oleh Faryska Nur Ichsanuddin

            “Akar pohon terpasak

                                                buahnya masak-masak

                                                                        ,,Indonesia tak kan rusak”

Negeri ini sedang butuh banyak pohon berkualitas yang masak buahnya. Negeri yang kaya akan jutaan varietas tumbuhan dan pohon buah ini semestinya mampu memhasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas pula, karena salah satu pokok penting dalam membangun negara yang maju adalah dengan memhasilkan sumberdaya manusia yang berkulitas, dan untuk menjadi negara maju yang seharusnya sudah tidak lagi menjadi masalah adalah dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang berkualtas. Tentunya makanan-makanan berkualutas adalah makanan yang tinggi akan nilai gizinya terlebih pula dari hasil tanah negeri yang dikata subur ini, bahkan koes poes pun ikut bicara mengenai kesuburan tanah negeri ini dalam lirik lagunya “ tongkat kayu dan ranting jadi tanaman”  hal itu menandakan bahwa segala macam tanaman bisa tumbuh subuh di tanah Indonesia ini. Namun berbeda dengan apa yang semestinya. Sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah sudah semestinya menjadikan Negara ini makmur. Namun tidak demikian, Ya ,,!!! Kembali lagi kondisi ini hanya akan membuat kita kembali berkata “sudah semestinya” . Sekali lagi kata-kata yang yang tersirat dalam beberapa bait puisi gus mus yang selalu syarat akan kondisi negeri ini seharusnya mampu mengugah  hati para pengelola dan calon penerus negeri untuk senantiasa intropeksi dan berbenah diri. Kata yang mengambarkan keironian negeri yang tak semesti namun hingga kini masih kita alami, bahkan jauh dari mimpi para pendiri negeri Indonesia, kata tersebut adalah “sudah semestinya”

Sudah semestinya negeri ini subur,,,,, “ya!”

Sudah semestinya negeri ini makmur, ,,, “ya!”

Sudah semestinya negeri ini kaya,,, “ya!”

Sudah  semestinya negeri ini jaya ,, “ya!”

Apakah negeri ini akan menjadi Negara yang jauh dari kata “semestinya”. Tentunya kita semua tidak menginginkannya, Indonesia akan bisa menjadi negara yang semestinya jika kita memiliki banyak pohon berkualitas yang masak buahnya atau buah yang masak dipohonnya. Hal tersebut bukan berarti menjadikan Indonesia menjadi negera yang  dipenuhi pepononan yang rimbun dengan buah yang besar, manis, meriah dan mengoda, serta menjadikan seluruh masyarakat Indoensia menjadi petani buah. Bukan demikian,,!! Dan apakah keberhasilan Negara ini hanya dipengaruhi oleh faktor pohon saja, tentu tidak disini akan sedikit saya kupas tentang arti sebuah pohon berkualitas yang masak buahnya dari sisi yang berbeda. Selain pohon sendiri dalam arti sesungguhnya juga memiliki posisi peting dalam menunjang peningkatan kualitas masyarakat dan Negara, filosofi siklus kehidupan dan manfaat dari bagian-bagian pohon itu sendiri bisa kita kaitkan dengan terbentuknya generasi harapan bangsa yang semestinya.

“Pohon”

Pohon merupakan suatu tumbuhan yang memiliki akar, batang, dan daun. Pohon memiliki batang utama yang tumbuh tegak, menopang tajuk pohon, tajuk sendiri merupakan seluruh bagian batang pohon yang memiliki daun dari bawah hingga pucuk pohon.Untuk menjadi pribadi yang baik atau seorang pemimpin yang menjadi harapan negeri ini kita bisa belajar dari pohon. Pohon yang berakar kuat yang berarti memiliki prinsip iman yang mengakar jangkar sehingga tak mudah tergoyah, memliki batang yang kokoh yang sehingga kita menjadi pribadi yang bersahaja, wibawa karena jiwanya jujur adil dan dipercaya. Pohon yang baik adalah pohon yang baik tajuknya yakni banyak cabang dan rantingnya seperti halnya ranting tersebut menandakan luasnya cabang ilmu yang kita pamahi. Pemimpin dituntut memiliki banyak ilmu pengetahuan. Daun yang hijau dan lebat agar kita semua dapat memberikan banyak manfaat seperti pada daun yang memberikan kesejukan dan melindungi kita dari panah dan hujan.

Pohon sudah pasti tumbuhan, namun tumbuhan belum tentu pohon. Untuk membedakan pohon dari semak dapat dilihat dari bentuk dan penampilan. Semak juga memiliki batang berkayu, tetapi tidak tumbuh tegak, namun merambat dan menjalar dan habitusnya cenderung menyebar menutup permukaan tanah.Itu seperti halnya perbedaan seorang politisi dan negarawan, jika negaranan sudah pasti politisi namun jika politisi belum tentu negarawan, yang membedakan negarawan dengan politisi tidak bisa kita bedakan seperti membedakan semak dan pohon, tapi dari niat tulus mengabdi untuk negeri dan  prilaku diri. Jika negerawan mengadi untuk Indonesia tapi politisi bekerja diindonesia. Ada hal yang bisa kita pelajari dari pohon dan pengabdian, yakni pohon tidak makan dari buahnya, buah tersebut adalah hasil, jika kita kaitkan seorang pemimpin yang sama sekali tidak mengambil gajinya saat menjabat berarti itu bukti ketulusan dirinya dalam mengabdi,  pohon kekar perkasa menjulang lebat keangkasa pasti akan melindungi yang dibawahnya , semak, rumput, belukar yang menjalarpun dilindungi oleh pohon, butuh pemimpin yg bersahaja dan perkasa untuk berada dipimpinan tertinggi, butuh pemimpin yang kuat akan terpaan angin,  jika ada yang menjalar ikut pohon tinggi itu bagaikan gulma parasit yang ada di pohon yang  tinggi, meminta butung untuk menerbangkan biji benalu untuk mencari posisi, itu yang yang terjadi dinegeri ini banyak politisi benalu mengandalkan uang dan mencari mengambil sari pati dari pohon besar untuk tetap hidup dan mendapatkan posisi.

Batang merupakan bagian utama pohon dan menjadi penghubung utama antara bagian akar, sebagai pengumpul air dan mineral, dan bagian tajuk pohon (canopy), sebagai pusat pengolahan masukan energi (produksi gula dan bereproduksi). Cabang adalah juga batang, tetapi berukuran lebih kecil dari berfungsi memperluas ruang bagi pertumbuhan daun sehingga mendapat lebih banyak cahaya matahari dan juga menekan tumbuhan pesaing di sekitarnya. Batang diliputi dengan kulit yang melindungi batang dari kerusakan. Batang tubuh pemimpin dan pemerintahan bagaikan pengahubung dari fungsi akar penyerap aspirasi dari rakyat dan mendistribusikan ke seluruh bagian batang komisi pemerintahan kemudian ke ranting perundingan dan akhirnya menhasilkan buah kebijakan yang bermanfaat.

Pohon menmiliki banyak fungsi dan manfaat

Pohon berfungsi sebagai peneduh dan pemberi iklim mikro kerena pohon menghasilkan uap air dan oksigen sehingga kita akan merasakan kesegaran jika berada dibawah pohon, pohon mampu menyimpan air tanah, pohon mampu mencegah terjadinya banjir, jika kita pelajari dari fungsi pohon yang mampu mecegah banjir harapannya para calon pemimpin DKI dapat menyelesaikan masalah banjir dengan balajar dari pohon, walai pohon bekerja secara preventif dan sekarang banjir sudah terlanjut, tapi tidak ada salahnya kita belajar dari pohon. Pohon mampu  menahan erosi, keberadaaa akan pohon juga dapat membantu peningkatan kesuburan tanah karena mampu berasosiasi dengan mikrobiota tanah yang berfungsi menyuburkan tanah. Keberadaan pemimpin yang sudah tidak lagi terorientasi dengan kebendaan mana ia akan memiliki selera yang lebih tinggi kaitannya dengan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan bagi rakyatnya, hidupnya mikroorganisme dengan adanya pohon artinya pemimpin yang dapat menyentuh hingga pada level rakyat terkecil sekalipun. Pohon juga dapat sebagai tempat tingal bagi satwa dan primata dan masih banyak lagi fungsi dari pohon. bahkan pohon juga bisa digunakan sebagai lambang sebuah partai, disini saya berbicara mengenai pohon bukan lantaran saya berafiliasi terhadap partai yang berlambang pohon, namun hanya paparan sedikit pendapat saya yang bisa kita pelajari bersama dan kita kaitkan harapan pemimpin negeri

Bila kita memiliki rumah dan menanam pohon buah disekitar pekarangan rumah kita, kita pasti berharap suatu saat nanti pohon tersebut  dapat memberikan berbagai manfaat, baik bagi pemilik rumah, lingkungan sekitar pohon bahkan bagi pohon itu sendiri. Saat pohon sudah menjulang perkasa maka ia kan memiliki seperti yang makna dari salah satu lambang negera kita butung garuda yang didadanya terdapat pohon beringin pada sila ketiga Pohon beringin (Ficus benjamina) adalah sebuah pohon Indonesia yang berakar tunjang – sebuah akar tunggal panjang yang menunjang pohon yang besar tersebut dengan bertumbuh sangat dalam ke dalam tanah. Ini menggambarkan kesatuan Indonesia.

Di dalam kompleks Kraton pohon beringin (Waringin; dalam bahasa jawa) melambangkan pangayoman, keadilan juga sifat abadi. Waringin juga melambangkan, Manunggaling kawula lan Gusti, atau rakyat dengan pemimpin, atau bersatunya manusia dengan Tuhan yang memberikan hidup. Pohon ini juga memiliki banyak akar yang menggelantung dari ranting-rantingnya. Hal ini menggambarkan Indonesia sebagai negara kesatuan namun memiliki berbagai akar budaya yang berbeda-beda.

Buah akan terasa nikmat jika buah tersebut benar-benar matang dipohon karena proses pembentukan glukosa dan proses pemasakan yang alami akan menhasilkan kemasakan buah yang sempurna, Kekuatan pribadi matang terletak pada pengalamannya yang luas atas berbagai haldalam hidup. Ia rela menjalani segala persoalan hidup dan keluar sebagai orang yang berpengalaman dan memiliki wawasan yang sangat luas akan berbagai persoalan. Oleh karenanya,  ia mampu mendengarkan gagasan / keluhan orang lain. Sekaligus  ia mampu memberikan pendapat, nasehat dan masukan kepada orang lain. Ciri corenya pemimpin yang sudah matang adalah bukan terletak pada jam terbangnya saja tetapi justru pada kualitasnya, sudah memiliki wawasan yang sangat luas, mampu mendengarkan secara tajam dan empatik dan terakhir ia dianggap oleh lingkungannya sebagai rujukan. Matang, tak identik dengan senioritas, apalagi usia, karena itu hanya kuantitas belaka.

Ada hal yang menarik dari sebuah kenikmatan bauh para nabi. Kurma yang bisa  manis itu menurut cerita, pohon kurma itu ditanam di padang pasir
Bijinya ditaruh di kedalaman 2 meter dan kemudian ditutup dengan 4 lapisan
Sebelum pohon kurma itu tumbuh, dia berakar begitu dalam hingga menembus 4 lapisan tersebut dan pada akhirnya menghasilkan buah yang manis di tengah padang pasir
Hal ini memperlihatkan bahwa ada proses tekanan begitu hebat ketika kita menginginkan hasil yang luar biasa

Di dalam buah terdapat biji yang nantinya berfungsi sebagai generasi. Buah yang dihasilkan pohon menghasilkan biji, dan biji tersebut menghasilkan multiplikas.
Hal ini menunjukkan tentang bagaimana hidup kita hendaknya memberi dampak terhadap orang lain. Kepemimpinan bukan sekadar berbicara mengenai posisi/jabatan, tapi pengaruh, inspirasi generasi. Ingat.!!! pohon berkualitas akan menhasilkan buah yang berkualitas, buah berkualitas juga akan menhasilkan benih berkualitas, dan siap ditanam jika ia sudah matang pada pohonnya.

Harapannya generasi bangsa ini juga bermulai dai sebuah ketekunan besar biji yang tumbuh dari tumpukan tanah yang dalam hingga saat tumbuh ia sudah memiliki akan keimannan yang menjangkar, saat besar nanti tinggi menjulang mampu sebagai pelindung dan tak goyah terkena tepaan angin dan aral. Saat sudah menghasilkan buah yang masak, maka muncullah genersi-generasi berkualitas utuk negeri ini.

“ Bangkit negeriku mari tanam pohon generasi berkualitas”