A Moment Represents The Trustworthy Itself

With Bu Nur (by Greget Kalla Buana)

Solo, 14 Juni 2012. Untuk yang kedua kalinya, training value berhasil diselenggarakan dengan baik bahkan lebih baik daripada sebelumnya karena kali ini kegiatan dapat dilaksanakan di lingkungan kampus UNS. Bertempat di Aula Kemahasiswaan Pusat, sebuah training yang berfokus pada internalisasi nilai trustworthy disampaikan dengan sangat menarik oleh Ibu Sri Nurhayati dari Dompet Dhuafa. Bu Nur — begitu sapaan beliau — dengan pembawaannya yang enerjetik, luwes, dan easy going menjadikan training ini jauh dari kata membosankan. Berbeda dari kebanyakan training di lingkungan akademis yang biasanya berjalan dalam format klasikal, training value kali ini dikemas sedemikian rupa sehingga suasana yang terbangun begitu erat, hangat, dan bernuansa kekeluargaan. Alhamdulilaah, meskipun beberapa ada yang terlambat — maklum, aktivis yang masih banyak kesibukan produktif — akhirnya kami bisa berkumpul secara lengkap, berdelapan.  Acara dimulai sekitar pukul 13.00 yang diawali presentasi oleh salah seorang penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa), yakni Yuli Ardika Prihatama dan dilanjutkan dengan presentasi oleh  penerima Bakti Nusa lainnya, Anggel Dwi Satria — as usual, they’re so lucky to be #1. Banyak hal yang disampaikan keduanya terkait apa itu trustworthy, tentunya menurut pandangan mereka dengan disertai kajian yang cukup mendalam.

Apa yang disampaikan — masih tentang trustworthy — terasa begitu dekat dengan kehidupan seorang aktivis. Tidak banyak pertanyaan yang muncul, ya barangkali karena sebagai seorang aktivis setiap hari kami disuguhi dengan situasi dan kondisi di mana trustworthy bukan sebagai hal baru, melainkan sebuah tuntutan untuk dimiliki dan menjadi bagian dari karakter manusia. Sesi yang paling menarik adalah saat di mana satu per satu dari kami menceritakan aktivitas yang saat ini digeluti. Awalnya, Bu Nur hanya meminta kami menjelaskan kegiatan yang ditekuni secara singkat. Akan tetapi, ya lagi-lagi namanya aktivis yang vokal, ada saja kisah-kisah menarik yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Alhasil, jadilah sesi itu sebagai sharing moment — curhat, yuk. Bu Nur menjelasan tentang apa sebenarnya trustworthy yang bermakna amanah. Beliau juga memberikan gambaran secara nyata tentang bagiamana amanah yang selama ini kerap kali kita katakan dengan mudah, tidak berjalan dengan semestinya di masyarakat. Banyak di sekeliling kita para pemegang jabatan atau wewenang di berbagai tingkatan yang gagal memenuhi tanggung jawabnya karena mereka tidak memiliki amanah. Sebagian tergiur dengan iming-iming harta dan kekuasaan. Amanah tidak sekadar nilai kehidupan yang melekat begitu saja pada diri seseorang, tetapi muncul sebagai akibat dari konsistensi dan keteguhan untuk live by the rules.

Bu Nur tidak hanya memberikan materi tentang trustworthy, tetapi juga mengingatkan program sosial sebagai bentuk kontribusi para penerima Bakti Nusa kepada masyarakat. Penerima Bakti Nusa yang tergabung dalam satu institusi perguruan tinggi memang diwajibkan memiliki dan menjalankan program sosial masyarakat secara kolektif yang berkelanjutan dan mampu diteruskan kepada para penerima beasiswa berikutnya. Penekanannya ada pada pemahaman bahwa program sosial tersebut bukan sekadar memberikan bantuan kepada masyarakat tanpa ada yang mereka lakukan. “Itu tidak mendidik,” kata Bu Nur. Memberikan kesempatan agar mereka bekerja dan berusaha, itulah seharusnya yang dilakukan sekaligus menanamkan mental yang baik bagi masyarakat kita. Dengan kompetensi yang ada, berbagai program pengabdian masyarakat yang telah kami jalankan selama ini di daerah yang relatif sama dengan penerima manfaat yang beragam meskipun secara sendiri-sendiri, kesamaan budaya — barangkali karena semua penerima Bakti Nusa dari UNS adalah orang Jawa — pengalaman, dan masih banyak sisi positif lainnya memudahkan kami dalam menentukan program seperti apa yang nantinya akan kami rancang.

Perjumpaan dengan Bu Nur memang terasa begitu singkat. Masih banyak hal yang menarik untuk didiskusikan. No need to worry, kecanggihan teknologi memang mempermudah komunikasi manusia, menembuh batas jarak dan waktu — haha, sedikit puitis. Artinya, kendati saat ini training value berakhir dan mungkin baru bulan depan kami akan bertemu dengan orang-orang luar biasa dari Dompet Dhuafa, silaturahim akan tetap terjalin melalui facebook, twitter, dan media lainnya. Sekitar pukul 16.00, acara berakhir yang diakhiri dengan foto bersama.