pemmmpinm

Siapa yang tidak bangga mempunyai negeri seindah indonesia?. siapa yang tidak senang hidup di negeri yang kaya raya akan sumber daya alam dan kebudayaannya?. saya yakin semua orang didunia ini, pasti menginginkan untuk hidup dinegeri tanah surga ini (Indonesia).

Indonesia merupakan negara yng mempunyai prasarat sebagai negara yang makmur dan sejahtera. Dengan kekayan alam yang melimpah ruah, tanah yang subur, Didukung dengan budaya mayrakatnya yang ramah dan toleran. Sudah menjadi cukup untuk menciptakan kemakmuran dan ksejhteraan bagi masyarakat.

Akan tetapi dengan kondisi yang semacam ini, ternyata membuat negeri ini menjadi ter-nina bobo-kan (terlena). Sadar atau tidak sadar kita menjadi bnagsa yang terlalu santai, tidak mau bekerja keras dan lemah. Sehingga sejarhpun mencatat, bangsa ini sudah dijajah lebih dari 3,5 abad lamanya. Meskipun bangsa ini sudah merdeka seperti saat ini. Namun, kondisinya masih belum berubah. Kesejahteraan belum bisa dinikmati oleh masyaraka. Dengan kondisi Indonesia semcam ini Siapa yang bertanggung jawab akan ini semua?

Tulisan ini tidak akan mencari kambing hitam akan kondisi Indonesia seperti saat ini. namun lebih kepada sedikit memberikan optimisme akan perbaikan bangsa ini tentang kepemimpinan.

Baiklah, sejenak  kita membuka lembaran sejarah bangsa jepang. Awalnya bangsa ini dikenal sebagai bangsa agraris yang kurang produktif dan miskin. Kondisi ini diperparah dengan musibah yang menimpa jepang pada perang dunia II, dimana jepang di luluh lantahkan oleh sekutu.

Sehingga pada saat itu, jepang menjadi negra yang sangat lemah dan sedang menuju kearah kehancurannya. Semua hal yang menjadi prasarat hancurnya suatu bangsa dimiliki oleh jepang pada waktu itu. Akan tetapi, suatu hal yang menakjubkan terjadi. jepang berhasil bangkit dan kemudian menjadi negara maju seperti sekarang ini. apa rahasianya?

Ternyata seorang pemimpin yang bernama hirohito inilah yang menghembuskan angin optimisme kepada bangsanya. Meskipun pada saat itu perkataannya menjadi suatu hal yang tabu yaitu” berapa jumlah guru yang masih tersisa”. Namun, dari ungkapan yang sederhana tersebut tersimpan sebuah visi yang besar akan kebangkitan jepang. Sehingga, saat ini kita bisa menyaksikan bagaimana kondisi jepang. Jepang termasuk negara maju didunia.

Contoh lainnya adalah Singapura. Siapa yang menyangka bahwa Singapura akan menjadi negara maju diasia tenggara. Karena memang Singapura merupkan negara yang kecil, sumber daya alamnya sedikit, dan untuk mengembangkan pertanianpun tidak memadai.  Namun, faktanya sekrang Singapura menjadi negara industri yang maju. Bahkan digadang-gadang sebagai negara modern di asia tenggara. Apa sih yang menjadi rahasia negara ini? ternyata karena seorang pemimpin yang mempunyai visi yang tinggi yaitu Lee Kwan Yew. Pada saat berdirinya bangsa ini dia berkata “bahwa kelak bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar” dan perkataannnya itu tidak lantas hanya sebuah bualan semata. kemudian, Ia buktikan dengan konsistensinya sampai akhirnya Singapura menjadi seperti sekarang ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Jika kita bandingkan dua negara diatas dengan bangsa ini maka hasilnya adalah perbandingan yang terbalik. Bangsa yang mempunyai prasarat lengkap untuk menjadi negara maju. Tapi sampai sekrang bangsa ini masih terseok-seok menuju kebangkitannya. Apa sih sebenarnya yang dibutuhkan oleh bangsa ini.

Menanti pemimpin

Ini sudah menjadi suatu hal yang klise bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Bukan karena tidak adanya pemimpin yang pandai ataupun bertitle tinggi. Tapi, karena tidak adanya pemmpin yang mempunyai integritas tinggi.

Dalam kurun dasawarsa terakhir, bangsa ini telah geram dengan tingkah sejumlah pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Mereka yang berada di parlement hnya mementingkan isi perutnya sendiri tanpa memandang rakyatnya. sehingga, tidak heran ketika undang-undang yang dibuat justru merugikan dan mensengsarakan rakyat. Hal ini terbukti, dengan banyaknya pemimpin negeri ini yang terseret dalam kasus korupsi.

Masyarkat telah bosan dengan pemimpin yng hanya bisa menebar janji saja tapi tanpa bukti. Pandai berwacana tapi tanpa realisasi. Masyrakat sedang merindukkan dan menantikkan pemimpin yang mempunyai integritas tinggi dan bertanggung jawab. Dan harapn besar itu ada di pundak pemuda (mahasiswa). Kenapa mahasiswa?

Mahasiswa dalam sejarah

Sejarah bangsa manapun telah membuktikan, bahwa kebangkitan suatu bangsa dimulai dari pemudanya. Dalam hal ini adalah mahasiswa. Dalam lembar sejarah bangsa ini juga mencatatkan tinta emas perjuangan yang dilakukan oleh golongan muda. Adapun Tinta emas tersebut bisa digolongkan menjadi 3;

Pertama, mahasiswa hadir sebagai perintis kebangkitan banga. Dimana saat jalan perang dan adu fisik tidak bisa membebaskan tanah ini dari penjjah. Akhirnya, sekumpulan kaum erdidik bangsa ini (mahasiswa) bergabunag membentuk suatu organisasi pertama yaitu budi oetomo. yang kemudian menjadi titik awal kebangkitan nasional. Hadirnya budi utomo bagaikan sengatan listrik yang membangunkan macan-macan yang sdang tertidur.

Mulai sejak itulah, kemudian berkembang organisasi-organisasi yang lain sampai punckanya pada bulan oktober 1928. Adanya deklarasi pemuda yang sekarang kita kenal sebagai sumpah pemuda.

Kedua, mahasiswa hadir sebagai penentu kemerdekaan Indonesia. bisa dibayangkan, ketika saat itu soekarno dan hatta tidak “diculik” oleh para pemuda ke rengasdengklok. Bisa jadi sampai detik ini Indonesia belum merdeka.

Ketiga, mahasiswa hadir sebagai aktor perubahan Indonesia. kita pasti masih ingat peristiwa reformasi 1998. Dimana seluruh masyarakat Indonesia dari semua elemen melakukan aksi demontrasi besar-besar menuntut pemakzulan presiden soeharto.

Peristiwa bersejarah itu, tidak lepas dari para tangan intelektual muda Indonesia. yang sudah menyiapkan agenda besar untuk menggulingkan ORBA. Yang dikenal otoriter dan diktator. Sampai akhirnya reformasi berhasil di laksanakan di negeri ini.

Saya, bukan dia ataupun mereka

Banyak orang mengatakn bahwa kampus merupakan kawah candra dimuka yang  akan melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Bukan suatu yang berlebihan memang, karena dikampus para mahasiswa ditempa dengan berbagai macam tantangan dan ujian. Dikampus mahasiswa dilatih tentang bagaimana menyelesaikan masalah akademik, organisasi, manajerial, pembentukkan karakter dll. Mahasiswa digembleng dengan banyak hal, yang nantinya akan membekali mereka menghadapi dunia pasca kampus.

Harus kita sadari bersama bahwa dunia kampus adalah waktu terakhir kita untuk meningkatkan kompetensi diri. Karena memang, kampus merupakan jembatan yang akan menghantarkan kita kedunia sesungguhnya. Semua tergantung pada pilihan kita apakah kita akan memilih jalan akademis yaitu melanjutkan kejenjang selanjutnya S2 dan S3, atau akan memilih jalan lain yaitu menjadi wirauahawan, politisi dll.

Hal inilah yang dulu dilakukan oleh para golongan muda massa kebangkitan Indonesia. Mereka memahami dengan betul bahwa masa-masa mereka dikampus adalah masa untuk mempersiapkan hari selanjutnya (kemerdekaan). Sehingga, mereka dengan senang hati belajar , belajar dan beljar tentang segala hal dari leadership, kebangsaan, siasat perang, tata kelola negara, wirausaha dll.

Oleh sebab itu, kiprah sesungguhnya sebagai mahasiswa adalah mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Tapi permasalahannya adalah banyak mahasiswa yang tidak menyadari hal itu atau bahkan Ada mahasiswa yang sudah memahaminya tapi bertindak acuh tak acuh seolah-olah mereka tidak mengetahuinya. Maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah penyadaran terhadap diri sendiri akan tanggung jawab yang akan mereka emban yaitu sebagai pemimpin. Mereka harus menyadari bahwa mahasiswa saat ini adalah calon pemimpin masa depan. Setelah kesadaran individu sudah purna maka tugas kita selanjutnya adalah menularkan hal tersebu pada orang-orang disekeliling kita.

Bagi mahasiswa yang aktif diorganisasi, menjadi suatu kewajiban untuk memberikan penyadaran tersebut pada pengurusnya. Mereka harus menciptakan iklim organisasi yang produktif yang memberikan semangat kebangsaan dan kegelisahan akan nasib bangsanya. Perlu dipahami bahwa kepemimpinan nasional itu tidak dibentuk satu kali ataupun dua kali. Tapi itu merupakan estafeta dari pendahulu-pendahulu kita sebelumnya.

Pemimpin yang seperi apa yang harus dipersiapkan oleh mahasiswa?. Tidak ada sebuah paksaan kepada mahasiswa untuk meniru model kepemimpinan seperti apa. Semua dikembalikkan kepada pribadi kita masing-masing mau memilih model yan seperti apa. Yang menjadi garis bawah adalah bagaimana kita mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang mempunyai kompetensi global tapi bertingkah laku lokal.

Jadi dari paparan diatas , bisa diambil kesimpulan bahwa Indonesia bisa berdaya ketika mahasiswa menyadari akan tugas yang diembannya sehingga harus mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin, kemudian menularkan hal tersebut kepada lingkungan sekitarnya. Ketika hal itu diterapkan dikalangan mahasiswa maka impian Indonesia berdaya bukan suatu utopis…. (oleh: Siswandi)