Faryska Nur Ichsanudin 

 

Negara merupakan  kelompok sosial yang meduduki wilayah  atau daerah tertentu yang diorganisasi dibawah  lembaga politik  dan pemerintah yang efektif , mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menetukan tujuan nasionalnya. Unsur dari negara itu sendiri  adalah

Wilayah

Bagaimanapun unsur  negara ini sangat krusial kerena sebuah negara memerlukan sebuah wilayah tempat negara tesebut berdiri yang terdiri atas darat, laut dan udara sebagai satu kesatuan yang berdaulat

Rakyat

Harus adanya rakyat yang tingal diwilayah tersebut dan dipersatukan, karena jika tidak ada rakyat maka negara juga tidak akan dapat berdiri

Pemerintahan

Pemerintahan yang memiliki kekuasaan atau kedaulatan, dimana tanpa adanya  pemerintahan yang memiliki kekuasaan  dan ditaati oleh rakyatnya sebuah area atau wilayah yang berpenduduk ( rakyat) tidak ubahnya seperti gerombolan orang yang tidak cukup untuk disebut sebagai negara.

Pengakuan dari negara lain

Eksistensi sebuah negara sangat ditentukan juga oleh adanya pengakuan dari negara atau bangsa lain. Pengakuan akan adanya sebuah negara dari negara lain akan menjadi pintu masuk terjadinya relasi atau hubungan persahabatan dengan negara lain.

Founding father kita mendirikan negera ini  bukan tanpa alasan namun dengan cita-cita besar agar negara ini dapat berjalan sesuai dengan fungsinya, cita-cita nasional bangsa Indonesia terdapat dalam alinea pertama dan kedua Pembukaan UUD 1945. Alinea pertama berbunyi ”bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Adapun alinea kedua berbunyi “dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur”. fungsi dari negara itu sendiri antara lain;

Mensejahterakan serta memakmurkan rakyat

Negara yang sukses dan maju adalah negara yang bisa membuat masyarakat bahagia secara umum dari sisi ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

Melaksanakan ketertiban

Untuk menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif dan damai diperlukan pemeliharaan ketertiban umum yang didukung penuh oleh masyarakat.

Pertahanan dan keamanan

Negara harus bisa memberi rasa aman serta menjaga dari segala macam gangguan dan ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar.

  1. Menegakkan keadilan
  2. Negara membentuk lembaga-lembaga peradilan sebagai tempat warganya meminta keadilan di segala bidang kehidupan.

Berdasarkan pengertian dan fungsi dari sebuah negara tersebut maka dengan demikian negarawan adalah orang yang ahli dalam kenegaraan, ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan), pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan, pemimpin yang  yang mengutamakan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi, kelompok dan partai, pemimpin yang selalu memikirkan nasib bangsanya dan mencurahkan perhatianya kepada kesejahteraan rakyat. Atau ada pengertian lain yang mengatakan negarawan jika di tinjau dari segi makna harfiahnya bisa berarti seorang pemimpin negara, berjasa pada negara, dan seorang yang nasionalis dengan tanpa mementingkan kelompok atau golongannya. Istilah negarawan ini bukan suatu struktural formal pada umumnya, melainkan suatu struktural mentalitas yang akan menjadikan sebuah peran sebagai sebuah balancing power (kekuatan penyeimbang) terhadap kekuatan politik dalam konteks kekinian dan kedisinian.

Ada permasalahan yang terjadi jika kita berbicara mengenai negerawan di Indonesia ini, jika kita lihat peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini membuat bangsa ini sepertinya semakin kian kehilangan pegangan untuk keluar dari persoalan yang dihadapi bangsa ini, seperti korupsi yang mengurita yang kian menjadi perbincangan ditengah masyarakat, lemahnya penegakan hukum seperti palu hakim yang dapat dibeli dengan uang dan kekuasaan, kemiskinan semakin menunjukan angka yang menkawatirkan, kiris energi yang kini kian menjadi pemberitaan utama dimedia, masalah insfrakstuktur, dan fasilitas pelayanan publik yang memicu amarah publik, semua masalah ini sebenarnya bermuara pada satu pertanyaan, yaitu adakah pemimpin sekaligus negarawan yang mampu membawa perubahan dan menjawab semua persoalan dan yang dihadapi bangsa ini, untuk mengembalikan fungsi negara dan mencapai cita-cita Indonesia.

Indonesia saat ini boleh dibilang sedang mengalami krisis negarawan, ditengah menjamurnya politisi-politisi instan dan pragmatis yang berorientasi pada kekuasaan untuk memenuhi kepentingan mereka dan golongannya. Politisi tak lagi otentik dalam menjalankan fungsinya memberikan pelayanan kepada negara, namun sudah dikemas dalam balutan kosmetik pencitraan untuk mempertahankan posisinya dan memberikan kesan baik dibalik kebobrokannya, perbedaan negarawan dan politisi terletak pada orientasinya, jika negarawan  hidup untuk negara namun jika politisi negara untuk kehidupannya. Hal tersebut diperparah  dengan didukungnya mekanisme pemilu dan pemilukada dengan harus mengeluarkan sejumlah uang utuk menjadi politisi tersebut. Kondisi seperti ini mengakibatkan  meunculnya politisi yang berjiwa kepemimpinan lemah  korup karena utnuk menganti sejumlah uang yang dikelaurkan utnuk mandapatkan posisi tersebut dan tidak memiliki visi untuk membangun bangsa dan negara.

Dalam  banyak hal  pemimpin yang seperti ini sekalilagi akan mengemas kinerjanya dengan balukan kosmetik pencitraan karenan untuk menutupi diri karena kurang matang dalam bernegara. Mereka kemudian akan terlena dangan kemewahan dan popularitas sehingga terjadinya degradasi kepekaan batin sosial dan buta akan permasalahan riil, kebijakan-kebijakan yang diambil bukan merupakan sebuah konsepsi yang dapat memecahkan permasalahan yang sebenarnya sedang dihadapi. Keputusan yang tidak populis dan tidak berdasarkan analisis sebenarnya mengakibatkan rakyatlah yang harus menangung akibatnya. Sehingga akan menjadikan semakin jauh terhadap cita-cita bangsa indonesia yakni sejahtera adil dan makmur. Kondisi tersebut justru mengakibatkan reaksi dari masyarakat munculnya sikap sinis dan rasa tak percaya kepada pemerintah, kewibawaan pemerintah dimata masyarakatpun semakin berkurang, sehingga himbauan dan perintahnyapun semakin tak didengar,  masyarakat lebih memilih mengunakan caranya mereka sendiri untuk memecahkan permasalahnnya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat sudah terlanjut kecewa dan kehilangan harapan terhadap pemerintah sehingga mereka tidak menganggap eksistensi pemerintah ada dalam kehidupan mereka.

Puncak dari semua permasalahan ini adalah terletak dari kepemimpinan yang mengalami permasalahan akut. Sedikitnya jumlah negarawan mengakibatkan lingkaran pengaruhnya yang memiliki niat tulus dalam bernegara terhalang oleh politisi-politisi kosmetik instan elit yang menjamur yang jumlahnya banyak dan terkesan seperti limbah karena juga menambah permasalahan yang ada dibangsa ini. mereka mampu memformulasi kondisi sehingga tetap terus menguntungkan mereka dan golonganya, kondisi ini diperparah dengan sistem politik yang demokratis sehingga hanya bisa meng­hasilkan pemimpin-pemimpin yang berjiwa politisi. Pemimpin politisi cenderung menyelesaikan masalah bangsa ini berorientasi jangka pendek, reaktif terhadap permasalahan dan hanya mempertimbangkan keuntungan untuk kelompoknya, khususnya partai ketimbang masyarakat. Sementara, pemimpin yang berjiwa negarawan dapat melihat jauh ke depan, penuh pertimbangan berda­sarkan prinsip moral dengan mengutamakan kepentingan ma­syarakat, bangsa dan negaranya.

Plato pernah mengingatkan kita, masalah suatu negara tidak akan pernah berdamai dengan masyarakatnya hingga kekuasaan politik ada pada negarawan sejati. Mesti kita masih memiliki sosok seorang tokoh yang memiliki jiwa negarawan, namun sistem politik yang mengharuskan teterlibatannya mereka dalam sebuah partai, mengakibatkan disoptimalisasi peran mereka. Umumnya mereka lebihmemilih untuk  berada diluar pemerintahan, mengamati jalannya pemerintahan yang dijalankan oleh politisi. Para negarawan tersebut masih ingin memberikan kontribusi terhadap negara dengan  berusaha memberikan nasihat dan kritik yang konstruktif. Namun amat disayangkan nasiahat-nasihat tersebut tidak kemudian digubris oleh para  politisi yang telah menjelma sebagai pengelola negeri ini.

Sampai kapan pun negara ini tetap akan dihadapkan pada masalah besar, selagi partai politik gagal menghasilkan kader-kader yang berjiwa negarawan. Cara-cara rekrutmen pemimpin politik yang mengutamakan uang, nepotisme, dan keturunan, justru mengancam munculnya pemimpin negeri yang tidak bisa berpikir untuk kemauan bangsa ini. Sepanjang partai politik di negara ini masih gagal meng­hasilkan negarawan sejati untuk memimpin, selama itu pula repub­lik ini akan tetap terperangkap dalam lingkaran masalah yang tidak pernah ada penyelesaiannya.

Melihat potret buram kondisi permasalahan yang sedang dialami bangsa saat ini, sudah semestinya kita bangsa Indonesia untuk melakukan proses persiapan dalam mencetak generasi penerus bangsa yakni  negarawan muda yang lebih memahami secara mendalam sejarah perjuangan berdirinya bangsa ini serta rasionalisasi dan aktualisasi pencasila sebagai jerih payah perjuangan dan pemikiran ideal oleh para pendiri bangsa ini. Jika jiwa dan ruh para pendiri bangsa yang telah berdarah-darah dalam  mendirikan negara Indonesia ini tertancap kuat  dan ada dalam jiwa  pemuda yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk memajukan negera,  maka akan muncul negarawan-negarawan muda yang siap mengubah peradaban bangsa Indonesia menjadi lebih baik

Hal yang paling kita butuhkan saat ini adalah para generasi muda yang memiliki kemampuan disertai keinginan untuk dapat memajukan bangsanya. Dimana pemuda yang tidak pernah lupa akan sejarah, memiliki rasa nasionalisme dan patriotism  muncul dari dalam generasi muda, seorang negarawan yang bisa menyatu dengan rakyat, mendengarkan segala rintihan yang dialami rakyat, dan melayani rakyat dengan sepenuh hati (ikhlas) tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun apalagi untuk memperkaya diri. dan apabila semangat bernegara, rasa nasionalisme dan patriotism  tertanamn dalam jiwa generasi muda kita untuk mencintai sejarah bangsa, maka akan tercetaklah generasi-generasi yang otentik dengan membawa akar cita-cita bangsa untuk kesejahteraan negara yang mempu mejawab permasalahan-permasalah bangsa yang ada saat ini. Negarawan muda inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin yang professional, dan mampu memeberikan perubahan yang berkualitas

Semakin menjadi penting saat ini bagi seorang negarawan untuk mempersiapkan diri dengan mengasah kematangan bernegara sejak dini paling lambat didunia kampus, kampus yang merupakan sebuah miniatur negara dapat dijadikan sebuah latihan dan pembelajaran dalam bernegara untuk sebelum nantinya terjun dalam dunia kenegaraan, kondisi didunia kampus yang ditempa dan penuh tekanan mengakibatkan para calon negarawan muda ini semakin belajar dan memaknai akan kondisi yang mendekati permasalahan-permasalahan bangsa yang sebenarnya, sehinga mereka akan terbiasa dengan kondisi dimana kepentingan rakyatlah yang menjadi fokus utama. Para mahasiswa ini terbiasa dengan pemikiran yang mengerterdapankan kepentingan rakyat, menyuarakan aspirasi rakyat dan berjuang dengan penuh totalitas dan tanpa pamprih. Serta label psikologis yang merupakan Iron Stock, Social Control,  Agent of Change, dan Moral Force akan membuat habituasi berpikir ini menciptakan sebuah karakter berpikir yang kuat dan melekat pada diri mahasiswa. Kemudian hasil tempaan dan tekanan yang mereka rasakan didunia kampus serta kebiasaan berpikir yang selaku mengeterdepankan kepetingan rakyat menjadikan para generasi muda ini semakin matang dalam nantinya turut ikut dalam pengelolan sebuah negara.

Namun terbentuknya negerawan yang memiliki loyalitas dan integritas tinggi di mata masyarakat akan lebih kuat jika didukung oleh semua element masyarakat yang ikut serta dalam mempersiapkannya dalam rangka membangun bangsa ini menjadi lebih baik tentunya. Oleh karena itu proses pembentukan negerawan muda ini tidak bisa instan di lapanganlah ia ditempa, di jalanlah ia belajar, dan di pertempuran lah ia matang sebagai pemuda negara dan harus melalui serangkaian panjang dan harus benar-benar dipersiapkan hingga akhirnya didapatkan seorang negarawan muda yang memiliki semangat kebangsaan yang tinggi dan bisa menjadi solusi atas permasalahan bangsa yang hingga saat ini belum menemukan jalan keluarnya. Dan diharapkan negarwan muda ini nanatinya mampu memberikan perubahan yang berkualitas dan menjadikan negara ini menjadi lebih baik.

Sikap nasionalis dari negarawan muda inilah yang nantinya bisa menjadi tolak ukur sejauh mana keberhasilan bangsa ini dalam menghasilkan negarawan muda yang mutlak akan menjadi pemimpin masa depan bangsa Indonesia. Sikap Nasionalis sendiri diperoleh dari proses belajar yang dilakukan secara terus-menerus. Dalam melahirkan negarawan muda harus melalui beberapa tahapan, yaitu: melalui pendidikan yang berasaskan pancasila, gerakan nasionalis yang solid dan terstruktur, dan karakter kuat yang berkompeten.