aqod kana lakum fi rasulillah uswatun hasanah

dan pada diri rasul itu, ada contoh kebaikan”

rasul

Keteladanan dalam prespektif kebahasaan diartikan sebagai sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tt perbuatan, kelakuan, sifat, dsb). Perlu diperhatkan kata ‘patut’ sebagai prespektif budaya, patut di suatu tempat bisa berbeda dengan patut di tempat yang lain. Seperti, misalnya di suku Jawa patutnya seorang laki laki yang harus melamar perempuan, namun lain halnya di Padang dimana perempuanlah yang meminang laki laki. Kedua hal ini tidak ada yang salah, karena keduanya merupaka nilai kebenran di masing masing tempatnya. Maka kemudian, keteladanan erat kaitannya dengan kebudayaan dan situasi sosial masyarakat setempat.

Membangun basis ketokohan sosial menjadi sangat penting bagi seorang muslim, prinsip “kita adalah da’i sebelum menjadi yang lain” mesti melekat dilubuk sanubari setiap muslim yang kafah. Anggapan Jawa yang mengatakan,”Nek nduwe keapikan, aja seneng dikandak-kandake” atau “Jika punya kebaikan, jangan diomong omongkan atau disebarkan” sudah tidak lagi relevan untuk diterapkan, merunut pada perang kebaikan melawan keburukan, sesuatu yang buruk bisa menjadi benar ketika bertransformasi menjadi nilai nilai yang disepekati bersama berdasar pada pengaruh pembiasaan dan pemakluman. Oleh karenanya, wajar bila Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengutarkan,”Keburukan yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”, karena disini berlaku sunatullah dimana siapa yang menanam dia yang memetik, siapa yang berusaha lebih keras dia yang mendapatkan lebih banyak.

Kemudian, guna membangun kepemimpinan sosial sebagai puncak kesyukuran seorang hamba Allah SWT yang memang telah menasibkan manusia menjadi khalifah bumi berdasarkan, Surat Al Baqarah : 30;

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dibutuhkan tangga tangga penaikan derajat pencapaian seorang (calon) pemimpin, yaitu

 kokoh

Pertama, yang harus diperhatikan untuk menapaki jejak langkah kebaikan ini adalah mencari, menemukan dan mengintenalisasikan filosofi dasar kenapa kita harus menjadi seorang pemimpin dan teladan umat, pentingkah dan haruskah kepemimpinan dijadikan sebagai puncak kesyukuran tertinggi setiap muslim. Ini penting, karena kedalaman pemahaman dan pemaknaan nilai nilai ini akan menentukan seberapa besar frekuensi dan periode perjuangan seorang (calon) pemimpin. Barangkali buku atsswabit wal mutaghayyirah (yang prinsip dan yang dikembangkan) dapat dijadikan sebagai buku induk kerangka berpikir seorang mukmin. Agar supaya, apa apa yang mestinya menjadi pegangan tidak di otak atik, dan sebaliknya yang harusnya dikembangkan malah justru menjadi sangat kaku karena dangkalnya pengetahuan kita terhadap kedua hal ini.

Membangun kekokohan diri dapat dimulai dari membentuk afiliasi positif terhadap sebuah lembaga atau gerakan sebagai wajihah keimanan. Oleh karananya, munculnya Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Hizbuh Tahrir hingga Ikhwanulmuslim menjadi suatu keniscayaan yang harus disikapi bijak dengan pemahaman yang tepat. Tidak ada pertentangan dalam visi djama’atul muslimin berbagai harakah tersebut, itu hanya masalah kecenderungan potensi dan kondisi sosial masyarakt tempat berkembangnya pemikiran pemikiran tersebut. Maka, guna mencapai kekokohan diri yang optimal, perkataan Soekarno “JaS MeRah” Jangan sekali kali melupakan sejarah, dapat logis diterima sebagai representasi usaha menggali nilai nilai dasar sebuah lembaga atau harakah.

Selanjutnya, kekokohan ini tidak boleh kaku dalam bergerak, kesediaan melebur namun tidak campur untuk mencoba mengaktularisasikan ide dan gagasan dalam masyarakat tak dapat dipungkiri harus melihat konteks masyarakat sasaran. Berdakwahlah sesuai dengan bahasa kaumnya, memang benar adanya, jika kita menguasai sebuah bahasa, maka kita akan jauh dari makar umatnya. Perlu diingat, dinamis dan aktif itu berbeda, dinamis lebih dimaknai sebagai gerakan yang terorganisir dan tepat disetiap konteks perubahan sosial, sementara aktif masih hanya sebatas perubahan gerak dan atau perilaku seseorang yang belum tentu tepat dan sesuai dengan kehendak masyarakat.

Kemudian, ketika kita telah memiliki dasar sekaligus karakter dinamis, mampu berinteraksi dan menjadi bagian dari masyarakat, maka wawasan kita dengan sendirinya akan naik pula. Inilah yang membedakan orang pintar dan tidak, kecepatan memperoleh data informasi dan waktu penyampaian yang lebih awal dibandingkan yang lain akan membawa paradigma berpikir bahwa dia pintar, dia cerdas atau dia tau banyak hal. Inilah yang barangkali akan membedakan dia aktivis atau bukan, aktivis tidak sekadar diukur pada banyaknya organisasi yang diikuti ataupun rutinitas yang tiada batas, namun lebih kepada kemampuan kita menerka hikmah dan mengambil pelajaran disetiap aktivitas yang kita lakukan. Sekali lagi karakter dinamis, bukan condong kepada mudahnya kita terombang ambing dan sekadar mengikuti perlakuan masyarakat, melainkan kecerdasan kita menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Setelah memiliki kekokohan, kedinamisan dan wawasan secara naturalistik kita akan mendapat pengakuan sosial yang biasa disebut keteladanan. Keteladanan bukan sebuah retorika kata kata, namun dia merupakan bukti tegas dan integritas seseorang, yaitu kesesuaian antara apa yang dia katakan dan apa yang dia lakukan. Keteladanan dibangun dengan kompetensi khusus sekaligus karakter kebaikan, seorang cerdas namun tak berlaku sopan hanya akan dimaknai sebagai seorang profesional, begitupula ketika seorang yang baik namun tak memiliki kemampuan apapun, barangkali dia hanya akan menjadi beban dan akan tertinggal dalam upaya pengembangan diri dan masyarakat. Keteladanan (dalam arti positif) akan membawa rantai pahala yang tiada putus putusnya, seperti yang tergambarkan dalam hadist:

“Siapa memberi teladan, berbuat kebaikan, ia mendapat pahala dan pahala siapa saja yang menirunya hingga akhir masa, Siapa memberi contoh berbuat kejahatan, ia mendapat dosa. pula dosa siapa saja yang mengikutinya sampai akhir masa.”

Namun sebaliknya, ketika telah memperoleh titel teladan dan menjadi magnet bagi manusia disekitarnya, kita harus berhati hati pada apa yang disebut dengan “dosa sosial”, yaitu keberantaian perilaku buruk dikarenakan penasbihan kebenaran pada perilaku seseorang bukan pada dalil atau dasar kepercayaan. Contohnya seperti ini, ketika saya selaku ketua sebuah lembaga berperangai buruk dengan memboncengkan kawan bukan muhrim kemudian dilihat dan djadikan dasar oleh staf staf saya yang kemudian mengatakan,” toh, mas dwi juga gak apa apa boncengan, sekelas ketum lohh..,” maka seketika itu pula selama adik adik saya melakukan keburukan dilandaskan pada saya, maka saya akan mendapatkan dosa selama adik saya berbuat dosa tanpa mengurangi dosa yang didapatkan adik saya. Na’udzubillah, ironi ketokohan sosial memang beginilah adanya, antara peluang pahala dan dosa hanya berjarak pada rupa.

Setelah memperoleh kemapanan, maka kita dapat menuai kesempatan untuk memberikan pengaruh pada lingkungan kita. Layaknya sebuah gelas, kita akan menjadi tinta guna menyebarkan pemikiran pemikiran pada kejernihan lingkungan kita. Apalagi jika kita pernah melakukan kebaikan dan atau pengorbanan pada seseorang, maka secara otomatis orang tersebut akan sangat senang dan merasa bangga jika mampu menolong kita dikemudian hari. Pengaruh sosial ini, amat penting sebagai sebuah efektifitas dakwah, kita akan lebih mudah memberikan arahan jika kita memiliki posisi strategis kelembagaan. Tulisan, bisa menjadi media efektif untuk  memberikan pengaruh pemikiran masyarakat.

Terakhir, dengan berbagai tahapan kepemimpinan sosial ini, kita diharapkan dapat menjadi pengatur lingkungan sekitar kita. Dengan modal kekokohan, kedinamisan dan pengakuan sosial, kita dapat dengan “sesuka hati” mengekspresikan niat baik kita dengan menggunakan wasilah lembaga serta membangun kaki tangan untuk mengaplikasikan ide dan konsep kita. Maka kemudian, apa yang kita ucapkan, hal yang kita lakukan dan kebiasaan yang kita budayakan akan menjadi justifikasi bagi lingkungan disekitar kita. Ingin dikenang sebagai apa kita nanti dan apa yang dapat kita tinggalkan nantinya akan menjadi bukti realisasi keimanan dalam konteks bermuamalah, (Oleh: Dwi Prasetyo)