*Erny Ratnawati

 

If you plan for a year, plant a seed

If for ten years, plant a tree

If for hundred years, teach the people

When you sow a seed once, you will reap single harvest

When you teach the people, you will reap a hundred harvest

—Kuan Tzu 551-479 BC—-

Sejenak dahi mengernyit, berderet tanya mengalir deras merasuki tiap inchi cerebrum otak, mencoba untuk mencari jawab kenapa. Apa gerangan yang  membuat Kaisar Jepang menanyakan berapa jumlah guru yang masih tersisa, sesaat pasca jepang lumpuh total karena diluhlantakkan oleh bom atom. Apa pula yang membuat tokoh Indonesia sebesar Syahrir dan Muhammad Hatta rela mengecap rasa bagaimana menjadi seorang guru. Ataukah seorang Butet Manurung ketika dia rela meninggalkan gemerlap kotanya, demi menjadi guru baca tulis suku Anak Dalam, di belantara pedalaman Jambi. Ataukah seorang tokoh Bu Muslimah Laskar Pelangi yang rela tetap mengajar siswa yang jumlahnya hanya kurang dari hitungan jari tangan manusia di bangunan lapuk SD Muhammadiyah Gantong.

Vocation begitulah seorang Jansen sinamo, mengatakan demikian. Memang nampaknya benar adanya.  Bahwa menjadi guru adalah panggilan hati. Aliran deras Energi ‘panggilan hati’ itu tercipta karena timbulnya rasa peduli yang bergradasi. Begitu pula dengan pilihan ketikamenginjakkan kaki dan memutuskan untuk mencintai fakultas saya ini. Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Meski masih dikata menjadi guru, belum menjadi posisi yang prestige dan diminati oleh para calon mahasiswa. Sebagian menjatuhkan plihan karena desakan orangtua dan keterpaksaan akan nasib diterima di pilihan kedua atau  menjadi hal yang sering ditemui. Namun, bagi saya ini adalah tentang pilihan hidup. It’s about choice, it’s about to choose.

 Dan kini ketika profesi guru semakin dihargai, dengan adanya kebijakan sertifikasi dan penunjang kesejahteraan guru lainnya. FKIP menjadi jajaran fakultas favorit. Program studi di FKIP mulai bersaing ketat dengan fakultas bergengsi lainnya. Sebuah dinamisasi yang baik tentunya. Namun, terlepas dari itu semua, saya sejenak kemudian merenung dengan sesuatu hal yang menjadi cambuk dan pelecut saya untuk terus bertahan mencintai fakultas saya ini, dengan tulus, bukan karena sekedar iming iming materi atau sederet tawaran meggiurkan lainnya.

Bertolak dengan sebaris kuote Kuan Tzu’ When you teach the people, you will reap a hundred harvest”  menderukan hati saya’ untuk mencintai profesi ini kelak sebagai pengabdian yang tak kenal lekang oleh jaman untuk mengajar dan mendidik ribuan orang keluar dari jurang kebodohan. FKIP menjadi kawah candradimukan, tempat saya mencari bekal itu semua. Karena tanpa bekal, maka pastilah besok saya akan merasa pincang.

Di kawah ini, saya tentu akan belajar banyak sekali. Tidak hanya lembaran materi dalam kutatan dikat tebal, buku dan jurnal yang menjadi santapan tiap hari.  Disini saya mulai belajar mengenal sosok dan hakikat sejati seorang guru. Pameo luhur unen unen ( ungkapan-red) Jawa yang mengenal guru sebagai sosok dengan makna akronim “GU” digugu  ( dipatuhi) dan “RU” ditiru ( dicontoh) mengingatkan saya pada sebuah nilai tanggung jawab moral yang besar dari sosok seorang guru. Dan disinilah letak nilainya. Implikasinya secara nyata, makna tersebut menisbatkan seorang guru memiliki tanggung jawab secara moral untuk mendidik akhlak siswa di bangku bangku sekolah.  Sebagai sosok yang dianggap orang tua kedua bagi siswa, membekali siswa  dengan perilaku yang taat norma dan berakhlak mulia sejatinya  menjadi kewajiban yang termaktub dalam perjanjian tak tertulis profesi seorang guru. Dengan isu pendidikan karakter akhir akhir ini santer bergaung yang seakan oase ditengah kegersangan akan nilai nilai moral yang diajarkan di bangku sekolahan, guru sejatinya tampil sebagai aktor utama. Meski implementasinya masih berupa kebijakan, bahwa tiap guru hendaknya menyelipkan nilai nilai moral  di setiap mata pelajaran, namun tentu saja nilai moral ini selayaknya tak sekedar  melulu wacana yang  sarat teori. Karena hakikatnya nilai  karakter seperti itu akan lebih merasuk dengan model model aplikasi lewat teladan dan pembiasaan. Pendidikan karakter, meski masih sebatas hidden curriculum, namun telah menjelma menjadi angin segar frame rancangan pengajaran norma yang sedemikian idealnya di dunia pendidikan. Namun sekali lagi guru tetaplah menjadi kunci sukses dan tombak realisasi utama selain orangtua. Sehingga menjadi garda terdepan dengan model suri tauladan adalah sebuah keniscayaan yang selayaknya terus diikhtiarkan.

Guru dilahirkan untuk memikul peran menjadi  power support bagi anak didiknya untuk dapat menjadi manusia yang memiliki `ruh` dan mampu mengembangkan nilai nilai bijak dan mengarahkan pada kecerdasan intelektual/akademik atau Intelegence Quotient(IQ), kecerdasan emosional  atau Emotional Quotient (EQ) dan kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). Ketiganya menjadi komponent yang semestinya seimbang (balance) , tidak hanya dari segi intelektual saja tapi juga dari sisi emosional dan spiritual. Karena seperti yang dituturkan oleh Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro ”Pendidikan yang hanya menekankan pada aspek intelektual saja akan menjauhkan anak dari masyarakatnya”. Oleh karen itu, output pendidikan yang sebenarnya tidaklah hanya lulusan yang bertitelkan sekedar formalitas gelar atau deretan angka di lembaran ijazah, akan tetapi lulusan proses pendidikan yang dapat menjadi manusia seutuhnya. Insan sejati berkarakter kuat dan cerdas, cakap serta bermoral.

Demikian sederet fikiran dan idealisme panjang diatas membuat saya memaknai dan menyadari proses belajar di fakultas yang  saya cintai ini. Menghentakkan kesadaran akan tanggung jawab moral yang besar ini. Sehingga hal ini menjai sekian refleksi, baik bagi para guru sendiri maupun tunas tunas muda yang telah memutuskan untuk menjadi Omar Bakri selanjutnya yang kini tengah menjejakkkan kaki di dikampus kampus  atau fakultas yang berlabelkan keguruan dan ilmu pendidikan. Refleksi yang akan mengantarkan pada irisan dimensi materi dan immateri. Sehingga perjalanan rumah – sekolah – rumah yang menjadi rutinitas harian seorang guru, agar tidak sekedar hanya akan dimaknai untuk mengajar IPA, IPS, Bahasa  dan Matematika saja. Dan bukanlah urusan guru jika murid jadi apapun mereka. .

Karena sejatinya nilai tambah dan ambal jasa bukanlah sekedar gaji kiranya menurut saya, bagi seorang penyandang julukan Oemar bakri ini. Ada profit yang lebih mulia dibandingkan sekedar lembaran harta. Profit investasi mencerdaskan dan  menata akhlak anak bangsa tentu sejatinya menjadi sekian  dari deretan jawaban utama. Oleh karena itu,kesadaran akan nilai tambah jangka panjang ini yang kiranya perlu revitalisasi atau penyegaran kembali, hingga mampu meminimalisir disorientasi. Akan sayang kiranya jika added value nilai digugu dan ditiru menjadi kian terbiaskan, sebab orientasi sejak awal sudah mulai terlupakan secara perlahan lahan.

Dan sekali lagi sosok guru adalah kehormatan yang tidak biasa. Ia yang telah berperan sebagai salah satu fasilitator mendidik siswa untuk dapat menjadi lebih baik, unggul dan berakhlak mulia, patut membuatnya ternisbatkan sebagai salah satu actor utama di lingkaran pendidikan demi derap memajukan bangsa. Karena tak dapat disangkal lagi pendidikan adalah garda terdepan kemajuan bangsa. Dalam panggung sejarah manusia, mesir kuno dan Yunani kuno yang terbukti memiliki peradaban tinggi, berasal dari pendidikannya yang juga maju. Bangsa di dunia yang pendidikannya berkembang, menjadi negara yang maju pesat antara lain AS, Jepang dan Korea. Begitu pula Jerman dan Prancis yang basis pendidikan mereka kuat sehingga menjadi negara dengan tingkat kemajuan yang luar biasa. Jepang yang hancur setelah perang Dunia II memulai bangkit dengan melakukan pembenahan sistem pendidikan karena mereka sadar pendidikan adalah investasi jangka panjang, dan hasilnya jepang pun menjadi negara maju terdepan dalam percaturan ekonomi dunia. Tak terelakkan lagi pendidikan adalah salah satu instrumen penting untuk membangun sebuah bangsa. Dan guru adalah salah satu saka tiangnya.

Oleh karena itu, menjadi sebuah pilihan agung ketika dengan sederet wacana diatas kembali menyalakan bara semangat saya menapak dan mencintai fakultas keguruan dan ilmu pendidikan ini. Mengemban tanggung jawab untuk memberikan kontribusi demi kemajuan anak anak bangsa dengan segala potensi yang saya miliki. Menjadi rahim inspirasi bagi sekian persen dari dua ratus juta anak bangsa ini. Mengutip pernyataan Anies Baswedan –penggagas Indonesia mengajar- bahwa  mendidik  sejatinya adalah kewajiban moral setiap orang terdidik bangsa ini. Sebagai seorang yang sudah berada di kawah candradimuka ini, saya berazzam untuk dapat menunaikan kewajiban moral itu dengan sebaik baiknya.

Dan sejenak dalam cita yang membumbung tinggi, saya kembali menyelami sisi mulia seorang guru. Ketika narasi narasi segelintir  guru terpilih itu menyadarkan saya untu kelak berbuat apa. Hingga tidak hanya transfer kabel ilmu dan tali tali teori saja yang saya berikan unttuk anak didik saya kelak. Mereka guru guru penuh inspirasi itu, Butet Manurung, Bu Muslimah, pak harfan dan beberapa sosok guru hebat lainnya mengajak saya kembali menyimak pada empat baris wiseword William Arthur .

Guru yang biasa, berbicara

Guru yang bagus, menerangkan

Guru yang hebat, mendemonstrasikan

Guru yang agung, memberi inspirasi

 

Dan nyatanya kata bijak Arthur memang tidaklah berhenti bergema sebagai sekedar kata kata indah saja. Demikian Bu Muslimah membuktikan ia mampu mengawal mimpi mimpi anak didiknya hingga para Boy belitong itu mampu membesut impiannya, hingga menuju Sorbone,Prancis. Demikain pula Butet yang harus tangguh bertahan di rimba nan luas, demi mendobrak pemikiran konservatis suku pedalaman yang buta akan huruf dan angka telah berhasil menjadikan suku terasing itu mulai mengenal baca tulis.

 

Dan sekarang, imajinasi saya bermain melompat lompat di beberapa tahun lagi dari tempat saya sekarang berdiri. Ketika menapaki jejak menjadi guru, saya ingin menjadi sosok mereka yang memaknai mengajar bukanlah sekedar perjalanan rumah – sekolah – rumah yang menjadi rutinitas harian. Berharap menjadi guru yang memaknai gaji per bulan tidak hanya sekedar seperti upah kuli kapur , kuli spidol atau kuli buku,  yang memang dibayar  karena tenaganya berkutat kapur, spidol dan buku tiap hari. Namun mendidik adalah menebarkan rahmat kebaikan, agar semakin panjang kebaikan dapat terulur lebih panjang, melewati lompatan generasi demi generasi dengan balutan kecerdasan dan hiasan akhlak mulia. Di sudut hati saya, terbersit sebuah gumam, “memang benar bagian dari 8 pilar etos guru adalah menebarkan rahmat’. Dan Rahmat  itu adalah kebaikan berupa ilmu dan didikan moral yang disampaikan kepada siapa. Siapapun dia, tanpa memandang strata,usia, dan harta. Dan rantai rahmatnya akan terus  menjadi jariyah jariyah kebaikan yang terus bersambung dan mengalir hingga akhir masa.

 Wawwllahu’alam bisssowwab