comdev

Semua bermula dari teguran moral dari Bu Nur hidayah, Direktur Pendidikan Dompet Dhuafa dalam training Bakti Nusa UNS, ditambah dengan sindiran dan tudingan miring mahasiswa awam yang kerap memekakkan telinga atas dasar pandangan parsial terhadap banyak pragmatisme Program Kegiatan Mahasiswa. Sebagai mas’ul dari lembaga keilmiahan tingkat universitas tentu saya harus memutar otak memikirkan apa yang dapat saya lakukan untuk minimal mengurangi celotehan orang orang yang katanya beraliran suci ini. Benar memang ada orang orang yang belum bisa mengoptimalkan dana yang telah dihibahkan dari DIKTI ini. Tetapi saya kiri hal ini tidak dapat digenerelasikan, kita sebut saja mereka adalah oknum. Bagaimanapun ini adalah program resmi yang dicanangkan DIKTI tiap tahunnya, maka bukankah tugas kita bagi yang merasa masih memiliki moral adalah menyelamatkan uang rakyat ini untuk menjadi lebih bermanfaat? Selain itu, bukankah kita tidak dapat memaksakan setiap hal idela pada setiap keadaan yang dinamis? Maka, jalan keluarnya adalah kita menyediakan media yang tepat untuk mengembalikan niat awal dan idealisme mahasiswa.

Di awal pemikiran, saya ingin menginisiasi komunitas “PKM JUJUR”, tetapi kemudian saya khawatirkan hanya dapat mencakup lingkup kecil dan sulit dalam hal konsistensi program. Ketika mengingat kembali tentang nilai nilai dasar UKM SIM UNS, Belajar Berkarya Mengabdi, muncul ilham untuk membuat sebuah gerakan sosial UNS MENGABDI. Saya kira ini lebih fair dan dapat diterima masyarakat kampus secara umum. Seperti yang dikatakn Mas Yudhi dari Internasional Office UNS,”Berpikirlah dengan cara orang lain!”

Waktu terus berjalan hingga kemudian diri ini memberanikan untuk menyusun siyasah dan mengetuk semua pintu yang sekiranya dapat mendukung agenda besar ini. Saya katakan bahwa gerakan ini tidak membawa kepentingan golongan apapun! Kita bicara tentang universitas, tentang sebuah lembaga yang telah memberikan kesempatan bagi kita untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kalau toh yang saya ajak adalah anak anak SIM dan UKM Keilmiahan, hal tersebut hanya berkenaan dengan efisiensi kerja dan kedekatan paradigma saja. Program ini terbuka untuk semua orang merasa terpanggil dan malu jika dia masih mau memakai alamamater UNS namun belum bersedia membayar amanah rakyat dengan memenuhi tri dharma perguruan tinggi.

Alhamdulillah, saya diberikan kemudahan oleh Allah swt untuk bertemu dengan orang orang yang respect terhadap apa yang saya gagas. Dari mulai tim UPKPM UNS, Kabiro Mawa Pusat, Ketua LPPM, Pembantu Rektor 1, Pembantu Rektor 3, Internasional Office, BAPSI dan sempat meng-email Pak Ravik Karsidi juga. Selanjutnya saya ada rencana untuk meminta Pak Rahayu dari FP untuk menjadi pembina gerakan UNS MENGABDI karena beliau adalah Kepala Kuliah Kerja Nyata UNS. Pasca itu, pemenuhan ekonomi menjadi target pemenuhan ekonomi untuk pelaksanaan program.

Awal Ramadhan 1434 H ini menjadi momen saya untuk memulai progam ini. Berkumpul dengan anak anak UKM Keilmiahan menjadi salah satu jalan awal menyebarkan virus mengabdi ini. Disini kami membuat konsep awal dan sharing terkait langkah langkah serta landasan filosofi dalam membangun UNS MENGABDI. Kalau ditanya, program ini seca detail, saya sendiri termasuk orang yang lebih suka melakukan apa yang bisa dilakukan sambil tetap pada jalur yang tepat dalam satu visi. Kita adalah kaum pembelajar, yang perlu dilakukan hanyalah menjalani dengan amal yang sebaik baiknya. Penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 90% hal yang ditakutkan ternyata tidak terjadi dikemudian hari seperti apa yang dipikarkan orang tersebut. Maka sebenarnya, kita hanya perlu berkata,”Di balik kesulitan itu pasti ada kemudahan.”

 Secara teknis, kita akan membangun program ini dengan segitiga yang diajarkan oleh Mas Yudhi, yaitu kita mengumpulkan sebanyak mungkin gerakan sosial yang ada di UNS, baik itu yang berwujud komunitas, PKM, ormawa ataupun institusi resmi. Semuanya dibangun menjadi satu brand “UNS MENGABDI”. Setelah itu, data dikumpulkan diverifikasi, diolah dan didokumentasikan di webste berdomain UNS. Portal ini akan menunjukkan seberapa besar sebenarnya potensi sinergi mahasiswa, hingga kemudian muncullah interkasi dan komunikasi yang menhasilkan forum bertukar ide dan pengalaman. Maka, bagi yang belum memilki pengabdian dia akan belajar bagaimana memulai sebuah progam pengabdian. Bagi yang telah mapan, dia akan dapat menjadi ruang bagi peminat volunteer. Data dan informasi di landing page terus diisukan melalui social media dan akan menjadi isu kampus. Setiap orang diberbagai sudut kampus akan membicarakan, apa itu UNS Mengabdi dan kemudian mereka tertarik untuk mengunjungi website dan mendapatkan informasi utuh mengenai program ini.

Selanjutnya, orang orang yang berminat menjadi pengelola, volunteer dan kontributor dikumpulkan pada workshop pemberdayaan masyarakat di Festival Ilmiah UNS pada 27 Oktober 2013. Dengan mendatang nara sumber sekaligus pendamping program diharapkan kegiatan ini menghasilkan kesepakatan nyata dan membentuk forum berkesinambungan yang tak hanya berhenti pada saat selesainya acara. Kemudian, event event baru akan dipkirkan bersama sesuai prioritas dan langkah langkah yang tepat. Misalnya dengan muncul UNS Mengajar, Forum Peduli Bengawan maupun Pendampingan ekonomi masyarakat akan terus diinisiasi menjadi program program unggulan UNS Mengabdi. Saya yakin sebuah forum yang dibanguna atas dasar komunitas yang memilki kesamaan visi dan frekuensi adalah lebih baik ketimbang organisasi formal yang hanya mengedepankan formalitas dan warisan nenek moyang. Semnagat mengabdi tidak akan berhenti selama kemerdekaan hakiki belum teraih! (Oleh: Dwi Prasetyo)