By : ERNY RATNAWATI (Baktinusa ETOS UNS)

Allah SWT menyatakan, ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulallah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

(QS. Al-Ahdzab:21).


John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, lantang mengatakan bahwa Muhammad SAW adalah seorang Nabi dan Rasul Allah yang telah membangkitkan salah satu peradaban besar di dunia. Michael Hart seorang penulis non muslim  dengan bukunya “The Most Influence People In The World” dengan sangat objektif menuliskan nama Muhammad SAW di urutan pertama tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah dunia. Demikian kutipan Michael Hart

“ Muhamad adalah satu satunya pemimpin dunia yang sukses sebagai personal, negarawan sekaligus pemimpin spiritual yang agung. Hal itu yang membuat pilihan pertama sangat layak jatuh kepadanya” ‘’Ia  satu-satunya orang yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dalam hal agama maupun duniawi,’’ ujar Hart.  Muhammad SAW tak hanya dikenal sebagai pemimpin umat Islam, beliau juga dikenal sebagai seorang negarawan teragung, hakim teradil, pedagang terjujur, pemimpin militer terhebat dan pejuang kemanusiaan tergigih.

Rasulullah SAW terbukti telah mampu memimpin sebuah bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa yang maju yang bahkan sanggup menggalahkan bangsa-bangsa lain di dunia pada masa itu. Afzalur Rahman dalam Ensiklopedi Muhammad Sebagai Negarawan, mengungkapkan, dalam tempo kurang lebih satu dekade, Muhammad SAW berhasil meraih berbagai prestasi yang tak mampu disamai pemimpin negara mana pun.

Nabi Muhammad adalah super leader. Beliau seorang pemimpin negara yang spektakuler yang bisa membangun sebuah tatanegara yang adil. Beliau juga seorang pemimpin agama yang mengagumkan. Rosulullah SAW bisa menggabungkan dua kepemimpinan dalam satu tubuh. Pemimpin agama dan pemimpin dunia. Teladan kepemimpinan sejati memang sesungguhnya terdapat pada diri Rasulullah SAW karena beliau adalah pemimpin yang holistic, accepted, dan proven. Holistic karena beliau adalah pemimpin yang mampu mengembangkan leadership dalam berbagai bidang termasuk di antaranya: self development, bisnis, dan entrepeneurship, kehidupan rumah tangga yang harmonis, tatanan masyarakat yang akur, sistem politik yang bermartabat, sistem pendidikan yang bermoral dan mencerahkan, sistem hukum yang berkeadilan, dan strategi pertahanan yang jitu serta memastikan keamanan dan perlindungan warga negara. Kepemimpinannya accepted karena diakui lebih dari 1,3 milyar manusia. Kepemimpinannya proven karena sudah terbukti sejak lebih 14 abad yang lalu hingga hari ini masih relevan diterapkan.
Muhammad SAW adalah manusia dengan seluruh sifat kemanusiaannya. Sebagai seorang pemimpin beliau berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah di hadapan hukum, memperoleh kemenangan dan kekuasaan, serta merasakan kekalahan dan kesedihan. Tubuhnya tidak terdiri dari besi tetapi daging dan tulang biasa. Kulitnya pernah robek, pelipisnya pernah terluka parah dan 2 giginya tanggal terkena pukulan di Perang Uhud.

Muhammad SAW adalah manusia yang luar biasa namun bukan tidak mungkin untuk diteladani dan diikuti jejak-jejak kesuksesannya yang multidimensi. Salah seorang guru leadership menyatakan bahwa kepemimpinan yang baik memberikan inspirasi. Itulah yang membedakan pemimpin dengan yang bukan.

Menyemai Nilai, Melahirkan Bibit Negarawan Brilian

Sekedar menilik sejarah perjuangan bangsa Indonesia, pemuda kita sejatinya selalu menempati peran yang sangat strategis dari setiap peristiwa penting yang terjadi. Bahkan dapat dikatakan bahwa pemuda menjadi tulang punggung dari keutuhan perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Jepang ketika itu. Peran tersebut juga tetap disandang oleh pemuda Indonesia hingga kini; selain sebagai pengontrol independen terhadap segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan penguasa, pemuda Indonesia juga secara aktif melakukan kritik, hingga mengganti pemerintahan apabila pemerintahan tersebut tidak lagi berpihak ke masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada kasus jatuhnya Pemerintahan Soekarno oleh gerakan pemuda, yang tergabung dalam kesatuan-kesatuan aksi mahasiswa dan pemuda tahun 1966. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemuda dalam menumbangkan pemerintahan Soeharto 32 tahun kemudian. Peran yang disandang pemuda Indonesia sebagai agen perubahan (Agent of Change) dan agen kontrol social (Agent of Social Control) hingga saat ini masih sangat efektif dalam memposisikan peran pemuda Indonesia

Dalam kehidupan bernegara harapan kepada para pemuda sangatlah besar. Karena mereka adalah para penerus yang akan melanjutkan jalannnya kehidupan generasi tua dalam bernegara. Memutar terus roda perjalanan bangsa ini dalam rangka me-reform Indonesia memerlukan kualitas prima dari gebrakan ide dan semangat. Sedangkan syarat seperti ini hanya muncul dari pemimpin yang energik. Pemimpin yang energik tidak akan pernah muncul tanpa adanya ruang kesempatan yang panjang dan luas yang diberikan kepada tokoh muda.

Mencoba mengkorelasikan dengan apa yang telah dilakukan nabi, berbagai misi kenegaraan dipercayakan Rasulallah kepada para sahabatnya  yang masih muda seperti misi ke Habasyah, Yaman, Persia dan Rumawi.  Muncullah sosok-sosok sahabat seperti Abu Dzar Al-Ghifari, Mu’adz bin Jabal, Salman al-Farisi dan Amr bin Ash. Dalam usia yang relatif muda, mereka sudah memimpin berbagai ekspedisi kenegaraan dan berbagai pertempuran penting.

            Dalam konteks modernitas, Sosok Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran, Hugo Cavez sebagai presiden Venezuela, Evo Morales sebagai Presiden Bolivia, Dmitry Anatolyevich Medvedev di Rusia dan Barack Obama di Amerik merepresentasikan apresiasi publik terhadap lahirnya para negarawan muda. DR. Yusuf Qordhowi pun menuliskan di bukuinya Min Fiqh Daulah Fi Al-Islam tentang tiga jalan (sarana) dalam beramar ma’ruf nahi munkar dalam pemerintahan. Yaitu lewat senjata, majlis perwakilan rakyat, dan demonstrasi. Jika ketiga tidak dapat membendung kemunkaran dalam suatu pememrintahan, maka hendaklah mendidik generasi muda agar dapat menlanjutkan estafeta amar ma’ruf nahi munkar. Sejatinya perubahan dan gebrakan akan tertemukan dalam ruang momentum dan kesempatan yang datang dalam usia yang masih muda. Masalah-masalah bangsa yang ada saat ini perlu penanganan cepat, cerdas dan enerjik. Dan ini hanya dimiliki orang-orang muda. Fajroel Rachman mengatakan, wacana untuk memberi kesempatan bagi tokoh muda dalam suksesi kepemimpinan Indonesia sangat realistis. Katanya, saat ini era generasi muda memimpin bangsa sudah menjadi keniscayaan. Dengan adanya pemimpinan muda di Indonesia diharapkan akan ada perubahan yang signifikan. Sebab bangsa ini, butuh orang muda yang memiliki pemikiran progresif.

Pramudya Ananta Toer mengatakan bahwa pemuda bukan hanya sekedar umur, tapi juga Gagasan, yakni Progresif, Radikal & Militansi yang kuat, sehingga ia mampu menjadi motor serta lokomotif dari perubahan yang akan diusung. Jiwa muda bukan diukur dari kokohnya otot-otot kulit sang perawan dan perjaka. Tapi, tolak ukur jiwa muda adalah seberapa besar semangat juangnya untuk menepis kelemahan dan kemalasan. Seberapa kuat komitmennya untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan karya itu. Semangat juang dan komitmen untuk terus berkarya itulah yang harus dipupuk oleh seorang yang mengaku pemuda Indonesia, sebagai bentuk persembahan terbaik untuk membangun bangsa dan negaranya. Harapan atas kepemimpinan kaum muda, tentu saja tak lepas dari angin perubahan yang ingin segera terwujud. Bangsa kita sudah lelah dengan sepak terjang para elit-elit politik yang kurang amanah.

Seorang pemuda mukmin dalam perspektif Al Qur’an digambarkan sebagai manusia yang dinamis, progresif dan produktif. Dia senantiasa memiliki daya juang dan daya dobrak dalam menebarkan nilai-nilai kebenaran yang telah diyakininya. Begitu juga memiliki prinsip istiqomah dalam amanah yang telah dipikulnya. Bekerja adalah budayanya, berkorban adalah nalurinya dan fitrahnya adalah keberanian. Selalu tegar dan tidak pernah gentar dalam menebarkan nilai kebenaran dan kebaikan. Beramal dan bergerak juga merupakan indikator kebaikan hidup bagi seorang pemuda islam. Karena semua yang bergerak dan beramal akan mendatangkan kemashlahatan dan kebaikan. Oleh karen itu tak naïf bila para pemimpin muda digadang gadang menjadi fondasi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia. Umat Islam Indonesia memang besar secara kuantitas tapi kenyataannya pemimpin muda di dunia Islam masih membutuhkan injeksi dalam mewujudkan fondasi kemajuan itu. Injeksi itu antara lain melalui pendidikan dan pola kepemimpinan. Untuk itu, sejenak menanggapi wacana kepemimpinan muda yang mengusung para negarawan muda berkiprah, selayakanya kaum pemuda yang ingin berhasil dalam menjayakan peran strategisnya dalam kepemimpinan nasional maka harus mencontoh dan belajar gerakan kepemimpinan Rasul berdasarkan leadership value dalam kepemimpinan kenabian (prophetic leadership). Rasulullah SAW adalah sebagai teladan (uswah hasanah) bagi kita semua. Oleh karena itu mengikuti sunnah Nabi berarti mencontoh akhlak mulia Nabi, yang dimanifestasikan dalam sifat-sifat Rasulullah SAW, Siddiq, Tablig, Amanah dan Fathonah. Sifat-sifat Rasulullah ini sangat relevan untuk diimplementasikan pada setiap jenjang pemimpin  di semua level dimana kita berada. Model kepemimpinan Rasulullah SAW yang mengutamakan nilai-nilai akhlak mulia (Akhlakul Karimah) pada setiap pergaulan dalam kehidupan bermasyrakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam value prophetic leadership yang lain, Rosululullah memberikan teladan kepemimpinan sebagai khodimul ummah atau pelayan umat. Dalam salah satu sabdanya, Rosululullah menyatakan bahwa pemimpin suatu kelompok adalah pelayan pada kelompok tersebut, sehingga sebagai seorang pemimpin hendaklah dapat, mampu dan mau melayani serta menolong orang lain dan maju dengan iklas. Integritas termasuk pula dalam tiang jejak kepemimpian kenabian. Kepemimpinan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah kepemimpinan dimana seorang pemimpin tidak hanya berbicara, akan tetapi juga mampu memberikan teladan bagi yang di pimpinnya, keteladanan lebih bermakna dari pada banyaknya nasihat.

Negarawan muda selayaknya meneladani Rosul dalam memiliki visi besar dan cerdas dalam mendisseminasi visi tersebut. Dan visi besar tersebut mampu merubah cara pandang masyarakat. Karena sebagaimana kata Prof Jalaluddin Rahmat mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalautidak ada visi besar. Rosululullah mengawal kejayaan misi tauhidnya 23 tahun dalam periode Mekkah dan Madina. Dalam mengemban misi ketauhidan tentu bukan hal yang mudah bagi seorang Muhammad. Berdamai dengan bangsa jahiliyah dengan ajaran tauhid yang dibawanya saat itu bak menapak diatas duri. Hingga pada akhirnya kemenangan di tangan kaum muslimin dengan detik kemenangan yang mendebarkan dan mengagumkan. Saksi sebuah kisah revolusioner kejayaan umat Islam dibawah bendera Muhammad dengan ajaran tauhidnya. Sebuah penaklukan yang sungguh belum ada yang menyamainya bahkan sampai sekarang. Fathul Makkah, kisah monumental ini membuat decak kagum yang luar biasa sepanjang zaman. Nilai tersebut mengajarkan Rosulullah dengan visi visi besarnya untuk menegakkan sebuah daulah islami, hingga kemudian berapa abad kemudian Islam menjadi sebuah kekuasaaan di lebih dari sepertiga dunia,

Prophetic leadership menginspirasi gaya kepemimpinan dengan gerakan yang  didedikasikan untuk mereka yang kurang beruntung. Seperti layakanya inspirasi dari kepemimpinan sang Nabi  yang dekat dengan rakyat kecil seperyi para sahabatnya Bilal, Salman, Syuaib, Zaid bin Haristah, Abdullah bin Mas’ud, dan Ammar bin Yasir. Al-Quran menyebut para pengikut Nabi tersebut dengan sebutan aradhil dan mustadafin (orang-orang yang lemah dan dieksploitasi). Hal tersebut menunjukkan gerakan kepemimpinan nabi adalah gerakan populis, pro rakyat kecil, bukan kepemimpinan yang merugikan masyarakat kebanyakan atau justru mencekik rakyat yang sekarang lebih banyak kita saksikan.

Namun, tidak hanya  berhenti disana, kualifikasi yang hendaknya di milki bagi calon negarawan muda islam selain meneladani jejak kepemimpinan sang Nabi yaitu; pertama memiliki kedalaman ilmu tentang agama yang akan menjadi penuntun dan pedoman penyelesaian segala permasalahan bangsa, kedua memberikan keteladanan moral di tengah – tengah kehidupan di sekitarnya dengan harapan akan menularkan kebaikan disekitarnya,ketiga memahami betul kondisi bangsa ini secara mendetail kekuatan, kelemahan, potensi dan ancaman sehingga dapat memberikan formulasi yang tepat sesuai dengan kondisi ke – Indonesiaan,keempat mampu menjadi perekat dan menyatukan berbagai elemen – elemen yang memiliki potensi dalam menyelesaikan permasalah bangsa ini karena untuk di tengah keterpurukan ini butuh kerja sama yang baik dalam menyelesaikan persoalan – persoalan yang dihadapi, sudah saatnya para pemuda islam bangkit, berdiri dan berjalan untuk membenahi diri dalam rangka menjadi kekuatan penopang utama bangsa ini dalam mengurai dan menyelesaikan persoalan bangsa ini.sudah saatnya lahir pemimpin – pemimpin muda yang akan menaikan martabat bangsa Indonesia

Dan selain itu, untuk itu mempersiapkan seorang calon negarawan muda muslim tidak hanya perlu diperbaharui dalam ruang lingkup personal saja. Tetapi juga akhlak dalam berpolitik sebagai bibit penopang keberhasilan dalam mengembalikan kembali keemasan umat Islam dari Indonesia. Sehingga kehidupan pada masa depan benar-benar manjadi zaman yang telah kita harapkan dari dulu. Yaitu zaman yang berkemajuan dan kuat dalam beriman. Dengan pemimpin pemimpin para negarawan muda yang berkualitas dalam ilmu pengetahuan dan kepemimpinan dan berlandaskan akhlak mulia.

Wawwllaahu’alam bbisshowwab