*Erny Ratnawati- Beasiswa Bakti Nusa ETOS UNS

 

Salah satu  permasalahan di dunia transportasi yang sering terjadi dan layak untuk diberikan perhatian adalah tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas telah mengakibatkan jatuhnya korban luka-luka dan bahkan hingga kematian. Kecelakaan lalu lintas telah menelan korban jiwa sekitar 1,2 juta manusia setiap tahunnya menurut data yang dilansir oleh organisasi kesehatan dunia PBB World Health Organization (WHO). Data Dinas perhubungan mencatat bahwa angka kecelakaan di Indonesia menyentuh angka puluhan ribu tiap tahunnya. Secara kuantitatif jumlah kecelakaan lalu lintas mengalami peningkatan sebanyak 0,5 persen pada dua bulan pertama tahun 2012 dibanding periode yang sama tahun 2011. Hingga bulan ini, terjadi 10.169 kecelakaan yang dilaporkan. Kendaraan bermotor menempati 75% dari seluruh moda transportasi, karena itu penyebab kecelakaan dan korban paling banyak adalah pengendara motor.

Ada tiga faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan angkutan transportasi di jalan raya. Pertama adalah faktor manusia, kedua adalah faktor kendaraan dan yang terakhir adalah faktor jalan. Kombinasi dari ketiga faktor itu bisa saja terjadi, antara manusia dengan kendaraan misalnya berjalan melebihi batas kecepatan yang ditetapkan kemudian ban pecah yang mengakibatkan kendaraan mengalami kecelakaan. Disamping itu masih ada faktor  keempat, yakni faktor lingkungan, cuaca yang juga bisa berkontribusi terhadap kecelakaan.

Faktor manusia

Faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan dalam kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Pelanggaran dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang berlaku ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pula pura-pura tidak tahu. Selain itu manusia sebagai pengguna jalan raya sering sekali lalai bahkan ugal-ugalan dalam mengendarai kendaraan, tidak sedikit angka kecelakaan lalu lintas diakibatkan karena membawa kendaraan dalam keadaan mabuk, mengantuk, dan mudah terpancing oleh ulah pengguna jalan lainnya yang mungkin dapat memancing gairah untuk balapan.

Faktor kendaraan

Faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan sangat terkait dengan teknologi yang digunakan, perawatan yang dilakukan terhadap kendaraan.

Faktor jalan

Faktor jalan terkait dengan kecepatan rencana jalan, geometrik jalan, pagar pengaman di daerah pegunungan, ada tidaknya median jalan, jarak pandang dan kondisi permukaan jalan. Jalan yang rusak atau berlobang sangat membahayakan pemakai jalan terutama bagi pemakai sepeda motor.

Faktor Cuaca

Hari hujan juga mempengaruhi unjuk kerja kendaraan seperti jarak pengereman menjadi lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarak pandang juga terpengaruh karena penghapus kaca tidak bisa bekerja secara sempurna atau lebatnya hujan mengakibatkan jarak pandang menjadi lebih pendek. Asap dan kabut juga bisa mengganggu jarak pandang, terutama di daerah pegunungan.

Menilik factor factor diatas, hal yang paling mendasar dan menjadi benang merah dari ketiganya adalah tentang kesadaran (awareness) si pengguna jalan sendiri untuk mengantisipasi dan mengendalikan diri untuk menghadapi keempat factor tersebut diatas.  Bisa diakui, kesadaran berlalu lintas yang benar dan berkendara aman belum menjadi tradisi yang membudaya di negeri ini. Berbagai macam kasus pelanggaran lalulintas terjadi  setiap harinya. Alih alih jera, meskipun terancam terkena denda, masyarakat kita masih tetap saja banyak yang acuh dan kemudian berulang melakukannya kembali. Budaya ngebut dan  ugal ugalan di jalan raya, saling menyalip, melanggar marka dan rambu rambu lalu lintas,  tidak menggunakan helm/alat pengaman, nyopir sembari berponsel, mabuk, dan sederet lagi pelanggaran yang sering dilakukan. Hal ini perlu ditilik serius, karena seringkali  kecelakaan yang bahkan hingga merenggut nyawa puluhan orang bisa jadi bermula dari pelanggaran pelanggaran seperti ini. Sikap ketidak hatian seseorang tidak hanya mengancam dirinya sendiri, namun juga mengancam dan membahayakan nyawa orang lain. Puluhan jiwa tak berdosa  dapat melayang seketika, ketika kecelakaan tak mampu lagi dihindarkan.

Masih hangat di benak kita, tragedy  avanza  maut di Tugu Tani Monas yang telah merenggut nyawa 9 orang dengan seketika.  Tentu tragedy itu bukanlah kejadian pertama. Peristiwa peristiwa sebelumnya dan bahkan sesudahnya seolah rantai yang tak kunjung putus putusnya. Berbagai macam jenis kecelakaan terjadi tiap harinya. Sebuah ancaman mengerikan  yang nampak di depan mata kita. Menjadi momok menakutkan bagi para  pengguna transportasi jalan raya. Menyisakan gumpalan kecemasan  masyarakat dengan lalu lalang arus kendaraan setiap harinya. Oleh karena itu pemahaman  tentang keselamatan berkendaraan ini perlu kuat ditanamkan. Keselamatan jalan raya adalah tanggung jawab semua penggunanya. Semuanya saling berkaitan satu sama lain. Jalan raya adalah milik negara yang digunakan untuk kepentingan bersama. Seluruh komponen jalan ini membentuk sebuah lingkungan yang yaitu lingkungan lalu lintas. Berbicara masalah lingkungan lalu lintas, setiap komponen sangat berpengaruh pada kondisi lingkungan. Terjadinya pelanggaran oleh salah satu komponen, dapat membahayakan dan menimbulkan ketidaknyamanan pada seluruh anggota lingkungan. Karena itu, toleransi berlalu lintas diwajibkan kepada siapapun pengguna jalan raya yaitu pengendara dan kendaraannya, pejalan kaki, juga termasuk di dalamnya adalah pedagang asongan dan kaki lima yang menggunakan tepian jalan. Membudayakan safety riding, menjadi bagian dari menciptakan lingkungan yang aman berlalu lintas.

Safety Riding sendiri ditelaah dari segi definisi adalah  cara berkendara yang aman dan nyaman baik bagi pengendara itu sendiri maupun terhadap pengendara lain.  Sehubungan dengan jumlah pengendara motor yang terus meningkat, kampanye safety riding mutlak diperlukan. Masyarakat pengguna motor dikenalkan dengan berbagai perangkat keselamatan, pengujian keterampilan berkendara, pengenalan karakteristik kendaraan dan pengendalan etika berkendara di jalan raya. Sosialisasi safety riding ini penting untuk menyadarkan pengendara kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor tentang bagaimana berkendara yang aman. Lebih lanjut, lebih memantapkan kesadaran ini, diperlukan sistem yang lebih kompeherensif dan menyeluruh. Konsep safety riding yang lebih menekankan pada kemampuan mengendarai dan menyiapkan kendaraan yang aman, dikembangkan dalam konsep defensive driving yang lebih mengarah pada pengendalian sikap pengendara dan membaca situasi lingkungan jalan raya agar lebih siap menghadapi situasi yang kadangkala diluar bayangan.

Menerapkan sikap-sikap Safety riding

Keamanan berkendara, baik dengan motor ataupun mobil, ditentukan oleh 3 faktor utama yaitu pengemudi, kendaraan dan lingkungan. Lingkungan sendiri masih dibagi menjadi lingkungan di dalam kendaraan yaitu penumpang lain dan jumlah barang bawaan, serta lingkungan luar yaitu pengguna jalan yang lain. Seorang pengendara motor, keselamatan berkendaraanya tak hanya ditentukan oleh pengemudi dan motornya, tetapi juga oleh penumpang yang duduk di belakangnya. Begitupun dengan mobil, tak hanya menjadi tanggung jawab sopir dengan mobilnya, melainkan juga penumpang lain di dalam mobil, termasuk bagasi dan barang bawaan lainnya. Karena itu, kesadaran untuk berkendara dengan aman sebaiknya ditumbuhkan pada seluruh penumpang.
Sebelum memulai berkendara, pengendara motor sebaiknya memperhatikan komponen motornya. Mulai dari mesin, bahan bakar, barang bawaan yang tidak melebihi kapasitas, kostum berkendara yang aman dan nyaman, dan helm yang sudah tentu wajib. Di dalam perjalanan, sikap pengemudi juga harus memperhatikan keselamatan. Menerima telpon apalagi SMS adalah hal yang wajib dihindari, namun masih banyak orang yang melakukannya, mengemudi sambil ber SMS. Interaksi yang sehat antara pengemudi dan penumpang juga penting. Penumpang hendaknya membantu menjaga konsentrasi pengemudi, misalnya tidak dengan mengobrol atau bercanda disaat kendaraan melaju, juga hendaknya mengingatkan apabila pengemudi ngantuk atau lalai membaca rambu jalan.

Pada situasi jalan raya, perhatian pengemudi akan terbagi ke sekitarnya. Dalam hal ini, konsentrasi yang tinggi sangat diperlukan. Selain pandangan ke depan, mata pengemudi juga melirik ke kanan dan kiri jalan, serta ke bagian belakang melalui kaca spion. Pandai membaca gelagat pengemudi lain adalah suatu keahlian yang harus diasah. Hal ini penting untuk mengantisipasi apabila terjadi keteledoran pengguna jalan lain dan berimbas pada kita.

Penggunaan alat dan komponen motor juga harus memperhatikan pengguna jalan lain dan bertoleransi. Penggunaan klakson secara berlebihan dapat mengganggu konsentrasi pengguna jalan lain dan mengagetkan. Akibatnya, bisa saja kendaraan lain tersebut kehilangan keseimbangan dan kontrol mengemudi. Begitu juga dengan penggunaan lampu jauh, dalam kondisi malam sekalipun. Memang kita bisa diuntungkan dengan penerangan jalan jauh ke depan, namun penting untuk mengingat bahwa di lajur kanan arah berlawanan, akan ada pengendara lain yang merasa silau dan terganggu. Pada jalur padat, terutama dimana terdapat pasar kaget pinggir jalan, pengendara motor seyogyanya mengurangi kecepatan karena banyak pejalan kaki lalu lalang dan pedagang kaki lima yang mangkal.

Uraian diatas adalah sebagian dari contoh-contoh bagaimana pentingnya kita memperhatikan lingkungan jalan raya karena kita tidak sendiri di jalan. Safety riding saat ini memang belum membudaya di masyarakat pengguna jalan raya.  Oleh karena itu pemahaman tentang safety riding sangat dibutuhkan untuk memberikan edukasi bagi pengendara. Kecelakaan memang tidak bisa dihindarkan karena disebabkan oleh banyak faktor. Namun dengan pemahaman dan pelaksanaan safety riding yang tepat, angka kecelakaan dapat ditekan. Kegiatan-kegiatan sosialisasi safety riding perlu dukungan dari masyarakat, perusahaan swasta dan pemerintah agar dapat mencapai target yang lebih luas. Pembudayaan safety riding dapat digalakkan dari beberapa titik penting , misalnya sekolah-sekolah dan produsen motor/mobil. Media massa dan internet baik web, jejaring social, milis dan sebagainya juga dapat menjadi sarana sosialisasi safety riding. Aksi sosialisasi terbuka bagi masyarakat juga perlu digalakkan. Kampanye langsung baik berupa lisan ataupun pengingatan pengingatan dijalan menjadi salah satu media yang diterapkan untuk dapat membudidayakan gaya aman dan sehat berkendaraan ini. Dengan menggaungkan kampanye safety riding ini, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat, secara tak sadar kita juga telah ikut mensukseskan gerakan keselamatan bersama pengguna  transportasi jalan raya.