lain tidak saling mengenal tetangganya. Ini kemudian kita formuliasikan dengan gerakan sosial “Balik Pasar” yang berkonsentrasi di Pasar Legi, Surakarta untuk bersama mengembalikan minat beli masyarakat ke pasar tradisional sekaligus peningkatan muta pasar tradisional tanpa mengurangi nilai nilai dan ciri sebuah pasar rakyat seperti ini.

Di hari pertama, welcome speech dengan agenda ramah tamah bersama Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Bapak Ahmad Juwaeni, membawa peserta pada makna kehadiran, posisi serta proyeksi masa depan Dompet Dhuafa menghadapi tantang globalisasi. Oleh karenanya, pesan beliau dalam salah satu termin, karakter manusia yang harus dimiliki di era globalisasi adalah daya adaptasi dan kemampuan menghadapi tantangan. Sehingga, dengan semakin cepatnya proses pergantian fase kemajuan, kita harus cerdas dalam belajar dan memenuhi segala skill yang dibutuhkan agar tidak terdampar di batas jurang ketertinggalan, paling dekat adalah dengan penguasaan bahasa internasional dan teknologi informasi. Proyeksi ekonomi yang dipresentasikan Bapak Ahmad Juaweni, membuat kami terus menjaga optimisme idealisme mahasiswa agar terus tertanam membawa perbaikan perbaikan yang positif.

 Bersama 533 penerima manfaat aktif serta 2363 alumni beastudi Dompet Dhuafa, kami dituntut agar kebaikan ini tidak berhenti di diri kita, namun berlanjut dengan kontribusi riil bagi masyarakat. Entah itu, dengan prestasi, keorganisasian, maupun gerakan sosial yang bervisi pemberdayaan umat secara langsung dan tidak langsung. Hal ini ditunjang dengan training value, training jurnalistik, forum diskusi dan temu nasional yang membuat kami terus menjaga konsistensi semangat negarawan. Kami juga belajar untuk saling memahami, dikarenakan padatnya agenda akademik, keorganisasian dan profesi masing masing penerima beasiswa aktivis membuat kami untuk semakin toleran, efektif dan kredibel dalam menjalankan amanah ini. BA 3 UNS: Dinamis, Produktif, Jaya!! (Oleh: Dwi Prasetyo)