SOLO – Sebanyak 80 mahasiswa dari tujuh universitas, yang tergabung dalam aktivis mahasiswa Bakti Nusa Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa 2013, menggelar epilog budaya serta deklarasi aksi cinta budaya Indonesia.

Indrawan Yeoe

Deklarasi yang digelar di Plasa Taman Sriwedari ini, sebagai wujud perhatian dan kepedulian para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam bakti nusa untuk mendukung pelestarian budaya Indonesia. Acara dimulai dengan pembacaan epilog yang dibawakan Indarawan Yepe, budayawan asal Solo. Dalam epilognya Indrawan, mencoba mengingatkan budaya yang kerap melekat pada aktivis kampus yang selalu telat lulus.

“Sudah terlalu asik menjadi aktivis dan selalu diskusi sana sini, tapi lupa akan tugas dan kewajibannya menjadi seorang mahasiswa. Padahal kelulusan menjadi suatu kebanggaan  untuk membahagiakan orangtua mereka. Kita coba ingatkan budaya ini jangan sampai terulang dari tahun ke tahun,” kata Indrawan, Selasa (30/4/2013).

Dilanjutkannya, orasi budaya ini juga bertujuan untuk menguatkan para generasi muda agar lebih menghormati budaya sendiri daripada negara lain. Di tengah zaman modernisasi yang semakin menglobal, kata dia, jangan sampai para generasi penerus bangsa ini lupa akan budayanya sendiri atau bahkan merusak budaya.

Melalui aksi dan deklarasi ini diharapkan akan lahir bibit-bibit negarawan muda Indonesia yang memiliki jiwa dan semangat budaya, sebagai aset dan kekayaan luhur bangsa yang tak ternilai harganya.

”Orasi sosial tentang budaya ini mahasiswa dapat menggali budaya dan memperbaiki proses perbaikan bangsa Indonesia ke depan,” kata Yuli Ardika Prihatama, salah satu panitia temu nasional Bakti Nusa Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa 2013.

Sri Ningsih|@NaningSoemodiha

Sumber : www.soloblitz.co.id