“Di balik kebangkitan sebuah bangsa pasti ada pemuda di belakangnya” (Imam Asy- Syahid Hasan Al-Banna)

Berbicara mengenai negara tercinta, maka kita akan berbicara sebuah permasalahan multidimensi, meliputi sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Satu jawaban  untuk mengatasi segala permasalahan tersebut ialah “pahlawan”. Pahlawan yang di maksud ialah pemuda harapan bangsa yang memiliki intektualitas tinggi, berdedikasi kepada bangsa, serta mempunyai integritas unggul. Melalui tulisan ini, penulis ingin menyuarakan ihwal peran pemuda dalam membangun negeri. Dalam tulisan ini, penulis banyak mengambil manfaat dari buku “Mencari Pahlawan Indonesia” karya Anis Matta, Lc.

mahasiswa

Siapkah pemuda itu? Sebuah jawaban yang mungkin muncul akan tertuju kepada salah satu golongan kaum intelektual, yakni mahasiswa. Mengapa mahasiswa? Tentu karena mahasiswa atau pemuda sejak dahulu terbukti menjadi agen perubahan di setiap masa. Mahasiswa atau pemuda adalah aset terbesar suatu bangsa. Keberadaan dan kontribusinya bagi bangsa adalah harapan di masa mendatang. Mereka memilki idealisme yang kuat dan kental. Dengan prinsip yprinsip tersebut, nilai-nilai luhur suatu bangsa bisa dijaga. Mereka akan bergerak melakukan perjuangan didasarkan pemahaman murni. Reformasi 1998 membuktikan peran para mahasiswa sebagai penggerak utama dalam meruntuhkan rezim Soeharto yang dinilai telah berkuasa secara diktator selama 32 tahun.

Bagaimana dengan pemuda atau mahasiswa masa kini? Apakah eksistensi sebagai kaum terdepan dalam menyumbangkan kontribusi untuk negara dan bangsa telah redup?

Peran Pemuda

Sebagian mahasiswa sekarang berfikir bahwa tugas mereka hanya belajar di ruang kelas atau mendengarkan dosen mengajar, lulus tepat waktu, mendapat IPK cumlaude, dan langsung mendapat kerja yang mapan. Apakah sede seorang sedemikian sempit makna mahasiswa? Dimana letak Tri Dharma perguruan tinggi yang salah satu di dalamnya terdapat frasa “pengabdian masyarakat” sedangkan mereka tidak berpikir dan bertindak untuk ligkungan sekitar yang dipenuhi krisis multi bidang?

Mengingat potensi yang sejatinya lekat dengan mahasiswa, maka tidak sepantasnya jika mereka hanya mementingkan kebutuhan pribadi dan acuh terhadap kontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Lalu, apa peran mahasiswa sebenarnya?

Mahasiswa Sebagai Iron Stock (Generasi Pengganti)

Generasi muda khususnya mahasiswa adalah generasi pengganti kaum tua. Diharapkan mereka menjadi manusia–manusia tangguh dengan kemampuan dan akhlak mulia nantinya. Ia merupakan aset, cadangan, dan harapan bangsa untuk bergerak maju.

Bagaimana peran sebagai iron stock ini berjalan? Jawabannya ialah dengan memperkaya diri akan beragam ilmu pengetahuan, baik dari bidang yang digeluti maupun bidang lain yang bermanfaat bagi masyarakat. Perlu juga mereka belajar dari sejarah para pendahulu banga.

Mahasiswa Sebagai Agent of Change (Generasi Pembaharu)

Kenapa harus ada perubahan? Pertama, karena kondisi bangsa saat ini, menurut penulis, jauh sekali dari kondisi ideal. Banyak sekali penyakit masyarakat yang menghinggapi bangsa mulai dari pejabat hingga tataran rakyat. Sudah seharusnyalah kita melakukan sesuatu terhadap hal ini. Kedua, karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak yang selalu akan terjadi. Bila kita diam, secara tidak sadar kita pun telah berkontribusi dalam melakukan perubahan. Tentu perubahan yang dimaksud ialah ke arah yang negatif.

Mengapa harus mahasiswa atau pemuda yang melakukan perubahan? Sederhananya ialah karena mereka tergolong orang-orang terpilih. Mereka adalah orang-orang yang dianugerahi banyak potensi . Potensi inilah yang menuntut adanya tanggung  jawab. Makin besar potensi yang dimiliki seseorang, makin besar pula tanggung jawab yang dimilikinya.

Kemudian, upaya perubahan tersebut harus dilakukan dengan metode yang tidak tergesa–gesa. Mesti dimulai dari ruang lingkup terkecil, yaitu diri sendiri. Lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan, yaitu bangsa ini.

Mahasiswa Sebagai Guardian Of Value (Generasi Penerus)

Guardian of value secara literal berarti penjaga nilai–nilai di masyarakat. Nilai yang harus di jaga adalah sesuatu yang bersifat benar, mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Nilai itu jelas bukan hasil dari pragmatisme. Nilai itu haruslah bersumber dari suatu zat yang Mahabenar dan Maha Mengetahui.

Selain nilai kebenaran ilahiyah tadi, ada pula satu nilai lain yang wajib dijaga, yakni nilai kebenaran ilmiah. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu–ilmu yang didapat, untuk selanjutnya diterapkan dan dijaga dalam sistem bermasyarakat.

Atas dasar beberapa peran  di atas, maka hal terpenting yang perlu disiapakan kaum muda khusunya mahasiswa agar mampu berkontribui ialah sebagai berikut:

  1. Kompetensi Imani
    Mahasiswa harus memahami hakikat hidup yang sesuai dengan agama yang kita anut. Etika dan moral pun tercakup di dalamnya. Kompetensi ini sering kita kenal dengan istilah spiritual quotient.

    Nilai – nilai spiritual ini lebih lanjut harus diterapkan dalam hidup keseharian. Pemahaman yang lurus, akhlak yang baik, ruhani yang bersih, ibadah yang benar, wawasaan yang baik, pandai menjaga waktu dan dana adalah bagian dari kompetensi imani seorang kaum muda.

  1.  Kompetensi Ilmi
    Kompetensi ini meliputi wawasan yang luas, kecerdasan intelektual dalam mempelajari bidang yang digeluti, kecerdasan emosional, serta semangat untuk selalu mencari ilmu di segala penjuru dunia.

  1. Kompetensi Skill atau Keterampilan
    Ketrampilan yang dimaksud meliputi keterampilan dasar dan keterampilan operasional. Ketrampilan dasar (basic life skill) yang biasanya dinamakan mega skills, seperti: confidence, motivation, effort, responsilibility, initiative, perseverance, caring, teamwork, common sence, dan problem solving. Adapun ketrampilan operasional contohnya ialah dasar – dasar manajemen dan keorganisasian, kepemimpinan, teknik komunikasi efektif, hingga kemampuan bahasa asing, dan komputer. Bisa juga berupa pengembangan jiwa entrepreneurship serta keterampilan pilihan sesuai dengan minat dan bakat.

  2. Kompetensi Sosial–Politik
    Sebagai calon pemimpin masa depan, perlu adanya kompetensi dalam mengawasi kebijakan pemerintah. Kepekaan dan jiwa sosial juga perlu menjadi dasar untuk terjun ke masyarakat. Tidak ketinggalan kesadaran politik pun mutlak diperlukan.

“Bukanlah pemuda yang mengatakan: ‘Inilah Ayahku.’ Sesungguhnya pemuda ialah mereka yang berkata: ‘Inilah Aku.’” (Ali Bin Abi Thalib)

Penulis : Febrian Indra Rukmana (mahasiswa UNS, aktivis KAMMI)

Sumber : www.eramadina.com