By : Erny Ratnawati

Sejenak dalam riuh kecamuk pelik bangsa yang tak kunjung reda dengan segala hiruk pikuknya. Marilah sebentar belajar dari sebuah pahatan batu nisan di Inggris atas nama seorang genius bernama Westminster Abbey di waktu yang jauh sekali dari sekarang kita berdiri. Dalam prasasti yang bercerita di sebuah tempat dimana waktu menunjukkan abad 14 sebelum masehi.

–RIP. Westminter Abbey—

ketika aku masih muda dan masih bebas berhayal aku bermimpi ingin mengubah dunia ini agar menjadi lebih baik,namun seiring bertambahnya usia dan kearifanku kudapati dunia tiada pernah   baik.

makacita-cita itu pun agak ku persempit,lalu kuputuskan hanya untuk merubah negriku sendiri tetapi tampaknya hasrat itupun tiada membawa hasil.

ketika usiaku semakin senja dengan semangatku yang masih tersisa lalu ku putuskan hanya untuk mengubah keluargaku sendiri dan orang -orang yang dekat denganku,namun celakanya merekapun tidak mau berubah.

hari ini sementara aku terbaring untuk menanti ajal tiba lalu tiba-tiba saja ku sadari “seandainya saja dulu aku berpikir yang pertama-tama kurubah adalah diriku sendiri ,maka dengan menjadikan diriku panutan dan teladan” maka aku akan bisa merubah keluargaku terlebih dahulu,lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka bisa jadi aku bisa memperbaiki negriku,kemudian siapa tau dengan begitu aku bisa merubah potret dunia.

——–

Bisa jadi itu sebuah tulisan yang dipahat. Namun kacamata bijak mengajarkan kita bahwasanya dari sebuah narasi cerita hidup seorang anak manusia berabad tahun lalu itu memberi kita pembuka tabir hikmah. Satu kata . Keteladanan.

Dan di penghujung hidupnya, ketika nilai  keteladanan  itu justru baru  tertemukan olehnya. Ketika ia sadar semua mimpinya memang selayaknya bermula dari dirinya sendiri. Mimpi mimpi besarnya demi perubahan dunia ternyata tak bisa  begitu saja tersaji didepan mata. Apalagi ketika ia sadar kesalahan terbesarnya adaah ia segan merubah dirinya sendiri. Ia lupa untuk menjadi teladan dan bermimpi jauh agar orang mau mengikutinya. Akhirnya, jauhlah panggang dari api.

Berabad kemudian. Ketika kita berdiri di kisaran waktu 1400 tahun lalu, saat Allah menghadirkan sosok panutan dan teladan hingga akhir jaman. Muhammad bin Abdullah namanya.  Kita akan kembali berkaca dengan manusia agung ini.

Namanya terukir indah di ayat yang menisbatkan bahwa ia adalah uswatun hasanah. Teladan yang baik bagi umat sepanjang jaman. Tak heran mengingati predikat ini memang layak untuk seorang Muhammad. Sesorang Rosul Allah yang tidak pernah mengingkari apa yang ia ucapkan.Kunci lahirnya sebuah keteladanan dari sosok Muhammad adalah kuatnya simpul integritas.  Satunya kata dan perbuatan.

Muhammad.  Namanya sejak awal melegenda di jazirah arab sebagai manusia dengan model “al-amin” (yag terpercaya). Ya . Muhammad Al- Amin menjadi gelar yang disematkan padanya saat takpernah gelar tersebut disematkan kepada orang sebelum dan juga sepeninggalnya. Keteladannya menjadi inspirasi sepanjang masa, tidak hanya kawan, namun juga orang orang yang memusuhinya. Ketika  menjadi penyampai wahyu Allah, beliau menjadi eksekutor pertama dari perintah  yang disampaikan lisannya. Ia benar benar mejadi model hidup dari apa yang ia sampaikan dan ajarkan di segala aspek kehidupannya.

 Dan kembali mematut diri dengan cermin beberpa orang orang pilihan yang sengaja Allah hadirkan untuk kita teladani, selayaknya seperti kita berkaca pada tiga pemimpin di ranah bumi dan masa yang berbeda.

Panglima besar Sudirman dan Syeh Ahmad Yassin. Keduanya menjadi model ketulusan dan kesucian perjuangan seorang pemimpin sejati. Sehingga meski raganya sakit, namun bara jiwanya tak pernah mati. Sudirman, meski sakit jantunya mengoyak ulu hati, namun di tandu itu ia tetap memekikkan takbir membahana. Ahmad Yasssin, singa palestina yan berkursi roda itu itu meski  rapuh dan lumpuh energinya tetap tegak menggerakkan jutaan jundi jundi Al- Quds.  Mereka membuktikan semua kata kata dan orasi dalam pidato pidatonya pendobraknya dengan tapal batas kekuatan raga yang mereka miliki, mereka bergerak di garda menuju syahid di barisan paling depan, meski sakit itu membuat benang  sekat antara lepasnya  jasad dan ruh semakin tipis.

Disisi abad yang lain. Ketika pemuda 23 tahun itu menjadi  satu satunya pemuda yang tidak terduduk  ketika syarat syarat itu diajukan. Yang tidak pernah meninggalkan( sholat fardhu, puasa ramadhan,mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan, kehilangan hafalan A- Qur’an, puasa ayyamul bidh,dan sholat malam) semenjak akil balighnya. Hanya tersisa satu orang pemuda itu yang tidak terduduk karena tidak pernah meninggalkan amalan itu semua. Dan namanya adalah Muhammad Al- Fatih.

Berpijak dari nurbuat Rosulullah bahwa 700 tahun setelah masa kenabian, bahwa Konstantinipel akan  jatuh ketangan islam dengan sebaik baik pasukan dan sebaik baik pimpinan. Dan pemuda tersebut akhirnyalah yang menggapai takdirnya untuk menjadi pucuk pimpinan eksekutor obsesi umat islam tujuh abad lamanya. Menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al- Fatih memberikan keteladanan yang tidak biasa,kebeningan jiwanya menggerakkan , menginspirasi dan menjadi model hidup bagi para pasukannya.

Demikianlah keteladanan itu apik dan sempurna tersemat di fragmen kisah kisah hidup tersibak hikmah tersebut. Keteladanan seperti inilah yang menjadikan seorang pemimpin memiliki integritas dimata orang lain, menjadi inspirasi bagi pemimpin-pemimpin yang hidup sesudahnya.Cukuplah keteladanan mereka  menjadi prasasti  bahwa 1 teladan memang lebih baik daripada 1000 nasihat.

Ketika Keteladanan Semakin Langka

Belajar dari masyarakat Jepang yang selalu berpegang pada empat prinsip, kejujuran, kerja keras, kepedulian kepada sesama dan lingkungan, serta keteladanan. Menjadi model dengan keteladanan adalah bagian integral yang tak terpisahkan dari rangkaian nilai nilai baik di kehidupan.

Seseorang menjadi model ataupun dalam kata lain menjadi contoh bagi yang lain karena ia telah menapaki sebuah pencapaian yang menumbuhkan kepercayaan akan dirinya  dan kemudian  menjadi inspirasi bagi yang lainnya.  Seseorang ditiru dan diikuti jejaknya karena ia mampu melampaui suatu jejak nyata dalam frame nilai kebaikan entah dalam sikap, perilaku/tingkah laku  maupun rekam ‘kebaikan’ hidupnya.  Karena tidak ada ceritanya model buruk menjadi sebuah keteladanan. Bahkan seorang dengan perangai buruk sekalipun akan mengambil model/contoh yang baik untuk dirinya.

Dalam bingkai kepemimpinan. Keteladanan adalah kunci. Sebagaimana tesis  ini seiring seirama dengan lontaran seorang pakar leadership, John C. Maxwell yang mengatakan “The most effective leadership is by example, not edict”. Menurut nya, 90 persen manusia belajar secara visual, sembilan persen secara verbal, sisanya satu persen dengan indra lainnya.

Keteladanan  bagi seorang pemimpin tidak cukup hanya dirasa atau dicium baunya, apalagi hanya didengar  wacananya saja.   Itu tidak cukup . Harus dengan aksi nyata. Belajar keteladanan ibarat menjadi saksi mata atas rekam jejak yang digoreskan oleh kepemimpinan seorang anak manusia. Kepemimpinan tanpa keteladanan menjadi tanpa ruh. Hilangya ruh membuat konsepsi memimpin  dan dipimpin hanya sebagai simpul formalitas. Dan itulah yang terjadi sekarang, ketika  seolah kepercayaan telah menjadi onggokan basi. Krisis keteladanan menjadi kegamangan yang sudah terlalu sering ditemui.  Susah mencari model yang patut diteladani . Manusia seolah hanya digerakkan bak robot dengan pemimpin sebagai symbol dari  tombol tombol instruksi.

Terjadinya krisis keteladanan tersebut, bukan hanya karena semakin jarangya ditemukan sejumlah sikap baik yang disebut karakter melekat kuat. Namun, juga budaya suka ingkar janji dan terlalu sering permisif dengan kesalahan sendiri. Sehingga dirasa bukan dosa kiranya, jika kita mampu melontar kata kata, namun  tak urung untuk melaksankannya.  Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang nyata.  Sikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” adalah pantangan tabu seharusnya.

Meski dapat jujur dikata, di masa sekarang sekarang  keteladanan menjadi barang yang semakin langka kita jumpai. Ketika integritas menjadi hal yang sukar ditemui. Anak bangsa hampir putus asa mencari model model hidup yang ditirunya sekarang, karena tiap hari hanya disuguhi tontonan sikap pemimpin yang mengiris hati. Kepentingan Negara dan pribadi dicampuradukkan. Agama bukan dimaknai lagi pegangan, melainkan sekedar polesan formalitas belaka. Hingga tak heran, jika gunung es legenda penipuan terbesar  bernama korupsi sudah tak lagi menyisakan ruang. Bahkan menelusup di kementrian yang katanya mengurusi perkara yang dekat dengan TUHAN. Tak tanggung tanggung juga, alat pelampias nafsu serakah itu ternyata adalah lembaran suci berisi wahyu Tuhan. Kitab suci bernama Al- Qur’an harus tergores namanya karena menjadi objek symbol keserakahan manusia.Ironis dan Tragis.

Lalu, selanjutnya bagaimana Dengan Kita??

Maka dari itu, sejenak marilah kita merenungi kembali dengan problema yang tengah terjadi dengan bangsa ini, lalu apa yang akan kita lakukan? Apa hanya diam dan menjadi penonton kekacauan? Atau ikut ikutan terus terusan mencaci tiada henti.

Bijaknya bukan demikian kiranya. Sebagai seorang anak bangsa, yang bahkan mengaku  menjadi seorang aktivis dengan  sejuta gagasan briliannya, apalagi menyandang predikat muslim pula. Disini kita mulai belajar untuk berbenah diri. Melakukan kerja terbaik yang pasti selain untuk mencari ridhoNya, juga agar apa yang kita lakukan menjadi model, contoh dan jejak inspirasi kebaikan bagi yang lainnya di bagian hidup sesuai rel kita masing masing.

To Be inspired is Great, To inspire is incredible. Sekedar terinspirasi adalah hal yang memang besar kiranya. Namun untuk bisa menginspirasi adaah suatu hal yang luar biasa. Cukuplah iming iming rosul yang bersabda menunjukkan jalan kebaikan kepada orang dengan model dan  inspirasi kebaikan kita dihargai lebih utama dari nilai sebuah untamerah- kendaraan paling terprestige kaum Arab kala itu.

Karena yang dilihat sekarang beribu orang jengah belajar keteladanan dan sebagian mereka yang sudah berlomba memcari inspirasi dan menemukan titik titik teladan kemudian hanya duduk sekedar menjadi pengagum. Sejenak merasa sudah qonaah dengan berhenti  dititik  cerah dan tanpa  melakukan aksi  untuk melanjutkan  rantai kebaikan itu terulur lebih panjang. Ekstase di puncak ketahuan yang banyak terkadang membuat kita terjebak pada pragamtisme teori teori absurd yang terlalu banyak didengungkan, namun urung untuk diaksi nyatakan. Menjadi menara gading, dengan kaya teori dan pengetahuan namun miskin implementasi dan derap aksi nyata. Terlalu takut untuk berusaha memulai menjadi piooner, model, dan mercusuar kebaikan bagi yang lain, padahal seutuh nikmat telah diberikan. Dan 32 ayat yang diulang ulang di Surat Arrohman itu menghentakkan kita akan berjuta nikmatNYA. Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan???

Oleh karena itu mari bersama  mensyukuri nikmat itu, tidak sekedar dengan potongan kata hamdallah yang terucap dari lisan atau selaksa sujud syukur saja, namun juga mengaksikan dengan jalan kebaikan dalam bingkai ketaatan dan menjadi inspirasi perilaku kebaikan bagi yang lain. Karena kita adalah penyeru sebelum sesuatu , karena kita adalah umat terbaik yang diperintahkan untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Mari menjadi pertama yang berusaha. Start from ourselves. Meski kadang tidak sempurna. Karena kita bukan manusia tanpa cela atau ma’sum seperti halnya Rosululllah SAW. Namun Allah maha tahu bahwa kita tengah berbuat menuju kepadaNya. Selayaknya kita tak boleh berputus untuk terus memperbaiki diri dan kemudian menjejak jariyah jariyah kebaikan lewat inspirasi kebaikan yang kita tanam, melalui kaca diri menjadi model model kebaikan, karena kita bukanlah sekedar orator tapi juga harus menjadi aktor.  Semoga Allah mengiringi langah langkah kita!

Wawwllaahu mufaawiq. Illaa aqwaami tthooriq

Kontemplasi Di Sudut Kehidupan

Atas sebuah nilai bernama ‘ keteladanan’ 04/07/2012

*By : Erny Ratnawati

http://ernhyzone.wordpress.com