Anggel D. Satria

Ramadan adalah bulan yang selalu dinantikan kedatangannya oleh seluruh umat Muslim di Dunia, karena Ramadhan adalah penuh berkah dan maghfiroh, lebih baik dari seribu bulan. Keutamaannya. begitu banyak, keutamaan bulan ramadhan, diantaranya Allah Ta’ala melipat gandakan pahala setiap hamba yang beramal, dan membuka pintu-pintu kebaikan. Dan di bulan ini pula pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan dibelenggunya setan-setan. Dibukanya pintu-pintu surga, dikarenakan banyak amalan-amalan soleh dilakukan di bulan tersebut. Dan ditutupnya pintu-pintu neraka, dikarenakan sedikitnya amalan kemaksiatan yang dilakukan orang-orang yang beriman pada bulan itu. Sedangkan dibelenggunya setan-setan, dikarenakan tidak bisa lagi merusak dan menyesatkan manusia, karena pada waktu itu mereka sibuk melaksanakan amalan-amalan ibadah dan ketaatan.

Tapi sayang ramadhan kini sudah terasa kehilangan makna. Banyak umat Islam telah melewatkan momentum ramadhan dengan kebiasaan dan budaya yang tak diajarkan oleh Rasulullah SAW. Mungkin kita sering melihat, setiap ramadhan datang silih berganti dari tahun ketahun yang selalu kita sibukkan adalah menyiapkan hidangan berbuka puasa yang terlalu berlebihan, menyiapkan hidangan kue buat lebaran, menyibukkan diri dengan membeli baju-baju baru, menghias rumah dan kegiatan tetek bengek lainnya, yang terkadang membuat kita lupa terhadap ibadah yang semestinya kita lakukan di bulan yang mulia ini.

Sementara pada sisi lain, dikalangan para pejabat dan politisi kita, bulan ramadhan dijadikan sebagai ajang promosi untuk memperkenalkan diri melalui ucapan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa yang dipajang lewat spanduk dan baliho, lengkap dengan fotonya. Hal itu bisa kita lihat diatas jalanan umum, disimpang simpang jalan, baik melalui brosur yang bertamengkan imsyakiah Ramadhan.

Memberikan ucapan dengan mengambil kesucian bulan Ramadhan melalui spanduk, baliho dan brosur, adalah merupakan cara ampuh bagi seorang tokoh publik untuk memperkenalkan dirinya dengan cost yang cukup murah bila dibanding dengan melakukan kampanye, mengumpul orang agar orang mengenalnya.

Biasanya ucapan selamat menunaikan ibadah puasa ini muncul, mengatas namakan tokoh publik adalah disaat dekatnya proses pemilihan kepala daerah, maupun pemilihan anggota legislatif. Yang tidak biasa mengucapkan selamatpun, tiba tiba muncul dengan spanduk, baliho dan brosurnya. Pada hal sebelumnya si tokoh publik tadi tidak pernah muncul kepermukaan, walaupun dia sudah terpilih menjadi pejabat dan anggota legislatif. Dan sekikir apapun sang tokoh publik tadi, karena waktu pemilihan sudah dekat, maka ramadhan dijadikannya sebagai momentum untuk memperkenalkan dirinya kembali kepada masyarakat, yang hampir melupakannya.

Momentum ramadhan dijadikan sebagai tempat jual diri bagi para pejabat dan anggota legislatif kita, bukan merupakan barang baru lagi. Tapi sudah menjadi kebiasaan dikalangan pejabat dan anggota legislatif kita. Kenyataan yang kita lihat sekarang ini, walaupun ramadhan terus berganti, namun prilaku pejabat dan anggota legislatif kita tidak juga menunjukkan perobahan, pada hal bulan ramadhan adalah bulan tempat penempaan diri untuk menjadi lebih baik, sehingga ramadhan menjadi kehilangan makna.

Puasa hanya kita jadikan sebatas kebiasaan, adat atau budaya, kita belum memahami dan memaknai bahwa puasa itu benar benar dari iman dan pemahaman yang benar mengenai puasa. Puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari hawa nafsu pada makan dan minum, akan tetapi lebih dari pada itu. Puasa juga menahan nafsu dari perbuatan perbuatan yang menyimpang yang dilarang oleh agama. Tapi pada kenyataannya kita melihat masih banyak kemaksiatan kemaksiatan yang terjadi yang dilakukan oleh masyarakat, pejabat dan anggota legislatif.

Tempat tempat hiburan malam yang seronok, seperti café, diskotik, warung warung kopi/nasi, perjudian/lokalisasi wanita tuna susila (WTS) korupsi, gratifikasi dan lain sebagainya tetap saja berlangsung. Yang tragisnya hal hal seperti ini lebih banyak dilakukan oleh para pejabat dan anggota legislatif kita.

Rasulullah SAW, mengatakan “Barang siapa yang tidak meninggalkan dusta dan perbuatan menyimpang, Allah tidak berhajat kepada puasanya.” Kemudian pada hadist lain Rasul juga mengatakan, “berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga “.

Puasa Bukan Momentnya Politik

Dijadikannya bulan ramadhan sebagai moment politik, jelas telah menyalahi aura dari makna puasa itu sendiri, puasa bukanlah momentumnya politik tapi melainkan adalah sebagai wadah untuk tempat menempa diri, menahan segala hawa nafsu dari godaan dunia yang serba gemerlapan.

Gonjang ganjingnya dunia politik, korupsi yang semakin merajalela. Saling tuding dan saling hujat antara pemimpin dan anggota legislatif kita, yang membuat rakyat bingung, melalui bulan suci ramadhan ini dapat meredam semua itu. Jangan jadikan bulan yang penuh berkah dan maghfiroh ini sebagai momentum untuk ajang politik melalui media spanduk. Berapa banyak spanduk yang dipasang berapa pula uang yang harus dikeluarkan hanya untuk sebuah spanduk?

Sementara saudara-saudara kita yang hidup di bawah kolong jembatan dipinggir pinggir jalan, ditempat tempat kumuh yang sehari makan sehari tidak, terkadang ada yang tidak makan berhari hari, tak bisa kita bayangkan bagai mana perasaan mereka dalam menghadapi bulan suci ramadhan ini.

Jangankan untuk berbuka puasa, kendatipun Rasulullah Muhammad SAW mengatakan berbukalah kamu seadanya, seperti yang dilakukan oleh Rasul berbuka hanya dengan segelas air putih dan sebutir kurma, air bersih saja mereka tidak punya, apa lagi sebutir kurma. Sementara para pemimpin dan anggota legislatif kita malah menjadikan bulan suci ramadhan penuh dengan eforia.

Alangkah baiknya, jika dana dari pembuatan spanduk itu kita berikan kepada kaum du’afa yang sangat memerlukannya. Kemudian ramadhan kehilangan makna disebabkan, lingkungan kita yang kurang mendukung, Negara kita adalah Negara yang majemuk, yang terdiri dari bermacam agama, ras dan suku bangsa. Kita dituntut untuk saling menghormati, tapi kenyataannya disaat ramadhan tiba suasana saling menghormati sangat jauh dari realita. Sebagai seorang muslim kita luput dari dari rasa saling menghormati, puasa tidak lagi merupakan keharusan bagi kita, kita tidak lagi menghormati orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa, malah kita menunjukkan sikap yang dibenci oleh Allah SWT.

Toleransi antar ummat beragama bukan mengajarkan hal hal seperti itu, saling menghormati itu perlu memang, tapi bukan harus memperlihatkan kebersamaan dalam menjalankan ibadah agamanya. Disinilah perlu suatu kebijakan pemerintah yang mendukung suksesnya ummat dalam meningkatkan amal ibadah dalam bulan suci ramadhan.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu’annahu dia berkata “Aku mendengar Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam bersabda, barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merobahnya dengan tangannya, apabila tidak mampu maka hendaklah dengan lisannya. Dan apa bila tidak mampu lagi, maka hendaknya dengan matanya. Dan apa bila tidak mampu lagi maka dengan hatinya. Sesungguhnya itulah selemah lemah iman.”

Kemudian kurangnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai agama baik dalam tatanan teori maupun praktik. Masyarakat kita masih banyak memahami agama hanya sekadarnya saja. Mungkin agama bagi mereka adalah faktor keturunan, karena orang tua mereka Islam mereka juga ikutan Islam. Padahal agama bukan hanya sekedar faktor keturunan, tapi agama adalah pegangan hidup. Semakin dalam kita memahami agama maka semakin besar nilai-nilai agama itu tertanam dalam jiwa dan raga kita, sehingga kita dapat melaksanakan ajaran agama ini dengan kaffah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur”an surat Al Baqarah ayat : 208-209 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Mudah-mudahan ramadhan tahun ini kita dapat melaksanakan amal ibadah dengan sebaik-baiknya. Dan yang paling terpenting, ramadhan kini janganlah kita lewatkan begitu saja, sehingga dia kehilangan makna. Karena ramadhan kini, adalah tempat kita menempa diri. Berhasil kita dalam bulan ramadhan ini insyaallah kita berhasil dalam menghadapi sebelas bulan berikutnya. Semoga!