Pengumuman Seleksi Tahap 1 Bakti Nusa 6

Pengumuman Seleksi Tahap 1 Bakti Nusa 6

Selamat teman-teman yang lolos Seleksi Tahap 1 Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) Angkatan 6. Berikut nama-nama mahasiswa UNS yang lolos seleksi tahap 1:

  1. Luthfiyah Dyaka Rose
  2. Doni Wahyu Prabowo
  3. Syuga Eugenia Inveta
  4. Alfiansyah
  5. Anggarda Paramita Imawati
  6. Fatikhah Nurul Fajri
  7. Maulida Narulita
  8. Resti Fouziah
  9. Rezky Akbar Tri N
  10. Elian Devina
  11. Abdurrahman Afa H
  12. Frengki Nur Fariya P
  13. Juli Purnomo
  14. Maflahah
  15. Hikmah Bima Odityo
  16. Ika Aprillia Kusumastuti
  17. Muhammad Abdullah Azzam
  18. Kintan Marcstyatama
  19. Khusnul Khotimah
  20. Luluk Marfuatik
  21. Norma Ayu Setyabudi
  22. Nabilla Nurul Chasanah
  23. Arifin Nur Setyawan
  24. Asma Azizah

Informasi selengkapnya silahkan kunjungi : http://www.beastudiindonesia.net/pengumuman-seleksi-tahap-i-bakti-nusa-2016/

Nantikan informasi selanjutnya untuk Seleksi Tahap 2. Pantau terus website ini!

Terimakasih

Wisuda Bakti Nusa Angkatan 4

Wisuda Bakti Nusa Angkatan 4

Dua tahun sudah  penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) Angkatan 4 diberikan berbagai bentuk pembinaan dan kegiatan yang mendorong para aktivis untuk terus berkarya dan berkontribusi. Pada penghujung program Bakti Nusa Angkatan 4 ini dilaksanakan proses wisuda. Wisuda Bakti Nusa Angkatan 4 kali ini mengusung tema “Never Ending Activist”. Kegiatan yang dilaksanakan tanggal 5-6 Maret 2016 di Bumi Pengembangan Insani Bogor ini bukan sekedar kegiatan penutup program, akan tetapi justru  ajang penguatan yang memegang peranan penting untuk mempersiapkan aktivis di dunia paska kampus.

Pada hari Sabtu, 5 Maret 2016, para aktivis penerima Bakti Nusa 4 diberikan training dan coaching. Pertama, strategic leadership training  oleh Bapak Zaim Uchrowi. Pada sesi tersebut, beliau menyampaikan tentang urgensi penggalian potensi setiap individu serta menyeimbangkan sifat-sifat utama manusia untuk mencapai tujuan atau cita-cita yang akan mengantarkan diri menjadi sosok pemimpin negeri ini. Sedangkan sesi kedua adalah Coaching Career oleh Rivalino Shaffar. Beliau menjelaskan tentang The essential career compass, dimana sebagai seorang manusia hendaknya mengetahui pedoman arah karirnya.

IMG20160305153359IMG20160305161432 Pada malam harinya, seluruh penerima Bakti Nusa Angkatan 4 berdiskusi menentukan Ketua dan Wakil Ketua Alumni Bakti Nusa 4. Hasil musyawarah bersama memutuskan terpilihnya Muhammad Isyraqi El Hakim sebagai Ketua dan Siti Nur Arifah sebagai Wakil Ketua Alumni Bakti Nusa 4. Setelah diskusi tersebut, seluruh PM Bakti Nusa diarahkan ke Aula RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa untuk gladi bersih wisuda.

IMG20160305203835

Keesokan harinya, Minggu, 6 Maret 2016, dilaksanakan rangkaian acara wisuda PM Bakti Nusa 4. Acara diawali dengan tilawah kemudian sambutan oleh Bapak Bambang Suherman selaku perwakilan Direktur Utama Dompet Dhuafa.

“Wisuda aktivis bukan sebuah kebanggaan tapi sebuah momentum pengingatan akan tanggung jawab terhadap Indonesia. Pasca itu sudah bukan lagi ‘belajar merawat Indonesia’, tetapi ‘bersama merawat Indonesia’..”- Bambang Suherman.

Kemudian dilanjutkan dengan proses wisuda, dengan penyerahan sertifikat kepada masing-masing aktivis Bakti Nusa 4. Selanjutnya orasi oleh Ketua Alumni Bakti Nusa 4 dan orasi kebangsaan oleh Bu Sri Nurhidayah.  Momentum wisuda kali ini memacu para alumni Bakti Nusa untuk tetap berkontribusi dan teguh di jalan kemanusiaan sesuai dengan passionnya masing-masing sebagai komitmen bersama  merawat Indonesia. Komitmen tersebut secara implisit dituangkan dalam rumusan Tekad Negarawan Muda yang dibaca bersama sebelum berakhirnya acara. Harapannya para alumni Bakti Nusa 4 tetap melanjutkan perjalanannya sebagai seorang aktivis yang senantiasa berkontribusi untuk Negeri. #NeverEndingActivist

IMG20160306102816

Panggung Inspirasi Bakti Nusa UNS

Panggung Inspirasi Bakti Nusa UNS

IMG-20160221-WA0007

Pada hari Minggu, 21 Februari 2016, Bakti Nusa UNS menyelenggarakan Panggung Inspirasi dengan kegiatan berupa bedah buku, bincang inspiratif dan sosialisasi pendaftaran beasiswa aktivis nusantara. Acara yang bertempat di Aula Gedung B FMIPA UNS tersebut dihadiri lebih dari 150 mahasiswa.

IMG-20160221-WA0003

Acara Panggung Inspirasi dibagi dalam 3 sesi, dimana sesi pertama adalah bedah buku, sesi kedua adalah bincang inspiratif dan sesi ketiga adalah sosialisasi Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa). Pembicara pada sesi pertama adalah Inayah Adi Oktaviana dan Hasan Fahrur Rozi, keduanya merupakan penulis sekaligus penerima manfaat Bakti Nusa angkatan 5. Pada sesi ini, selain mengupas isi buku, Inayah menceritakan  tentang gerakan sosial dan advokasi masyarakat marginal utamanya terkait penyandang difabel. Mahasiswa yang aktif di komunitas Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI) ini menceritakan tentang upaya sekelompok mahasiswa untuk menghilangkan stigma negatif dan diskriminasi untuk penyandang difabel  melalui ranah pendidikan. Sedangkan Hasan Fahrur Rozi, selain mengungkap keprihatinannya terhadap mahasiswa menyelaraskan ucapan dan tindakan, ia juga mengajak peserta yang hadir untuk mengubah mindset agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai koordinator gerakan sosial Aksi Cinta Budaya Indonesia (ACBI), Hasan juga mengungkapkan upaya-upaya sederhana untuk berkontribusi melestarikan budaya pasar dan membantu masyarakat marginal. Kedua pembicara sama-sama mengajak para peserta untuk membaca buku ‘Hak Rakyat Digasak, Mahasiswa Bergerak’ yang merupakan kumpulan tulisan dari para aktivis penerima beasiswa Bakti Nusa angkatan ke-5. Buku tersebut berisi  34 tulisan aktivis muda dari beragam kampus di tanah air menceritakan kesaksian, pengalaman, dan rencana aksi dalam menggalang kepedulian bagi rakyat marginal, sehingga berbagai inspirasi bisa didapatkan dari buku tersebut.

Sementara itu, sesi bincang inspiratif menghadirkan tiga orang pembicara yaitu Agung Pardini (General Manager Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa), Indrawan Yepe (Budayawan, Founder Komunitas Pintu Indonesia), dan Sholahuddin Aly (Sekertaris Eksekutif ASMINDO Solo Raya).  Pada sesi ini Bapak Agung Pardini menyampaikan tentang keterkaitan value-value aktivis dengan kontribusi mahasiswa dalam masyarakat. Sedangkan Bapak Indrawan Yepe menyampaikan tentang perilaku mahasiswa dan pentingnya kesempatan berkontribusi dalam masyarakat. Sesi bincang inspiratif ini ditutup dengan materi oleh Sholahuddin Aly yang menceritakan pergerakan mahasiswa era 1998 dan kontribusinya terhadap masyarakat.

IMG-20160221-WA0008

 

Sesi pamungkas pada acara Panggung Inspirasi tersebut adalah sosialisasi pendaftaran Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) angkatan 6 oleh Manager Bakti Nusa Pusat, Tri Dimas Arjuna. Beasiswa Aktivis Nusantara menawarkan banyak sekali fasilitas bagi penerimanya antara lain: Dana dukungan aktivitas Rp 800.000/bulan, Training Value, Coaching tokoh, Support prestasi luar negeri, Marching for Boundary, Activist Preparatory School, Sociopreneur Challenges, Future Leader Camp, Penerbitan buku personal dan sebagainya. Selain menyampaikan ketentuan dan benefit beasiswa ini, beliau juga memacu mahasiswa yang hadir untuk mempersiapkan diri dan mendaftar diri pada seleksi Bakti Nusa 6.

Cabuk Rambak, Tradisi Solo yang Mulai Punah

Cabuk Rambak, Tradisi Solo yang Mulai Punah

IMG-20160101-WA0020
Cabuk rambak merupakan salah satu makanan tradisional Kota Surakarta. Makanan tradisional ini dibuat dari ketupat yang diiris tipis-tipis ditambah saus wijen yang dicampur dengan kelapa parut, kemudian ditambah dengan karak (kerupuk yang dibuat dari nasi kering). Makanan tradisional yang biasanya disajikan dengan pincuk daun tersebut saat ini sudah tergolong langka. Makanan ini biasanya dapat kita jumpai hanya di tempat-tempat tertentu, biasanya di pasar-pasar tradisional. Setelah berjualan di pasar tradisional, adakalanya penjual berkeliling ke kampung-kampung untuk menjajakan dagangannya. Akan tetapi sayangnya saat ini banyak yang tidak mengenali makanan tradisional ini, sehingga keberadaannya sudah hampir punah.

Salah satu penjual cabuk rambak adalah Mbah Sukinah, yang sehari-harinya menjual cabuk rambak di Pasar Ledoksari. Sebagai follow-up kegiatan ACBI Berbagi yang dilaksanakan awal tahun kemarin, ACBI mengadakan kegiatan kunjungan ke rumah Mbah Sukinah yang terletak di Desa Kalikebo, Gondangrejo, Karanganyar. Berdasarkan wawancara dengan beberapa warga setempat juga ternyata di desa tersebut ada beberapa penjual cabuk rambak. Resep pembuatan cabuk rambak mereka ketahui turun temurun dari orang tua mereka.

Kegiatan kunjungan dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 Januari 2016. Adapun tujuan kegiatan tersebut adalah belajar cara pembuatan Cabuk Rambak. Pukul 14.30 WIB, tim ACBI membantu pembuatan cabuk rambak di rumah Mbah Sukinah. Tahap-tahap pembuatan saus wijen cabuk rambak antara lain: menyangrai kelapa parut dan wijen hingga benar benar kering berwarna kecoklatan, setelah itu menumbuknya dengan menggunakan lumpang tradisional, lalu menambahkan gula jawa, kemudian menambahkan bumbu-bumbu lain seperti cabe, bawang putih, daun jeruk purut dan juga kemiri. Sembari membuat saus wijen, Mbah Sukinah biasanya membuat ketupat beras. Usai membuat cabuk rambak bersama kami sedikit berbincang-bincang dengan mbah Sukinah terkait aktivitas beliau membuat cabuk rambak. Meskipun di desa tersebut ada beberapa penjual cabuk rambak, namun karena makanan ini langka dan banyak yang mencari, sehingga beliau selalu ramai pembeli utamanya hari minggu.
Melalui kegiatan tersebut, Bakti Nusa UNS ingin mengangkat bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap makanan tradisional cabuk rambak. Selain itu kegiatan tersebut juga membuka mata kami, bahwa tak jauh dari peradaban kampus UNS, terletak desa yang tersembunyi, namun di dalamnya kaya akan orang-orang yang menjaga makanan tradisional ini.

IMG-20160130-WA0005

Diskusi Online Grup Negarawan Muda UNS #1

Diskusi Online Grup Negarawan Muda UNS #1

Minggu, 10 Januari 2016, PM Bakti Nusa 5 UNS mengadakan diskusi online bersama calon pendaftar Bakti Nusa 6 dalam sebuah group Whats App bertitel “Negarawan Muda UNS”. Kurang lebih dua jam lamanya salah satu penerima manfaat (PM) Bakti Nusa angkatan 5 UNS, Elvia Rahmi memandu diskusi online tersebut. Antusiasme yang sangat tinggi ditunjukkan para peserta saat mengikuti diskusi bersama Muhammad Nurdin,  PM BA UGM angkatan 5 yang lahir di Cirebon, 22 tahun lalu. Hal ini di tunjukkan dengan banyaknya pertanyaan yang diberikan para peserta dan keunikan dari pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Beberapa kali Bang Nurdin sempat mengatakan dalam tulisannya, “Pertanyaan yang sangat bagus” atau “Pertanyaannya berat nih..”.

 

Diskusi yang dilaksanakan antara jam 19.30-21.30 WIB ini dibagi menjadi dua sesi, dimana setiap sesi diawali dengan pemaparan materi singkat oleh Bang Nurdin dan dilanjutkan dengan tanya jawab dari para peserta. Sesi pertama dibuka dengan tema gerakan sosial yang dilakukan oleh Bang Nurdin dan teman-teman PM Bakti Nusa UGM, kemudian sesi kedua dilanjutkan dengan penjelasan Beasiswa Aktivis Nusantara ala Bang Nurdin.

 

Pada sesi pertama, aktivis yang hobi menulis ini menyampaikan seluk-beluk gerakan sosial Sekolah Tjokro. Gersos yang terinspirasi dari tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto ini, dipaparkan begitu runtut sejak inisiasi awal hingga teknis pelaksanaannya. Sebagai cuplikan dari penjelasan Bang Nurdin, Sekolah Tjokro baru digagas dan langsung dijalankan oleh para PM BA UGM angkatan 5, sehingga termasuk gersos yang paling belia keberlangsungannya. Namun begitu, Sekolah Tjokro yang sering digaungkan di media sosial dengan tagar #SekolahTjokro ini sudah dilirik oleh Malang dan Semarang untuk diduplikasi dengan memasukkan unsur lokal didalamnya. Lebih lanjut, Bang Nurdin juga menjelaskan, sebagai bentuk nyata output gersos sekolah Tjokro adalah dibuatnya beasiswa BATAS (Bersama Tunas Bangsa) yaitu beasiswa yang menyasar anak-anak marginal usia akhir Sekolah Dasar di Yogyakarta.

 

Diantara pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta pada sesi pertama, salah satu pertanyaan yang menurut Bang Nurdin sangat menariik adalah pertanyaan dari Muhammad Arifin. Pertanyaan yang diberikan oleh Ipin di awali dengan sebuah prolog yang menyinggung soal komunisme dan gerakan kiri oleh beberapa anak didik Tjokroaminoto yang dianggap keluar dari “semurni-murni tauhid”, yang kemudian dengan jelas Bang Nurdin  menjawab bahwa ideologisme memang hal yang butuh penjagaan. Maka para negarawan muda agar tak menyimpang dari esensi gerakan yang diajarkan oleh Bapak Guru Bangsa yaitu dengan memberi keteladanan nyata (kepemimpinan karismatik)  atas kemanfaatan dan kontribusi terhadap penyelesaian permasalahan bangsa.

 

Pada sesi yang kedua barulah aktivis yang berkuliah di fakultas hukum ini menjelaskan progres dirinya selama berada dilingkaran beasiswa Bakti Nusa. Bertambah luasnya cara pandang, pemikiran dan pengambilan keputusan adalah hal mencolok yang berubah pada dirinya. Selain itu adanya usaha diri untuk selalu mencapai indikator-indikator kompetensi dan kontribusi di dalam masyarakat juga di setting agar dirinya mampu menjadi negarawan muda yang berperan aktif untuk Indonesia yang lebih baik. Sesi ini ditutup dengan ajakan kepada semua peserta diskusi untuk tetap semangat dalam memenuhi aplikasi pendaftaran beasiswa Aktivis Nusantara, dan tentunya juga bersemangat berkontribusi dalam kebaikan.

 

#BaktiNusa

 

 

ACBI Berbagi : Apresiasi untuk ‘Pejuang’ di Pasar Tradisional

ACBI Berbagi : Apresiasi untuk ‘Pejuang’ di Pasar Tradisional

Tahun baru selalu diidentikkan dengan harapan-harapan baru untuk kehidupan. Jika sebagian orang memilih untuk menyambut tahun baru dengan berpesta pora di detik-detik pergantian tahun, maka tim ACBI Bakti Nusa UNS memilih cara tersendiri menyambut tahun baru 2016 ini.

Jum’at, 1 Januari 2016, PM Bakti Nusa 5 UNS mengunjungi 2 pasar tradisional. Misi kali ini berbeda dengan misi di hari-hari sebelumnya. Kali ini kami ingin memberikan kado apresiasi sederhana untuk para’pejuang’ yang selama ini tangguh dan konsisten menyambung pengharapan hidupanya dengan bekerja keras di pasar tradisional.

Awalnya kami mengunjungi Pasar Ledoksari. Setelah mengelilingi pasar tersebut, akhirnya kami menemukan 2 orang perempuan lanjut usia yang begitu luar biasa.

IMG-20160101-WA0018

Mbah Parmi, sosok pertama yang kami temui. Meskipun umur beliau sudah sekitar 65 tahun beliau tetap semangat menjalani profesinya sebagai pedagang. Cabuk rambak adalah makanan tradisional yang beliau jual selama lebih dari 35 tahun. Dari penjualan makanan tersebut beliau bisa menghidupi keluarganya. Beliau biasanya berjualan mulai jam 06.00 WIB hingga 11.00 WIB. Apabila cabuk rambak yang beliau bawa tidak habis terjual di pasar, beliau berkeliling ke kampung-kampung untuk menghabiskannya. Meskipun hanya tinggal berdua dengan Mbah Kakung, beliau tetap semangat untuk mencari penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika kami menanyakan harapan beliau di awal tahun baru ini, beliau hanya mengungkapkan jika masih diberi hidup sehat di tahun ini, masih tetap ingin melestarikan Cabuk Rambak, sebab selama ini makanan tradisional ini  sering dilupakan atau bahkan banyak orang yang belum tahu.

IMG-20160101-WA0014 Sosok kedua yang kami temui adalah Mbah Waginem, salah seorang penjual tempe tahu di Pasar Ledoksari. Sosok perempuan lanjut usia yang bekerja lebih dari 30 tahun ini, bahkan sudah tak ingat berapa usia beliau saat ini. Fisik yang cukup renta dengan penglihatan yang sudah terbatas, ternyata tak senada dengan semangat beliau untuk memperjuangkan kehidupan. Meskipun terkadang sedikit kesulitan untuk melayani pembeli, namun tak sedikit pun patah semangat beliau untuk bekerja keras menghidupi keluarganya. Beliau biasanya berangkat cukup pagi dengan menumpang kendaraan yang membawa beliau ke Pasar, lantas pulangnya jalan kaki membawa tumpukan ember. Penghasilan RP 30.000 rupiah per hari yang beliau gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saat kami bertanya apa harapan beliau di tahun ini? Beliau terlihat menitikkan air mata, kemudian menjawab, “mboten pengen nopo-nopo mbak…“. Diberi kesehatan untuk bisa berjualan terus adalah nikmat tersendiri bagi beliau, karena hingga saat ini anak-anak beliau belum ‘mentas’ sehingga beliau pun harus menanggung kebutuhan sehari-hari mereka.

Usai dari Pasar Ledoksari, kami beranjak ke Pasar Legi. Di salah satu pasar tertua di Solo itu, kami menjumpai banyak sekali ibu-ibu yang berprofesi sebagai kuli gendong. Bahkan ada ibu-ibu lanjut usia yang masih menjalani profesi tersebut. Pagi itu tim ACBI Bakti Nusa UNS mendadak menjadi seperti detektif yang mengikuti para kuli gendong di pasar tersebut. Hingga akhirnya kami bertemu dengan 2 orang yang luar biasa.

IMG-20160101-WA0026Sosok ketiga yang kami temui adalah Mbah Tuminah. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai kuli gendong. Beliau sudah menjalani profesi ini selama lebih 30 tahun untuk membiayai 7 orang anaknya. Alasan beliau menjadi kuli panggul adalah  sejak umur 10 tahun, beliau sudah ditinggal oleh orang tua, sehingga sejak kecil beliau hanya bisa menjadi buruh. Hingga saat ini, hanya bermodal tenaga, beliau mendapatkan sekitar Rp 20.000/hari untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Padahal itu pun masih beliau gunakan untuk naik kendaraan dari Kaliyoso menuju ke Solo, PP. Akan tetapi, meskipun sudah sepuh beliau rela mengangkat  beban lebih dari 50 kg dalam sekali gendong dengan upah Rp 2000- Rp 3000. Padahal di Pasar Legi terdapat tangga yang membuat pekerjaan tersebut semakin tak mudah, tapi beliau bersedia menjalani dengan sepenuh hati.

IMG-20160101-WA0023Sosok terakhir yang kami temui adalah Mbah Wakinah. Perempuan berumur 65 tahun, yang juga berprofesi sebagai kuli gendong. Beliau sudah menjalani profesi ini selama 40 tahun. Sejak masih muda beliau sudah menjadi kuli panggul agar dapat membiayai kehidupan sehari-hari keluarga hingga menyekolahkan anak-anak beliau. Perjuangan mengangkat beban yang awalnya bisa mengangkat hingga 150 kg berangsur-angsur turun, hingga saat ini hanya bisa mengangkat 50-60 kgi sekali gendong. Perjuangan beliau dari jam 08.00 WIB -16.00 WIB setiap hari tak sia-sia, sebab akhirnya beliau bisa menguliahkan 3 dari 4 orang anaknya. Saat kami mengikuti beliau, beliau terlihat harus beberapa kali istirahat saat mengangkat beban 50 kg menaiki tangga dan menempuh jarak cukup jauh ke sudut belakang pasar. Sosok yang cukup sepuh, dengan perawakan yang kecil membuat beliau tak kuasa mengangkat beban tersebut tanpa istirahat. Dalam sehari beliau mendapatkan uang Rp 20.000-Rp 30.000 untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipun sudah berhasil menuntaskan anak-anak beliau hingga selesai kuliah dan saat ini memiliki pekerjaan sendiri-sendiri, beliau tidak mau menjadi orang tua yang bermalas-malasan dan mengharap pemberian anak-anak beliau. Beliau tetap semangat menjalani profesi beliau ini agar tidak menganggur di rumah.

Setengah hari berada di pasar tradisinal dan menemui para ‘pejuang-pejuang’ hebat merupakan refleksi awal tahun yang istimewa. Kegiatan ACBI Berbagi ini adalah salah satu upaya untuk melanjutkan kebermanfaatan dari Snack ACBI agar senantiasa memberikan manfaat-manfaat lainnya bagi lebih banyak orang. Semoga cuplikan kisah para ‘pejuang’ tersebut bisa menjadi introspeksi dan semangat tersendiri untuk kita semua.