Kisah dari Negeri Jiran

Kisah dari Negeri Jiran

100_1593Tanggal 8-9 April 2013 menjadi hari istimewa bagi ketiga orang ini, Sigit harya hutama (Teknik Kimia 2012), Krisnawan Suko Raharjo (Pendidikan Teknik Mesin 2008), dan Dwi Prasetyo (Pendidikan Fisika 2010). Didampingi Prof Kuncoro, Dekan Fakultas Teknik UNS, ketiganya bertolak untuk berpartisipasi dalam 8th Chemical Engineering Car Competition yang diselenggarakan oleh kumpulan Engineer dari berbagai universitas di Malaysia. Dalam penyelenggaannya tahun ini, Taylor’s University berkesempatan menjadi tuan rumah acara.

Semua ini bermula dari harapan, keinginan dan semangat untuk menjajal kompetisi tingkat internasional yang hingga sekarang masih menjadi barang tabuh di UNS. Kami merasa terpanggil untuk ikut menjujung semangat universitas guna mencapai visi World Class University (WCU). Sebagai aplikasi nyata, mereka merasa adalah wajar ketika mahasiswa sebagai elemen civitas akademika terbesar di UNS diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetisi dan kompetensinya di tingkat dunia. Maka, kemudian ketiganya mencari informasi kompetisi yang bersesuaian dengan keilmuannya.

Pada penyelenggaraan kali ini, peserta membludak hingga 34 tim yang bertanding memperebutkan Juara 1,2,3 car competition, juara 1,2,3 poster presentation dan 1 special award.Berbekal niat tulus untuk membuka jalan kompetisi internasional dan mengandalkan hasil penelitian salah satu anggota tim untuk pengembangan baterai terbarukan, mereka merancang kerangka mobil, reaksi sumber tenaga, mekanisme berhenti hingga desain poster. Perjuangan yang tidak semata mata agar dapat naik pesawat dan plesiran ke luar negeri, namun lebih kepada penanaman nilai nilai kompetitif yang menjadi dasar seorang mahasiswa. Kaum intelektual adalah mereka yang mampu mengembangkan keilmuan sekaligus berkontribusi riil pada pemecahan permasalahan umat.

Segalanya berawal dari mimpi, oleh karenanya nama tim yang terpampang adalah Dream Team (Tim Impian) yang berkehendak besar menjadi pionir partisipasi mahasiswa UNS di kompetisi bidang penalaran dan penelitian internasional. Mimpi yang diperjuangkan hampir 3 bulan lebih untuk berkutat di sekretariat UKM SIM UNS, Laboratorium Fakultas Teknik hingga mondar mandir ke birokrasi untuk mencari dana delegasi. Mimpi yang berbenturan dengan kenekatan dan semangat pembelajar sejati, yaitu mereka yang tak memperdulikan sikap skeptis khalayak ramai dan memilih fokus menatap tantangan yang nyata.

Pada hari H kompetisi, perasaan takut, haru dan semangat beradu memunculkan suasana mendebarkan dalam kontes mobil ini. Perlu diketahui bahwa pemenang dalam perlombaan ini adalah mereka yang mobilnya mampu mencapai presisi yang paling baik dan safety untuk membawa beban air sebesar 100 ml – 500 ml sepanjang 15-20 meter. Tidak akan mudah karena, kemampuan peserta akan sangat dikuras dalam menentukan massa dan waktu reaksi dan mekanisme berhenti yang tepat.

Pada akhirnya, tim UNS sebagai satu satunya tim dari Indonesia setelah UGM berpartisipasi di tahun sebelumnya harus mengakui bahwa kerja dan pengalamannya masih sangat minim jika disandingkan dengan tim dari univeristas lain di kompetisi ini. Namun, bukanlah hasil akhir yang patut diperbincangkan, melainkan pertanyaan besar mengenai keberlanjutan partisipasi UNS dalam 9th, 10 th Chem E Car dan seterusnya. Sekali lagi, Dream Team adalah pembuka jalan perjuangan generasi berikutnya. Kami tunggu, bagi yang ingin bergabung menjadi Dream Team jilid II untuk dibina dan diberikan kesempatan untuk memenangkan 9th Chem E Car di Universitas Putra Malaysia 2014. SALAM ILMIAH !!! (Oleh: Dwi Prasetyo)

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Saya dilahirkan oleh kedua orang tua yang keduanya petani. Ibu bekerja di luar negeri sebagai TKI sebelum akhirnya kembali ke desa menjadi petani. Hidup di desa yang belum tersentuh modernisasi kota membuat saya tidak mempunyai akses informasi tentang pendidikan yang memadai. Bagi saya pendidikan hanyalah tentang masuk sekolah, belajar dan bermain bersama teman. Semua berubah ketika saya masuk ke SMA terfavorit di kota saya yakni SMAN 1  Ponorogo.

Berangkat dari SMP di kecamatan Slahung yang jauh dari kota, saya menjadi salah satu dari empat anak SMP yang bersama-sama menimba ilmu di SMA terfavorit di kabupaten Ponorogo tersebut. Di SMAN 1 Ponorogo inilah saya mulai menemukan potensi yang ada dalam diri saya. Guru Bahasa Inggris sewaktu kelas X meminta saya mengikuti seleksi untuk mewakili kabupaten Ponorogo dalam lomba debat Bahasa Inggris di tingkat provinsi. Meskipun tidak mendapatkan kursi utama, saya mendapat jatah di kursi cadangan dan berkesempatan untuk ikut ke Surabaya. Sejak saat itu saya giat mengikuti lomba-lomba debat tingkat kota, regional maupun provinsi hingga akhirnya menyabet tempat terbaik kedua se-Jatim dan Bali pada tahun terakhir saya di SMA.Prestasi tersebut menguatkan saya untuk mengajukan Beasiswa Tidak Mampu dan Beasiswa Prestasidalam sekali waktu hingga biaya SPP saya selama 1,5 tahun bisa dibebaskan, mengingat orangtua saya yang sudah kembali dari perantauan sehingga kondisi keuangan kami tidak sestabil semula. Alhamdulillah, Wakasek Kesiswaan saat itu yang sudah lumayan mengenal saya di organisasi SMA dan juga kegiatan lomba-lomba sangat suportif. Saya tidak khawatir ditagih uang di dalam kelas lagi. SPP saya lunas seketika.

Suka Duka Mendaftarkan Kuliah

Semua pengalaman lomba-lomba ini ternyata tidak membuat jalan saya untuk memasuki perguruan tinggi menjadi mudah. Karena keterbatasan keadaan ekonomi (orang tua dan saya tidak mempunyai uang sama sekali pada saat itu), saya melewatkan kesempatan untuk mengamankan posisi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur PMDK. Pada saat itu saya fokus pada hasil UAN dan tidak begitu menaruh perhatian terhadap persiapan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sangat menggebu, namun saya hanya bisa menunggu hasil UAN dan mengandalkan SNMPTN sebagai satu-satunya cara untuk masuk universitas.

Suatu hari, salah seorang teman baik memberi informasi kepada saya bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi. Tanpa pikir panjang, saya mendaftar bersama dengan empat teman lainnya. Saya tidak terlalu mengetahui jenis beasiswa yang saya lamar. Setahu saya beasiswa itu ditujukan untuk siswa SMA kurang mampu yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas melalui jalur SNMPTN.

Waktu bergulir dan akhirnya pengumuman UAN pun keluar. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus meskipun NEM saya hanya 49.56, angka yang tidak terlalu istimewa mengingat rata-rata siswa di SMA saya mendapat nilai NEM 50.00 ke atas. Saya tidak kecewa. Saya yakin memang itulah hasil kemampuan saya di UAN. Setelah hasil UAN keluar, saya kemudian fokus terhadap persiapan SNMPTN. Saat itu, kegiatan di sekolah otomatis berkurang drastis. Saya pun tidak tahu bagaimana nasib pendaftaran beasiswa dulu.

Penasaran dengan hasil seleksi beasiswa tersebut saya mencoba mencari tahu melalui internet. Saya mencari nama-nama penerima beasiswa yang tertera di laman web. Karena saya berdomisili di Jawa Timur maka saya mencari nama saya dibawah header panitia lokal di wilayah Jatim. Setelah berulang kali mencermati nama-nama yang ada di kolom tersebut, saya akhirnya tidak menemukan nama saya. Merasa gagal, saya sangat bersedih mengingat akan sangat membantu sekali jika saya mendapatkan beasiswa tersebut. Namun, saya tetap meyakinkan diri saya untuk tetap ikut SNMPTN meskipun tanpa beasiswa tersebut. Motivasi dari kakak tingkat dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya selalu terngiang di telinga saya.

Jangan khawatir. Banyak sekali beasiswa yang bisa kalian dapatkan setelah masuk universitas.

Berbekal keyakinan tersebut saya membeli formulir pendaftaran SNMPTN Universitas Airlangga. Kabar mengejutkan datang ketika teman yang sama-sama melamar beasiswa mengatakan bahwa semua pelamar alias lima anak dari SMAN 1 Ponorogo diterima dalam seleksi beasiswa tersebut, Kebingungan saya berakhir tatkala mengetahui ternyata nama saya tercantum di Panitia lokal (panlok) 44 Surakarta. Saya mendapatkan surat pemberitahuan dari sekolah dan saat itulah baru saya tahu nama beasiswa tersebut adalah BMU (Beaiswa Mengikuti Ujian). Singkat cerita saya mendapatkan bantuan uang untuk mengikuti ujian SNMPTN dan baru akan diberikan beasiswa secara penuh dalam setahun jika kami diterima di universitas tersebut. Awalnya saya sangat terkejut karena saya harus memilih Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai pilihan pertama, padahal saya sangat mendambakan bisa menuntut ilmu di Universitas Airlangga. Ibu  meyakinkan saya untuk tetap mengambil beasiswa tersebut. Beliau meyakinkan jika menuntut ilmu bisa kita lakukan dimanapun. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil dua jurusan langsung di UNS melalui jalur IPS.

Meski saya berasal dari jurusan IPA, Alhamdulillah saya bisa melalui ujian SNMPTN IPS dan akhirnya diterima di jurusan Sastra Inggris UNS. Masih sangat lekat di ingatan perjuangan mencari informasi beasiswa yang saya dapatkan ini di kampus UNS. Dari kelima teman saya yang lolos seleksi beasiswa BMU, hanya saya yang lolos dan diterima di UNS (dua orang tidak mengikuti SNMPTN). Walhasil saya harus mencari informasi beasiswa ini di UNS sendirian. Beberapa kali ke UNS saya berjalan di dalam kampus tanpa mengetahui di mana saya harus mencari tahu tentang informasi ini. Akhirnya, saya bertemu dengan kakak senior dari BEM UNS dan saya dibantu untuk mengurusi masalah beasiswa ini.

Kuliah, Kerja, dan Berorganisasi

Memasuki bangku kuliah, saya kemudian mencari cara agar bisa membayar biaya kuliah, biaya hidup dan kebutuhan lainnya. Saya telah bertekad untuk tidak memberatkan orangtua jika saya kuliah. Beberapa bulan di masa awal kuliah saya masih diberi uang saku oleh orangtua. Namun uang tersebut tidak mencukupi kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan hidup saya. Tidak lama kemudian kiriman uang dari orang tua sudah mulai berhenti. Saat itu saya masih bisa menggunakan uang beasiswa untuk biaya SPP dan untuk keperluan lainnya.  Pada saat itulah saya merasakan nikmatnya kehidupan mahasiswa. Saya memutuskan untuk bekerja dan berjualan disamping aktivitas kuliah saya,

Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa PPA (Program Peningkatan Akademis) selama tiga tahun berturut- turut (2009-2011) yang bisa menutupi biaya SPP. Dari awal masuk kuliah hingga di semester sembilan ini saya selalu menunda pembayaran uang kuliah karena saya harus pintar memutar uang. Bagi saya ini sangat penting untuk menjaga arus uang dan dinamisasi aktivitas. Tahun pertama dan kedua, saya aktif mengikuti lomba debat Bahasa Inggris di tingkat kampus maupun nasional. Dari lomba tersebut saya bisa mendapatkan hadiah uang dan juga pengalaman berharga lainnya. Saya berkesempatan untuk menjejakkan kaki di Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Indonesia karena lomba tersebut.  Dari keaktifan di lomba ini, saya juga menambah daftar aktivitas menjadi seorang juri pada lomba  speech dan debat di Solo dan sekitarnya. Lumayan untuk menambah penghasilan dan juga jam terbang. Bisa belajar terus. Di samping itu, pengalaman kerja saya juga beragam meskipun masih serabutan. Saya pernah berjualan pulsa dan aksesoris, menjadi surveyor perusahaan, pemeriksa ujian, guru privat, penerjemah, guru TK, SD dan SMP, serta pelatih debat. Semuanya saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, menunjang aktivitas organisasi dan juga melakukan sebuah investasi kegiatan di masyarakat yang memang memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Di samping kegiatan perkuliahan, pekerjaan dan lomba, saya tetap berusaha aktif di beberapa organisasi kampus maupun luar kampus. Sebagai mahasiswa baru, saya mengikuti berbagai organisasi seperti BEM UNS, English Department Community, Student English Forum, JN UKMI, Rukun Tetangga Mahasiswa, dan KAMMI. Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah saya menjadi salah satu pendorong terbentuknya BEM di fakultas. Nah, setelah terbentuknya BEM Fakultas Sastra dan Seni Rupa inilah karir keorganisasian saya bergulir. Kurang lebih tiga tahun saya berjuang bersama teman- teman di BEM FSSR, mulai dari menjadi Ketua Divisi Penalaran hingga Menteri Luar Negeri. Saya juga berkesempatan menempati posisi selevel menteri di himpunan mahasiswa jurusan.

Saya sadar bahwa saya tidak bisa menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang). Organisasi mengikat saya secara positif dalam dimensi struktural dan emosional. Berorganisasi juga membentuk kepribadian saya menjadi lebih matang. Kecakapan yang saya dapatkan di organisasi ini sangat membantu pengembangan diri pribadi. Proses pematangan ideologi, pendalaman permasalahan, analisis konflik kebangsaan, dan kepekaan bermasyarakat semua dimulai dari organisasi. Di organisasi ini pula, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Gajah Mada, Universitas Padjajaran, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung bukan hanya sebagai pengunjung namun juga tamu dan berbicara di depan mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Hingga akhirnya pada tahun 2012, saya melamar Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) Dompet Dhuafa dan puji syukur, Alhamdulillah pendaftaran saya diterima. Saya menjadi salah satu dari delapan aktivis UNS yang menerima manfaat beasiswa ini. Beasiswa ini merupakan suatu berkah dari Allah SWT di masa tua saya sebagai mahasiswa.  Di saat saya masih bergelut dengan permasalahan finansial dalam berbagai kegiatan, beasiswa ini memberi saya tunjangan dana aktivitas yang sangat membantu. Selain itu, beasiswa ini juga membekali kami dengan sharing value serta  berbagai macam pelatihan yang sangat bermanfaat. Pengalaman bertemu dengan aktivis mahasiswa dari berbagai kampus unggulan di Indonesia (ITB, UGM, UI, IPB dan UNSRI) juga merupakan pengalaman yang luar biasa.

Semua rekam jejak perjalanan saya semasa kuliah, baik akademis maupun non akademis saya pijakkan dari visi untuk beribadah kepada-Nya, dari motto hidup bahwa hidup adalah perjuangan yang tak henti-henti, dan dari kesadaran mendalam bahwa my goal isn’t simple so my effort must be harder. Satu hal yang selalu saya pegang ketika saya berada dalam kesusahan dan keputus-asaan: Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Al Insyirah:6). Mari berjuang!

Evi Baiturohmah

Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret

Solo Jawa Tengah

Sumber : www.kampusgw.com

Inilah Finalis Mahasiswa Berprestasi 2012

Inilah Finalis Mahasiswa Berprestasi 2012

JAKARTA, KOMPAS.com – Setiap tahun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengadakan seleksi mahasiswa berprestasi. Tahun ini, seperti dikutip dari laman www.dikti.go.idterpilih 27 mahasiswa untuk kategori Program S-1/D-IV dan Program Diploma untuk berkompetisi pada babak final yang akan berlangsung di Yogyakarta pada 13-16 Juli 2012.

Inilah 27 finalis mahasiswa berprestasi 2012:

A. Program S1/D-IV berdasarkan abjad nama dari Universitas/Institut/Sekolah Tinggi
1. Anisa Nurfitriah (Universitas Brawijaya)
2. Bama Andika Putra (Universitas Hasanuddin)
3. Diana Purwaningrum (Universitas Negeri Semarang)
4. Dwi Cahyani (Universitas Lampung)
5. Farah Azizah (Universitas Jember)
6. Francisca Albertha (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
7. Greget Kalla Buana (Universitas Sebelas Maret)
8. Gusti Ayu Sinta Deasy Andani (Universitas Jenderal Achmad Yani)
9. Hendra (Institut Teknologi Bandung)
10. Herinda Pertiwi (Universitas Airlangga)
11. Herwandhani Putri (Universitas Gadjah Mada)
12. Juliyatih Putri Utami (Universitas Negeri Malang)
13. Khoirul Anam (Universitas Jenderal Soedirman)
14. M. Imam Usman (Universitas Indonesia)
15. Putu Ayu Sutaningrat Puspa Dewi (Universitas Pendidikan Ganesha)
16. Rio Aditya (Institut Pertanian Bogor)
17. Tyas Ajeng Nastiti (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

B. Program Diploma dari Politeknik/Akademi

1. Devki Rekhana Zanna (Politeknik Telkom)
2. Hajriansyah Kodung (Politeknik Negeri Manado)
3. Kurnia Luthfi Wahyu Fendini (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya)
4. Monalisa Eka Shinta (Politeknik Negeri Jakarta)
5. Muhammad Fahrurozi (Politeknik Sekayu)
6. Ni Putu Virgin Kartika Sari (Politeknik Negeri Bali)
7. Putri Irma Kusumayati Bratawijaya (Politeknik Negeri Bandung)
8. Titik Suharti (Politeknik Kesehatan Yogyakarta)
9. Toni Firnandes (Politeknik Negeri Batam)
10. Yulinati (Politeknik Caltex Riau)

Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Another Second Place*

Another Second Place*

Evi Baiturrohmah

 

It has been a while for me not joining any competition yet. I am busy with my own life and simply forget how the tense of competition. Sometime ago I participated in Javanese English Newscaster competition which was held by ‘Satu Lingkar’ community of Sebelas Maret University. If I am not mistaken the participant for English bench (since I joined this part: D) was about 60 people. I was so excited because that was my first time experience to act as newscaster in front of judges and camera. I recalled that my heart pounded so much and I felt it was going to explode that time. Ever since I observed the first performer until the number before mine I couldn’t stop thinking silly to just walk out from the hall. I trembled and chilled for a while. All contestants were surely amazing.

When it came to my turn, I walked nervously to the stage and put myself into the right position. I helped myself to comfort the camera position, microphone checking and my seat. I took a deep breath to make my nervous gone away, but it couldn’t be helped tough. Yet, I assured myself to perform my best whatsoever it was. (lebih…)

Happy Ending is Reward from Long and Winding Journey!

Happy Ending is Reward from Long and Winding Journey!

oleh Erny Ratnawati

 Menapak Jejak Perjuangan Panjang Dan Penuh Tantangan Menuju   1st Winner LKTN UNTAN Pontianak Kal-Bar 2012

Selayaknya yang diingati  dan digali dari sebuah kemenangan bukanlan kenangan selebrasi tapi adalah bagaimana kemenangan itu dititi  (–Erny Ratnawati–)

Olimpiade FisikaMenanggalkan mimpi sejenak untuk terbang membawa jas almamater ke Tanah Minang, bukan berarti menyurutkan mimpi saya untuk tetap bertekad menjejak daratan lain di negeri Indonesia. Karena demikian yang mencuci otak saya,  bahwa untuk membuka mata kita, kita harus melihat dunia yang lebih luas, harus berani melompat dan tidak sekedar berkutat dimana sekarang kita berpijak. Seberkas keyakinan bahwa Allah telah mempersiapkan kesempatan lain yang sungguh luar biasa terbersit di kepala. Meski tidak tahu  kelak  darimana datangnya, saya hanya percaya Skenario Allah lebih indah daripada yang kita kira.

Hingga akhirnya, Subhanallah kesempatan itu ternyata mampir juga, hanya berselang dua minggu setelah tim SIM di Padang berhasil mendarat dan memboyong piala mungil bertera “juara 3”. Saya berkesempatan bergantian untuk jado peserta kongres ILP2MI  dan jadi nominasi presentator di Final LKTI Nasional Paper On Borderhood UNTAN Pontianak Kalimantan Barat. Borneo. I’m Coming…. (lebih…)

Sepenggal Kisah Hikmah dari Perjalanan ke Ranah Minang

Sepenggal Kisah Hikmah dari Perjalanan ke Ranah Minang

oleh Yuli Ardika Prihatama

Tak Terduga

“Aku ingin naik pesawat”. Itu teriakan keras yang terlontar dari lisan kami ketika kami bertiga berdiskusi dalam rangka membuat Karya Ilmiah Mahasiswa Penalaran Green Festival 2012 yang dilaksanakan oleh UKM Penalaran Universitas Andalas Padang. Kala itu, masih bulan Maret.

Sambil bercanda ria di selter FKIP kami akhirnya menemukan sebuah gagasan yang fenomenal, yakni tentang Sistem Pemanfaatan Kembali Air Bekas Wudhu. Sederhana sih, tapi ternyata dengannya Allah kemudian memperkenankan 2 dari kami melanglang buana ke tanah seberang.

Tepat tanggal 11 April 2012, ada sebuah berita yang luar biasa. Karya kami lolos menjadi 10 besar finalis di Universitas Andalas Padang. Hah, impian kami untuk pertama kali terbang naik pesawat akan segera terealisasi. Namun, bukan birokrasi kalo ga ada tantangannya. Ada saja masalah pengurusan uang transport dan berbagai tetek bengek administrasinya. Dekatnya waktu pengumuman dengan waktu final membuat kami harus memutar otak untuk mendapatkan uang tiket pesawat. Akhirnya melalui sebuah lobi tingkat dewa-dewi, di Acc-lah 1 tiket dari Pembantu Dekan III dan II FKIP. Alhamdulillah, dapat 1 tiket, meskipun akhirnya kami harus hom pim pah untuk menjadi salah satu wakil di final.

Diputuskanlah nama Krisnawan sebagai kandidat terkuat. Dengan dukungan doa dan segala persiapan yang ada. Dengan bantuan Mr. Bery, satu paket tiket PP Solo-Padang dapat diperoleh dengan harga relative murah meskipun dadakan. Sampai akhirnya hari Rabu, waktu keberangkatan yang dinanti-nanti oleh kami bertiga. Akhirnya kami berbagi tugas, Dika mengantar Krisna ke Bandara Adisumarmo, Erny mengurus administrasi di Mawa UNS, dengan dibantu Nisaa semuanya beres dan mengejutkan mereka membawa sesuatu yang mengejutkan.

Ga kepikiran deh! Niat Dika nganter Krisna doang, eh malah dikasih surat tugas plus uang saku buat terbang. Haaa, gila, pengen nangis karena haru. Lebih-lebih melihat senyum dua orang yang telah capek-capek mengantar surat tugas dan uang transport tadi. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang dengan lembut melambaikan tangan kea rah kami. Akhirnya aku pesan tiket juga, dan terbang ke Jakarta bersama Krisna. Aku bingung dengan diriku yang tidak membawa persiapan apa pun, kecuali baju yang melekat dengan peralatan kuliah standar serta uang saku di kantong dan ATM. Apalagi jas almamater kampus yang begitu memesona itu, tak terbawa. Gila, masak sampe Padang harus belanja ganti dulu. Tapi ternyata rencana Allah jauh lebih indah.

Antara Jakarta dan Padang (Rabu, 18 April 2012)

Sesampai di bandara Soetta (Soekarno-Hatta), aku langsung memburu tiket ke outlet Lion Air untuk jurusan Padang. Yah, yang tiket murah sudah habis. Tinggal tiket super mahal yang akan ke Padang hari itu. Akhirnya aku pesan tiket yang paling murah untuk rute Jakarta-Padang, coba deh pakai Sriwijaya Air. Tapi berangkat besok siang. Tak apalah, biarkan Krisna menjejakkan Padang dahulu.

Kami sempatkan jalan-jalan sampai waktunya Krisna kembali boarding di Bandara. Demi mencari lapak makanan yang murah kami rela nggembel jalan ke sana kemari di sepanjang kawasan pinggir bandara untuk mendapatkan makanan yang murah (tapi ya tetep mahal dibandingkan Solo). Akhirnya kami berpisah!

Krisna melanjutkan perjalannya bersama Lion Air (pesawat pertamaku coy). Dan aku bingung di sebuah masjid sendirian. Kontak teman-teman desa yang jadi urban tidak ada yang mengangkat (lagi kerja keras kali). Akhirnya ada jawaban dari salah satu teman dekatku. “Bro, ntar malam nginep ditempatku aj”. Alhamdulillah, tidak jadi nggembel di Bandara deh.

Malam itu kuhabiskan waktuku untuk bercerita dan sambil melepas lelah di kontrakan kawanku yang kecil dan sederhana. Hemm, jadi tidak enak. Istrinya jadi repot harus nyiapin ini itu gara-gara aku. Sampai-sampai Tarmudi, nama temanku itu, mau memberikan 2 buah kaos n baju batik buatku. Alamak, udah numpang, ngrampok pakaian pula. Saat mau tidur, akhirnya Krisna SMS. “Hoi, aku udah nyampe bandara Internasional Minangkabau”. Alhamdulillah, lega rasanya.

Pagi-paginya aku segera bergegas pergi ke Bandara, karena temanku juga akan segera kerja, plus malu juga ntar malah diberi macam-macam lagi. Wah, perjalanan keren, ketemu sopir taksi Blue Bird yang keren. Orang Ngawi coy. Bapaknya bijak menasihatiku dan memberikan berbagai informasi yang bermanfaat untuk masa depan. Terima kasih Bapak (aduh aku lupa namanya).

Sesampainya di bandara agar tidak boring, aku segera mencari mushola. Dhuha, tilawah, baca-baca buku. Alhamdulillah, stiap aku pergi pasti tak lupa bawa mushaf dan buku bacaan. Dan kali ini kebetulan juga bawa lepi. Ah, musholanya enak, toiletnya juga sangat nyaman. Betah rasanya di Soetta. Sambil mengerjakan bebarapa konsepan, pesen tiket pulang ke Mr. Bery, akhirnya sampailah waktunya boarding untuk penerbangan ke Padang. Kawanku krisna udah SMS terus, kapan aku akan datang. Final telah dimulai. Aduh, gimana lagi. Aku berangkatnya jam 12. Dan ternyata ada delay yang cukup lama. Garing deh. Ternyata pesawat juga mengenal terlambat tah.

Dan setelah boring nunggu si besi terbang Sriwijaya Air dan melihat kemarahan penumpang, akhirnya datang juga. Dan perjalanan ke Padang dimulai. Bismillah. Allah Maha Besar. Aku tak tahu sedang apa kawanku di sana, gelisah menungguku sambil melayani para pengunjung ekspo yang makin ramai di stan kami.

Minang, I’m Coming (Kamis, 19 April 2012)

Kurang lebih 1,5 jam, si besi terbang mengudara hingga akhirnya sampai di Bandara Internasional Minangkabau. Bangunan yang berciri khas rumah Adat Sumatra Barat, Rumah Gadang. Seperti bangunan di Adisoemarmo yang berbentuk joglo seperti rumah adat Jawa Tengah. Tanah Minangkabau yang selama ini hanya ada dalam ingatanku dan cerita roman balai pustaka hingga Negeri 5 Menara akhirnya benar-benar kusaksikan.

Sampai di sini boring lagi nunggu jemputan panitia. Ah, Krisna makin kesepian menanti kedatanganku. Dia sempat tersenyum karena dapat undian paling akhir. Ternyata aku pun datang telat. Sambil menahan gerutu, datanglah mobil yang menjemputku. Alhamdulillah, bisa segera ke Universitas Andalas.

Di sepanjang perjalanan, aku merasa sedikit kecewa, karena kota Padang tak seindah bayanganku. Dalam bayanganku bangunan rumah-rumahnya adalah rumah Gadang. Ternyata justru mirip perumahan saja. Aku sadar, kota ini telah mengalami modernisasi. Sambil menahan boring karena ga nyampe-nyampe, aku SMS-an dengan 2 temanku yang khas (karena aku ga di urus panitia, mereka sibuk ber-2-an sih).

Alhamdulillah, sampailah aku di Universitas Andalas, sebuah kampus megah yang kokoh berdiri di kaki bukit (aduh lupa lagi namanya). Dan sesampai di sana, rangkaian final telah selesai. Praktis Krisnalah satu-satunya finalis sesuai dengan planning awal kami. Dan aku akhirnya mendeklarasikan diri sebagai pelayan tuan muda Krisna. Semua memberikan hikmah tersendiri, di mana kekompakan kami di Solo sebelum final, terbukti menjadikan Krisna sanggup berjuang sendirian dengan bermodalkan apa-apa yang sudah kami persiapkan jauh-jauh hari.

Kami bertemu dengan sahabat-sahabat baru dan beberapa sahabat lama yang sering ketemu di lomba atau di forum layaknya balap F1. Rival sama Cuma beda arena. Ada dari UNY 2 tim, Unej, Stikes Aisyiah Jogja, ITB, UNP, Unand sendiri., dan IPB. Ada Septian Suhandono, bos Forces yang sudah sampe bosan ketemu dia melulu. Semua asyik dan konyol.

Setelah kami puas foto-foto di aula gedung PKM Unand, tempat final tadi, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi kampus Unand. Amazing, keren abis. Terutama kawasan depan gedung rektorat Unand. Di sana kami bisa memandang laut di kawasan samudra Hindia dengan leluasa. Indah sekali kawan! Setelah capek berfoto-foto kami pulang ke penginapan. Hah, aku terkejut, asrama haji Tabing yang dijanjikan panitia ternyata adalah asrama sederhana di pinggir kota yang sangat minim fasilitasnya. Bahkan airnya saja tak lancar. Tapi segera kulipur diriku, aku beruntung sudah bisa ke Padang gratis.

Bukittinggi, Kota 2 Lapis (Jumat, 20 April 2012)

Hari kedua di Padang diisi dengan field trip ke Kota Bukittinggi. Yah, keren, kota yang sering diceritakan banyak melahirkan para pemimpin bangsa dan negarawan akan kukunjungi. Bahkan ia adalah kota yang pernah menjadi pusat Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Dengan bus kampus yang keren, dan sopirnya yang kekar, kami diajak berkeliling melewati jalan-jalan mengular menyisir pinggiran gunung Marapi. Indah sekali kawan. Di sini sangat mudah dijumpai pohon kelapa. Iyalah secara semua masakan Padang pasti pakai santan soalnya.

Di kota ini nuansa Rumah Gadangnya lebih terlihat. Aku suka. Suka sekali. Dan akhirnya mobil kami berhenti di sebuah kawasan mirip Grand Canyon (kayak pernah lihat aj). Ternyata kami berhenti di kawasan wisata lubang Jepang. Kenapa Lubang Jepang, karena ternyata 80 % kota Bukittinggi, bagian bawahnya adalah lorong-lorong panjang yang saling terhubung. Konon katanya ketika Jepang berkuasa di Indonesia, daerah tersebut menjadi basis pertahanan yang kokoh. Ribuan tengkorak manusia yang dikubur masal di salah satu lorong menjadi saksi bisu pembantaian para tentara Jepang kepada bangsa kita yang dijadikan romusha. Itulah mengapa di kota ini tidak boleh dibangun bangunan yang tingginya lebih dari 5 tingkat. Karena ratusan meter di bawahnya ada lubang-lubang bersejarah.

Layaknya mahasiswa yang memang hobi nekat, kami semua turun dan meninjau kawasan lorong yang dekat dengan pintu masuk. Ternyata luar biasa. Aku kagum dengan perencanaan orang Jepang dalam mengatur siasat perang. Lubang yang dibangun ini benar-benar kokoh. Tidak tembus resapan air. Tidak runtuh karena gempa, terbukti setelah gempa Padang sampai sekarang tidak terjadi apa dan tidak ada tanah jatuh/ ambrol. Meskipun agak serem, tapi kami merasa nyaman karena ada satu pemandu yang menjelaskan dengan sabar setiap pertanyaan kami dan maun memfoto kami. Ha ha ha

Perjalanan kami lanjutkan ke pusat kota Bukittinggi. Karena bersamaan dengan hari Jumat, diputuskan kami shalat Jumat dulu di masjid Raya Bukittinggi. Kami berjalan menyusuri beberapa arena penting, seperti museum Bung Hatta, Pusat Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Jam Gadang dan lain-lain. Amazing, di sana warga-warga yang tokonya dijaga laki-laki segera ditutup (seandainya di daerahku juga begitu). Ketaatan masyarakat terhadap Islam masih jauh lebih baik dari pada kawasan daerahku (ya iyalah). Dalam khutbah Jumat, sang Khatib menyampaikan materi yang sangat menyentuh dan materi ini adalah masalah mendasar yang sekarang sedang terjadi di mana-mana. Yakni langkah generasi muda yang mulai meninggalkan norma-norma agama. Tak hanya tempatku, Sumatra Barat yang konon menjadi penyumbang Imam terbesar di berbagai masjid raya di Indonesia, ternyata juga generasinya semakin sedikit. Semua menjadi PR dan tanggung jawab kita untuk memperbaiki masyarakat, khususnya generasi muda.

Setelah shalat jumat, agenda dilanjutkan jalan-jalan ke pasar kota Bukittinggi, dan di sana ada Jam Gadang. Jam teraneh didunia, karena angka 4 romawi ditulis dengan IIII bukan IV. Kami hanya belanja secukupnya untuk oleh-oleh di kampus, karena memang tak bawa uang saku berlebih. Dan, aku akhirnya berbelanja celana untuk mengganti celanaku yang hampir 3 hari tidak ganti. Kemudian kami foto-foto bersama di bawah Jam Gadang. Hemm, Bukittinggi, engkau banyak memberi inspirasi. Di sinilah aku dapatkan apa yang sering kutanyakan di hati ketika membaca roman Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, sampai Negeri 5 Menara. Inilah Ranah Minang, negeri para Ulama dan Tokoh bangsa ini terlahir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Setelah semua dirasa cukup, kami pun kembali ke penginapan. Di tengah perjalanan kami berhenti di kawasan Sinjai untuk membeli makanan khas di sana yang terkenan pedasnya, yaitu keripik Sinjai. Sesampai di penginapan, kami melepas lelah sesaat sebelum akhirnya makan malam bersama dan pengakraban.

Nuansa makan malam kali ini bener-bener berbeda. Semua makanan dijereng dalam satu wadah besar dan memanjang. Kami semua makan bersama di sana. Tentu saja menunya adalah makanan padang. Dan aku sangat terkesan dengan berasnya yang putih dan sangat lezat. Hemm enak sekali. Ditambah suasana yang begitu akrab, semua makin menjadi hangat dan sangat menyenangkan. Setelah itu kami melakukan pengakraban, sharing dan berbagi cerita. Banyak canda tawa yang menjadi kenangan. Semuanya terbingkai dalam wadah sebagai sahabat yang finalis PGF 2012. Aku makin mengenal berbagai keragaman manusia dan gagasan yang luar biasa untuk membangun Indonesia.

Dan kami pun tidur dengan pulas selepas itu ….

Hari yang Menentukan (Sabtu, 21 April 2012)

Ini hari terakhir kami bisa menikmati indahnya kota Padang. Hari ini agendanya adalah Seminar Internasional dan pengumuman pemenang. Luar biasa, seminar ini disambut positive oleh Pembantu Rektor Kemahasiswaan dan Walikota Padang. Bahkan Pak Walikota berkenan menjadi Keynote Speaker dalam seminar tersebut. Banyak terobosan-terobosan yang beliau lakukan untuk memajukan kota Padang. Seperti halnya Jokowi, walikota Padang ini ternyata juga memiliki langkah-langkah yang tidak biasa dibandingkan walikota yang lain. Berbagai program out of the box dia suguhkan selama masa pemerintahannya untuk membangun kota Padang. Jika benar-benar terealisasi, aku sungguh kagum dan bangga kepada beliau.

Seminar kemudian dilanjutkan oleh pembicara dari perwakilan WHO dan Kementerian Lingkungan Hidup RI. Dengan dimoderatori salah seorang guru besar fakultas Hukum Unand, seminar menjadi sangat menarik meskipun porsi bahasa Indonesia-nya lebih banyak dari pada bahasa Inggris-nya (Padahal Seminar Internasional lho).

Tibalah saatnya pengumuman kejuaraan. Dag dig dug der! Berdebar hati ini menanti keputusan panitia. Sampai akhirnya tersebutlah nama judul karya Resyster W, ya itu karya kami. Dan panitia mengumumkan karya itu mendapatkan juara III. Allahu Akbar! Aku dan Krisna begitu terharu mendengar hal ini. Aku tersenyum, perjuangan kami selama ini terjawab sudah dengan sebuah raihan prestasi yang sebelumnya masih langka diraih oleh kami mahasiswa-mahasiswa UNS, terutama yang aktif di organiasi. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Dan seminar pun berakhir. Kami foto-foto bersama

Usai foto-foto dan berpelukan (cowok-cowok, cewek-cewek, ga cewok) kami segera berkemas dan menuju bus untuk diantar ke Bandara Internasional Minangkabau. Hati terasa bahagia mendapatkan sebuah capaian prestasi dari kerja keras selama ini. Ketika sampai di Bandara, sahabat-sahabat dari Universitas Negeri Padang (UNP) menyandera kami dan meminta kami semua berkunjung ke sana. Akhirnya sebagaian kami yang memang jadwal penerbangannya masih lama mengiyakan undangan mereka.

Alhamdulillah bisa berkunjung ke kampus UNP yang terletak di pesisir kota Padang, dekat laut dan kawasan pelabuhan Teluk Bayur. Di sana kami disambut keluarga besar PPIPM (semacam SIM di UNP). Kami berbagi cerita dan memperkenalkan kampus kami. Dan kami bisa belajar banyak dari UKM Keilmiahan yang usianya hampir 17an tahun itu. Keren, keren, dan keren. Karena aku dan Krisnawan dan satu tim dari UNY berangkat subuh hari berikutnya, mas Mabrur, ketua PPIPM meminta kami menginap di sana. Dan okelah, kami sanggupi asal nanti di antar ke Bandara sebelum subuh. Mereka adalah tuan rumah yang baik bagi kami. Terima kasih kawan-kawan PPIPM.

Selamat Tinggal Ranah Minang, Semoga Aku Bisa Kunjungi Kau Lagi (Ahad, 22 April 2012)

Pagi buta, bahkan kalo di sana masih dini hari, kami bergegas mengemasi barang-barang kami. Dengan 4 motor super keren, 4 pembalap dari UNP yang tak lain adalah squad PPIPM ini mengantar kami ke Bandara dengan kecepatan tinggi. Asyik dan menegangkan. Semuanya berlalu begitu saja.

Akhirnya sampailah kami di bangunan rumah Gadang raksasa itu lagi. Kami berpelukan dan berpisah di depan pintu masuk. Mereka melambaikan tangannya dan kami membalasnya. Kami segera shalat subuh dan boarding di sana. Saat matahari masih belum terbit, sang Lion Air, yang sekarang begitu ku sukai seandainya aku dapat kesempatan terbang lagi, kembali mengudara mengantar kami ke Jakarta untuk kemudian ke tanah kelahiran kami. Selamat tinggal ranah Minang. Tanah yang menjadi inspirasiku.

Sesampai di Jakarta, kami melakukan aktivitas aneh seperti yang sebelumnya, yaitu keluar mencari lapak makan pagi yang murah. Dan akhirnya kami dapat lagi. Alhamdulillah. Uang kami masih mencukupi untuk perjalanan ke Solo. Dan akhirnya kami bisa sampai ke solo dengan selamat

Itulah sepenggal kisah kami ke negeri rantau. Ranah Minangkabau yang berada di tanah seberang. Banyak kisah, banyak inspirasi, dan banyak nasihat bagi kami agar mengerti bagaimana harus mencintai Indonesia. Mana kisahmu?