Yuli Ardika Prihatama

Le, besok kamu mau jadi apa?”, tanya bibi tiba-tiba.

“Jadi guru lek, kayak bapakku”, jawabku spontan.

Itu adalah percakapan yang pernah terjadi sekian tahun silam saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Terinspirasi dari sang Ayah, seorang lelaki biasa yang bagiku sangat luar biasa. Yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan sejak aktif di kepramukaan hingga sekarang menjadi seorang guru.

 Dari Guru SD

Guru, itulah kata yang sering menghiasi pemikiranku sejak kecil. Setiap hari aku melihat ayahku berangkat ke sekolah. Setiap hari pula aku melihat ayah membawa tumpukan buku-buku dan berbagai lembar kerja. Aku tertarik untuk melihat, membolak-baliknya meski tak sepenuhnya memahami apa itu semua. Tetapi itulah yang kemudian menjadi jawaban setiap kali orang bertanya kepadaku tentang cita-citaku. Setiap kali orang bertanya tentang cita-cita, aku menjawab dengan sangat tegas bahwa aku akan menjadi guru.

Seiring berjalannya waktu, aku merasakan adanya perubahan definisi dan makna tentang guru. Makin lama, makin kompleks dan makin mendalam. Pada mulanya aku tertarik untuk menjadi guru SD seperti ayahku. Aku merasakan aroma heroik saat melihat ayahku menggunakan sepeda ontel kala itu, mengayuhnya sejauh 4 kilometer setiap hari untuk menunaikan tugasnya di sebuah desa terpencil di kaki bukit Gununggambar. Bahkan sebelum itu, pernah juga beliau bertugas di sekolah yang terletak di atas pucak bukit Gunuggambar hingga akhirnya beliau mendapatkan penghargaan dari Dirjen Dikdasmen Mendikbud karena jasanya mengajar di daerah terpencil selama beberapa tahun. Apa pun itu, semangat menjadi seorang guru SD amat membara dan menggelora dalam dada kala aku masih SD.

Ketika aku memasuki bangku SMP, orientasi cita-citaku berubah. Ternyata menjadi guru SMP memiliki kekhasan tersendiri. Mereka terlihat lebih ahli dan menguasai berbagai ilmu secara luas. Karena aku sangat suka dengan pelajaran sejarah sejak SD, maka kemudian aku mengubah cita-citaku menjadi guru IPS. Meskipun sebenarnya aku memiliki bakat dan kemampuan lebih di bidang matematika dan IPA. Bahkan hasil tes IQ-ku juga merekomendasikanku untuk menekuni bidang ilmu eksakta. Jadilah aku terobsesi dengan cita-cita baru ini. Sampai-sampai ketika aku mengikuti olimpiade matematika di tingkat propinsi, kepala Dinas Pendidikan Provinsi DIY bertanya tentang siapa yang bercita-cita menjadi guru maka aku tidak ragu-ragu menjawabnya. Mengejutkan, hanya aku seorang yang dengan tegas dan polos mengacungkan tangan tinggi. Yang lain tersenyum da nada yang menertawakanku. Tetapi pak Sugito, demikian nama pak kepala dinas, dengan senyum dan harapan yang baik membesarkan hatiku bahwa guru adalah profesi yang sangat mulia dan bentuk kontribusi nyata terhadap perbaikan kualitas bangsa. Luar biasa!

 Mengubah Arah

Perjalanan cita-cita guruku tak berhenti di sini. Ketika saatnya aku mengenyam pendidikan di tingkat SMA. Maka pemaknaan akan arti guru dan profesi guru mulai mengalami pengembangan signifikan. Redefinisi cita-citaku terjadi secara besar-besaran pada fase ini. Fase yang aku bergiat untuk melakukan upaya pencarian jati diri. Setidaknya aku mendapatkan berbagai definisi yang cukup lengkap di kepalaku tentang arti guru itu sendiri, hingga sulit untuk diungkapkan. Guru adalah teladan segala kebaikan, demikian ketika aku membersamai Alm. KH. Muhammad Hussein selama hampir 2,5 tahun di pesantren pelajar Masjid Agung Kota Wonosari. Guru adalah manusia yang penuh inspirasi dan idealisme, demikian ketika aku menemui sosok guru yang bernama Pak Sriyanta, lulusan cumlaude Kimia UGM yang menjadi guru TIK sekaligus ahli instalasi listrik sekolah. Guru adalah sosok jenius dan misterius, demikian ketika aku belajar dari Pak Kardono dan Pak Suko, dua orang jenius yang mengajar fisika dengan keanehan dan kenyentrikan masing-masing.

Namun tidak selalu definisi baik yang kudapatkan tentang guru. Guru adalah profesi yang mudah dan mendatangkan banyak uang. Mudah ditinggalkan dan diganti tugas, mudah dilaksanakan tanpa harus banyak persiapan dan mudah-mudah yang lain. Tidak sedikit guru yang memberikan bukti seperti ini kepadaku. Guru adalah manusia yang mengerikan dengan segala kewenangan yang melekat untuk menghukum dan membuat siswanya ketakutan saat belajar, tertekan saat akan menghadapi ujian, dan tersinggung saat bertanya. Itu juga kudapati dan mengisi definisi guru di kepalaku. Aku bingung saat itu dengan cita-cita yang akan ku gapai. Beruntung saat itu belum muncul sertifikasi guru, sehingga tidak menambah daftar kontradiksi di kepalaku.

Sampai pada puncaknya ketika aku diminta oleh Pak Sriyanta melukiskan visi hidupku di dalam selembar kertas yang nantinya akan discan dan diabadikan dalam sebuah dokumen. Aku memutuskan untuk menuliskan cita-cita yang lebih tinggi dari sebelumnya. Aku ingin menjadi dosen, gurunya para guru. Dosen apa ya? Awalnya sesuai dengan kesukaanku yaitu dosen matematika, dan ini awalnya membuatku terobsesi untuk kuliah di jurusan matematika UGM. Namun, ayah memintaku kembali pada cita-cita awalku. Maka kuurungkan niatku untuk kuliah di jurusan murni. Dan orientasiku kembali untuk mengambil jurusan pendidikan. Pendidikan apa ya? Tetap sesuai dengan kesukaanku, pendidikan matematika. Aku mengambil jurusan pendidikan matematika di UNY saat tes seleksi mandiri. Namun, ternyata Allah belum memperkenankannya, namaku tidak ada di hasil pengumuman penerimaan mahasiswa baru UNY 2008.

Impian yang Tertunda

Kondisiku yang tidak beruntung saat mengambil jurusan pendidikan matematika cukup menjadi pukulan telak bagiku. Cita-citaku menjadi guru mulai suram. Tapi aku tetap berusaha optimis, masih ada satu kesempatan lagi untuk mengambil kuliah di PTN lewat pertarungan bergengsi, yakni SNMPTN. Setelah berdiskusi dengan beberapa senior yang telah lebih dahulu kuliah, kali ini kuputuskan untuk melirik sebuah kampus di kota yang katanya menjadi spirit of Java, Universitas Sebelas Maret. Tidak tanggung-tanggung, jurusan yang kuambil juga aku ubah tidak lagi pendidikan matematika, tetapi pendidikan fisika. Pertandingan pun dimulai kembali. Saat SNMPTN aku sangat optimis akan diterima. Dan ternyata benar, Allah menjawab harapanku. Aku diterima di kampus hijau yang katanya teduh dalam Naungan Islam itu.

Hal yang pertama kali kurasakan saat memasuki kampus yang dulu tidak pernah menjadi obsesiku adalah rasa penasaran mengapa jurusan-jurusan kependidikan dijadikan satu fakultas. Berbeda dengan UNY, di sini semua jurusan kependidikan disatukan dalam sebuah fakultas yang dinamakan dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Apalagi saat osmaru, Prof. Furqon, sang dekan mengenalkan kepada kami tentang FKIP dan segala pernak-perniknya. Aku mengerti, inilah kampus yang ternyata akan menjadi tempat penempaan diriku hingga tumbuh menjadi mahasiswa luar biasa seperti yang kurasakan hari ini.

Membangun Mimpi

Setelah sekian lama merasakan bangku kuliah di kampus Ungu, sebutan bagi FKIP kudapati indahnya rahasia Allah. Bersamaan saat mendaftar diri ke SNMPTN, aku juga telah mengikuti ujian di UIN Sunan Kalijaga dan diterima, kemudian juga ke STIS dan lolos sampai tahap psikotes, namun akhirnya gagal di tahap akhir. Allah memantapkan hatiku untuk belajar di kampus pinggiran kota bengawan ini. Aku menikmati dan aku mulai jatuh cinta dengan kampus yang namanya selalu identic dengan orde baru ini. Inilah kampus yang akan mendidik para mahasiswanya agar berkarakter kuat dan cerdas.

Pada mulanya, aktivitas kuliah sehari-hari kujalani dengan baik sebagaimana mahasiswa yang lain. Kuliah di kelas, diskusi dengan teman-teman, ke perpustakaan, semua menjadi aktivitas rutin sehari-hari. Rasanya masih ada yang kurang, yaitu kegiatan keorganisasianku waktu di SMA belum ter-follow up-i. Karena pada waktu diadakan eskpo UKM universitas dan pentas UKM fakultas aku tidak hadir, aku tidak banyak mengetahui kalau ternyata ada sekian banyak organisasi di sana yang dapat menjadi sarana pembinaan.

Sesuai dengan visi FKIP yang begitu mentereng tersebut, aku coba memahami dan merencanakan visi hidup dan misi selama di kampus agar setiap usahaku bermanfaat dan penuh makna. Hal yang selalu tertanam kuat adalah ungkapan dari prof. Furqon, yaitu tentang kualifikasi seorang pendidik yang baik. Beliau tidak menafikan berbagai teori-teori yang ada, namun ada hal yang sangat mengagumkan sekaligus menyadarkan diriku tentang hakikat manusia seutuhnya. Pendidik yang baik adalah pendidik yang siddiq, tabligh, amanah, dan fathonah. Luar biasa, itu adalah akhlak Rasulullah dan beliau menyampaikannya dengan tegas tanpa ragu-ragu. Suatu hal yang dulu aku anggap tabu ditengah terpaan arus sekulerisme yang membuat sebagian besar orang-orang “pintar” lebih banyak berkiblat kepada barat.

Maka mimpi yang mulai ku bangun adalah mewujudkan pendidikan di Indonesia yang berkarakter. Berkarakter dengan karakter asli bangsa timur yang beradab. Mengembalikan spirit belajar yang sesungguhnya, serta meninggalkan mindset belajar yang pragmatis tanpa pondasi yang jelas. Pendidikan yang berlandaskan pemuliaan manusia bukan eksploitasi manusia. Pendidikan yang memberdayakan bukan yang me-ninabobok-kan. Seperti kata Munif Chatib, sekolah yang baik adalah sekolahnya manusia, maka pendidik-pendidiknya juga harus menjadi orang-orang yang bisa memperlakukan manusia secara manusiawi, yang mengajarkan kebaikan dengan cara terbaik, yang menjadi teladan, bukan sekedar memberi teladan.

Namun demikian, bukan berarti membangun mimpiku ini tanpa tantangan. Tidak semua yang di kampus ini seideal yang ku harapkan. Tidak semua fasilitas yang kuimpikan tersedia. Mencari rekan-rekan diskusi yang tetap menjaga idealisme dan terbebas pragmatisasi saat ini memang sulit, tapi pasti ada. Hanya aku masih percaya bahwa selama ada kemauan pasti ada jalan. Tidak ada yang tidak mungkin. Mewujudkan idealisme menjadi pendidik yang menjalankan tugas karena panggilan jiwa adalah keharusan meskipun berat dan penuh ujian.

Dan Aku pun Bangga

Kuliah di jurusan pendidikan, dan berjuang meraih mimpi menjadi pendidik adalah hal yang mulia. Dan itu senantiasa ku yakini sebagai sebuah investasi terbesar sepanjang masa. Jika dulu aku hanya ingin menjadi guru SD, maka kali ini aku telah menuliskan tebal-tebal mimpiku untuk terus belajar dan meraih mimpi menjadi gurunya guru. Akan ku bagi semangat dan mimpi untuk negeri ini. Akan ku ajak generasi-generasi baru ini untuk menatap Indonesia ini dengan penuh cahaya, dengan optimisme dan kerja keras.

Kini setiap langkah ku ayun dengan mantap. Belajar dan berbagi untuk mewujudkan mimpi. Mungkin akan ditertawakan dan penuh suara satir yang memekakkan telinga ketika ada seorang guru yang mau mengajar meski dibayar tak seberapa. Tapi itu harus kumulai sejak sekarang, berbagi ilmu dan motivasi kepada siapa pun yang masih mau mendengar dan peduli terhadap nasib bangsanya. Karena negeri ini butuh pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasanya kembali, yang tidak hanya tergiur sertifikasi atau pun berbagai fasilitasnya.

Akhirnya, semoga pengisahan ini menjadi inspirasi untuk siapa pun yang ingin melihat Indonesia berjaya kembali. Selamat dari kemiskinan akhlak dan kebobrokan moral. Yang memiliki karakter kuat dan berdiri tegar kembali mengulang kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Hanya mimpi, tetapi aku percaya bahwa mimpi itu akan terwujud selagi ada usaha keras dari kita semua. Karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Belajar dan berubah menjadi lebih baik.