Anggel Dwi Satria

Prolog: Mengenal dan Memahami

Masa transisi dari bangku SMA ke dunia kampus memang sangat terasa perbedaannya. Transisi dari komunitas yang homogenitas ke dalam komunitas yang heterogenitas membutuhkan waktu untuk penyesuaian diri. Mulai dari budaya yang berbeda, karena banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah mulai dari jawa, sulawesi, kalimantan dan lain sebagainya serta termasuk saya yang ikut mencampuri kultur budaya dari sumatera. Kemudian sistem pembelajaran yang saya ikuti diperkuliahan membuat saya harus melakukan penyesuaian akademik. Jadwal yang tidak struktur, pembelajaran yang bersifat otodidak dan lain sebagainya. Namun semua itu sebuah proses yang menyenangkan, terasa sulit awalnya, lama-kelamaan ketika dinikmati bangku perkuliahan atau dunia kampus sangat ideal untuk pembentukan karakter diri untuk lebih mandiri.

Tidak hanya itu saja, dari semua rutinitas kegiatan formal yang saya lakukan diperkuliahan ini, ada satu hal yang membuat saya merasa lebih merasakan siklus pendewasaan yang luar biasa. Mengintegrasikan seluruh aspek kebutuhan diri untuk menjadi pribadi yang menyeluruh. Semua itu saya dapatkan di dalam organisasi dan bertemu dengan teman-teman yang saling menasehati dan mengingatkan satu sama lain. Justru perjalanan inilah yang membuat saya merasa hidup dalam dunia kampus. Kejenuhan dalam perkuliahan, kesendirian karena merantau dari pulau seberang, semua teratasi karena saya memiliki orang-orang hebat disekeliling saya.

Saya berawal dari pencarian jati diri. Pada awalnya hampir semua jenis kegiatan saya ikuti. Dari yang ilmiah seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan kemudian Kajian Ekonomi Islam, sampai pada dunia politik di dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan saya pun menetralisir dengan lembaga bernuansa Islam atau kerohanian di Fakultas Ekonomi. Hingga nantinya saya dipertemukan dengan lingkungan yang baik. Hal tersebut merupakan suatu karunia luar biasa yang diberikanNya hingga titik tolak dari semua perubahan adalah hidayahNya dan keindahan Islam.

Jika ingin jujur semua rutinitas itu muncul karena kejenuhan atas ketidakidealan yang terjadi pada sekeliling saya. Saya menemukan suatu fakta terpampang yaitu banyak hal yang semestinya tidak terjadi karena suatu hal tidak diletakkan di tempat semestinya. Saya menjadi seorang yang bingung. Bingung ada apa dengan dunia ini, bingung dengan Indonesia, bingung dengan orang-orangnya, bingung pada para pemudanya dan bingung pada diriku sendiri. Sedih melihat semua hal hingga timbulah suatu keinginan saya harus menjadi lebih baik dan berkontribusi untuk dien ini.

Saya bertanya pada diriku sendiri. Apa yang bisa kulakukan untuk mengubah semuanya dan bagaimana saya melakukan itu semua? Menjawab kebingungan itu salah satu yang dapat kulakukan adalah dengan memperbaiki pribadi sendiri terlebih dahulu selanjutnya mengamalkan ilmu. Untuk mewujudkan itu semua sebagai amal nyata tentunya saya harus bergerak. Tidak hanya bergerak seperti biasa, tetapi harus keluar dari rutinitas biasa. Elektron tidak akan berguna jika ia tidak bergerak keluar dari orbital. Bergerak untuk perubahan yang lebih baik tentunya. Dengan solusi adalah Islam, rahmatan lil alamin.

Firman Allah pada QS. Ali Imran : 104, “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Allah pasti akan ‘menurunkan’ segolongan umat yang menyeru manusia ke jalan Allah hingga mereka mengingkari thagut sepenuhnya dan beriman kepada Allah dengan meninggalkan jalan kegelapan dan kejahiliyahan menuju cahaya kebenaran Islam. Tetapi mengapa harus yang lain. Jika kita bisa menjadi pemain, mengapa kita hanya puas jika menjadi penonton. Dakwah bukanlah suatu pilihan, tapi merupakan suatu keniscayaan.

Semua Berawal di BPPI FE UNS

Masuk ormawa BPPI (Badan Pengkajian Pengamalan Islam), sebenarnya sudah direncanakan sejak awal masuk kuliah. Waktu itu tepat saat osmaru (orientasi mahasiswa baru) khususnya pengenalan organisasi kemahasiswaan (ormawa) FE UNS, salah satunya adalah BPPI. Satu per satu memang semua ormawa menampilkan daya tariknya terkait dengan kegiatan-kegiatannya yang menarik. Namun, satu ormawa yang menarik dibenak saya adalah BPPI, karena ormawa FE ini adalah salah satu ormawa ke-Islam-an tertua di kampus saya, yang menjadi kiblat bagi ormawa ke-Islam-an lainnya terbentuk di semua fakultas hingga tingkat universitas atau pusat pada saat itu. Selain itu, saya melihat banyak kegiatan BPPI baik di internal dan eksternal fakultas memberikan pengaruh yang positif bagi mahasiswa khususnya, dan juga menjadi inspirasi bagi oramawa ke-Islam-an fakultas lainnya. Yang menarik pula, saya mengamati alumni-alumni BPPI, ketika pasca kampus banyak diantara mereka yang masih memberikan pengaruh positif dimana mereka tinggal. Inilah menjadi beberapa catatan penting bagi saya untuk bergabung di dalam BPPI guna mengoptimalkan semua potensi yang saya miliki dan dapat ikut berkontribusi aktif di tengah masyarakat.

Cita-cita untuk bergabung di BPPI FE UNS terwujud dan teruji pertama kali lewat aktivitas Seminar Nasional atau Tablig Akbar “Kekuatan Sedekah”. Acara berlangsung sukses dan berjalan lancar sesuai dengan harapan semua pihak. Pelajaran pertama yang begitu berharga, walaupun intensitas saya tidak terlalu dalam di sana. Saya hanya berusaha mengingat dan mencatat detail satu persatu bagian-bagian vital yang mesti dipastikan ketika akan melaksanakan agenda seperti ini.

Setelah acara selesai, aktvitas bidang bergulir seperti biasanya, kami langsung terjun dalam beberapa aktivitas kajian lembaga untuk menganalisis berbagai problematika umat yang sedang terjadi, tentunya dalam koridor Islam. Alurnya sederhana, yakni riset-kajian-aksi atau aksi-kajian-riset. Skema ini dibentuk dengan pertimbangan karena permasalahan yang sangat cepat, dan yang dihadapi cukup banyak serta kompleks, sementara sumber daya sangat terbatas. Selain itu pula, kegiatan-kegiatan yang secara langsung terjun ke masyarakat kami lakukan seperti mengelola dusbin demi terciptanya insan yang Islami di tengah problematika masalah yang kompleks masyarakat setempat.

Jalan Efektif Kontribusi Mahasiswa: Karya dan Prestasi

Di kampus, mahasiswa diberikan banyak wadah dan kesempatan untuk berkreasi dan beraksi. Ruang-ruang ekspresi yang cukup strategis untuk mendukung bangunan sosial ketika akan berbicara tentang perubahan dan perbaikan. Tanpa basis ekspresi ini, seorang mahasiswa akan kesulitan untuk mengintegrasikan dirinya dalam lingkungan sosial yang lebih besar pasca kampus. Oleh karenanya, optimalisasi peran sudah seharusnya dilakukan, mengingat kompleksnya zaman yang sedang dan akan dihadapi. Dalam banyak bentuk, ruang-ruang tadi dapat diterjemahkan melalui aktivitas organisasi, pemberdayaan masyarakat, riset, kewirausahaan, menulis, seni dan budaya, serta inovasi (penemuan). Namun, bentuk aktivitas ini tidak cukup hanya sebatas partisipasi. Karena bila ingin mencapai keaktifan sebatas kuantitas, otomatis tidak ada yang berbeda dari mayoritas mahasiswa yang lainnya. Menjadi catatan penting di sini, bagaimana aktivitas pada wadah-wadah tersebut, memiliki nilai tambah (value added) yang belum atau jarang dilakukan.

Karya; definisi karya di sini diungkapkan dalam sebuah program atau aktivitas yang dilakukan bersama. Ia layak disebut sebagai sebuah karya ketika mampu menggerakkan, memperbaiki, dan mengubah keadaan yang sudah ada menjadi lebih baik. Sifatnya keberlanjutan, bukan asal baru dan beda. Karena seringkali dalam sebuah lembaga, ketika kepengurusan berganti, maka program yang sudah berjalan pun ikut berganti bahkan mati suri. Sangat ironis, karena perubahan, perbaikan, dan kemajuan sendiri baru akan terealisasi dengan proses dan tahapan tertentu yang meniscayakan waktu yang tidak cepat.

Prestasi, tanggung jawab subyektif dan obyektif mahasiswa perlu ditempatkan secara proporsional demi menjamin keberlanjutan manfaat diri di tengah-tengah mahasiswa dan masyarakat. Bentuk konkritnya, bisa dilihat melalui identitasnya yang multi. Ia mampu memastikan karya-karya yang ia dedikasikan untuk masyarakat bisa melahirkan kemanfaatan ganda (subyektif dan obyektif), hal ini yang layak disebut masterpiece (karya monumental). Sebagaimana Rasulullah memperoleh gelar Al-Amin, Leonardo da Vinci, yang berkarya dengan Monalisa hingga Albert Einstein yang memiliki Teori Relativitas. Masterpiece yang dimaksud bagi seorang mahasiswa, menempatkannya menjadi referensi dan teladan kolektif bagi rekan-rekannya. Tidak hanya itu, secara tidak langsung karena kemanfaatan dirinya sudah dirasakan, ia memiliki pengaruh dan mampu mereproduksi kepercayaan publik dengan kuat (trust). Sampai pada fase ini, sebenarnya inilah makna peran mahasiswa paling mendasar.

Konsistensi Kontribusi dan Integritas Pribadi

 Berkarya mudah, begitu pun dengan berprestasi. Namun ketika berbicara konsistensi melakukannya, tentu ini menjadi menarik. Selain membutuhkan energi baru, agar visi perbaikan dan perubahan yang diusung dapat terealisasi, perlu diimbangi dengan integritas pribadi. Karena semakin luas kemanfaatan yang diberikan, maka tantangan yang dihadapi pun semakin besar. Konsistensi kontribusi dan integritas pribadi sebenarnya mengafirmasi siklus terjadinya interaksi antara kepentingan individual dan sosial. Bahwa perlu dipenuhinya dua kebutuhan ini secara bersamaan dan membingkai sebuah pemahaman holistik bahwa manusia memiliki peran yang tidak tunggal (multiple role).

Kemampuan adaptif dan progresif seperti ini semakin jarang dimiliki anak negeri. Padahal, kebutuhan masyarakat akan manusia-manusia seperti ini mutlak sifatnya dikarenakan banyaknya masalah yang dihadapi dan ekstrimnya perubahan zaman. Untuk menyikapinya diperlukan kesiapan yang baik meliputi; peta hidup, ibarat sebuah tujuan, hidup ini membutuhkan banyak petunjuk, arah, dan tanda agar kita tidak tersesat. Mentor atau pembimbing, artinya, orang-orang seperti ini kita butuhkan untuk membantu kita berkomitmen sampai di tujuan. Mereka sudah tentu harus lebih baik dari kita dan memiliki kualitas serta kapasitas yang diakui oleh publik. Lingkungan, keberadaan lingkungan sangat menunjang bagi terbentuknya iklim yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya komitmen menjadi lebih baik. Oleh karenanya, memilih pergaulan penting demi menjaga stabilitas kondisi psikologis.

Indeks Prestasi dan Beasiswa

Pertanggungjawaban individual sebagai bagian dari kondisi subyektif amanah yang juga sebagai seorang anak kepada orang tua mutlak dilaksanakan. Salah satu bentuknya adalah nilai dan prestasi akademik yang baik. Sejak awal, tanpa disadari, dalam diri kita sudah melekat banyak peran (multiple role). Bila ini tidak dikelola dengan baik, tentu akan menjadi bumerang di kemudian hari. Kemampuan menyeimbangkan peran-peran ini dalam diri saya sebenarnya tidak didukung dengan kondisi yang ideal.

Pertama, perlu banyak energi untuk membagi diri dalam peran-peran di kampus, organisasi dan komunitas. Kedua, semuanya dipelajari sendiri, tanpa ada keluarga, saudara, maupun mitra sebagaimana ketika bersekolah. Latar belakang inilah yang memacu untuk tetap maksimal di bangku akademik, karena kuliah di jurusan manajemen merupakan salah satu impian yang sudah diperoleh dengan tidak mudah.

Akhirnya penantian itu perlahan terjawab walaupun belum tuntas, dua semester Indeks Prestasi Semester (IPS) saya mampu cumlaude di tengah aktivitas yang semakin butuh banyak energi. Dengan IP Semester di atas 3 membuat saya mendapatkan beasiswa dari perusahaan di daerah saya selama dua semester pertama.

Penutup

Akhirnya, Keadaan ini membuat pola hidup menjadi sedikit berubah. Selain jadwal makin padat, jarak tempuh antara kampus dan tempat tinggal semakin jauh. Semua tujuan dihampiri hampir dengan berjalan kaki, karena di Solo, angkutan belum melayani semua jalur dan terbatas hingga jam 6 sore. Sering saya lalui jalan-jalan di kota budaya ini hingga larut karena berbagai rutinitas yang dilakukan. Lelah pasti, bosan apalagi, namun bila dinikmati dan dimaknai ini menjadi pendewasaan yang cukup berarti karena tidak bisa dicari dan dibeli.

Hanya di dunia kampus lah saya dapatkan ini, Universitas Sebelas Maret atau disingkat UNS, satu-satunya kampus negeri yang ada di Solo. Dari kesemuannya itu yang membuat saya mencintai kampus saya, kalau kata orang kampus ini adalah kampus hijau dengan usia yang relatif muda, jadi sangat cocok untuk menjadi miniatur terkecil untuk menjadikan diri berproses menjadi pribadi yang nantinya dapat berguna di tengah masyarakat.