*Erny Ratnawati

 

Masyarakat sudah begitu jengah dengan konflik bangsa yang kian hari kian runyam.  Gelombang kekalutan bangsa menyeruak dan menumbuhkan sikap  keapatisan masyarakat yang kian meninggi. Tiap hari tontonan televisi hanya beraromakan berita kerusakan moral yang tiada habisnya. Ditambah dengan aksi yang meprihatinkan dari para pemikul amanat rakyat yang semakin tidak amanah dengan jabatannya. Rakyat sudah sangat lelah. Kepada siapa lagi rakyat akan berharap adanya titik cahaya perubahan??? MAHASISWA lah jawabannya.

Kata Mahasiswa dibentuk dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”. Maha berarti besar atau agung, sedangkan siswa berarti orang yang sedang belajar. Kombinasi dua kata ini menunjuk pada suatu kelebihan tertentu bagi penyandangnya. Di dalam PP No. 30 Tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu (Bab I ps.1 [6]), yaitu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan / atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. (Bab II ps. 1 [1]). Dengan demikian, mahasiswa adalah anggota dari suatu masyarakat tertentu yang merupakan “elit” intelektual dengan tanggung-jawab terhadap ilmu dan masyarakat yang melekat pada dirinya, sesuai dengan “tridarma” lembaga tempat ia bernaung

Sejenak menilik sebentar ke belakang, realita berbicara bahwa mahasiswa secara historis telah mencatatkan kaki dalam sejarah perubahan, menjadi garda terdepan, dan motor penggerak perubahan. Sejarah pergerakan Indonesia membuktikan mahasiswa kedokteran Sekolah Dokter Jawa, School Taf OpleidingVan Indische Arsten (Stovia) membentuk Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, dan merupakan salah satu cikal bakal alat perjuangan merebut kemerdekaan dengan cara pengorganisasian secara modern. Lahirnya Boedi Oetomo kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sang Proklamator kita, Sukarno juga seorang mahasiswa yang tangguh, cerdas dan ulet (baca: pledoi Soekarno ”Indonesiamenggugat” setelah keluar dari penjara Sukamiskin dalam usia 20 tahun).  Mahasiswa memiliki peran penting sebagai motor penggerak jatuhnya orde lama, kemudian dikenal dengan nama Angkatan 1966 dan meninggalkan tokoh fenomenal: Soe Hok Gie yang menulis buku ”Catatan Seorang Demonstran”, yang menjadi bacaan wajib bagi aktivitis tahun 1980 – 1990-an. Bola panas gerakan mahasiswa membawa korban lagi dengan jatuhnya Orde Baru, Mei 1998 yang melahirkan reformasi. Tak ayal kemudian, komunitas mahasiswa dikenal dengan jiwa militannya dan pengorbanan yang tak kenal lelah mempertahankan idealismenya, yang lebih substansial lagi, mahasiswa mampu berada sedikit di atas kelas masyarakat karena dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya

Oleh karena itu, mahasiswa memiliki potensi dan kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan harapan masyarakat dengan ide-ide segar dan pemikiran konstruktif mahasiswa, pembelajaran mereka menuju kedewasaan, dan sikap positif yang selalu mereka hadirkan. Simbol kemahasiswaan yang melekat pada dirinya akan membawa ciri khas tersendiri untuk tampil di tengah-tengah masyarakat. Hal ini terjadi karena dalam diri mahasiswa akan dilekatkan berbagai stigma. Mahasiswa yang kehidupan sehari-harinya berkutat pada lingkungan kampus perguruan tinggi bukan semata-mata membawa amanah dan misi individualis, akan tetapi lebih dari itu mahasiswa menjadi tumpuan harapan berjuta-juta orang diluar dirinya.

Tak mengherankan jika benar di dalam benak dan cita-cita masyarakat, mahasiswa adalah solusi. Solusi bagi keadaan masyarakat yang semakin kebingungan dengan begitu banyak permasalahan bangsa yang menerpa. Atau paling tidak, mahasiswa menjadi orang pertama yang menggerakkan untuk segera menyelesaikan permasalahan. Oleh karena itu, benarlah kiranya mahasiswa sebagai kaum intelektual muda sudah demikian ditunggu kiprahnya di masyarakat. Harapan  200 juta rakyat negeri ini bertumpu di bahu para insan intelektual muda itu. Harapan akan terciptanya tatanan masyrakat yang sejahtera dan bangsa yang berdaulat dan bermartabat, dan munculnya gerakan perbaikan yang menghalau bangsa keluar dari roda pelik kerunyaman masalah  yang seolah kunjung tiada habisnya

Lewat solusi- solusi yang ditawarkan, mahasiswa diharapkan mampu berkiprah menjadi  agen perubahan yang sebenarnya. Tidak hanya sekedar symbol dan label belaka. Selain itu, dipundak mereka juga disematkan sebuah asa untuk menjadi agen solusi perbaikan. Secara moralitas, masyarakat memandang mahasiswa adalah sosok yang mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka mempunyai latar belakang sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati.  Sebuah kejujuran dan kejernihan itulah yang ditunggu bangsa ini untuk melahirkan gelora para Sukarno  muda  di jamannya. Berani menyuarakan kritis untuk perbaikan dan gagasan untuk perubahan.

Hal inilah yang kemudian menempatkan mahasiswa dalam kerangka Piramida Maslow dalam posisi yang ideal dimana mahasiswa tersebut menjadi penjembatan atas aspirasi dari kaum akar rumput (masyarakat bawah) dengan penentu kebijakan yaitu kaum elitis.  Oleh karena itu, jelas bahwa keberadaan mahasiswa di sebuah perguruan tinggi mengemban tanggung jawab sosial dari masyarakat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah peran dan seperti apa yang harus diemban oleh mahasiswa ?  Berikut segelintir penjabaran peran yang selayaknya dapat dimafhumi dan terinternalisasikan  dalam diri setiap mahasiswa;

Problem Solver

Mahasiswa adalah sebuah komunitas intelektual. Seorang intelektual adalah sekelompok orang yang merasa terpanggil  memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, dan merumuskannya dalam bahasa yang bisa dipahami mereka, juga menawarkan strategi dan alternatif  pemecahan masalah.

Maka dari itu, mahasiwa dipahami harus mampu menjadi lilin dalam kegelapan bangsa. Tidak hanya menjadi penyalah atau pelempar kambing hitam permasalahan. Melakukan koar koar protes dan aksi tanpa membuahkan solusi akan membuat suara menjadi tumpul belaka. Oleh karena itu menjadi  Problem solver atas masalah masalah yang terjadi di masyarakat bagi mahasiswa adalah sebuah kensiscayaan. Ketika kondisi bangsa ini sekarang sedang carut marut. Banyak sekali permasalahan bangsa yang ada, mulai dari korupsi, kriminalitas, pelanggaran HAM, ketidakadilan, dan lain sebagainya, bangsa yang tengah sakit ini membutuhkan para agen agen solutif. Mahasiswa yang mempunyai idealisme sudah seharusnya berpikir dan bertindak bagaimana untuk menjadi bagian dari solusi.  Meramu langkah bijak solusi tak melululu dengan cara anarki. Dengan gemilang pemikiranya, banyak cara yang mampu dilakukan mahasiswa untuk melangkah lebih baik dan solutif.

Agent of Information

 Mahasiswa sebagai kaum yang lebih relatif tercerahkan (well informed) dan berpotensi sebagai kelompok dinamis, diharapkan mampu mempengaruhi atau menjadi penyuluh pada basis mayarakat baik dalam lingkup kecil maupun secara luas. Dengan tataran ideal seperti itu mahasiswa dapat mengambil peran kemasyrakatan yang lebih bermakna  sebagai corong penyuluh dan agen informasi bagi  masyarakat

Inisiator of change

Sekedar menjadi agen perubahan saja belumlah cukup, secara substansial, perubahan merupakan harga mutlak, setiap kebudayaan dan kondisi pasti mengalami perubahan walaupun keadaanya tetap diam –sudah menjadi hukum alam. Sejarah telah membuktikan, bahwa perubahan besar terjadi di tangan generasi muda mulai dari zaman nabi, kolonialisme, reformasi, dan lain sebagainya. Maka dari itu, mahasiswa dituntut bukan hanya menjadi agen perubahan saja, melainkan menjadi inisiatir atau pencetus perubahan itu sendiri yang tentunya ke arah yang lebih baik.

Social control

Peran mahasiswa sebagai kontrol sosial terjadi ketika ada yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintah. Mahasiswa dengan gagasan dan ilmu yang dimilikinya memiliki peranan menjaga dan memperbaiki nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Mahasiswa memiliki peran sosial, peran yang menjaga dan memperbaiki apa yang salah dalam masyarakat.

Mahasiswa yang notabene sebagai anak rakyat harus bertindak dengan ilmu dan kelebihan yang dimilikinya. Lalu bagaimana cara agar mahasiswa dapat berperan sebagai kontrol sosial? Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa sosial yang peduli pada keadaan rakyat yang mengalami penderitaan, ketidakadilan, dan ketertindasan. Kontrol sosial dapat dilakukan ketika pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang merugikan rakyat, maka dari itu mahasiswa bergerak sebagai perwujudan kepedulian terhadap rakyat

Control Power

Posisi seorang mahasiswa sebagai jembatan antara aspirasi masyrakat dan pemimpin sangat strategis untuk dimanfaatkan, dimana mahasiswa mempunyai peluang untuk menjadi salah satu control power terhadap kebijakan-kebijakan kaum elitis dalam memberikan respon terhadap aspirasi masyarakat awam. Sangat dipahami bahwa terkadang kebijakan elitis yang lahir tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Terhadap fenomena ini, mahasiwa harus muncul sebagai penjembatan dan berfungsi sebagai social control (Kontrol sosial), Agent Of Change (Insan Pembaharu/perubahan), dan Change Of Development.  Perlu diingat bahwa tanggungjawab sosial mahasiswa dalam mengontrol berbagai kebijakan elitis bukan hanya pada aspek politis, akan tetapi lebih dari itu mahasiswa harus mampu mengakomodir dan memberikan respon secara general terhadap keseluruhan peraturan dalam berbagai aspek kehidupan

Moral force

Moral force atau kekuatan moral adalah fungsi yang utama dalam peran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lalu mengapa harus moral force? Mahasiswa dalam kehidupannya dituntut untuk dapat memberikan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat. Hal ini menjadi beralasan karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat sebagai kaum terpelajar yang memiliki keberuntungan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Peran moral force sangat dibutuhkan bagi mahasiswa Indonesia yang secara garis besar memiliki goal menjadikan negara dan bangsa ini lebih baik.

Iron Stock

Peranan mahasiswa yang tak kalah penting adalah iron stock atau mahasiswa dengan ketangguhan idealismenya akan menjadi pengganti generasi-generasi sebelumny, tentu dengan kemampuan dan akhlak mulia. Dapat dikatakan, bahwa mahasiswa adalah aset, cadangan, dan harapan bangsa masa depan. Peran organisasi kampus tentu mempengaruhi kualitas mahasiswa, kaderasasi yang baik dan penanaman nilai yang baik tentu akan meningkatkan kualitas mahasiswa yang menjadi calon pemimpin masa depan. Pasti timbul pertanyaan, bagaimana cara mempersiapkan mahasiswa agar menjadi calon pemimpin yang siap pakai? Tentu jawabannya adalah dengan memperkaya pengetahuan yang ada terhadap masyarakatnya. Selain itu, mempelajari berbagai kesalahan yang ada pada generasi sebelumnya juga diperlukan sehingga menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan diri.

 

Starting point Social Responsibility Mahasiswa di masyarakat

Bangsa ini tengah menanti  solusi- solusi dan gagasan brilian dari anak bangsanya. Sebagai kaum yang bercover highly educated dan dianggap memiliki daya nalar kekritisan yang  tinggi tentu mahasiswa memiliki bargaining power yang cukup kuat untuk menyumbangkan pemikiran yang rekonstruktif untuk kemajuan bangsa sekaligus dan solutif terhadap permasalahan seputar bangsa. Oleh karena itu menilik sederet peran diatas, kita mampu menyarikan bahwa sesegera mungkin kesadaran dalam tiap personal mahasiswa untuk memiliki PSR  (Personal Social Responsibility) di masyarakat. Kesadaran yang muncul dari hati yang tulus dan diiringi dengan kerja yang ikhlas. Mahasiswa yang masih dengan idealismenya , namun juga bijak menyikapi realita. Tetap dengan cita gagasan yang melangit, namun juga berpijak dengan arif di bumi. Oleh karena itu berikut beberapa hal yang  menjadi  starting point sebagai buah pertimbangan dan arahan untuk memulai dan mengaplikasikan tanggung jawab sosal mahasiswa ke kancah masyarakat

MENGGUGAH KESADARAN AKAN TANGGUNG JAWAB

Dalam mengembangkan perannya di masyarakat, mahasiswa sudah selayaknya menjiwai ruhnya dalam frame tanggung jawabnya secara nyata. Salah satunya adalah memperdalam dan mengembangkan diri di dalam pembidangan keilmuan yang ditekuninya sehingga dapat memiliki kemampuan untuk memikul tanggung jawab intelektualnya. Selain itu, mahasiswa juga bertanggung jawab menjadi jembatan antara dunia teoritis dan dunia empiris dalam arti pemetaan dan pemecahan masalah-masalah kehidupan sesuai dengan bidangnya, menjadi kontrol terhadap perubahan sosial yang sedang dan akan berlangsung serta dinamisator perubahan masyarakat menuju perkembangan yang lebih baik. (agen perubahan) dan sederet frame tanggung jawab vital lainnya.

MENGASAH KEMAMPUAN REFLEKTIF                       

Selain hal termaktub diatas, mahasiswa perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan pembelajaran menjadi sangat penting untuk ditekuni oleh mahasiswa. Mengenali karakter dan kebutuhan masyarakat sebagai bahan untuk mampu memberikan hal yang kontributif dan tepat guna bagi masyrakat. Banyaknya penolakan masyrakat atas upaya aksi mahasiswa, terkadang bukan karena ketidaklayakan tawaran, namun tersering karena adanya mismatching antara semangat mahasiswa yang menggebu dengan pemahaman dan keberterimaan masyarakat, sehingga mereka menjadi tidak bertemu padu. Kemampuan berfikir kritis diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab masalah untuk menemukan solusi dan menentukan pilihan untuk perubahan. Kegiatan dapat berjalan apabila analisis antara mahasiswa dengan masyarakat, saling bersinergi.

MEMBANGUN KEBIASAAN BERTINDAK

Di samping kemampuan reflektif, mahasiswa juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata di masyarakat. Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” seperti kebiasaan banyak kaum intelektual dan politikus amatir negara miskin. Mahasiswa perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata

MELATIH KEMAMPUAN KERJA TEKNIS

Hal lain yang juga perlu dikembangkan menjadi kebiasaan di kalangan mahasiswa kita ialah kemampuan untuk bekerja teknis, detil atau rinci. “The devil is in the detail”, bukan semata-mata dalam tataran konseptual yang bersifat umum dan sangat abstrak. Pidato-pidato, ceramah-ceramah, perdebatan-perdebatan di ruang-ruang publik biasanya diisi oleh berbagai wacana yang sangat umum, abtrask dan serba enak didengar dan indah dipandang. Akan tetapi, semua konsep-konsep yang bersifat umum dan abstrak itu baru bermakna dalam arti yang sebenarnya, jika ia dioperasionalkan dalam bentuk-bentuk kegiatan yang rinci. Jika semua  mahasiswa kita terjebak dalam pandai berwacana, tetapi tidak mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, ketrampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh sulit untuk merealisasikan gagasan kita ke masyarakat sehingga perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan juga semakin jauh panggang dari api.

Dan pada akhirnya, sebagai penutup penulis menegaskan kembali bahwa mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas kita adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita, dan salah satunya diwujudkan melaui   menebar benih kontribusi perbaikan di masyarakat. Sebagai ujung tombak kemajuan, derap mahasiswa berkancah di masyarakat akan senantiasa dibutuhkan dari masa ke masa. Mahasiswa tetap ditunggu tunggu dan diharap harap menjadi pahlawan dari kaum intelek muda yang mau dan mampu bekerja demi kemaslahatan dan perbaikan masyarakat. Harapan itu tetap ada dan tersisa di hati masyarakat baik sekarang, besok dan selamanya.