sim

 Sejenak mari tinggalkan segala hiruk pikuk pasar perpolitikan, menundukkan mata untuk menelisik ke dalam lubuk qalbu yang suci dan terjaga, menengok realita sosial yang menuntut aksi nyata tanpa tendensi pribadi maupun fanatisme golongan. Memilih untuk sejenak membisu layaknya Maryam yang membiarkan Isa kecil berbicara. Memberikan waktu pada ruh kejujuran untuk berkata kata ditengah tekanan pembebasan belenggu penindasan. Atau mungkin, kita persilahkan saja Raqib dan Atid membacakan kitabnya sebagai pembiasan kemunafikan diri.

Ya, dalam kontemplasi terhadap perjalanan hidup di fatarmogana dunia, rasa jenuh mulai menggelayuti jiwa dalam kebingungan mengartikan rutinitas pekerjaan sebagai kuli ilmu dan ahlul amanah. Seolah berada pada puncak tertinggi tangga imipian ketika keharmonisan jamaah sangat terjaga atas nama ukhuwah sebagai kata skaral yang harus terus dipegang. Tatkala hati mulai menggeliat menuntut perubahan, dia diredam dengan etika jammah yang harus dipertahankan.

Kemudian, secerca harapan mulai terbayang ketika tawaran perubahan datang menghampiri hati yang gersang merindukan mata air pembelajaran. Terbayang pula akan adanya guyuran semangat untuk menghidupi niatan suci perbaikan diri dan lingkungan. Sungai amal baru mulai menemukan hilirnya sebagai tempat peraduan membawa kapal-kapal kertas berisi impian yang tertunda selama dalam pengasingan. Walaupun tidak ada jaminan keberhasilan proyek kebaikan ini dapat berjalan, hasrat kesatria untuk menghadapi tantangan menjadi penunjuk arah jati diri kebangkitan.

Seorang pemimpin adalah mereka yang memulai dari dasar dan mampu melewati setiap pintu tantangan demi membuka ruang kebaikan berikutnya. Seorang pemimpin harus memiliki background dan track record yang mumpuni sebagai modal inspirasi perjalanan memimpin dan dipimpin. Seorang pemimpin adalah ia yang telah selesai dengan urusannya dan memilih mengabdikan hidupnya untuk orang lain. Dia adalah pemegang kunci impian, visi dan harapan bagi umat di belakangnya.

Perjalanan jauh melewati Laut Jawa yang haru membiru mengantarkan kesunyian seorang anak desa yang sok ingin merubah wajah Indonesia ke tengah kehangatan pemuda peduli bangsa. Memulai perjalanan dengan doa penuh harap guna memperoleh pengalaman belajar sekembalinya ke pelukan persaudaraan. Pengmas Realita II ILP2MI (Pengabdian Masyarakat Realisasi Penelitian II Ikatan Lembaga Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Indonesia) mengajarkan soft side lembaga keilmiahan dalam benak diri. Gambaran lembaga yang gila lomba, pemburu hibah hingga fanatis hadiah bergeser menjadi jalan para pejuang karya dan kontributor solusi bangsa.

 Menuai Saripati Aktivis Mahasiswa

Berbagai input mengenai definisi seorang aktivis mahasiswa  menghasilkan tatanan kata yang terukir dalam hati sanubari. Dia menari di atas ombak pemikiran dan terombang ambing menuruti kehendak pasang surut bulan kehidupan. Teori behaviourisme menagajarkan kita bahwa seorang insan manusia akan terbentuk sesuai dengan siapa dan dimana dia tinggal. Dia yang mampu memilih tempatnya dengan tepat akan lolos sebagai makhluk baru dalam kancah candradimuka bernama perguruan tinggi.

Kehidupan kampus menuntut penghuninya untuk bergerak beradaptasi menemukan ‘sesuatu’ untuk kehidupan pasca kampus yang lebih ganas. Sesuatu tersebut bisa jadi berbentuk kepedulian sosial, kepemimpinan, jaringan, kemandirian maupun passion keilmuan. Apapun, hal tersebutlah yang akan menjadi representasi dan gambaran jati diri seorang mahasiswa. Dari dalam dirinya akan terpancar warna tertentu yang menjadi ciri penggambaran diri dalam lingkungannya.

Bagi penulis, aktivis mahasiswa adalah dia yang telah memperoleh hakikatnya sebagai seorang kaum intelektual. Dia yang menyadari posisi mahasiswa sebagai lumbung solusi bagi permasalahan zaman. Seorang penerang yang akan membawa kilau cahaya perubahan bagi kegelapan realita sosial. Seorang penuntut bagi dirinya sendiri yang belum mampu memberikan yang terbaik bagi almamater, bangsa dan agama. Dia yang berada pada hakikat pembelajar yang terus bergerak menyelami ilmu kehidupan hingga tertegun melihat di atas langit masih ada langit. Dia yang tetap membumi di tengah hempasan pujian kebaikan yang sering melenakan diri. Dia yang tetap lurus mengejar matahari harapan di sepanjang hari penuh perjuangan serta menjadi rahib Allah Swt dikala malam untuk menyertai setiap harapan dengan doa dan perbendaharaan pengetahuan.

Gelar aktivis bukanlah status quo yang digunakan sebagai dalih untuk tidak serta merta menjadi seorang mahasiswa yang utuh. Paripurna untuk mengembangkan disiplin ilmu dan melaksanakan tri dharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat) guna kemaslahatan umat. Neraca integritas di dalam dan diluar kelas menjadi fokus yang harus dijaga seorang aktivis mahasiswa.

 Menata Peran dan Fungsi Kereta Ilmi

 Unit Kegiatan Mahasiswa Studi Ilmiah Mahasiswa (UKM SIM) UNS lahir sebagai buah pemikiran terhadap jenuhnya kultur akademis dan prestasi di kalangan aktivis BEM UNS. SIM UNS diharapkan menjadi tempat peraduan bagi para mahasiswa yang hobi bertukar pikiran, menuliskannya secara ilmiah dan melakukan aksi nyata sebagai refleksi atas umpan permasalahan di lingkungan sekitar. “Mengembalikan SIM ke jalan yang benar”, itulah tag line yang diusung Mas Yuli Ardika sebagai simbol jiwa perubahan pada masa kepengurusan tahun 2011-2012. Pada tahun kedua keberjalanan sebagai UKM, SIM sangat bersemangat untuk berbenah mengubah dari pencitraan menjadi pembuktian, dari prokeristik menjadi dinamis dan dari eksklusif menuju lembaga publik. Untuk membentuk kerangka organisasi yang solid dan terus berkembang, maka SIM UNS membuat platform organisasi yang bertumpu pada nilai-nilai dasar lembaga sebagai pijakan dalam menentukan setiap kebijakan dan langkah pergerakan. Nilai-nilai dasar akan terus dijaga dan dikembangkan sesuai dengan tantangan dan peluang yang ada. Nillai-nilai dasar yang disepakati SIM UNS adalah belajar, berkarya dan mengabdi.

BBM (Belajar, Berkarya dan Mengabdi) akan menjadi prinsip dasar dalam pembentukan struktur organisasi, kultur kegiatan, program kerja hingga jobdesk kepanitiaan. Hingga kini untuk menginternalisasikan ketiga ranah tersebut, SIM UNS memiliki 3 kelompok studi (KS Kepenulisan, KS Riset dan Teknologi serta KS Community Development) dan 2 club (klub enterpreneurship serta klub Informasi dan Teknologi). Bentuk organisasi yang kaku dengan sistem departemenisasi diubah menjadi kelompok-kelompok pengembangan kompetensi yang dinamis. Kami meyakini, dengan sistem ini mahasiswa akan terbiasa untuk berpikir kritis dan visioner mengembangkan komunitasnya.

Sebagai UKM yang bergerak di bidang penalaran dan penelitian mahasiswa, maka ada beberapa peran dan fungsi pokok SIM UNS yang harus dijalankan, yaitu:

  1. Wadah pengembangan potensi penalaran dan penelitian interdisipliner.

Salah satu keuntungan SIM UNS adalah lingkup keanggotaannya yang mencapai 9 fakultas hingga kemudian mampu menghadirkan suasana beragam dalam setiap tema yang dihadirkan. Misalnya, dalam melihat kasus banjir di Bengawan Solo maka SIM UNS dapat melihatnya dari kaca mata kegagalan kebijakan pemerintah melalui anak Fakultas Hukum dan FISIP, menggagas pendidikan lingkungan melalui kolaborasi FKIP dan FMIPA, membuat alat pendeteksi banjir melalui Fakultas Teknik hingga melakukan penyuluhan dan rehabilitasi pasca banjir dengan kemampuan anak kedoketeran dan seni. Kolaborasi yang mengesankan dengan ditunjang supporting system yang dibentuk melalui kegiatan hibah, CSR dan jaringan organisasi

2.Akselerasi kompetensi keilmiahan anggota.

Mengembalikan hakikat mahasiswa sebagai kaum pembelajar dan fokus pada pengembangan kompetensi disiplin keilmuan dan menjadi jembatan solusi bagi masyarkat menjadi ciri lembaga keilmiahan. Akselerasi ini dapat dilakukan dengan melakukan pembinaan dan pelatihan rutin. Kegiatan ter-elite SIM adalah diskusi, bukan training kepenulisan yang selama ini menjadi idaman dan kultur keorganisasian. Ruang pembelajaran diwujudkan dalam bentuk project-project klub dan kelompok studi. Selain itu, program PKM, hibah KKN dan PMW menjadi modal dasar untuk digunakan sebagai sarana mencapai idealisme yang tertuangkan dalam proposal kegiatan

3.Aplikasi produk keilmiahan yang bermanfaat bagi keilmuan dan masyarakat.

Musim Realisasi Ilmu” menjadikan SIM sebagai laboratorium raksasa mengaplikasikan ilmu yang didapat di dalam kelas. Budaya mencoba dan insiatif melakukan kerja harus terus dipupuk karena SIM hanya dapat hidup jika anggotanya memiliki daya kreatifitas mengembangkan aspek keilmuannya. Contohnya, KS Ristek yang harus menghasilkan produk baru tiap minggu untuk dibelajarkan di KIR SMP dan SMA Al Firdaus serta keberanian KS Comdev dalam melakukan inisiasi pendidikan dan ekonomi masyarakat Dusun Tunggulrejo. Klub IT dan enterpreneurship yang harus terus berjaga membantu universitas untuk mengelola web kemahasiswaan dan mengelola UPU (Unit Pengembangan Usaha) dalam berbagai proyek

4.Menghasilkan karya dan prestasi yang relevan dengan renstra universitas.

Tidak dapat dipungkiri, kebutuhan terhadap prestasi kejuaraan di wilayah penalaran dan penelitian menjadikan SIM UNS dapat menjaga kredibilitasnya di depan birokrat dan mahasiswa sebagai kumpulan kaum intelek yang berorientasi pada prestasi. SIM UNS harus tetap berada pada track-nya sebagai penghasil medali dan mengangkat nama UNS baik di nasional maupun internasional. Branding prestasi ini akan menjadi tameng pembenaran terhadap setiap advokasi prestasi yang dilakukan SIM UNS. Pencitraan yang terbentuk, lahir secara alamiah melalui kultur belajar, berkarya dan mengabdi dalam bentuk prestasi hasil kerja.

 Model Kepemimpinan Mahasiswa: Posisi dan Peluang Kaum Intelektual

Dalam benak penulis, posisi mahasiswa bukanlah pengambil kebijakan dalam kancah perpolitikan, bukan pemilik investasi keuangan yang berdaya, juga bukan kaum hanya berdiam sebagai bagian dari elemen masyarakat umum. Bagi penulis, mahasiswa memiliki bargaining position dan posisi strategis sebagai jembatan penyambung lidah permasalahan masyarakat, memegang kunci komunikasi dengan perusahaan atau pengusaha melalui Corporate Social Responsibility (CSR) yang menganga untuk dimaksimalkan demi kepentingan masyarakat luas, mahasiswa juga merupakan kaum netral yang akan berkata benar itu benar dan salah itu salah melalui perannya sebagai kontrol kebijakan pemerintah melalui kacamata kejujuran nan bersih.

Mahasiswa harus membayar tuntas kepercayaan pemerintah dan rakyat yang telah memberikan subsidi pendidikan yang tidak sedikit. Wilayah kepemimpinan mahasiswa adalah wilayah solusi dan kontribusi, bukan sekadar penuntut tak henti yang bertambah sombong dengan silat lidah tak bermakna. Aksi nyata yang berporos pada pemikiran jernih mandiri akan menjaga idealisme mahasiswa untuk menjadi jembatan tiga elemen lainnya, yaitu pemerintah, masyarakat dan pengusaha. Peran lembaga keilmiahan amat besar untuk melakukan riset-riset pemerintahan dan perusahaan.

Kami meyakini bangsa Indonesia akan hidup seiring dengan banyak terlahirkannya kaum intelektual yang terididik dan bermoral. Suatu saat, kami memimpikan SIM sebagai perusahaan aktivis sosial yang berani bergerak di tengah masyarakat, mengembangkan potensi lokal sumber daya alam dengan kearifan lokal penduduk aslinya. Inovasi dan pendekatan modern menjadi senjata untuk meraih hati masyarakat guna memberikan tambahan nilai guna pada produk dan sistem yang ditawarkan.

Profil seorang SIM’ers harus terus diupayakan agar para punggawa SIM tidak hanya berdiam di bawah ketiak pencitraan. Mereka harus lahir sebagai seorang yang utuh dan mandiri, “ Kalian adalah SIM, SIM adalah kalian. Bagaimanapun wajah SIM, kalianlah yang membentuknya. Baik buruknya SIM kalianlah yang menentukannya.”  Dari sini, kepercayaan berawal dan kemandirian bergerak akan dijaga dalam frame nilai-nilai dasar yang telah disepakati, hingga diharapkan mampu menghasilkan profil SIM’ers sejati, yaitu:

  1. Memiliki daya kritis analitis, jujur dan memiliki integritas.

Memperoleh input dari wilayah nyata dan virtual menjadikan mahasiswa kaya terhadap informasi positif. Model solusi permasalahan tersebar luas diantara alamat-alamat web dan social media di internet. Daya analitis mahasiswa akan terasah dengan keberanian mempertahankan idealismenya dalam menjalankan BBM (Belajar, Berkarya dan Mengabdi) sebagai sebuah cara berpikir seorang SIM’ers. Rakyat yang menjerit di sekitar lingkungannya akan ditangkap sebagai referensi tantangan guna meningkatkan kapasitasnya sebagai pribadi yang memiliki integritas

2.Memiliki kepekaan sosial dan bertindak secara sistematis.

Perbedaan mencolok seorang kaum intelektual adalah pikirannya yang terbiasa ter-planing dengan baik dan sistematis. Langkah demi langkah sudah tergambarkan agar setiap tidakan tetap terararh pada goal setting sebuah perencanaan. Referensi tokoh dan aktivis yang memiliki kesamaan visi menjadi jaminan keberhasilan tindakan yang akan dilakukan di masyarakat. Tentu saja, ikhtiar yang tiada henti menjadi kunci sukses tak terbantahkan dalam setiap perubahan sosial yang hendak dilakukan.

3.Memiliki keberanian bertindak revolusioner dalam kerangka kerja yang efisien.

Memiliki status ganda, sebagai mahasiswa dan aktivis sosial menuntut kerja efisien dalam bertindak. Manajemen waktu yang dipadu dengan kerja tim yang solid bersinergi membawa misi sosial yang revolusioner menuju keberhasilan nyata di masyarakat. Etos kerja akan menjadi hasil yang dapat dirasakan mahasiswa sebagai pelaku utama, karena sesungguhnya dia sendirilah yang akan memperoleh manfaat terbanyak dalam kemauannnya untuk bertindak secara nyata.

4.Memiliki komunikasi sosial yang baik dan aspiratif.

Kemampuan membina komunikasi dan membangun relasi amat penting untuk menyalurkan niat baik seorang mahasiswa. Tidak dapat disangkal, mahasiswa adalah pendatang dalam kehidupan sosisl masyarakat sehingga memerlukan laku yang apik dalam membawa proyek kemasyarakatan. Membangun dari bawah (bottom up) dan bergerak bersama masyarakat menjadi kunci agar perubahan tidak terjadi karena dipaksakan untuk dilakukan.

Terakhir, dalam upaya membawa amanat anggota dalam mengawal akselerasi kereta dakwah ilmi, penulis meyakini bahwa setiap zaman memiliki permasalahannya masing-masing yang akan membuat kereta ini semakin matang dalam bergerak. Bahan bakar semangat akan terus dipompa menghasilkan tenaga belajar, berkarya dan mengabdi ditengah godaan pragmatisme di sepanjang rela perjalanan kereta. Capaian-capaian di setiap stasiun tidak akan melenakkan kereta agar tetap melaju lurus membawa impian-impian penumpang yang tersambung sebagai gerbong-gerbong penyusun kereta ilmi. Walau terkadang terowongan gelap harus dilewati, namun keyakinan terhadap tujuan baik akan membawa kecerahan di ujung terowongan guna membawa kereta menuju stasiun akhir yang tak jelas akhir ceritanya. (Oleh: Dwi Prasetyo)