Oleh: Aviaddina Ramadhani

 

Jika kita melihat tokoh-tokoh dan sosok pemimpin yang bertebaran di Indonesia saat ini, siapakah yang akan kita jumpai? Seorang politikus atau seorang negarawan? Hampir seluruh pemangku jabatan memiliki latar belakang partai politik. Maka, secara tak langsung mereka disebut sebagai politikus. Tetapi apakah kita pasti melihat sosok seorang negarawan dalam diri politikus tersebut? Jawabannya, belum tentu.

Indonesia memiliki begitu banyak partai politik. Masing-masing partai politik memiliki pula kader-kader politikus yang tak terhitung jumlahnya. Rasanya sangat wajar jika Indonesia memiliki begitu banyak politikus. Bahkan serasa tidak ada kesulitan untuk mencetak seorang politikus baru. Masukkan saja dalam partai politik, bentuk, maka jadilah.

Mereka semua adalah politikus, seseorang yang memiliki latar belakang politik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan bahwa politikus adalah ahli politik, ahli negara, atau orang yang berkecimpung di dunia politik. Seorang politikus jelas orang yang berkecimpung di dunia politik. Seseorang yang berkecimpung di dunia politik wajar jika disebut sebagai ahli politik. Tetapi, apakah benar jika seorang yang ahli politik dapat dikatakan sebagai ahli negara?

Masih dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa ahli negara disebut sebagai negarawan. Seorang negarawan adalah orang yang ahli dalam kenegaraan, ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan), atau pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan. Politikus yang setiap hari mengurus negara wajar jika ahli dalam kenegaraan. Politikus yang menduduki jabatan pemerintahan wajar disebut negarawan karena dianggap ahli dalam menjalankan pemerintahan. Tetapi, dalam definisi negarawan yang ketiga disebutkan bahwa seorang negarawan haruslah memiliki suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan. Syarat inilah yang menjadi kunci bahwa semua politikus belum tentu disebut negarawan.

Permasalahannya adalah dengan carut marutnya problematika yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, siapakah yang dibutuhkan oleh Indonesia? Apakah Indonesia membutuhkan jutaan politikus atau mengharapkan ribuan negarawan? Dengan definisi politikus dan negarawan di atas, jelas kiranya jika Indonesia lebih membutuhkan seorang negarawan dibandingkan politikus semata.

 

Visi Memberi Solusi

Politikus hanyalah orang yang memiliki latar belakang politik tetapi belum tentu memiliki visi ke depan atau mau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan. Berhubung embel-embel yang tersemat adalah politikus, maka nuansa politiklah yang melekat pada dirinya. Mulai dari kampanye, pemilu, pelantikan, masa jabatan, dan kemudian lengser. Orientasi yang diusung bukan tak mungkin hanyalah jabatan semata. Maka wajar jika visi yang dikedepankan pun adalah untuk meraih atau mempertahankan jabatan tersebut. Dilihat dari sudut pandang ini, memang seorang politikus tetap memiliki sebuah visi. Tetapi jika visi sebatas jabatan saja dan tidak berpikir ke depan untuk negaranya, maka tak layak rasanya jika politikus tersebut meminta gelar negarawan tersemat dalam dirinya.

Lain halnya dengan negarawan. Sesuai kata dasarnya, negarawan memiliki orientasi terhadap negara. Dia tidak semata-mata memikirkan pemilu untuk meraih jabatan. Seseorang yang memiliki hasrat memikirkan negaranya tak akan terpengaruh dengan keadaan apakah dia memiliki jabatan atau tidak. Pemikiran-pemikirannya tak kan pernah berhenti meskipun terhalang kondisi sebuah kursi.

Atas nama cintanya terhadap bangsa, seorang negarawan akan selalu tanggap dengan isu-isu masalah yang sedang melanda negaranya. Ketanggapan itu muncul karena dorongan dari dalam dirinya yang memang selalu berpikir untuk negaranya. Aksinya bukan sekedar menunjukkan kepedulian akan masalah semata, melainkan lebih dari itu. Seorang negarawan selalu ingin negaranya menjadi lebih baik. Maka, setiap permasalahan yang mendera negaranya akan ia pikirkan dari kacamata solusi.

Negarawan bukanlah orang yang paham masalah negaranya saja. Indonesia tidak butuh orang yang fasih mengumbar masalah. Yang dibutuhkan adalah orang yang tahu permasalahan dan paham pula mengenai solusi mengentaskan permasalahan itu. Maka negarawan yang selalu beriorientasi pada negara bukanlah orang yang berpikir pada masalah bangsa saja, melainkan orang yang berpikir bagaimana menemukan solusi terhadap segala permasalahan yang sedang melanda.

Inilah yang membedakan seorang negarawan dengan politikus. Negarawan akan tetap berpikir negara, sedangkan politikus akan berpikir dalam kacamata politik. Apakah masalah itu akan menghancurkan citra partai politiknya atau tidak. Lagi-lagi, bukan sikap ini yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Kewibawaan dan Kebijaksanaan

Definisi lain dari seorang negarawan adalah orang yang memiliki kewibawaan dan kebijaksanaan dalam mengelola masalah. Kewibawaan tersebut tercipta karena seorang negarawan memiliki sebuah karakter yang kuat. Makin kuat karakter seseorang, makin tercetak pula nuansa wibawa dalam dirinya.

Salah satu karakter yang wajib dimiliki olah seorang negarawan adalah integritas. Integritas adalah sebuah kejujuran. Dalam pengertian lain dikatakan bahwa integritas adalah suatu sifat yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan sebuah kewibawaan.

Dipandang dari segi individu, seorang negarawan pastilah memiliki integritas. Ia tak akan bersembunyi di balik kedok apapun. Justru dia akan menampilkan jati dirinya, salah satunya untuk menciptakan citra baik akan negaranya.

Dalam sudut pandang negara pun, seorang negarawan pastilah memiliki integritas bangsa. Tak mungkin seorang negarawan yang selalu berpikir solutif akan masalah bangsanya tidak memikirkan bagaimana agar bangsanya utuh dan selalu bersatu. Atas dasar inilah, seorang negarawan akan mempertimbangkan pula apakah kebijakannya merupakan sebuah kebijaksanaan.

Seorang negarawan akan berpikir ulang jika tindakannya tidak mencerminkan sikap yang bijaksana. Contohnya, jika aksinya jusrtu merugikan sebagian golongan yang justru akan menimbulkan perpecahan bangsa, tentu seorang negarawan akan berpikir ulang untuk menjalankannya. Hal ini karena seorang negarawan berharap keutuhan negaranya semata. Maka, wajar kiranya jika seorang negarawan haruslah memiliki integritas, baik integritas secara individu, maupun integritas bagsa.

Sosok Negarawan Sejati

Di antara arus besar munculnya politikus di Indonesia, atau bahkan di dunia, saat ini sedang dirindukan sosok negarawan sejati. Dilihat dari kriteria visi ke depan, kewibawaan, kebijaksanaan, dan integritas, segelintir orang mulai memenuhi satu demi satu kriteria tersebut. Tetapi jika kita membutuhkan model, tak akan ada model yang lebih agung selain Rasulullah Muhammad SAW.

Rasulullah SAW jelas merupakan seorang sosok yang memiliki integritas tinggi. Kejujuran sudah melekat pada dirinya sejak beliau belia. Terbukti dengan julukan Al-Amin yang diakui oleh para kabilah tanpa pandang dulu apakah ia nantinya beriman atau tidak. Dengan intergritas yang dimiliki ini pulalah, Rasulullah SAW dapat memiliki kebijaksanaan dalam memecahkan perseturuan di antara para suku tersebut. Berkat kebijaksanaan itulah, dengan sendirinya kewibawaan tercetak jelas dalam diri Rasulullah SAW.

Tidak sebatas pada karakter pribadi Rasulullah SAW, beliau juga memikirkan masalah yang kala itu melanda. Keadaan masyarakat yang jahililiyah menggelitik Rasulullah SAW untuk bekhalwat di gua Hiro’. Salah satunya untuk memikirkan masyarakatnya dan tentunya berharap menemukan solusi atas masalah tersebut. Sikap ini sebagai bukti bahwa Rasulullah SAW memiliki visi ke depan untuk mengentaskan masalah masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Rasulullah SAW adalah sosok negarawan sejati. Beliau mampu memimpin masyarakat yang semula terpecah belah menjadi sebuah kesatuan yang utuh dan menjadi negara yang kuat. Sekali lagi ini menjadi bukti bahwa seorang negarawan harus memiliki integritas bangsa.

Bukan menjadi hal asing lagi bahwa negara yang dibangun oleh Rasulullah SAW adalah negara terkuat dan bahkan bisa mengalahkan negara-negara lainnya. Bahkan Michael H Hart dalam bukunya The 100 menempatkan Rasulullah SAW sebagai orang pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap dunia dan tidak ada pemimpin yang bisa mengalahkan dirinya.

Oleh karena itu ketika mencari model untuk sosok negarawan sejati, tidak ada pribadi yang lebih sempurna dibandingkan Rasulullah SAW. Maka, salah satu cara untuk menjadi seorang negarawan sejati adalah dengan meneladani sifat, sikap, dan karakter Rasulullah SAW.

Menggagas Negarawan Muda

Menjadi sebuah bahasan penting ketika kembali membayangkan kebutuhan Indonesia akan hadirnya sosok negarawan. Mereka yang menduduki kursi saat ini sudah terlanjur basah tercetak sebagai seorang politikus dan belum tentu sebagai negarawan. Maka, demi mencukupi kebutuhan negarawan itulah hal yang paling penting adalah menciptakan sosok-sosok negarawan untuk Indonesia. Persiapan ini tidak salah lagi layaknya ditujukan kepada para generasi muda, terlebih lagi kepada para mahasiswa. Hal ini dikarenakan mahasiswa digadang-gadang sebagai iron stock alias simpanan yang bermental kuat seperti besi. Berbicara dari sudut pandang politikus dan negarawan, tentu stok yang diingankan bukan`sekedar stok yang mampu menjadi politikus saja, melainkan stok yang memiliki semangat akan negaranya hingga pantas disebut sebagai seorang negarawan.

 Untuk menjadi seorang negarawan, khususnya dengan berkiblat pada sosok Rasulullah SAW, maka yang pertama kali dipersiapkan adalah pembentukan karakter. Karakter menjadi perkara penting karena dengan karakter inilah akan menentukan bagaimana sikap seseorang. Hal ini menjadi menarik pula ketika dihadapkan pada diri seorang pemuda. Para pemuda sering dikatakan sedang mengalami proses pencarian jati diri. Maka, akan lebih baik kiranya jika proses pencarian jati diri ini diarahkan pada jalan yang benar. Salah satu jalan tersebut yaitu jalan untuk mencintai bangsanya dan menjadi sosok negarawan.

Jalan pertama jelas seorang pemuda harus memiliki intergitas terlebih dahulu. Pembentukan integritas ini tidak bisa diciptakan dalam sekejap mata. Maka benar kiranya jika pembentukan karakter ini dimulai sejak muda, bahkan bila perlu sejak dini. Mental-mental kejujuran harus terpatri dalam diri setiap pemuda. Semangat-semangat keutuhan bangsa harus mendarah daging pula dalam diri seorang pemuda. Inilah mengapa pembentukan karakter menjadi upaya penting pertama yang harus dilakukan.

Apabila karakter seorang pemuda tersebut telah kuat, dengan sendirinya dia akan memenuhi syarat negarawan selanjutnya yaitu memiliki kebijaksanaan dan kewibawaan. Kedua sikap ini muncul secara alamiah pada diri orang yang berkarakter. Wibawa memang bisa dicipta, bisa dibentuk, bahkan bisa dimanipulasi. Tetapi karena sejak semula orang tersebut telah memiliki kejujuran pada dirinya sendiri, maka wibawa yang tercipta dalam dirinya adalah wibawa murni yang akan kekal dan tak terpengaruh oleh kondisi.

Begitu kebijaksanaan dan kewibawaan tercipta sebagai manifestasi dari sebuah kejujuran, maka langkah selanjutnya adalah mengenali permasalahan bangsa dan berupaya menemukan solusinya. Hanya memiliki karakter kuat saja tidak cukup. Orang berkarakter tapi tidak memikirkan negaranya, sampai kapan pun tidak akan disebut sebagai negarawan. Maka, kepekaan terhadap kondisi bangsa menjadi syarat mutlak yang harus dibina pada generasi muda untuk menjadi seorang negarawan.

Kepekaan ini dapat dirangsang dengan berbagai metode. Mahasiswa sebagai manusia intelektual pastilah paham bagaimana cara mengenali masalah bangsa. Yang menjadi perkara adalah mampukah belajar untuk menemukan solusinya. Maka, selagi masih menjadi mahasiswa, upaya yang harus dilakukan tidak hanya mengkaji masalah saja, tetapi saling bersinergi pula untuk menemukan solusi jitu terhadap permasalahan bangsa.

Dengan karakter kuat dan pemikiran ke depan yang matang akan permasalahan bangsa pada diri generasi muda, bukan hal mustahil jika kelak tercipta milyaran sosok negarawan di Indonesia. Ketika sosok itu telah jadi, kebijaksanaan pulalah yang akan menuntun mereka untuk beraksi. Apakah mereka akan menjadi negarawan yang praktisi, atau negarawan yang politikus. Apapun itu, masalah bangsa insya Allah akan teratasi. Inilah yang sedang kita cari, bukan hanya seorang politikus tetapi seorang negarawan di semua lini.