280113-DOK-SKBS

“Tidak ada guru dalam SKBS, tapi posisi guru dipegang oleh pendamping.”

Sekolah Kampoeng Bhakti Saseru (SKBS), bukanlah seperti sekolah pada umumnya. Namun, mereka adalah sebuah komunitas yang mengabdikan sebagaian waktunya untuk memberikan pengajaran pada anak-anak yang berada di Kampung Ngaglik, Mojosongo, Solo justru di luar waktu formal belajar. Mereka yang tergabung dalam komunitas ini merupakan mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) Universitas Sebelas Maret (UNS). SKBS juga merupakan anak cabang dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FSSR.

SKBS melakukan kegiatan mengajar setiap hari Minggu di beranda masjid pukul 13.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Saat ini, sebanyak 60-an siswa menjadi anak-anak mereka mulai dari kelas 1 Sekolah Dasar (SD) hingga kelas 6 SD. Mereka sengaja merangkul anak-anak karena keprihatinan mereka atas dampak era globalisasi yang buruk. Menurut Kepala Sekolah SKBS Widya Saraswati, saat ini tidak bisa dimungkiri bahwa anak-anak sudah mulai mendapatkan efek buruk seperti lagu-lagu dewasa dan film dewasa. Hal ini jika terus dibiarkan tentunya akan meresahkan. SKBS pun menjadi jawaban sebagai langkah nyata mahasiswa-mahasiswa tangguh ini untuk ikut berkontribusi mengembalikan anak sesuai dunianya.

SKBS telah berdiri sejak 24 April 2011. Setiap tahunnya selalu ada pergantian pengelola mulai dari kepala sekolah, wali kelas, hingga kakak pendamping. Tidak ada guru dalam SKBS, tapi posisi guru dipegang oleh pendamping. Biasanya setiap kelas dipegang oleh satu wali kelas dan dua pendamping.

Bergabung dalam komunitas SKBS bisa dilakukan oleh semua mahasiswa FSSR UNS yang memiliki ketertarikan dan terketuk untuk melakukan aksi sosial. Mereka harus mengisi formulir dan mengikuti training untuk belajar tentang psikologi anak dan cara-cara menjadi pendamping. “Jika sudah menjadi pendamping, nanti akan dikontrak selama satu tahun,” kata Widya, baru-baru ini.

Jalankan Misi           

Tak hanya berganti dalam hal pengelolaan, setiap tahun juga selalu berganti kurikulumnya. Tahun pertama mereka berdiri, memakai kurikulum Leadership Training sedangkan tahun kedua ini, mereka menggunakan kurikulum Ekspresi dan Kreasi Lewat Seni Budaya. “Lewat kurikulum ini mereka diajarkan tentang budaya kita. Selain itu mereka juga diajarkan mengaplikasikan ilmu dalam bentuk drama,” jelas Widya.

Menjalankan tugas mulianya ini, tentulah ada sejumlah kendala yang mereka alami. Maklum saja, objek yang mereka hadapi adalah anak-anak yang masih cenderung aktif dan tak jarang susah untuk diatur. Berbekal kesabaran dan rasa ikhlas, mereka pun terus menjalankan misinya. “Kadang memang anak-anak susah untuk diatur, tapi bagaimana kita meresponsnya dengan bijak,” ungkap Widya.

Ke depan, SKBS masih ingin mengembangkan kegiatannya. Bahkan tak hanya anak-anak yang mereka ajak bergabung tapi juga remaja SMP dengan menggandeng karang taruna setempat. “Rencananya kami nanti bakal mengajak karang taruna agar ikut bergabung,” tandasnya. (Joglosemar)