Tujuh puluh dua tahun Indonesia merdeka yang berarti menandakan bahwasannya negeri ini sudah berumur dan tidak lagi muda. Pembangunan terjadi dimana-mana, dari segi insfratuktur tentu Indonesia memiliki kemajuan yang cukup pesat. Desa-desa sudah menjadi kota, bahkan pasar-pasar tradisional sudah menjadi pasar modern yang menandakan kenyamanan dan kemewahan. Jalan-jalan layang dibuat dan dibangun sedemikian rupa agar mampu menampung mobil-mobil yang berserakan dimana-mana dan menimbulkan kemacetan luar biasa. Inilah Indonesia, pembangunan insfratuktur terjadi dimana-mana, bahkan 19 % dari APBN atau sekitar 380 triliun dainggarkan untuk pembangunan insfrastruktur angka ini terbesar kedua setelah anggaran pendidikan yang hanya selisih 1% saja.

Ironinya negeri ini lupa membangun “manusia”-nya. Beragai macam permasalahan muncul di negeri ini karena faktor human eror. Salah satunya adalah korupsi, Badan anti-korupsi dunia yang berkantor di Berlin – Transparency Internasional – hari Rabu mengeluarkan laporan tahunan atas hasil upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan 176 negara setahun terakhir ini. Indeks Persepsi Korupsi ini menempatkan Indonesia di peringkat ke 90 dengan skor 37. Sedangkan di Asean Indonesia menjadi salah satu negara dengan Indeks Korupsi tertinggi, berada diurutan ke-4 dibawah Singapore, Brunei dan Malaysia.

Belum selesai disitu, permasalahan ekonomi di Indonesia juga terus bertambah. Kalau kata bang Haji Rhoma Irama “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”, ini benar-benar terjadi di Indonesia. Ketimpangan kekayaan antara orang kaya dan miskin di Indonesia termasuk paling buruk di dunia. Berdasarkan survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Kondisi ini hanya lebih baik dibanding Rusia, India, dan Thailand. Bahkan 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 49% kekayaan Nasional. Tentu ini merupakan prestasi yang buruk, dimana sektor ekonomi hanya diperuntukan orang-orang golongan kaya, sedangkan si miskin dibawah tertatih-tatih untuk membangun ekonominya.

Itulah beberapa masalah dari banyaknya permaslahan yang ada di Indonesia, tentu cukup memilukan hati karena umur bangsa ini tidak lagi muda. Lalu apakah penyebab dari semua masalah tersebut? Apakah Indonesia krisis pemimpin? Jawabannya tentu tidak, pemimpin di Indonesia tentu sangatlah banyak. Bahkan masih banyak orang yang ingin menjadi pemimpin dan mereka berlomba-lomba untuk menjadi piminan di sektor-setor yang ada. Terlepas dari permaslahan yang ada di tataran pemerintah, saya yakin setiap pemimpin negeri ini mempunyai konsep yang baik bagi bangsa Indonesia.

Akan tetapi tidak semua konsep yang dibawa oleh pemerintah bisa diterjemahkan oleh masyarakat Indonesia. Karena kondisi masyarakat Indonesia sekarang masih acuh dengan gagasan yang diperjuangkan oleh pemerintahhnya. Tidak jarang program-program yang ditujukan untuk masyarakat kandas ditengah jalan karena tidak ada sinergisitas antara program yang diberikan pemerintah dengan pemahaman dari masyarakat. Salah satu contoh adalah program dana desa, hampir tiap desa mendapatkan anggaran 1M/tahun dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Akan tetapi sampai saat ini belum terlihat dampak yang signifkan dari program tersebut. Dana tersebut kebanyakan dimanfaatkan untuk pemangunan insfrastruktur yang itu-itu saja, bahkan tidak jarang dana desa ini memakan korban untuk menjadi tersangka “korupsi”.

Inilah permasalahan yang harus dipecahkan. Bangsa Indonesia tidak hanya butuh pemimpin di tatanan atas (pemerintahan) akan tetapi bangsa ini juga membutuhkan pemimpin di tatanan bawah (masyarakat). Pemimpin di tatanan masyarakat atau kita sering sebut grass root ini sangat penting, karena kita lihat bersama bahwasannya kondisi masyarakat Indonesia masih terlalu pasif dan kurang inisiatif bahkan beberapa masyarakat di daerah-daerah tertentu cukup kolot dan susah untuk diajak berkembang. Inilah peran dan fungsi dari pemimpin akar rumput, pemimpin yang siap untuk menginisiasi setiap langkah perubahan di tatanan masyarakat. Pemimpin yang akan menjadi pelopor majunya pola pikir masyarakat Indonesia.

Kita juga tidak melupakan peran penting masyarakat dalam system pemerintahan demokrasi yang dijelaskan bahwasannya kekuasaan tertinggi ada ditangan masyaakatnya. Rakyat memegang kendali penuh atas pemerintah, tidak seperti sekarang yang seolah rakyat tidak peduli dengan apapun yang dilakukan pemerintah dan seolah-olah pemerintah memegang kekuasaan tertinggi. Inilah yang harus kita aktifkan kembali yaitu fungsi social control dari masyarakat kepada pemerintah. Sehingga setiap kebijakan dan langkah pemerintah bisa terkontrol dengan baik. Ini semua tentu bisa terjadi apabila Pemimpin Akar Rumput ada dan mampu menginisiasi setiap gerakan perubahan ditatanan masyarakat Indonesia.

Wallahualam