Ketika diterima di Bakti Nusa, training value yang kami terima pertama kali adalah tentang Trustworthy. Secara bahasa artinya sifat amanah dan tanggung jawab. Sebagai seorang penerima beasiswa aktivis, maka hal itu jelas menjadi salah satu pondasi kunci agar uang bulanan yang kami terima tidak berujung pada pesta makan-makan semata, apalagi nyasar pada pembelian produk-produk yang tidak penting.

Lebih dari itu, di training Trustworthy tersebut kami dikenalkan dengan istilah Probono Publico, sebuah dedikasi kompetensi kita untuk kepentingan sosial di sela-sela aktivitas kita. Karena fakir miskin dan orang-orang terlantar memiliki hak untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang yang memiliki kemampuan baik harta maupun kompetensi. Gampangnya, jika kita berprofesi guru, maka kita punya waktu khusus untuk mengajar tanpa minta bayaran. Jika kita dokter, maka kita punya program pengobatan gratis. Bisa tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, atau mungkin setahun sekali sebagai bentuk tanggung jawab sosial kita.

Konsep Probono Publico adalah hal yang sudah umum dilakukan kebanyakan pemimpin dunia. Bahkan hal itu menjadi salah satu indikator keterpilihan para pemimpin di banyak negara saat ini. Mereka secara transparan berbagi tentang kegiatan sosialnya sehingga menimbulkan daya tarik bagi masyarakat untuk mempercayakan pilihannya. Dan di negara yang sudah rapi administrasinya, probono dicatat sebagai sebuah aktivitas sosial yang dibuktikan dengan sertifikat di samping adanya bukti pelaksanaan aktivitas itu.

Bagaimana dengan negeri kita? Kalo kita tanya ke para pejabatnya, yah seribu satu mungkin. Bukannya tawadhu’ dengan tidak diperlihatkan ke mana-mana agar tidak ria, tetapi memang karena hal ini belum membudaya di kalangan kita. Apalagi di masa-masa demokrasi transaksional-pencitraan saat ini, di mana uang dan kapital adalah kunci yang diyakini banyak orang sebagai penentu kemenangan. Maka Probono Publico di mata kebanyakan para politisi saat ini adalah wacana yang mengarah pada omong kosong. Kosong sekali karena terlalu banyak bukti yang bisa kita lihat bersama-sama.

Maka di negeri kita, Probono Publico cenderung lebih digemari tokoh-tokoh non politis. Mereka lebih banyak mendedikasikan hidupnya untuk berkarya terus dalam dunia mereka sendiri dari pada larut dalam aktivitas politik yang memang kenyataannya hari ini sedang dalam kondisi yang kritis. Kondisi yang terpisah ini menjadi PR para generasi muda saat ini untuk mengintegrasikan kembali dalam kerangka kepemimpinan masa depan agar para pemimpin bangsa ini ke depan bukan pengobral janji dan penebar benih untuk pemiskinan berikutnya.

Konsep Probono Publico yang kompleks pun mulai dikembangkan dengan menggabungkan potensi para generasi muda yang masih mencintai aktivitas-aktivitas sosial untuk turut memberi solusi dalam pengentasan kemiskinan dan kebodohan. Mereka memberikan apa yang mereka mampu untuk mendukung pelaksanaan program-program yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah namun tengah diabaikan ini.

Menyimak konsep Probono Publico dari salah satu rekan seniorku di komunitas Pintu, beliau punya konsep cemerlang dalam mengatur waktu bekerjanya. Sebagai seorang konseptor acara, musisi, sekaligus perencana program televisi yang telah lama malang melintang di dunia seperti itu dirinya memiliki konsep yang unik. Jika bisa dalam sebulan itu 10 hari bekerja, 20 hari untuk aktivitas sosial. Ini bukan berarti 20 hari benar-benar tanpa kerja. Hanya saja prioritas kerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya terletak pada 10 hari setiap bulan. Sedangkan 20 hari lebih banyak memberikan konsultasi yang sifatnya sosial, baik dibayar atau pun tidak.

Bagaimana denganku? Ah aku harus malu karena hari ini belum bisa seperti itu. Aku terus berdoa agar Allah menjaga diriku dari mendewakan uang dan menjadikannya tujuan hidup. Kemerdekaan atasnya adalah kemenangan yang sejati karena uang akan datang di hadapan kita menjadi alat untuk membuat kita mampu berbuat lebih banyak bagi umat manusia.

Lupakan para politisi dan pejabat yang tidak punya jejak Probono Publico, biarkan mereka sadar atau kelak binasa dengan keserakahannya. Kita nikmati perjalanan hidup ini dalam jalan pengabdian dan kebersamaan.

Yuli Ardika Prihatama (www.zonaperubahan.com)