Selasa, 14 Januari 2014 menjadi awal langkah saya dalam upaya merealisasikan teori, diskusi dan harapan untuk sebuah kata ‘mengabdi’. Teringat salah seorang adik tingkat yang menyampaikan asa, “Mas, aku ajari sociopreneur.” Aku pun tertegun sejenak dan menjawab, “Aku masih belajar dan sociopreneur itu tak bisa sekadar diungkapkan, namun dibuktikan.” Bukan berarti saya tidak pernah mengabdi, hanya saja secara jujur dan de facto bahwa pengabdian pengabdian yang saya lakukan baru sekadar latah seorang aktivis mahasiswa. Pengabdian yang masih sekadar menyusu pada lembaga, program ataupun komunitas. Sebut saja pengabdian masyarakat di Tunggulrejo, Gulon, Pasar Legi, SABS ataupun selainnya yang sempat saya cicipi sebagai sebuah aksi kepedulian, kepedulian yang kebetulan. Atau dengan kata lain secara individu, diri ini belum teruji sebagai seorang ‘sociopreneur’. Baiklah, setiap orang punya hak untuk belajar, baik dimulai dari nol bahkan minus, yang terpenting adalah memaknai prosesnya.

          tw  Awal mula cerita, saya diberi tugas oleh Baktinusa untuk magang di tokoh, mengikuti orang yang sekiranya akan menjadi gambaran diri kita 10-20 tahun lagi. Ya, tanpa harus berkecil hati tetaplah tentukan cita cita agar seluruh potensi dan semesta mendukung segenap asa. Dan, Pak Indrawan Yepe menjadi pilihan saya. Mengapa? Selain karena setiap orang boleh memilih, ada satu moment yang tidak dapat saya sampaikan disini dimana saya menjadi mengerti arti sebuah amal dan kontribusi, yang tak hanya sekadar berhubungan dengan materi dan jabatan struktural formal dalam zona nyaman. Bahwa pendidikan tinggi, gelar juara setumpuk hingga piala satu almari akan sirna ketika kita tak mampu menjawab problematika umat. Orang tak akan pernah bertanya anda pernah menang lomba apa, tetapi hanya ‘saya punya masalah ini, anda bisa atau tidak membantu menyelesaikannya.’ Kompetensi dan integritas pribadi yang telah terbukti dalam kerja kerja nyata agaknya jauh lebih penting untuk kita persiapkan.

            Sekitar pukul 10.30 WIB bersama Titis (anak baktinusa), Faza (anak PINTU Indonesia), Pak Indrawan (mentor) dan Pak Banto (Pengusaha properti), menaiki mobil nissan serena menempuh perjalanan menuju kawasan Tawangmangu, tepatnya di Lembah Manah. Lembah Manah terletak di tepat disamping gapura ‘Selamat Datang’ Tawangmangu, seberang villa. Tujuan kami adalah untuk melakukan observasi dalam upaya pembentukan agowisata yang akan menaungi aspek pendidikan, penelitian dan pemberdayaan masyarakat. Pendidikan diwujudkan dalam bentuk sekolah alam yang akan mengajarkan anak anak mengenai urgensi menjaga kelestarian alam, metode bercocok tanam hingga outbond di sungai. Penelitian dikhususkan dalam upaya menyelesaikan permasalahan tanaman pangan di Tawangmangu, misalnya terkait pembuatan varietas unggul, inkubasi tanaman bermasalah hingga rumah kaca untuk budidaya tanaman baru. Sementara, pemberdayaan masyarakat terkait pemanfaatan lahan untuk pertanian terpadu, yaitu peternakan, pertanian dan perikanan yang bersifat berkelanjutan.

            Hal yang diajarkan pada saya adalah kemauan untuk memulai sesuatu dari nol. Menjalani, mengambil hikmah, memperoleh pengalaman untuk membersamai proses dari sebuah pembentukan wilayah, baik wilayah fisik maupun sosial. Dengan kita menjadi bagian penting dari proses tersebut, maka kita akan mengerti apa itu perjuangan, kerjakeras dan integritas. Karaker yang tidak dapat diajarkan hanya dalam suasana akademik teoritis. Namun, merupakan pembiasaan dan peneledanan dari kerja kerja nyata di lapangan.

            Akhirnyapun, saya dan Titis juga harus turut ‘nyemplung’ ke Sungai di bawah Lembah Manah untuk membuat rute arum jeram untuk nantinya menjadi bagian dari outbond. Bersama guyuran hujan, setelah bertahun tahun tak bersentuhan dengan sungai besar, tubuh ini ikut berayun dengan derasnya aliran yang harmoni dengan batu batu besar di sepanjang aliran. Karena tidak diberitahu sebelumnya, kami akhirnya basah kuyup hingga kos masing masing. Tak apa, sekali kali..

            Dalam proyek ini, saya diamanahi untuk menjadi kepala laboratorium tanaman pangan. Oleh karenanya, satu hari kemudian saya mengaja Bani Noor Rachim, teman sejawat saya di SIM UNS yang saat ini tengah beramanah sebagai Ketua Umum Kelompok Studi Ilmiah Fakultas Pertanian. Beliau saya rasa tepat, selain karena berada di jurusan Agroteknologi dengan konsentrasi agronomi, beliau juga semapat student exchange di Malaysia serta berdomisili di Eks Karesiden Surakarta. Pikir kita harus panjang, menyiapkan segala sesuatu agar terus berkembang tanpa batas.

            ‘Pintar itu bukan sekadar anggapan, tapi buktikan!’ Sebuah pesan mentor untuk terus berproses dalam realita dan permasalahan masyarakat tanpa terkungkung dalam batas penjurusan kuliah. Tugas kita adalah menmabah kapasitas dan kapabilitas agar sedekat dekatnya memenuhi amanah rasul dalam hadist ‘khairunnas anfa’uhum linnas’ atau ‘sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.’ Agar mampu bermnafaat kita harus memiliki kemampuna untuk beradaptasi dan menjadi problem solver. Tak sekadar jadi kritikus, benalu ataupun penonoton kondisi umat yang kian hari kian dekat dengan hedonisme. Ohya teringat satu perkataan Nabi, ‘Kefakiran itu lebih dekat pada kekufukuran’. Hari ini kita sering berdialog mencemooh orang orang yang mau dicabut imannya hanya karena mie instan ataupun lebih memilih ikut sekolah ahad pagi gratis.

            Oleh karenanya, mari menjadi pribadi yang berhijrah dari sebelumnya berangan menjadi berupaya, berkeinginan menjadi berusaha, dari meminta menjadi memberi, dari diam kemudian bergerak dan dari teori menjadi praktik. Seberapapun ilmu yang kita miliki, yang lebih penting adalah daya guna dari ilmu dan ikhtiar kita untuk berkontibusi dalam menyelesiakan permasalahan umat. Adanya masalah memang diciptakan untuk menjadi wahana fastabiqul kahirat bagi mereka yang beriman.