Erny Ratnawati

6 Juni 1901 Putra Sang Fajar terlahir

6 Juni 20 tahun kemudian. Ia adalah Sukarno-seorang mahasiswa yang tangguh, cerdas dan ulet

Sukarno adalah mahasiswa muda actor sejarah bangsa.

Bayangkan di usia semuda itu, dengan beraninya ia gugat pemerintah Kolonial. Sebuah gugatan atas nama Indonesia: Indonesia Menggugat…” (Pledoi Soekarno ”Indonesiamenggugat-1930” ia selesaikan setelah keluar dari penjara Sukamiskin dalam usia muda itu)

“Beri Aku 10 Pemuda, maka akan ku guncangkan dunia” Beralasan, 9 kata yang terlontar dari Sukarno ini. Mari sejenak menata rimanya dengan mengukurnya di dunia realita.  Sejatinya, memang ada tiga ciri utama yang melekat erat pada pemuda dan mahasiswa yang dapat digunakan sebagai bahan bakar penggerak pembangunan bangsa. Pemuda dan mahasiswa memiliki idealisme, semangat tinggi dan mampu berpikir bebas. 3 kekuatan ini selayaknya menjadi bekal yang dapat dipakai untuk melandasi  buah pemikiran yang terinternalisasi dalam usaha riil terjun menggebrak perubahan bangsa. Sebagaimana telah Sukarno muda teladankan pada jamannya. Menjadi mahasiswa actor sejarah bangsa di usia yang masih belia

Sejenak menera kembali mahasiswa sebagai actor sejarah bangsa. Kembali kita mengingat jejak Sukarno muda. Idealisme, heroisme, dan instrument gita pergerakan telah melekat dengan panji panji mahasiswa dalam tapak perjuangan bangsa. Menjadi garda terdepan, dan motor penggerak perubahan dari masa ke masa.  Jika dulu Sukarno berjuang melahirkan bangsa, sekarang sejatinya para mahasiswa itu menerbitkan ikhtiar untuk membangun dan memperbaiki bangsa.

Menapak kini jejak aktivis mahasiswa yang penuh dengan semangat, idealisme dan gebrakan untuk perbaikan suatu bangsa. Sebuah optimisme pantas disunggingkan.  Mereka menunjukkan pada rakyat, masih ada jiwa jiwa muda yang peduli dengan  nasib aspirasi rakyat di jaman serba tidak peduli. Ditengah masyarakat sudah begitu jengah dengan konflik bangsa yang kian hari kian runyam,dan gelombang kekalutan bangsa yang menyeruak.

Berjuta rakyat menumpukan harapan pada bahu insan intelektual muda ini, ketika dalam konteks demokrasi yang menisbatkan suara rakyat adalah suara Tuhan, sikap acuh pimpinan dan wakil rakyat terhadap suara rakyat adalah sebuah “dosa besar”, maka gaung mahasiswa dalam konvoi parlemen jalanan adalah sebilah belati untuk memutus nadi dosa tersebut.Saat kran aspirasi tersumbat, kecaman dan penolakan tak lagi didengarkan, dan dialog menyisakan kebuntuan dan masyarakat gamang dipersimpangan jalan, derap aksi mahasiswa datang menyuarakan amanat suara suara tercekat rakyat. Demikian bertahun lamanya, gerakan vertical ini aktif menjadi corong penyambung amanat rakyat. Mahasiswa sukses menyeringaikan taringnya dalam format gerakan politis vertikal keatas seperti dinisbatkan dalam kerangka Piramida Maslow dimana dalam posisi yang ideal dimana mahasiswa memang sudah selayaknya menjadi penjembatan atas aspirasi dari kaum akar rumput (masyarakat bawah) dengan penentu kebijakan yaitu kaum elitis.

Amanat Sukarno; Mahasiswa Membangun Bangsa

Meneruskan jejak dan amanat founding father kita sekarang selayakanya dalam membangun bangsa, mahasiswa tak cukup mengandalkan retorika atau hanya parlemen jalanan saja. Namun penting pula diimbangi dengan gerakan horizontal ke masyarakat. Karena sejatinya keberadaan mahasiswa di sebuah perguruan tinggi mengemban tanggung jawab sosial dari masyarakat. Mahasiswa merupakan insan intelektual dengan tanggung-jawab terhadap ilmu dan masyarakat yang melekat pada dirinya, selaras dengan ruh Tridharma Perguruan Tinggi dimana menempatkan pengabdian di masyarakat diantara satu pilarnya.

Dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa memiliki potensi dan kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan harapan masyarakat dengan ide-ide segar dan pemikiran konstruktif mahasiswa. Mahasiswa yang kehidupan sehari-harinya berkutat pada lingkungan kampus perguruan tinggi bukan semata-mata membawa amanah dan misi individualis, akan tetapi lebih dari itu mahasiswa menjadi tumpuan harapan berjuta-juta orang diluar dirinya. Di dalam benak dan cita-cita masyarakat, mahasiswa adalah solusi. Solusi bagi keadaan masyarakat yang semakin kebingungan dengan begitu banyak permasalahan bangsa yang menerpa. Harapan  200 juta rakyat negeri bertumpu di bahu para insan intelektual muda ini.

Lewat solusi- solusi yang ditawarkan, mahasiswa diharapkan mampu berkiprah menjadi  agen perubahan yang sebenarnya. Tidak hanya sekedar symbol dan label belaka. Selain itu, dipundak mereka juga disematkan sebuah asa untuk menjadi agen solusi perbaikan. Secara moralitas, masyarakat memandang mahasiswa adalah sosok yang mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka mempunyai latar belakang sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati.  Sebuah kejujuran dan kejernihan itulah yang ditunggu bangsa ini untuk melahirkan gelora para Sukarno  muda  di jamannya. Berani menyuarakan kritis untuk perbaikan dan gagasan untuk perubahan.

Harapan tersemat kemahasiswa untuk menjadi agen penyumbang pemikiran yang rekonstruktif untuk kemajuan masyarakat masih membahana. Oleh karenanya kesadaran dalam tiap personal mahasiswa untuk memiliki tanggung jawab social (Social Responsibility) di masyarakat perlu diinternalisasikan. Kesadaran untuk berkontribusi di kancah masyarakat yang muncul dari hati yang tulus dan diiringi dengan kerja yang ikhlas. Dengan gagasan mahasiswa yang masih kental dengan idealismenya, namun juga bijak menyikapi realita. Tetap dengan cita gagasan yang melangit, namun juga berpijak dengan arif di bumi.

Dalam mengembangkan perannya di masyarakat, mahasiswa sudah selayaknya menjiwai ruhnya dalam frame tanggung jawabnya secara nyata. Salah satunya adalah memperdalam dan mengembangkan diri di dalam pembidangan keilmuan yang ditekuninya sehingga dapat memiliki kemampuan untuk memikul tanggung jawab intelektualnya kepada masyarakat. Selain itu, mahasiswa juga bertanggung jawab menjadi jembatan antara dunia teoritis dan dunia empiris. dalam arti pemetaan dan pemecahan masalah-masalah kehidupan sesuai dengan bidangnya, menjadi kontrol terhadap perubahan sosial yang sedang dan akan berlangsung serta dinamisator perubahan masyarakat menuju perkembangan yang lebih baik. Tidak hanya menjadi menara gading yang kaya teori dan gudang ide namun miskin implementasi.

Oleh karena itu, tanggung jawab  mahasiswa kini adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita, dan salah satunya diwujudkan melaui  menebar benih kontribusi di masyarakat. Sebagai ujung tombak kemajuan, derap mahasiswa berkancah di masyarakat akan senantiasa dibutuhkan dari masa ke masa. Mahasiswa tetap ditunggu tungg menjadi pahlawan dari kaum intelek muda yang mau dan mampu bekerja demi kemaslahatan dan perbaikan masyarakat.

Dan pada akhirnya, penulis menegaskan kembali bahwa mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa untuk meneruskan jejak perjuangan para bapak pendahulu kita. Sukarno muda menginspirasi untuk terus mengabdi tanpa henti. Seperti dalam kutipannya yang terkenal “ For A Fighting Nation, there is no Journeys End (bagi bangsa yang berjuang tiada stasiun akhir). Mahasiswa jangan berhenti untuk berjuang dan mengabdi untuk  bangsa. Karena percayalah, harapan itu senatiasa tetap ada dan tersisa di dada  rakyat baik sekarang, besok dan selamanya.