“Jangan bercita-cita menjadi orang hebat, tapi lakukanlah apa yang orang hebat lakukan. Inilah konsep sederhna seorang negarawan muda. Negarawan muda tidak lagi membicarakan masalah posisi struktural dalam sebuah organisasi. Negarwan muda berbicara tentang kontribusi dan karya dalam organisasi.” eri sudewo

 

Eri-sudewoKalimat diatas menjadi pembuka pertemuan pagi itu (25/08). Pertemuan yang di ikuti oleh seluruh penerima manfaat beastudi dompet dhuafa ini, merupakan sebagian dari serangkaian acara dua dekade dompet dhuafa yang bertajuk “kongres negarwan muda, belajar merawat Indonesia”.

Pagi itu seluruh peserta mengikuti training character building oleh eri sudewo. namun sebelumnya, semua peserta diberikan pengantar terlebih dahulu tentang “pemaknaan negarawan muda”. seluruh peserta diberikan gambaran tentang definisi negarwan dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang negarawan muda. harapan dengan adanya pengantar ini adalah seluruh peserta mampu menerapkan nilai-nilai tersbut dalam aktifitasnya sehari-hari.

Eri sudewo kemudian menjelaskan bahwa semua orang bisa menjadi seorang negarwan. Negarawan bukan hanya mereka yang sedang duduk dipemerintahan ataupun mereka yang ahli dalam hal tata negara. Beliau menilai bahwa pengertian tersebut terlalu sempit dan sederhana. Menurut lekaki yang akrab disapa pak eri ini menjelaskan bahwa “seorang negarawan adalah ia yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan bangsanya”.

Dalam konteks Indonesia saat ini beliau juga memberikan pandangannya. Beliau menilai bahwa saat ini di Indonesia sangat sulit untuk menemukan seorang negarawan. Beliau bisa berargumen seperti ini berdasarkan fakta yang ada dilapangan. Dimana banyak kita lihat baik dimedia cetak maupun elektronik, banyak petinggi bangsa ini –orang-orang yang duduk dikursi parlemen- yang lebih mementingkan nafsunya daripada kepentingan umum. Banyak petinggi dinegeri ini yang keluar masuk gedung KPK dll.

Ada anekdot yang menarik “kenapa bunga bangkai hanya tumbuh di Idonesia?”. Semua peserta pada waktu itu hening. Kemudian ada satu peserta ynag memberanikan diri untuk menjawab “Karena Indonesia sudah terlalu semrawut (kotor/busuk), sehingga alampun memberikan tanda-tandanya”. Mendengar jawaban itu pak eri mengiyakan. Sehingga beliau sampai pada sebuah kesimpulan bahwa “Indonesia adalah contoh sebuah negara yang tidak pantas untuk dicontoh”. Mendengar statemen tersebut banyak peserta yang mengerutkan kening, ada juga yang menundukan kepala seolah mereka meng’iyakan apa yang disampaiakan pak eri.

Setelah diberikan pemaparan tentang negarawan muda acara kemudian dilanjutkan dengan character building. Dalam materi ini dismapaiakan bahwa kualitas seorang manusia ditentukan oleh dua hal yaitu kompetensi dan karakter. Kmpetensi adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas. Sementara karakter adalah sekumpulan nilai baik yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi sebuah kebiasaan.

Beliau menganalogikan kompetensi dan karaktek ibarat sebuah rumah. Karakter itu merupakan pondasi sedangkan dinding dan atapnya adalah kompetensi. Sehingga kompetensi dan karakter memang tidak bisa dipisahkan satu sama lain kedua saling melengkapi dna menyempurnakan.

Lagi-lagi beliau kembali membawa semua peserta untuk melihat realita Indonesia hari ini. beliau menegaskan bahwa bobroknya Indonesia saat ini bukan karena orang Indonesia bodoh-bodoh, orang Indonesia itu pandai-pandai akan tetapi mereka tidak mempunyai karakter yang kuat. Sehingga, merkea hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain yang ingin mengeruk dan menghancurkan negara ini. berangkat dari hal inilah pendidikan berdasarkan karakter menjadi penting. Diakhir acara beliau juga menegskan bahwa karakter inilah yang harus dimiliki oleh semua penerima manfaat beastudi dompet Dhuafa sehingga harapan Indonesia lebih baik di beberapa tahun kedepan bisa terwujud. (Siswandi)