Yuli Ardika Prihatama

http://zonaperubahan.wordpress.com

Ingatanku sejenak tertuju ketika osmaru FKIP tahun 2008 lalu. Aku masih ingat bagaimana mas Agung Budiarso, Presiden BEM FKIP ketika itu mengajak kami menyanyikan bersama-sama mars mahasiswa. Sebuah mars yang barangkali menjadi salah satu penyemangat yang hingga kini masih melekat kuat di dadaku. Apalagi saat ini melihat realita kehidupan mahasiswa yang semakin pragmatis dan cenderung kehilangan idealismenya.

Idealisme dan Soekarno

Berbicara idealisme, aku tidak tertarik untuk mendefinisikan menurut istilah-istilah yang membosankan. Aku ingin menyorot salah dua tokoh yang menurutku ideal dijadikan figure tentang sebuah idealisme. Dialah salah satu proklamator kita, founding father bangsa Indonesia yang telah menorehkan tinta emas sejarah yang luar biasa, bahkan dapat memberikan inspirasi bagi dunia. Iya, dialah Soekarno, putra sang fajar yang telah mengantarkan Indonesia bersama putra-putri terbaik bangsa lainnya menuju gerbang kemerdekaan meskipun sejatinya kemerdekaan itu masih kita pertanyakan.

Adalah suatu hal yang menyedihkan ketika pergolakan dan perjuangan heroik di masa lalu itu sejarahnya terdistrorsi sampai di telinga dan akal kita. Berbagai kesimpangsiuran sejarah kerap kali membuat kita bingung untuk mengenal salah satu Bapak kita yang sangat hebat ini. Memang pemimpin memiliki masanya masing-masing, adakalanya dia akan menjadi orang yang disanjung bangsa ini, namun adakalanya juga namanya akan tercemari oleh noda-noda baik karena pengkhianatan generasi penerusnya atau memang kejahatannya yang terbongkar. Adapun dengan Soekarno, aku menawarkan sebuah kata kunci bahwa dialah sang pemegang idealisme bangsa.

Ketika buku Soekarno File yang beredar menghujat nama besar Soekarno terkait G 30 S/ PKI, maka sang putra, Guruh Soekarno Putra segera melakukan penuntutan terhadap buku tersebut. Atau kemudian buku-buku tentang dikator-diktator yang pernah berkuasa di dunia juga mencatatkan nama Soekarno di dalamnya, maka semua itu tidak akan menghilangkan kenangan heroik kita tentang sosok pahlawan bangsa ini. Kenangan bagaimana beliau begitu kuat memegang teguh ideologi nasionalismenya hingga membawa negara Indonesia ini menjadi negara kesatuan yang berlandaskan pancasila.

Aku sendiri mungkin tidak sepenuhnya setuju dengan gagasan nasionalismenya Soekarno, apalagi jika membawa gagasan Nasakom ke bumi Indonesia ini. Namun aku sangat terkesan bagaimana seorang Soekarno muda begitu giat belajar dan berdiskusi di masa itu dengan sahabat-sahabatnya tentang arti sebuah perjuangan dan kemerdekaan hingga bagaimana mewujudkan sebuah bangsa yang merdeka. Sejenak kita akan terbawa ke masa-masa romantisme sejarah pergerakan nasional di mana Soekarno dan sahabat-sahabatnya telah mengisi masa muda mereka untuk berbicara bagaimana Indonesia ini bermartabat. Itulah masa-masa di mana kaum muda hidup dengan sesungguhnya, mengulang masa Rasulullah dan para sahabat yang jauh lebih awal mendahului dan lebih mulia untuk menegakkan risalah Islam di tengah kerusakan manusia.

Adakah sesuatu yang menggerakkan mereka untuk berbuat itu semua? Jawabannya adalah karena idealisme yang tertanam di kepala mereka sebagai akibat proses interaksi alam pikiran mereka yang tajam dengan realita di masyarakat. Mereka tergerak dan segera sadar bahwa mereka telah sedang menjalani masa-masa yang tidak sesuai dengan kerangka kehidupan yang digariskan oleh Allah. Penjajahan dan segala bentuk penindasan yang didukung oleh pengkhianatan adalah sebuah kondisi yang akan melahirkan generasi-generasi emas yang kokoh terhadap idealismenya. Dan demikianlah Soekarno hidup dan menjalani hari-hari kehidupannya dengan idealismenya yang luar biasa. Hingga suatu saat kita patut menangis karena idealismenya tidak dapat termanifestasikan akibat segelintir orang-orang yang telah berkhianat terhadap ibu pertiwi ini.

Natsir dan Jiwa Negarawan-nya

Sosok idealis yang kedua adalah Muhammad Natsir. Lain Soekarno, lain pula Natsir. Dia adalah sosok luar biasa pula yang besar di sebuah pergerakan Islam yang bernama Masyumi, sebuah pergerakan yang turut berdampingan dengan PNI-nya Soekarno dalam mengawal perjalanan bangsa ini pada masa-masa awal kemerdekaannya. Bukan hal yang penting dan bermanfaat bagi kita mempertentangkan apa-apa yang mereka bawa dan saling pertahankan di masa-masa mereka. Namun yang lebih penting adalah bagaimana seorang Muhammad Natsir begitu gigih memperjuangkan konstitusi negara ini yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Perdebatan beliau di parlemen tentang ideology negara seringkali terjadi untuk mengimbangi kekuatan nasionalis dan komuni. Mereka benar-benar berkomitmen untuk memperjuangkan sebuah idealisme yang mereka yakini. Hal yang sebenarnya sudah sangat bertolak belakang dengan wakil rakyat yang sekarang sedang bersantai di parlemen. Bahkan mungkin sebutan wakil rakyat pun sekarang sudah terdengar tidak enak di telinga kita.

Sejarah telah mencatat bahwa perjuangan Natsir dan kawan-kawannya bersama Masyumi akhirnya menemui titik nadir dengan membubarkan diri. Sebuah pilihan yang pahit namun baik, sebelum Masyumi dibubarkan dan dicap sebagai organisasi terlarang. Mereka akhirnya kembali menjadi ulama pembimbing umat dengan kapasitas mereka masing-masing. Natsir dan kawan-kawannya memberikan keteladanannya sebagai negarawan. Mereka bukan pengecut yang pergi dari republik ini untuk melakukan makar dan menghancurkan Indonesia ini. Itulah sikap negarawan sejati, yang tidak mengutamakan kekuasaan sebagai satu-satunya alat untuk berbakti kepada negeri. Tetapi bagaimana menjaga idealisme agar tetap kokoh dan membuktikan kontribusi kepada negeri ini sebagai wujud kecintaan terhadap tanah air dan agamanya.

Maka tidak berlebihan ketika peringatan 100 tahun Muhammad Natsir, melalui 100 tulisan dari para ahli di berbagai bidang di negeri ini berbicara tentang beliau hingga akhirnya presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada beliau. Beliau tidak pernah kecewa sekalipun saat itu diperlakukan secara tidak adil oleh pemerintah orde lama maupun orde baru yang seharusnya menghargai beliau sebagai orang yang berjasa mewujudkan tegaknya NKRI melalui mosi integral-nya di tahun 1950. Dan alangkah terharunya aku ketika telah menyelesaikan membaca 100 tulisan tersebut, mereka dengan bulat menyatakan Natsir layak mendapatkan haknya seperti pahlawan nasional yang lain.

Semua Itu Sepertinya Terlupakan

Dan semua yang telah diuraikan di atas mungkin hanya terpatri di sebagian kecil pemuda Indonesia hari ini. Bagaimana peringatan keras Soekarno kepada para investor asing dan segala yang berbau asing untuk tidak menyentuh kekayaan sumber daya alam kita telah menjadi angin lalu dan tergantikan oleh sekian kontrak mengerikan antara pemerintah kita dengan Freeport, Cevron, Exon Mobile, dan berbagai perusahaan asing multinasional yang jelas-jelas mengeruk kekayaan kita. Mata kita menatap sadar, tapi mau berbuat apa lagi, ketika pemerintah kita yang menjadi wakil kita dalam mengelola negara justru begitu bangga menjual sumber kehidupan kita dengan harga yang tidak berperikemanusiaan. Mengkhianati amanat konstitusi sendiri, bahkan mungkin dengan penuh kesadaran.

Dan perlahan-lahan hal itu pun diamini oleh para mahasiswa dimana mereka mulai kehilangan jiwa Soekarno dan Natsir dalam diri mereka. Kedewasaan berpikir dan prinsip negarawan mulai mereka tinggalkan. Konteks pergerakan mahasiswa mulai pragmatis dan hanya berpikir bagaimana merebut kekuasaan tanpa membuat sebuah perhitungan dan persiapan yang matang tentang konsekuensi politik yang akan ditimbulkan. Mulai dari mahasiswa sudah begitu, apatah lagi ketika sudah memasuki jenjang kekuasaan yang sesungguhnya, yaitu terjun didunia partai politik dan demokrasi yang sekarang tengah menuju puncak kekritisannya. Berorganisasi tapi tak mengerti ruhnya, tak menjiwai pergerakannya dan tak memilki pondasi berpikirnya. Mengalir seperti air tanpa mengetahui tujuannya. Begitukah?

Oleh sebagian yang lain, sisi pragmatisme mahasiswa mengarah pada pencapaian kehidupan pribadi yang hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Mungkin hal sepele ketika di masa kecil, guru-guru TK dan SD kita bertanya tentang cita-cita kita. Kita dengan mantap saat itu menjawabnya dengan ingin menjadi tentara, polisi, dokter, insinyur, dan sebagainya. Tidak ada yang salah di masa itu. Tetapi itu menjadi masalah besar ketika cita-cita itu kita wujudkan saat ini dengan kacamata individualisme. Sebuah kacamata yang lebih berbahaya dari kacamata kuda. Karena itu akan menumbuhsuburkan kapitalisme baru dan meruntuhkan sendi-sendi kegotongroyongan ketika masing-masing hanya sibuk mewujudkan kesuksesan materi secara individu dan mengabaikan kesejahteraan umum. Dan pragmatisme ini telah menggerogoti sebagian mahasiswa di kampus-kampus Indonesia saat ini dengan semakin sedikitnya mahasiswa yang peduli terhadap permasalahan bangsa dan masyarakat sekitarnya. Jika sudah demikian, bagaimana nasib negeri ini. Padahal di tangan mahasiswalah kekuatan terbesar negeri ini akan dapat digerakkan dalam meruntuhkan kekuasaan tiran dan melawan ketidakadilan.

Maka tidak mengherankan ketika sekarang tawuran mahasiswa sering terjadi di beberapa kampus. Kasus korupsi juga mulai menggerogoti kalangan mahasiswa dengan melalui penyalahgunaan dana-dana penelitian dan pengabdian masyarakat. Kedekatan mahasiswa dengan para dosen terkadang membuat mahasiswa tidak memiliki daya tawar untuk meng-counter budaya korupsi di balik penggunaan dana-dana pemerintah yang dikucurkan untuk riset dan pengembangan pendidikan saat ini. Sangat miris dan cukup memprihatinkan ketika mahasiswa tidak mampu bermain jujur di tengah realita yang serba sulit seperti sekarang. Bolehlah kita berkorespondensi dengan siapa pun, tetapi seharusnya kita tetap berada di atas jalan kita. Jalan pejuangan dan jalan keadilan. Bolehlah kita berkongsi dengan dosen-dosen kita dalam berbagai proyek penelitian, tapi ambillah yang menjadi bagian dari kita saja dan tinggalkan yang selebihnya. Itulah komitmen dan bukti atas idealisme kita. Suarakan ketidakadilan yang kita jumpai di manapun, di kampus, di pemerintahan, dan di masyarakat  dengan sekian cara terbaik dan tepat. Itulah bukti intelektualitas kita sebagai mahasiswa.

Mari kita mengingat bagaimana bung Karno selalu memotivasi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri, berdikari dan terhormat. Kita ingat pula bagaimana seorang Natsir mencontohkan kesederhanaan luar biasa, sampai-sampai para pegawainya di kantor kementrian penerangan melakukan iuran untuk membelikan pakaian yang pantas buat sang menteri. Adakah itu pada jiwa-jiwa pemimpin kita saat ini? Mungkin yang pasti ada adalah paradoks yang teramat menyakitkan atas sejarah kita. Kiranya sebagian besar kita benar-benar lupa dengan pesan bung Karno tentang jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tak heran jika sekarang negeri kita menjadi negeri yang selalu meminta karena terlalu banyak memberikan cuma-cuma kepada asing atau mungkin terlalu bodoh sehingga mudah kemasukan pencuri. Atau memang kita menikmati kebodohan ini dan rela dengan harga diri yang rendah? Pahit rasanya dan selayaknya tak demikian.

Masih Ada Waktu

Serasa menulis kembali lagunya Ebiet G. Ade. Tetapi memang demikian adanya, kita masih punya waktu untuk memperbaiki kondisi sekarang. Jika memang kita menyadari bahwa idealisme kita mulai redup. Maka kembalikan cahayanya dengan menelusuri jalan-jalan perjuangan di masa lalu. Empat belas abad silam atau mungkin sebelumnya cahaya itu telah hadir di dunia ini, dan setiap masa akan selalu ada yang memperjuangkannya. Mengapa kita masih saja bangga dengan ketenangan dan kenyamanan kita saat ini?

Mari segera istighfar dan bersujud untuk memohon ampunan atas kelalaian kita hari ini. Kemudian kita bangkit bergerak dan berlari. Bercita-cita dan bermimpi untuk Indonesia yang lebih baik. Kita bangun kembali idealisme kita. Kita pancang kembali tekad perjuangan kita. Kita sambut erat tangan kawan-kawan kita. Mungkin kita berbeda, berseteru dan akan berdebat, tetapi tidakkah contoh Soekarno dan Natsir dapat menjadi referensi buat kita bagaimana berdamai dengan perbedaan di negeri yang majemuk bersemboyan Bhineka Tunggal Ika ini. Sebuah representasi idealisme dan sikap negarawan sejati. Sebuah jiwa mulia yang merindukan perubahan bangsanya menuju titik yang lebih baik. Bagaimanapun sulitnya, masih ada waktu.

Sebagai penutup tulisan ini, kiranya kita perlu merenungkan kata-kata Rasulullah kepada pamannya ketika diminta menghentikan dakwah oleh para pembesar Quraish. “Andai matahari kau letakkan di tangan kananku, bulan pula ditangan kiriku, bagiku untuk melepaskan beban yang kubawa ini, sekali-kali tidak”. Bukankah ini sebuah tekad dari seorang manusia terbaik yang sangat dekat dengan tuhannya untuk terus menjaga idealismenya. Beliau tahu bahwa meninggalkan dakwah hakikatnya mengkhianati apa yang telah diyakininya selama ini. Ini adalah bukti idealisme dan akhirnya terjawablah hari ini apa yang beliau pegang kuat itu.

Sebagai mahasiswa, maka mari senantiasa bertanya pada diri kita. Masihkah kita memegang idealisme kita hari ini? Jawablah dengan lantang. Dan jangan lupa untuk menuliskan butir-butir idealisme kita. Tuliskan dengan jelas dan tunjukkan kepada yang lain. Mungkin suatu saat kita memang bisa tergelincir. Tapi yakinlah ketika ada sahabat-sahabat kita yang pernah mengerti tentang idealisme kita, mereka akan menjadi pengingat kita suatu saat. Jangan pernah meredup. Tetaplah genggam idealisme kita. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya ilmu, dan bertambahnya umur. Sanggupkah kita? Kita buktikan!