oleh Aviaddina Ramadhani

Bagaimana jika saya minggat? Pertanyaan tersebut saya lontarkan pada ibu saya pagi ini. Ada apa gerangan? Apakah saya sedang membangkang? Apakah saya bertengkar hebat dengan ibu saya? Ataukah saya sedang merajuk dan mengancam demi mendapatkan sesuatu? Tidak. Saya berkata demikian karena saya mulai merasakan ketidakproduktivan saya di rumah.

Suatu poin kuat dari ucapan saya di atas adalah ketika produktivitas mulai terkotakkan oleh bangunan rumah. Definisi rumah mulai mengusik. Apakah rumah sebatas bangunan dengan tembok, pintu, dan jendela yang ditinggali sekelompok orang dengan ikatan darah? Ataukah rumah memiliki fungsi sosial lainnya.

Rumah memiliki pengertian berbeda sesuai dengan fungsinya. Ketika rumah dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat dari aktivitas, tak salah jika rumah disebut sebagai rumah peristirahatan. Bukan tak mungkin karena banyaknya aktivitas masing-masing anggota rumah tersebut, rumah hanyalah dijadikan sebagai persinggahan. Maka tak ubahnya rumah pun adalah rumah singgah. Demikian seterusnya hingga berbagai fungsi menciptakan definisi berbeda akan bangunan yang disebut rumah.

Salah satu fungsi rumah menurut saya adalah rumah sebagai tempat untuk berproduksi. Rumah adalah pijakan pertama untuk menciptakan sebuah karya. Rumah adalah ajang untuk membina produktivitas semua anggotanya. Produktivitas di sini diciptakan dengan tujuan bermacam-macam pula. Mulai dari untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup hingga sekedar meningkatkan aktualisasi diri.

Maka saya terpikirkan untuk minggat dari rumah ketika fungsi rumah yang saya harapkan mulai tidak saya temui. Beberapa hari terakhir, rumah hanyalah sebagai tempat perisitirahatan. Begitu memasuki rumah, tempat tidur beserta accessories bantal dan guling melambai-lambai dan siap membuai. Produktivitas pun menjadi keinginan sulit untuk dicapai. Karya justru terbentuk ketika berada di luar tembok rumah. Maka tidak salah jika terpikirkan ide konyol untuk minggat dari rumah.

Rumah sebagai tempat untuk tinggal tak jauh berbeda dengan fungsi tanah air sebagai tempat untuk hidup seluruh warga negaranya. Tanah air memiliki fungsi yang berbeda-beda pula tergantung sudut pandang warganya. Tanah air dapat dijadikan sekedar tempat untuk lahir, tempat untuk hidup, dan seterusnya. Tetapi bisa juga tanah air dijadikan sebagai wadah untuk menciptakan produktivitas.

Jika memang tanah air memiliki fungsi sebagai wahana untuk berproduksi menciptakan karya, maka bukan hal yang mustahil pula jika pemikiran minggat terlontar ketika keinginan tersebut tidak didapatkan lagi di tanah air sendiri. Produktivitas barangkali difasilitasi oleh tanah air yang lain sehingga warga negara memilih minggat demi menjaga produktivitas.

Seperti halnya dalam rumah saya. Ketika ayah, ibu, dan saya memutuskan untuk minggat dalam arti menemukan produktivitas di luar batas tembok rumah, yang tersisa di dalam rumah hanyalah adik dan seorang pembantu. Adik yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dapat dikatakan sebagai orang yang belum sepenuhnya terdidik sehingga belum mampu menciptakan produktivitas secara penuh. Demikian pula pembantu yang fungsinya hanya membantu rutinitas yang ada, tanpa menciptakan sesuatu terlebih membuat karya baru. Praktis, ketika orang terdidik seperti ayah dan ibu yang sarjana dan saya yang menempuh perguruan tinggi pergi mencari produktivitas lain, rumah menjadi wadah yang semakin jauh dengan harapan produktivitas.

Demikian pula dengan tanah air Indonesia. Ketika orang terdidik terfasilitasi di negara lain, satu demi satu warga negara memilih pergi. Yang tertinggal di Indonesia hanyalah orang-orang tidak terdidik atau belum sepenuhnya terdidik, ditambah orang-orang pekerja yang menyalurkan tenaga tanpa ada keinginan untuk menciptakan sebuah karya. Produktivitas kembali menjadi barang langka. Dan fungsi tanah air sebagi pencipta karya makin jauh untuk terlaksana.

Jika demikian yang terus terjadi, berapa lama lagi kita akan mati? Perabot rumah tangga akan menjadi usang tanpa terjamah karena tak ada manusia yang rutin menggunakannya. Ketika akhirnya rusak, pilihan yang ada adalah membeli barang baru. Demikian pula di Indonesia. Kekayaan alam akan semakin lapuk karena tak terjamah oleh kaum terdidik yang seharusnya memiliki kemampuan akan pengelolaannya. Warga negara hanya akan menjadi orang-orang konsumtif tanpa mampu menjadi orang produktif.

Betapa bahaya pemikiran minggat dari diri seseorang. Betapa mengkahwatirkan jika keinginan minggat terbersit dalam diri para terdidik. Semoga ini tidak terjadi sehingga produktivitas dapat diciptakan di rumah sendiri. Rumah kita, tanah air Indonesia.