Jalan Aktivis Bangsa

Jalan Aktivis Bangsa

Lisana Shidqi (Pendidikan Dokter)

Berangkat dari pengalaman pribadi saya. Namun sebelum rangkaian kisah ini saya mulai, mari kita simak definisi dari aktivis berdasarkan Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia yang ditulis di dalam website-nya untuk menyamakan perspesi masing-masing kita. Aktivis adalah orang yang giat bekerja untuk kepentingan suatu organi­sasi politik atau organisasi massa lain. Dia mengabdikan tenaga dan pikiran­nya, bahkan seringkali mengorbankan harta bendanya untuk me­wujudkan cita-cita organisasi. Namun organisasi dalam definisi tersebut, negara juga dapat menjadi salah satu dari bentuk organisasi itu sendiri bukan? Jika Anda setuju, mari kita lanjutkan.

Setiap manusia pasti memiliki tujuan hidup. Jika ada yang mengatakan mereka tidak punya tujuan hidup maka bukanlah mereka tidak punya, hanya saja mereka belum menemukannya. Ada yang memiliki tujuan hidup sebagai presiden yang dapat mewujudkan suatu negara yang makmur, ada yang ingin menjadi guru yang dapat mendidik banyak orang agar dapat memberi kebermanfaatan yang lebih, dan banyak tujuan hidup mulia lainnya. Sayangnya bagi mereka-mereka yang belum menemukan tujuan tersebut terkadang ‘latah’. Latah di sini adalah meniru langkah-langkah yang diambil orang lain yang pada kenyatannya suratan takdir mereka berbeda sehingga jalan yang mereka tempuh untuk tujuan yang sama tidaklah sama. Ini yang pernah saya alami pada masa sekolah menengah atas dan masa awal menjadi mahasiswa.

Menjadi seorang aktivis tidak selalu harus ambil bagian dalam banyak organisasi dalam waktu yang sama ataupun secara kontinyu mengikuti organisasi. Aktivis bangsa, istilah saya kepada pemuda nasionalis, memiliki jalan dan cara yang berbeda-beda dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan adidaya. Tidak mungkin sebuah negara dibangun hanya oleh para organisatoris semata, masih ada bidang energi, kesehatan, pendidikan, dan bidang lainnya dimana orang-orang tersebut focus dan tekun dalam bidangnya masing-masing. Hal yang ingin saya tekankan di sini adalah label ‘mahasiswa kupu-kupu’ tidaklah buruk, seperti yang mungkin banyak yang berpendapat seperti itu. Saya yakin tidak semua mahasiswa yang secara tidak sadar mendapat label seperti itu benar hanya mengejar akademik semata. Saya yakin dalam tujuan jangka panjang mereka terdapat sebuah cita-cita besar bagi bangsa ini, seperti ayah mertua dari kakak saya misalnya. Beliau merupakan dokter spesialis penyakit dalam yang saat ini sedang mengambil strata tiga. Semasa menempuh studi S-1, beliau tidak banyak mengikuti berbagai organisasi. Beliau hanya mengikuti satu organisasi kerohanian Islam, itu saja. Prinsip beliau adalah melakukan segala sesuatu, dalam hal ini pendidikan, tidak dengan meninggalkan jejak yang biasa-biasa saja. Selalu berprestasi, sederhananya, sehingga yang menjadi titik berat beliau saat mengenyam pendidikan memanglah pendidikan itu sendiri, bukan kegiatan lain. Walau memang setiap orang memiliki minat dan kemampuan yang berbeda-beda. Ini hanya salah satu contoh.

Begitulah. Beliau memang tidak banyak terlihat semasa kuliah. Namun setelah menjadi seorang dokter spesialis, cakupan kebermanfaatannya lebih luas. Pernah dalam lawatannya ke salah satu Negara Afrika, Mesir, beliau dapat memberikan tunjangan kepada seluruh keluarga Muslim Indonesia yang menetap di sana dalam rangka menuntut ilmu. Apa yang beliau berikan bermula dari ilmunya sebagai seorang dokter spesialis. Dari kisah inilah saya akan memulai jalan yang panjang ini.

Sekali lagi, apa yang saya sampaikan hanya salah satu dari sekian cara seorang aktivis bangsa untuk berkontribisi.

Wallahu a’lam

Revitalisasi Pasar Guna Pertahanan Kebudayaan Indonesia

Revitalisasi Pasar Guna Pertahanan Kebudayaan Indonesia

Eni Rahmawati (PGSD 2012 UNS)

Pasar. Siapa yang tak kenal dengan yang namanya pasar. Sebuah tempat yang identik dengan adanya transaksi ini selalu ramai dikunjungi. Pasar merupakan tempat pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Tanpa adanya pasar, kemungkinan besar kebutuhan pokok masyarakat tidak akan terpenuhi.

Seiring dengan perkembangan zaman, pasar terbagi menjadi  dua jenis, yakni pasar tradisional dan pasar modern. Pasar  tradisional banyak dipenuhi oleh para pelaku ekonomi mikro yang berbanding terbalik dengan pasar modern yang kebanyakan diisi oleh para pelaku ekonomi makro. Hal ini lah yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk gemar mengunjungi pasar modern. Selain itu, pasar tradisional yang  identik dengan bau tanah, becek dan kumuh juga turut andil dalam menambah kekalahan pasar tradisonal. Padahal dibalik itu semua, pasar tradisional menyimpan banyak makna. Adanya pasar tradisional merupakan salah satu bentuk kebudayaan bangsa Indonesia. Kenapa  ? Karena di pasar tradisional seseorang dapat bertemu dengan para pedagang sehingga dapat bersilaturahimi dengan mereka. Bertemu dan menyapa dengan senyuman hangat. Saling berdiskusi untuk mencapai kesepakan hargam walau terkadang rumit untuk diselesaikan. Mencium segarnya udara alami tanpa dikontrol oleh alat apapun. Setidaknya seperti itu. Namun lama-kelaarmaan pasar tradisional mulai ditinggalkan karena pasar modern menawarkan tempat  yang bersih, rapi, harum semerbak, dan banyak SPG nan cantik jelita.

Dari sinilah mulai terintis kejayaan kerajaan pasar modern. Pasar tradisional yang hanya terdiri dari dua lantai tentunya kalah saing dengan pasar modern yang menjulang tinggi dengan dilengkapi eskalator bahkan lift. Pasar tradisional semakin tertinggal jauh. Bahkan semakin hari para pelanggannya berkurang dan hampir gulung tikar.

Melihat keadaan ini pemerintah tak tinggal diam. Pemerintah ingin mengembalikan kesaktian pasar sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat.  Maka dari itu, lahirlah sebuah kebijakan pemerintah terkait dengan pasar tradisional yang dituangkan dalam Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional,. Dengan adanya kebijakan ini, pasar tradisonal yang becek, kotor dan kumuh ini mulai ditata. Hal ini terlihat jelas pada Pasar Gede di Solo. Pasar yang awalnya mulai mengalami penurunan pelanggan  mulai menggeliat kemlbali. Penataan ulang ini pun membuat minat para pengunjung pasar tradisional meningkat sehingga terselamatkanlah nilai-nilai budaya yang tersimpan di pasar tradisional.

Revitalisai pasar tidak bertjuan untuk menjatuhkan pasar modern tetapi lebih condong ke arah perkembangan yang serasi antara pasar modern dan pasar tradisional sehinggga kedua pasar tersebut dapat tumbuh berkembang bersama.

#Hidupasarakyat J

Modern Itu Keren Katanya

Modern Itu Keren Katanya

Ahmad Shofwan Muis (Psikologi 2011 UNS)

Manusia-manusia di negeri kita sedang gandrung dengan segala hal yang berbau modern dan praktis. Tak percaya? Coba tengok dapur rumah kita di pagi hari. Ada apa di sana? Bahan makanan. Dari mana bahan makanan tersebut? “Dari pasar”. Tunggu dulu, itu jawaban untuk beberapa tahun yang lalu. Untuk masa sekarang, “Di mall dong” adalah jawaban yang lumrah kita jumpai. Sehabis berolahraga, kita meminum minuman elektrolit. Darimana asalnya? Toko modern di seberang jalan sana adalah jawabannya.

Sekilas tampak sangat menguntungkan bagi kita. Menjangkaunya mudah, berbelanja bisa dengan nyaman, dan begitu masuk pintu disapa dengan sapaan hangat yang sebenarnya tampak lebih seperti robot yang memutar rekaman suara karena hamper sama di tiap tempatnya. Padahal, uang yang kita masukkan di gerai tersebut hanya akan mengalir kepada satu muara. Yaitu investor atau pemilik gerai yang tentunya dikuasai pemodal asing. Dan beberapa receh rupiah yang mengalir ke para pegawai yang tentunya tak seberapa.

Lantas dimana tempat untuk orang-orang kita? Dimana tempat Indonesia? Padahal ini adalah rumah kita sendiri. Kita adalah tuan rumah yang terseok-seok di kandang sendiri.

Coba bayangkan ketika kita berbelanja di pasar tradisional. Jika di satu pasar tradisional ada 200 toko, sudah bisa dipastikan pemiliknya juga adalah 200 orang yang berbeda. Dan tentunya dengan berbelanja di pasar tradisional, kita dapat “membagi rezeki” yang kita miliki.

Bagi beberapa orang mungkin berbelanja di pasar tradisional tampak tidak keren. Becek, dan sumpek, tapi ada ojek pastinya. Tapi coba kita lihat sisi lainnya. Dari sisi budaya. Pasar tradisional ini sangat sesuai dengan budaya kita, Indonesia. Yaitu budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kolektivisme. Dari berbelanja di pasar tradisional, kita dapat bertransaksi tawar-menawar, yang di budaya kita yaitu saling menguntungkan. Kita bermusyawarah untuk mengambil jalan tengah. Ada komunikasi dua arah di sana. Beda halnya dengan pasar modern seperti mall, supermarket atau gerai minimarket simpang jalan. Tak ada kesempatan untuk tawar menawar sehingga menutup kemungkinan untuk berkomunikasi. Di sana, segala produk sudah dibanderol harganya secara “otoriter” oleh pihak toko, karena di sana pembeli tak memiliki kuasa akan harga-harga tersebut. Pembeli atau konsumen hanya bisa tunduk kepada harga yang tercantum di rak jualan.

Dari segi jam operasional atau pemanfaatan waktu. Pasar tradisional sangat sesuai dengan budaya kita. Mewariskan nilai-nilai lurhur dari nenek moyang. Yaitu pekerja keras. Buka di waktu dini hari di saat orang-orang lain masih terlelap. Dan sudah ditutup menjelang malam. Dan tentunya pasar tradisional dapat menggambarkan budaya pergaulan di masyarakat kita yang sangat melindungi para wanita. Yang dalam budaya Jawa ada kalimat yang menyatakan “Wong wedok wis bengi isih dolan, ora elok!”, yang artinya “Perempuan di hari sudah malam tapi masih di luar, itu tidak baik!”. Beda halnya dengan pasar modern mini market yang jam operasionalnya tak kenal waktu.

Bukan hanya itu,

Dari segi lingkungan. Di pasar modern, segala halnya dibungkus dengan plastic, alumunium foil dan segala kawan-kawannya. Pernahkah kita belajar Ilmu Pengetahuan Alam? Jika pernah, sudah pastilah kita bisa menarik kesimpulan dari hal tersebut. Sedang di pasar tradisional? Dibungkus dengan daun pisang, ataupun kertas korang yang tentunya bisa lebih bisa dicerna oleh perutnya bumi.

Dari sisi efektivitas. Di took modern atau mall, kita terkadang menjadi lupa akan skala prioritas. Di saat dating kita hanya akan membeli barang A, tetapi segala tehnik psikologis yang digunakan mall, kita bisa terbuju rayuan diskon dan penawaran-penawaran lainnya. Hingga kita membeli barang-barang lain yang sebenarnya tak perlu. Dan mungkin cenderung mengejar prestos dalam berbelanja. Bukannya memanfaatkan uang ,tapi lebih kepada menghamburkan uang. Beda halnya dengan pasar tradisional, kita bisa focus terhadap tujuan kita sedari awal datang ke sana.

Lantas, masih beranggapan bahwa (took) modern itu keren?

Rumus Berbagi: Tanam, Tumbuh, Semai, Panen

Rumus Berbagi: Tanam, Tumbuh, Semai, Panen

Sakinah Ummu Zahroh (Ilmu dan Teknologi Pangan 2012 UNS)

Bila ada ide yang terpikirkan selintas saja di benakmu, maka tanamlah. Boleh jadi, suatu hari nanti kita akan memanennya.

Sering kali, saya terpikirkan tentang ide-ide yang secara spontan terlintas di benak. Sialnya, organisasi yang saya ikuti belum bisa merealisasikan. Akhirnya, bertemulah saya dengan kawan-kawan yang secara bertepatan memiliki visi yang sama. Memiliki tujuan satu, untuk berbagi. Bila perasaan-perasaan telah menyatu, tak butuh banyak kepala untuk dapat merealisasikannya. Maka, terbentukalah sekumpulan insan—teman SMP dan temannya teman—yang peduli dan mendedikasikan diri untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairot) disela perkuliahan—walupun kampus kita berbeda—, pekerjaan ataupun rutinitas sehari-hari hanya untuk satu, berbagi. Berbagi sedikit atas banyaknya yang telah Engkau berikan karena dengan begitu Allah akan meberikan yang lebih banyak lagi. Inspiring of Wong Banten.

Bila diniatkan dengan tulus dan ikhlas. Rasanya, semua berjalan dengan mudah. Kawan-kawan lain yang tetiba datang membantu, donasi-donasi yang datang tak terduga, begitu pun masyarakat yang sangat terbuka. Dengan semua itu, rintangan terasa ringan untuk dilewati. Kebersamaan pun ingin segera terlukis kembali. Bermuncullah berbagai ide, saran dengan tujuan yang satu, berbagi.

Satu hal yang paling saya sukai dari sebuah komunitas adalah tak ada jadwal proker yang benar-benar pasti. Semua berjalan seiring waktu. Jika ada ide, share, diskusi, deal, jalankan. Beres. Tak ada yang akan menuntut kecuali masyarakat—tentunya bila kita tidak becus menjalankan kegiatan.

Maka, bila esok hari kau merasa bosan, penat dan terkungkung dengan yang kau kerjakan sekarang. Boleh jadi kau belum menemukan dimana dirimu sebenarnya berada. Temukanlah orang-orang yang sependapat dengan kita. Bila tak ada, maka giringlah orang lain untuk sependapat. Menanamkan bibit-bibit ide, membiarkannya tumbuh berkembang sendiri dan bersemai. Lantas dengan sukarela menyebarkannya kepada orang lain.

Aktivfis, aksi, karya dan perubahan

Aktivfis, aksi, karya dan perubahan

Ahmad Agus Nugroho (D3 Akuntansi 2013 UNS)

Prolog

Kata yang memang telah menjadi sebuah daya tarik. Aktivfis, bisa saja bermakna banyak, tapi tak dapat dipungkiri selama ini aktifisaktivis bagi kalangan masyarakat terbatas pada pemuda dan mahasiswa. Mereka yang masih aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatanlah yang selama ini disebut aktifisaktivis oleh masyarakat.

Bagi saya, aktifisaktivis adalah seorang yang peduli. Peduli akan lingkungannya, sehingga ia melakukan sebuah aksi. Dalam benakku aktifisaktivis bisa siapa saja, bukan hanya mereka yang padat jadwal karena ikut organisasi. Bisa saja mereka hanya duduk dalam rapat, tak berpendapat, tak juga beranjak menerapkan ide yang telah didapat. Kata aktifisaktivis bermakna banyak orang, inspirator, organisator sekaligus eksekutor yang handal.

 

Aksi

AktifisAktivis selalu berkaitan dengan aksi, turun ke jalan mnenyuarakan aspirasi adalah hal lumrah bagi mereka. Berteriak, mengobarkan semangat peserta demo, lagi-lagi hal yang lumrah. Namun, jangan disangka melakukan itu semua tak ada artinya. Turun merupakan jalan yang ditempuh setelah melihat kebuntuan penyelesaian suatu masalah. Sampai disini, para aktifisaktivis akan memaksa penguasa untuk mendengar tuntutan mereka.

Tuntutan yang memang ditujukan untuk kepentingan bersama. Tetapi, banyaknya mereka yang terkadang hanya ikut-ikutan saja, membuat aksi seperti ini kurang didengar dan lebih sering diabaikan oleh penguasa. Lihat saja, demo dan orasi telah menjadi sarapan rutin yang disuguhkan media masa. Respon penguasa akan demo ini masih biasa saja, bahkan terkesan menutup mata. Maka dari itu, perlu langkah baru untuk menyuarakan aspirasi yang ada.

Karya dan Perubahan

Aktivis revolusioner memang dibutuhkan saat ini, hal ini semakin terlihat ketika anggapan tak efektifnya aksi turun ke jalan menjadi kenyataan. Banyak aksi-aksi turun ke jalan yang hanya berakhir dengan pembubaran paksa oleh petugas berwenang. Dan selanjutnya tuntutan atau aspirasinya tak dianggap sama sekali. Hal ini lumrah terjadi saat ini.

“Saat ini, aksi turun ke jalan bukan lagui menjadi solusi. Aksi seorang aktifisaktivis haruslah memiliki alasan dan akhirnya mampu mengusulkan solusi atas tuntutan yang mereka ajukan. Bukan lagi saatnya berteriak dan menuntut, kini saatnya aksi dengan kontribusi yang nyata.” Begitu ucapan mas Ardian[1] disela-sela talkshownya di acara DM1 Desember lalu.

Hal ini merepresentasikan bahwa aktifisaktivis haruslah memiliki sebuah ide yang dapat dijadikan solusi atas tuntutan mereka. Solusi ini yang kemudian menjadi  sebuah karya, melalui karya itu, para aktifisaktivis dapat membentuk dan mengarahkan opini publik tanpa harus bersusah payah ke jalan.

Hal yang kemudian menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Yang mengindikasikan bahwa seorang aktifisaktivis tahu benar akan apa yang ia bicarakan. Melalui karya pula, masyarakat tak harus menunggu reaksi pemerintah. Tentunya, karya bukan hanya tulisan, karya ini juga bisa berupa alat yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas.

Aksi yang dilakukan aktifisaktivis, karya yang ia hasilkan, akan membawa perubahan yang besar pada bangsa saat ini. Aspirasi tak lagi harus disuarakan dijalan, tak perlu lagi berpanas-panasan menuntut hak, tak lagi harus menunggu reaksi pemerintah atas tuntutan mereka. Hal-hal itu bukan hanya akan membawa perubahan sistemik dinegara ini, tetapi juga membawa perubahan kearah manusia yang lebih beradab.

“Karna aktifisaktivis bukan hanya seorang penuntut

Mereka adalah manusia luar biasa

Dalam keadaan  sibuk akan agenda

Mereka masih peduli akan lingkungannya”



[1] Presiden KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) tahun 2013

Perjalanan Memaknai Layanan Umat

Perjalanan Memaknai Layanan Umat

Aris Minardi (Fisika 2011 UNS)

Berawal ketika awal semester 4 mau ikut organisasi atau tidak, begitu bingung untuk memikirkarnya, karena nilai IP semakin menurun. Ada beberapa tawaran dari berbagai organisasi. Tetapi ada satu tawaran yang mencengangkan, yaitu menjadi kabid layanan Umat. Sontak sekali saat itu, yang terpikirkan saat itu adalah jadi tukan bersih-bersih masjid, padahal aku tak mendaftar di bagian itu. Kira-kira disuruh memikirkannya padahal tinggl 3 hari untuk pelantikan. Tapi Alhamdulillah dapet jalan dari kebingungan, yaitu malamnya bisa sholat Istikhoroh, dan keesokkan harinya saya bisa menjawab, insyaAllah siap untuk memegang amanah di ini. Akhirnya pelantikan ku dimulai, dan ternyata squad LU itu adalah adik-adik yang sering saya temui, yaitu adik yang sering jualan onde-onde (kaya orang arab), yang dari panti, yang sering tersenyum dengan ku, adik yang sering ketemu diwarung makan, dan yang sering sholat bareng.

Setelah itu mulailah untuk berkarya atau melaksanakan program kerja, dan ternyata proker Layanan Umat adalah yang paling banyak, dan membuat kelalahan juga, tetapi sangat menyenangkan, semisal : menjadi koordinator DUSBIN (dusun binaan) di desa Wirun, disana mengajar mengaji dan bermain bersama adik-adik, ketika proses mengajar sangat menyenangkan dan menjengkelkan juga, karena adik-adiknya bandel, tapi lucu banget, mengingatkan saat masih kecil, dan ke kekaguman saya yaitu semangat mereka untuk mengaji luar biasa, entah ada atau tidak ada guru mereka mengaji, serasa melihat generasi bangsa yang luar biasa, karena kepolosannya tetep semangat untuk mencari Ilmu. Ada proker Gemas juga (Gema Anak Sholeh), saat itu hati saya senang sekali melihat generasi yang pandai dalam berceramah, hafalan, adzan, lucu-lucu, (kalau remaja sekarang masih mengingat masa seperti itu, pasti akan menyenagkan banget negara ini, jauh dari korupsi, foy-foya dll). Dan 1 proker yang membuat saya senang yaitu adalah BBM (Bersih-bersih Mushola), luar biasanya Alhamdulillah semakin banyak yang suka mushola, mushola jadi rapi. Alhamdulillah keluaran dari Bidang Layanan Umat tetap semangat dan sekarang jadi takmir dan takmiroh di mushola MIPA UNS.

Akan tetapi ketika akan akhir keberjalanan saya menjadi resah, karena orang yang saya percayai atau saya anggap sebagai kakak, yang memberi kepercayaan kepada saya seperti mengkhianati saya, hatiku sakit sekali. Tak ku sangka bisa seperti, dan akupun mempertanyakan apa gunanya aku menjadi koordinator Layanan Umat. Waktu semakin berlalu hatiku semakin sakit ketika melihat orang-orang itu. Di suatu saat, ada yang mengatakan kepada saya, “ Berharaplah kepada Allah dan Carilah ridhonya”, mari belajar Ikhlas ya dhik. Saat itu aku sadar bahwa niatku belum 100% karena Allah. Mulia saat itu aku sadar bahwa keberadaanku di sini bukan pelayan manusia, tetapi aku adalah pelayan Allah, entah apa yang mereka katakan, mereka rencakanan, aku kan coba tetap bekerja untuk Allah sebagai Pelayan Umat dan Alhamdulillah di semester 5 ini semakin bertambah prestasi, mulai dari mendapat IP lebih dari 3, membuat Jurnal dan membuat 1 penelitian yang sudah bertaraf nasional. Karena hidup ini penuh dengan pelajaran yang membuat kita semakin besar J. Moga bermanfaat, saya hangat dari pelayan umat