Yuli Ardika Prihatama

Menjadi mahasiswa adalah sebuah kesempatan luar biasa sekaligus pilihan yang baik. Ia adalah sebuah kesempatan karena tidak semua orang dapat masuk di sebuah masuk di perguruan tinggi, terlebih perguruan tinggi negeri yang harus dilalui dengan seleksi yang sangat ketat dan berskala nasional. Ia adalah pilihan yang baik karena terkadang seorang yang lulus sekolah menengah atas lebih memilih untuk bekerja dengan alasan jika menjadi mahasiswa akan menyusahkan diri lagi dengan belajar dan mengeluarkan biaya yang besar.

Hal yang menarik adalah ketika seorang pemuda/ pemudi yang berasal dari desa-desa di Indonesia bertekad untuk melanjutkan studi hingga ke perguruan-perguruan tinggi ternama di Indonesia. Mereka dapat dikatakan sebagai satu-satunya kebanggaan masyarakat di daerah asal karena dianggap mewakili masyarakat tersebut untuk menjadi manusia terdidik yang berkelas di kampus. Bahkan tidak jarang mereka mendapatkan penghargaan yang lebih besar dari masyarakat dibandingkan dengan pemuda yang lainnya.

Fakta tersebut tidak salah, karena memang seorang yang telah terdidik di kampus biasanya ia memiliki kompetensi keilmuan yang jauh lebih tinggi meskipun hal itu tidak selamanya benar. Sebagai kaum terdidik maka sudah selayaknya dia menjadi manusia yang berwawasan luas dan mampu memberikan sumbangsih pemikiran dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat dalam penyelesaian masalah-masalah sosial dan ekonomi yang berkembang di sana.

Berbekal ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh selama menjadi mahasiswa di kampus, idealnya seorang pemuda seharusnya dapat memajukan masyarakat daerah asalnya agar pengetahuan dan kualitas perilaku kehidupan mereka mengalami peningkatan. Realisasinya dapat dilakukan melalui pendekatan sosial yang diwadahi dalam organisasi kemasyarakatan atau sebuah gerakan pengabdian masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kualitas perilaku kehidupan masyarakat, maka kehidupan sosial ekonomi masyarakat itu dapat terus di dorong menuju arah perbaikan.

Namun terkadang dijumpai ada masyarakat yang justru menolak keberadaan aktivitas mahasiswa, baik itu putra daerah sendiri maupun pendatang yang bermaksud baik untuk menawarkan sebuah perubahan. Mungkin karena dianggap akan merubah tatanan sosial yang sudah diyakini dan disepakati masyarakat atau dikhawatirkan mengenalkan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan yang sudah mengakar di masyarakat tersebut. Mungkin juga dikarenakan mahasiswa tidak mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa dan pengertian yang mudah diterima masyarakat, sehingga ide perubahan yang ditawarkan terasa hambar dan sulit dicerna oleh kalangan masyarakat yang kebanyakan masih begitu polos.

Persepsi masyarakat tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun akan sangat rugi jika perubahan yang ditawarkan oleh para putra daerahnya yang ternyata merupakan solusi cerdas tidak diterima karena kurangnya komunikasi dan kepahaman yang benar. Di sini penulis melihat fenomena kurang diterimanya putra daerah di kalangan masyarakat sendiri sebagai sebuah masalah serius dan mencoba menawarkan solusi bagi  para mahasiswa agar dapat menjadi agen-agen perubahan dalam rangka memajukan tanah kelahirannya.

Sebagai orang yang dibanggakan masyarakat daerah seharusnya pemuda dapat mengaplikasikan ilmu yang dia dapatkan selama di kampus. Namun karena merasa tidak mendapatkan penerimaan yang baik di masyarakat sehingga terkadang menyurutkan para pemuda untuk memilih meninggalkan daerah asal dan mengejar karir di tempat yang lain. Siapa lagi yang akan memajukan daerah jika bukan para intelektual muda yang telah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi dan orang-orang terdidik yang telah merasakan hembusan angin perubahan. Maka dari itu, melakukan perubahan di tengah masyarakat adalah kewajiban dan tanggung jawab para intelektual muda yang telah menemukan visi perubahan untuk menuju masyarakat madani.

Sejauh apa perubahan yang dapat dilakukan para pemuda?

Perubahan yang dapat dilakukan para pemuda selaku intelektual muda adalah untuk mengedukasi masyarakat agar menjadi lebih peduli. Peduli terhadap permasalahan bersama, peduli terhadap realita kehidupan berbangsa dan bernegara, peduli terhadap degradasi moral yang terjadi saat ini, peduli terhadap dampak kapitalisme bagi ekonomi masyarakat bawah, peduli untuk membangun kemandirian masyarakat yang berkemajuan dan berakhlak mulia, serta berbagai bentuk kepedulian yang lain.

Memberikan edukasi kepada masyarakat adalah bentuk peran yang paling strategis yang dapat dijalankan para mahasiswa saat ini sebagai bukti tanggung jawab sosialnya. Bentuk edukasi yang dapat diilakukan adalah dengan melakukan pengenalan dan pendampingan terhadap masyarakat secara berkelanjutan. Misalnya adalah edukasi tentang pentingnya pendidikan bagi generasi muda, baik pendidikan formal maupun nonformal. Sebagai agent of change tentu kita tak hanya melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya anak-anak mereka agar melanjutkan pendidikan dan menekuni berbagai sarana pendidikan nonformal, tetapi lebih bagaimana dapat menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan sumber-sumber pendukung pendidikan seperti beasiswa, latihan keterampilan dan sebagainya yang kemudian terus didampingi sampai mereka dapat merasakan pendidikan sebagaimana yang telah kita rasakan. Begitu pula dalam bidang yang lain, misalnya peningkatan ekonomi petani, pedagang atau yang lainnya.

Bagaimana merealisasikan peran kita sebagai mahasiswa sebagai agent of change di masyarakat daerah asal? Penulis mengangkat sebuah strategi yang bernama KOIN EMAS (KeywOrds, INforming, EMpowering, ASsisting)

Bagan Strategi KOIN EMAS sebagai wujud peran dan tanggungjawab sosial mahasiswa terhadap masyarakat daerah asal

Menemukan kata-kata kunci (KeywOrds) adalah proses mengenali karakter dasar masyarakat daerah asal kita. Hal ini bukanlah hal yang sangat sulit bagi seorang putra daerah yang telah tumbuh sejak kecil di sana, hanya saja terkadang kita sering mengabaikan hal ini sehingga terkadang apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat. Proses ini tidak boleh ditinggalkan atau diabaikan dalam rangka merealisasikan perubahan di masyarakat. Tanpa senjata utama ini, kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan sesudahnya tidak akan tepat sasaran karena tidak sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat. Tentu saja, hal yang lebih penting adalah mengenali karakter diri sendiri sebagai bagian dari masyarakat kita. Sehingga kita dapat melakukan adaptasi dan komunikasi yang baik terhadap masyarakat.

Selanjutnya adalah proses penyampaian informasi (INforming) kepada masyarakat. Setelah kita mengenal masyarakat melalui berbagai kata kunci yang telah kita pahami, maka selanjutnya adalah bagaimana kita membangun komunikasi dengan masyarakat untuk menyampaikan berbagai informasi yang penting untuk diketahui masyarakat dalam rangka mengedukasi mereka agar wawasan mereka bertambah. Banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan untuk melakukan proses edukasi yang bersifat informatif saat ini seperti sarasehan, sosialisasi, pelatihan. dan berbagai bentuk forum sejenis lainnya. Masyarakat daerah asal biasanya akan memiliki kecenderungan untuk mempercayai apa-apa yang disampaikan para putra daerahnya jika kita telah memiliki track record yang baik di mata masyarakat.

Berikutnya adalah proses pemberdayaan (EMpowering) melalui program-program riil yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai putra daerah kita dapat menawarkan program-program riil dalam memberdayakan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam hal ini penulis memiliki minat pada pengembangan anak-anak dan generasi muda. Program-program yang dapat dilakukan adalah inisiasi pengembangan TPA secara modern dan pelatihan-pelatihan produktivitas pemuda dalam bidang kewirausahaan dan softskill. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan keahlian kita melakukan negosiasi dengan pihak-pihak terkait yang mampu memberikan dukungan baik dana maupun sarana lainnya.

Teknis yang dilakukan adalah dengan melakukan pembinaan kepada beberapa kelompok pemuda terpilih untuk menjadi pioner perubahan di desa tersebut dengan berbagai bekal pembinaan yang memadai. Kemudian ditumbuhkan kepercayaan diri mereka bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang wajib berkontribusi. Selanjutnya adalah pengokohan jaringan komunikasi antara mahasiswa dengan para pemuda di desa. Dengan melihat potensi besar yang dimiliki daerah asal (daerah asal penulis adalah desa Beji, kecamatan Ngawen) sebenarnya para pemuda dapat diberdayakan menjadi lebih baik. Hanya saja dibutuhkan keistiqomahan dalam membina dan mengarahkan generasi muda agar tetap bertahan pada zona produktif setelah mendapatkan motivasi dan pelatihan.

Maka dari itu, hal terakhir yang harus dilakukan adalah pendampingan (ASsisting). Wujudnya adalah pemberian bantuan setiap saat baik materi maupun non materi untuk menjaga kontinuitas perubahan yang sudah ditawarkan dan diinisiasi. Inilah hal yang paling sulit sekaligus tantangan terbesar bagi mahasiswa dalam mewujudkan perubahan di masyarakat. Karena ini menuntut konsistensi dan keajegan suatu proses. Namun demikian, berbekal dengan kecintaan yang besar dari kita kepada masyarakat daerah kita sendiri tentu hal ini akan menjadi pengikat yang kuat dan menjadi peneguh semangat untuk terus bergerak dan menuntaskan perubahan.

Satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah bahwa sebagai pelaku perubahan, mahasiswa adalah orang yang terlibat langsung dalam proses tersebut. Maka perencanaan masa depan dan segala hal yang menyangkut kehidupannya juga akan bersama dengan masyarakat. Jadi sinergi antara masyarakat dengan para kaum intelektual muda adalah keniscayaan. Kita selaku mahasiswa harus siap kembali ke masyarakat asal untuk melanjutkan dan menjaga arus perubahan ini. Maka mulai sekarang dapat kita pikirkan untuk kita dapat berkarir sekaligus membangun masyarakat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, demikianlah dikatakan dalam sebuah hadits.

Demikian sebuah uraian singkat tentang strategi KOIN EMAS sebagai bentuk peran dan tanggung jawab sosial seorang mahasiswa dalam memajukan tanah kelahirannya demi mewujudkan masyarakat madani dan berkemajuan. Bukanlah suatu hal yang mengagumkan ketika ada mahasiswa yang cerdas dan hebat lulus dari kampus kemudian berkarya menjadi ahli-ahli di luar negeri atau semata-mata mengejar karir di lembaga-lembaga pemerintah, sementara tanah kelahirannya terbengkalai dan jauh dari pembinaan. Bukanlah sebuah hal yang baik ketika para pemuda yang merantau hanyalah untuk mencari penghidupan semata-mata, sementara masyarakat asalnya kehilangan generasi muda yang menjadi inisiator perubahan di masyarakat.

Perubahan suatu masyarakat dimulai dari para pemuda yang berani mengambil pilihan berbeda dalam kebaikan seperti para nabi dan rasul yang telah di utus di masa dahulu dan para tokoh-tokoh dunia di kemudian harinya. Mereka berpikir selangkah lebih baik dalam rangka memperbaiki masyarakatnya. Dengan keteguhan dan keyakinan yang mereka miliki, maka masyarakat yang ada dapat menuju tatanan yang lebih baik.

Akhirnya semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Jika semua mahasiswa berpikir untuk pulang dan membangun masyarakatnya, niscaya Indonesia ini tidak akan pernah kehilangan kekayaan yang paling berharga, yaitu rasa cinta tanah air. Kebangkitan Indonesia di masa depan bukanlah isapan jempol belaka, melainkan keniscayaan yang akan segera terealisasi. Meminjam semboyan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluya, “Bali ndeso, mbangung deso” artinya kembali ke desa dan membangun desa. Begitulah seharusnya yang sejak sekarang kita pikirkan sebelum gelar sarjana melekat pada diri kita.