home sg

Fenomena home schooling atau pembelajaran di rumah semakin menjamur di Indonesia. Bak sebuah primadona baru, berbagai lapisan masyarakat terutama kalangan menengah ke atas mulai beralih dari sektor pendidikan formal ke non formal. Para orangtua yang menginginkan anaknya mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan minat dan bakatnya memilih untuk menggunakan alternatif pendidikan ini. Pak Erie Sudewo, Direktur Dompet Dhuafa, dalam sebuah sesi training value kepada penerima beasiswa aktivis nusantara di Solo, 29 April 2013 pernah mengatakan bahwasannya anaknya tidak disekolahkan di lembaga formal semenjak awal pendidikan. Beliau menganggap bahwasannya pendidikan formal Indonesia adalah lembaga perdana yang membunuh karakter anak. Hal ini dikarenakan pendidikan di Indonesia hanya mementingkan aspek kognitif ketimbang psikomotorik dan afektif.

Selain itu, kurikulum pendidikan formal dianggap tidak kesemuanya penting untuk masa depan anaknya. Beliau lebih memilih mengundang guru guru ataupun profesional untuk mengajarkan sesuai dengan keinginan  anaknya. Baginya, yang lebih penting adalah seorang anak diminta untuk menentukan cita citanya serta berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang relevan saja. Hal hal yang kurang berkesesuaian dapat diminimalisir bahkan dihilangkan sesuai sekala prioritas. Di sini, peranan orang tua untuk mendampingi dan mengarahkan anaknya menjadi hal yang tidak terbantahkan menjadi ujung tanduk pendidikan anak. Hal lain yang membuat orang tua menggunakan jasa ini adalah efektifitas pengggunaan waktu belajar. Seorang anak belajar sesuai dengan apa yang dia sukai dan butuhkan, bukan sebuah pemaksaan atas nama kurikulum dan penguasaan kompetensi. Bisa dikatakan, anak menjadi pusat pendidikan, dimana anak anak dituntut selalu berpikir dan bergerak mengembangkan diri.

Memang, biaya yang harus dikeluarkan pengguna jasa home schooling lebih besar, namun kepuasaan untuk melihat anaknya memiliki prestasi dan keunggulan pribadi serta ketrampilan hidup menjadi tak sebanding dengan besarnya pengeluaran. Kedekatan terhadap keberadaan anak dalam keluarga juga merupakan alasan lain mengapa para orangtua lebih suka mendatangkan guru dan trainer daripada menyekolahkan anaknya ke satu institusi. Hobi olahraga dan seni juga dapat lebih tersalurkan melalui sistem pendidikan ini. Kurikulum yang tidak terbatasi oleh peraturan peraturan formal dirasa lebih menjamin masa depan anak sesuai dengan pilihan cita citanya. Idealisme ini dianggap merupakan salah satu bentuk paham baru pendidikan di Indonesia yang lebih manusiawi. Anak tidak dicekoki pembelajaran yang tidak penting dan tidak disuksinya. Walaupun tidak mendapatkan rapor dan ijazah secara resmi, kepercayaan dan penyiapan berbagai fasilitas pengembangan diri nyatanya dipilih oleh banyak orangtua. (Oleh: Dwi Prasetyo)