Oleh: Aviaddina Ramadhani

Jika anak kecil ditanya, “Apa cita-citamu?” banyak yang akan menjawab, “Ingin menjadi dokter.”

Bermula dari jawaban klasik masa cilik, sebuah cita-cita pun menghujam erat dalam diri saya. Tentu bukan semata-mata karena tidak ingin menelan ludah sendiri atas jawaban yang sedari kecil didengung-dengungkan, tetapi lebih daripada itu. Ada sebuah daya pikat yang memang begitu mempesona sehingga saya berani bertaruh bahwa saya jatuh hati pada dunia kedokteran.

Dunia kedokteran adalah dunia berbau kesehatan. Diakui atau tidak, kesehatan termasuk sebagai salah satu hal pokok dalam aspek kehidupan manusia. Orang boleh berkata bahwa ekonomi yang paling penting, tapi apalah artinya kaya jika sehat tak punya. Bahkan sebaliknya tak jarang yang berkata “tak apa miskin, asal tetap hidup sehat dan bahagia”. Orang boleh berpendapat bahwa politik, lingkungan hidup, atau pendidikan adalah hal penting untuk diperhatikan. Tetapi, orang tak boleh lupa bahwa justru nikmat sehat dan sempat-lah yang melenakan, bukan nikmat kestabilan politik, kondusifnya lingkungan, atau pemerataan pendidikan.

Itulah kesehatan. Sesuatu yang penting namun melenakan dan bisa jadi justru berujung pada peremehan. Di sinilah kunci pertama itu. Mengapa saya tergila-gila pada kesehatan karena memang masyarakat harus dibangunkan dari buaian masalah kesehatan yang melenakan, di samping melek akan isu hukum, pertahanan, sosial, dan jutaan isu lainnya.

Berbicara mengenai kesehatan sama dengan berbicara mengenai kehidupan. Aspek yang dilingkupi oleh bidang kesehatan sangat luas sekali, mulai dari manusia sebelum lahir hingga manusia setelah mati. Sebuah ilmu yang mahaluas dan pasti akan semakin membuat haus ketika hanya meminum seteguk saja.

Memang ilmu Allah SWT tiada terhingga, bahkan tak kan selesai dituliskan dengan menggunakan tinta dari seluruh samudra. Ilmu kedokteran sendiri pastilah hanya secuil dari ilmu Allah Ta’ala. Tak ada artinya, tak berefek apa-apa. Namun ilmu tetaplah harus dipelajari. Sekalipun itu kecil di mata Allah SWT dan terlihat begitu kompleks di mata manusia, namun hasrat mencari percikan ilmu harus tetap diperjuangkan.

Dengan mempelajari kedokteran maka saya mempelajari ilmu kehidupan dari Sang Maha Pencipta. Bagaimana Allah SWT menciptakan manusia dengan sedemikian detailnya hingga tak ada satu bagian pun yang tidak menjalankan perannya. Sekalipun itu hanya pipi yang gembul pada bayi yang baru lahir ataupun rambut alis yang tak pernah tumbuh sangat memanjang.

Semuanya dikaji secara ilmiah dalam ilmu kedokteran. Jelas sebuah ilmu yang akan dapat mendekatkan diri pada Illahi Rabbi dan tentunya diharapkan dapat menjadi penjembatan untuk meningkatkan syukur dan keimanan pada Yang Maha Kuasa. Adanya hikmah yang terkuak dengan ilmu kedokteran itu tentunya menjadikan ilmu tak akan cukup sampai di situ. Rasa keingintahuan akan terasah dengan harapan dapat semakin memahami hikmah penciptaan dari Allah SWT. Secara tidak langsung, dengan sendirinya ilmu Allah pun akan semakin terkuasai sedikit demi sedikit. Inilah kunci kedua itu, sebuah harapan demi meningkatkan keimanan dengan memenuhi hasrat untuk menguasai ilmu Allah SWT.

Memang mempelajari ilmu Allah SWT tak harus dengan kedokteran. Atau perdebatan bahwa ilmu kesehatan tak melulu harus lewat jalur kedokteran. Dokter artinya orang yang bertugas mengobati orang yang sakit. Artinya ia hanya memperbaiki sesuatu yang sudah salah. Padahal kita tahu bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati. Lebih baik menjaga orang sehat agar tak jatuh sakit dibandingkan mengurangi jumlah orang sakit dengan cara mengobati.

Saya sendiri menyepakati hal tersebut. Maka saya membenarkan program-program para penggerak kesehatan di lapisan masyarakat. Masyarakat sehat memang harus dijaga untuk sehat, tetapi masyarakat sakit harus segera diobati pula agar tidak bertambah sakit, bahkan diupayakan untuk menjadi sehat. Artinya, kesehatan memang tidak melulu tentang kuratif, tetapi ada fase preventif, promotif, maupun rehabilitatif.

Boleh jadi usaha itu dapat dilakukan oleh semua lapisan masyarakat tanpa perlu repot-repot menghabiskan dana dan waktu untuk mengecap bangku kedokteran. Tetapi semua orang tak kan mampu untuk itu. Orang komunikasi bisa saja ahli melakukan usaha promotif, tetapi belum tentu tahu bagaimana tindakan rehabilitatif. Orang kesehatan masyarakan bisa saja mahir melakukan tindakan preventif, tetapi akan angkat tangan ketika harus melakukan tindakan kuratif. Memang semua memiliki porsinya masing-masing, tetapi seorang dokter dapat menjalankan keempat peran itu sekaligus.

Dokter yang peka dengan masalah masyarakat akan tergerak untuk melakukan upaya preventif dan promotif pada masyarakat sehat. Di satu sisi, dokter juga akan melakukan tindakan kuratif dan rehabilitatif untuk mengobati orang sakit dan mengubah statusnya menjadi orang sehat kembali. Artinya, seorang dokter dapat melakukan penekanan jumlah penderita suatu penyakit dari dua arah. Dengan demikian pewujudan masyarakat sehat pun terjadi beriringan. Inilah kunci ketiga dimana saya berharap dapat mewujudkan masyarakat sehat dengan aksi dua arah sekaligus, yaitu mencegah serta mengobati.

Mungkin ada yang meremehkan dengan kunci ketiga saya dengan berkata, “Dokter di Indonesia sudah banyak, tapi nyatanya masyarakat sehat tak tercapai juga.” Di sinilah tantangan yang saya ambil. Jumlah dokter memang banyak, namun berapa dokter yang mau membuka mata pada dunia sekitarnya? Berapa dokter yang memandang permasalahan kesehatan sebagai permasalahan masyarakat yang harus segera ditangani agar tidak menjadi masalah bangsa?

Padahal kembali ke bahasan semula bahwa ruang lingkup kedokteran sedemikian luasnya. Sebelum manusia lahir saja, sudah ada banyak kasus kesehatan yang melanda, mulai dari risiko kelahiran premature, tingginya angka kematian bayi dalam persalinan, dan lain sebaginya. Hingga akhirnya mendekati ajal pun ranah kedokteran masih ikut berbicara, mulai dari masalah penuaan yang mengganggu fungsi organ tubuh hingga jutaan masalah kesehatan kronik yang ditimbun sedikit demi sedikit. Semua masalah itu tak akan selesai jika hanya dipandang dengan kacamata satu orang pasien datang lantas diobati dan kemudian atas izin Allah diberikan kesembuhan. Melainkan bagaimanakah penanganan masalah penyakit tersebut jika terjadi di masyarakat secara luas. Itulah kunci keempat saya mencintai kedokteran, bahwa ladang kebermanfaatan masih membutuhkan tangan-tangan yang rela terulur, yang mau melihat masalah kesehatan secara komprehensif dan solutif. Dengan demikian kunci ketiga yaitu mewujudkan masyarakat yang sehat secara lebih efektif dan efisien pun semakin mudah untuk tercapai.

Setidaknya dengan keempat kunci itulah yang menutup rapat-rapat kobaran cita-cita dokter dalam diri saya. Harapan untuk mendekatkan diri pada Allah, membuat masyarakat melek akan kesehatan, menjadi problem solving bagi masalah kesehatan, dan mewujudkan masyarakat yang sehat insya Allah dapat tercipta dengan langkah awal menjadi mahasiswa fakultas kedokteran. Dengan kunci itu pulalah yang membuat hati tak akan berpaling pada ranah ilmu lain demi fokus mencintai dan nantinya akan memberi bukti.

Mengapa Kedokteran UNS?

Sekalipun rasa cinta pada kesehatan sudah demikian terpatri, pemilihan pelabuhan yang tepat agar cinta semakin bertaut tak bisa dianggap sebagai hal yang remeh. Salah pilih tempat mendarat, bisa-bisa rasa cinta pun akan menjadi kandas. Namun jika jatuh di landasan yang tepat, bisa jadi cinta itu akan melambung semakin tinggi. Pertimbangan itulah yang saya pakai sebelum melabuhkan cinta kesehatan itu. Dan pilihan saya pun jatuh pada Fakultas Kedokteran UNS.

Orang bilang, lakukanlah sesuatu mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, mulai dari yang terdekat, dan seterusnya. Demikian pula dalam memilih pelabuhan cinta. Untuk mengaitkan kunci cinta kesehatan saya satu per satu, bisa saja saya memilih fakultas kedokteran di kota-kota provinsi atau kota besar lainnya. Namun atas dasar memulai sesuatu dari yang terkecil dan terdekat, tak ada salahnya saya mencoba mengunci cinta itu dari sebuah kota kecil bernama Solo.

Sebuah kota mungil bukan berarti mimpi hanyalah kecil. Sebuah kota yang dekat bukan berarti mimpi tak mungkin melesat. Justru bermula dari kota kecil inilah pijakan akan menjadi semakin kuat. Justru karena kota yang mungil pulalah menjadikan kami semakin dekat dengan masyarakat. Secara tidak langsung perwujudan pengikatan kunci cinta kesehatan semakin mudah untuk dilakukan.

Bisa jadi justru karena di kota besar lantas kurang akrab membersamai masyarakat. Terbukti dengan lulusan fakultas kedokteran di berbagai universitas. Tak jarang lulusan universitas tertentu tidak siap untuk terjun dalam masyarakat. Skill tidak terasah karena tidak ada kesempatan untuk mempraktikkan langsung selama mengenyam bangku pendidikan.

Namun, semua kekhawatiran itu dapat dicegah hingga seminimal mungkin di FK UNS. Kegiatan terjun ke daerah-daerah dengan membawa topik kesehatan tertentu setiap semester dapat menjadi wahana untuk benar-benar mengenal masalah kesehatan masyarakat. Di samping itu sekaligus mencari pemecahan masalah kesehatan dan mempraktikkan skill yang dimiliki. Semuanya terasah sediki demi sedikit dengan dukungan kurikulum dari fakultas maupun organisasi-organisasi medis yang bertebaran dan demikian dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Dengan dukungan fakultas maupun organisasi kampus, kemampuan saya pun sedikit demi sedikit terasah. Artinya, kesempatan untuk menguatkan kunci-kunci cinta kesehatan pun makin terwujud. Dengan keempat kunci cinta saya yang ternyata didukung penuh dengan program fakultas maupun organisasi, makin kuatlah rasa cinta saya pada kesehatan. Dengan makin kuatnya rasa cinta saya pada kesehatan, makin kuatlah rasa cinta saya pada fakultas yang telah mendukung sedemikian tak terkiranya.

Maka, saya berani berkata, “Saya cinta kesehatan, saya cinta FK UNS.”