Oleh: Evi Baiturohmah

Dalam novel Ali Akbar, Matahari Merah Bulan Mei, tahun 1998 dikisahkan dalam bingkai realitas mahasiswa UI yang turut bergerak menjadi kesatuan yang menggulingkan rezim Soeharto. Mahasiswa dengan segala idealismenya turun ke jalan menghimpun pasukan, berhadapan dengan para perwira angkatan. Sebagian mati dan sebagian bertahan. Pasca reformasi, kongsi pecah. Ada yang beranggapan reformasi selesai, tak sedikit yang berteriak lantang reformasi baru saja dimulai. Sekelumit kisah yang menggambarkan perjuangan mahasiswa di era penumbangan Soeharto dibahas cantik di novel setebal 239 halaman ini . Pada saat itu, rezim kesewenangan Soeharto adalah musuh bersama seluruh kalangan mahasiswa, rakyat proletar, kaum cendekiawan dan lapisan tertindas lainnya. Memoar sejarah ini sering menjadi pedoman mahasiswa tentang betapa kuatnya gerakan kaum cendekiawan muda nan idealis ini. Akan tetapi makna dan hakikat reformasi yang acap kali dilupakan mahasiswa adalah peninggalan karakteristik pemikiran yang seleras dengan peradaban. Bukan tentang kekuatan massa, melainkan tentang peran strategis mahasiswa sebagai cerdik cendekia, creative minority yang menggerakkan perubahan dasar pondasi pola pikir yang (harusnya) tak mati dilekang masa.

We see,  then, how far the monumets of wit anmd learning are more durable than the monuments of the hand. For have not the verses of Homer continued twenty-five hundred years or more, without the loss of a syllable or letter; during which time infinite palaces, temples, castles, cities, has been decayed and demolished (Francis Bacon The advancement of Learning)

Francis Bacon, ilmuwan yang oleh Michael Hart ditasbihkan sebagai salah satu dari 100 orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia menyatakan betapa landasan pemikiran, warisan pemikiran cerdik cendekia, mampu bertahan ratusan tahun bahkan lebih dibanding dengan bangunan megah yang aus dimakan waktu. Pondasi intelektual menjadi monumen sejarah yang mengakar dalam peradaban manusia. Menjadi kultur dan identitas masyarakat dalam scopedan range waktu tertentu.

Soeharto dan kesewenangannya adalah musuh bersama sehingga  kesatuan mahasiswa dapat bergabung menghimpun kekuatan yang besar. Akan tetapi sekarang, musuh bersama itu tidak nampak dalam kacamata biasa. Pergeseran bentuk musuh bersama itulah yang kini belum sepenuhnya disadari oleh mahasiswa. Musuh bersama memang tidak berwujud tokoh otoriter tetapi kebobrokan sektor- sektor kehidupan yang lebih kompleks. Tantangan mahasiswa kini bukan menurunkan pemimpin melainkan mempersiapkan pemimpin, untuk dirinya sendiri dan generasi muda selanjutnya. Peran mahasiswa sebagai agent of change bukan sekedar motto dalam konferensi saja. Sebagai pemuda yang mengecap bangku kuliah, mahasiswa bukan hanya terdidik secara akademis, melainkan juga dikayakan oleh pengalaman, jaringan, penggemblengan etos kerja dan perbekalan etika moral yang mumpuni.  Menjadi agen perubahan tidak hanya menjadi kaum elite publik tapi menjadi pribadi yang siap bertarung dalam kondisi apapun. Tidak semua mahasiswa akan mendapatkan kesempatan yang sama dalam sebuah rencana perubahan, disini penghayatan peran mahasiswa harus mencapai titik kulminasi pemahaman yang paling mendasar. Perubahan adalah gerakan bersama yang tidak dilakukan satu orang tetapi merupakan integrasi berbagai pihak, merata mulai dari perumus kebijakan, pemangku jabatan, pelaksana teknis dan bahkan penerima perintah. Menjadi mahasiswa, menghayati peran sebagai agen perubahan harus mampu memiliki 4 konsep pemahaman dan kualitas diri sebagai berikut:

  1. 1.      Pintar dan Berprinsip (Intelektual Idealis)

Kualitas mahasiswa dalam fitrahnya sebagai kaum intelektual kampus harus menjadi landasan awal bergeraknya mahasiswa dalam melakukan perubahan. Yang menjadi pembeda yang tajam dengan kalangan  lain seperti pejabat publik, konglomerat dan politisi adalah jiwa idealisme mahasiswa yang bersih. Mahasiswa adalah agen idealisme. Ketika banyak pihak bergerak dengan tendensi pribadi dan kepentingan golongan maka mahasiswa bergerak dengan prinsip penegakkan sendi kehidupan yang lebih baik. Mahasiswa berupaya mewujudkan kondisi ideal dalam tatanan masyarakat dalam pelbagai sektor kehidupan.  Dalam mewujudkan tatanan ideal dalam masyarakat, mahasiswa harus pintar dan idealis. Kaum pintar bukan hanya mahasiswa. Banyak orang- orang yang tidak idealis dan oportunis merupakan kalangan yang cerdik dan pintar. Itulah sebabnya mahasiswa selain idealis juga harus pintar. Pintar berarti mampu menguasai bidang studi yang ia geluti untuk kepentingan perjuangan. Mahasiswa wajib mempunyai wawasan yang luas dan cakrawala berpikir yang tajam dan berorientasi panjang. Mewujudkan perubahan yang lebih baik tidak cukup idealis saja melainkan dengan kepintaran, mengatur strategi, menjadi pemecah masalah serta memanfaatkan ilmu pengetahuan. Menjadi pintar dan berprinsip adalah hal mendasar yang wajib dimiliki mahasiswa agar agenda perubahan mampu dirancang dan dikawal dengan cermat dan seksama.

  1. 2.      Tegas dan Taat (Organisatoris)

Berangkat sebagi intelektual idealis, mahasiswa harus mampu menempati peran penting dan posisi strategis di dalam masyarakat. Posisi strategis tidak hanya menjadi pejabat eselon maupun politisi elit, akan tetapi menjadi figur dalam komunitas dan pendukung suatu gerakan perubahan yang merupakan salah satu faktor kunci penentu keberhasilan gerakan. Kemampuan untuk bersikap tegas dan taat harus mutlak dimiliki mahasiswa. Dalam menjalankan roda pergerakan, mahasiswa akan menjadi pemimpin dan disisi lain menjadi yang dipimpin. Dia harus mampu menjadi orgasinatoris yang baik dimana ia harus bisa memaknai jabatan yang ia pegang dengan sebenar- benarnya. Organisasi mengajarkan kecakapan pribadi, kerja tim, pengorbanan dan perjuangan bersama. Menjadi organisatoris berarti menjadi pribadi yang siap menjadi pimpinan yang berkualitas maupun bawahan yang taat dan cerdas. Organisatoris adalah pemimpin yang sanggup menggerakan bawahan dengan keteladanan dan menyatukan mereka dalam satu unit kerja bersama yang mantap. Organisatoris adalah bawahan yang siap menjalankan perintah pemimpin dan bekerjama dengan yang lain demi mewujudkan cita- cita bersama. Tanpa adanya kesanggupan dalam menjadi pemimpin dan yang dipimpin, sebuah gerakan maupun organisasi akan mati karena perang perebutan kekuasaan. Menjadi organisatoris berarti menjadi pribadi yang mumpuni dalam kerja bersama dengan tim. Tidak sempurna seorang mahasiswa jika ego ditempatkan di baris pertama. Untuk mencapai tujuan bersama, kerja kelompok yang solid sangat dibutuhkan. Tanpa kemampuan kerjasama yang baik dengan tim, maka mimpi- mimpi besar tidak akan terwujud. Dan yang penting, menjadi organisatoris berarti pandai memanajemen waktu dan mengorganisir gerakan. Jengis Khan, penakluk Mongol terbesar, yang menumpahkan lautan darah demi ambisi kekuasaannya saja sangat cerdik mengorganisir daerah taklukannya. Anak dan cucu- cucunya merupakan pewaris yang teguh dan dapat meneruskan penguasaan atas daerah yang begitu luas berabad- abad setelah kematiannya. Maka mahasiswa harus mampu belajar dari kepiawaian Jenghis Khan berkaitan dengan profil organisatorisnya dalam mengatur daerah taklukan dan mendidik penerusnya. Mahasiswa harus mampu memanajemen diri dan pergerakannnya dengan cermat dan rapi disamping produktif melahirkan penerus- penerus baru yang akan melanjutkan estafet perjuangan.

  1. 3.      Berbudi Pekerti Luhur (Agen Moral)

Mahasiswa sebagai generasi yang mendapat akses pendidikan tinggi, diharapkan mampu menjadi motor perubahan dan bukan malah menjadi sumber permasalahan. Yang terjadi saat ini adalah bahwa mahasiswa dan pemuda menjadi salah satu sumber permasalahan bangsa yang berat. Nilai- nilai luhur bangsa, yang telah tertanam dalam kepribadian pendahulu, secara cepat tergerus oleh ekses kebudayaan asing. Meleburnya batas geografis yang membuat borders menjadi semakin kabur serta kontaminasi budaya menyebar begitu cepat tanpa adanya filter yang memadai sehingga terciptalah pemuda yang tidak berbudi pekerti luhur.

Berkompetisi dengan kemajuan zaman berarti berkompetisi dengan kebudayaan luhur bangsa. Dalam konteks yang sempit, bisa dikatakan kemajuan zaman dan budaya budi pekerti luhur merupakan konsep binary opposition. Keduanya saling bertentangan. Kemajuan zaman membawa konsekuensi terhadap mudahnya akses informasi, menurunnya interaksi sosial dan menjamurnya budaya konsumerisme. Budaya luhur bangsa Indonesia sebagai bangsa yang santun dan sopan, baik dalam tutur wicara, sikap maupun perbuatan kini seakan habis dilumat konsep kebebasan dalam kemajuan zaman. Pemuda dengan emblem freedom di dadanya membusung masa depan dengan salah kaprah. Mereka terjebak dalam budaya asing sementara jati diri budaya asli mereka kian memupus. Demikian pentingnya budi pekerti luhur ini bagi pemuda dan kehidupan bangsa karena ia merupakan jati diri bangsa dan kebenaran umum. Maka dari itu, pendidikan Indonesia dirancang untuk menciptakan manusia yang berbudi luhur. Salah satu tujuan pendidikan nasional adalah menciptakan manusia yang cerdas dan berbudi pekerti luhur. Pendidikan bukan semata aset bisnis yang dapat dikomersialkan dalam bursa politik nasional, pendidikan adalah ujung tombak peradaban manusia. Mahasiswa dan pendidikan adalah dua pita yang saling mengikat. Pendidikan bertujuan untuk menghasilkan insan yang cerdas dan mempunyai budi pekerti luhur. Mahasiswa harus menjadi agen moral yang memiliki dan meyebarkan nilai- nilai kebaikan di masyarakat. Moral pemuda akan menjadi faktor kunci arah pembangunan kedepan. Rusaknya moral pemuda menjadi jembatan menuju rusaknya moral bangsa dan hancurnya peradaban. Maka dari itu pemuda harus menjadi agen moral yang merupakan landasan filosofis kuat dalam membangun pendidikan menuju cita- cita besar bangsa Indonesia.

  1. 4.      Aktor (Praktisi lapangan)

Ilmu dan amal adalah perangkat yang saling melengkapi. Cacatlah perangkat yang satu jika tidak memenuhi fungsionalitas perangkat yang lain. Sebaik-baiknya ilmu adalah yang diamalkan. Ilmu berada dalam fase pemikiran atau ide. Dia berada dalam kepemahaman otak manusia yang menjelma menjadi konsep dasar pemikiran. Istilah No Action Talk Only (NATO) tidak asing di telinga kita karena semakin kerapnya kata itu menjadi wilayah batas realisme kita. Kita tidak butuh pemuda yang banyak bicara, kita butuh yang mau dan mampu bekerja. We need no youth with much talk, we need them walk. Mahasiswa dituntut menjadi problem solver dalam entitas dimana ia berpijak. Kemahiran berbicara dan beritorika harus seimbang dengan aksi nyata sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat. Menjadi aktor di lapangan yang langsung berinteraksi dengan masyarakat adalah salah satu syarat mahasiswa sebenarnya. Perguruan tinggi didirikan bukan semata sebagai tempat bersilat lidah semata melainkan tempat ilmu pengetahuan dipelajari dan dihargai agar bisa dimanfaatkan untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara. Mahasiswa harus mampu menjadi konseptor sekaligus eksekutor.  Keteladanan dalam sikap sehari- hari akan menjadi penggerak yang tidak terlihat dalam mencapai tujuan bersama. Dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat, mahasiswa lebih tahu persoalan dengan mendalam bukan hanya teori di atas kertas.

Generasi muda tidak butuh berpuluh- puluh konferensi untuk dilabeli aktivis perubahan. Mahasiswa harus mampu mendorong secara tepat perubahan di lingkungan terdekatnya. Maju untuk menang, mundur untuk menang. Musuh bersama mahasiswa sekarang adalah kebodohan, kemiskinan, korupsi dan kebobrokan moral bangsa. Mahasiswa harus berani menjadi mahasiswa yang sebenarnya. Bahwa hakikatnya ia bukan siswa yang mengecap bangku kuliah saja, melainkan ia adalah Maha-Siswa. Siswa dan pemuda yang mempunyai kekuatan agung di dalam dirinya. Berani bersuara menentang penindasan, lantang menyuarakan perbaikan serta tertunduk malu atas kebodohan. Kita, jiwa mahasiswa yang senantiasa bergelora untuk menjadi mahasiswa sebenar- benarnya.