Sungguh ironis nasib bangsa Indonesia. Terkapar menderita akibat ulah orang-orang munafik yang merajalela. Kemiskinan dan ketimpangan sosial masih membudaya. Jurang pemisah antara konglomerat dengan rakyat miskin begitu curam. Sebagian dari mereka merintih dan menangis menengadahkan tangan untuk sesuap nasi, melakukan berbagai tindakan kriminal untuk bertahan hidup, sebagian lain bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya. Sedangkan para ‘pemuka’ Indonesia, sebagian dari mareka berlomba-lomba memperkaya diri, melakukan tindak korupsi  yang membabi buta.

            Seiring berjalannya waktu, korupsi masih menjadi suatu permasalahan yang krusial di Indonesia.  Meskipun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan berbagai strategi untuk mengatasi hal tersebut. Namun fakta menunjukkan, hingga saat ini korupsi masih mengakar begitu kuat. Korupsi saat ini bukan hanya sebuah perbuatan mengambil hak orang lain, akan tetapi juga suatu pikiran yang perlahan mulai membelenggu rakyat Indonesia.

            Pada tahun 2014 yang merupakan tahun politik ini, semakin terkuak jelas bahwa corrupted mind sudah mulai menyusup hingga berbagai kalangan. Elektabilitas tinggi dari masyarakat terhadap partai yang banyak melakukan tindak korupsi merupakan suatu tolak ukur betapa banyaknya para korban pikiran yang terkorupsi. Melihat  data partai terlibat korupsi di Indonesia yang dirangkum oleh Indonesia Corruption  Watch  (ICW), partai-partai yang memegang jumlah korupsi tertinggi di Indonesia adalah partai  Golkar, PDIP,  dan Demokrat.

            Ironinya, partai-partai tersebut merupakan 3 partai terkuat yang dipilih oleh masyarakat pada umumnya. Tingginya elektabilitas partai yang terlibat korupsi di Indonesia, bukti bahwa para  khalifah yang dititipi bangsa ini sudah mengingkari janji. Masyarakat sudah mulai tidak peduli dengan penderitaan bumi pertiwi. Rakyat Indonesia terlalu termakan dengan bualan, dan pencitraan partai-partai besar itu.  Apabila hal ini dipertahankan terus-menerus, maka Indonesia akan hancur secara perlahan, semakin terkuasai oleh bangsa lain, dan semakin tinggi tingkat degradasi moralnya.

Corrupted mind  adalah suatu paham pembenaran atau pemakluman terhadap perbuatan korupsi. Paham ini bila dibiarkan akan semakin mengakar kuat di Indonesia, yang mana sebuah tindakan KKN dianggap bukan korupsi,  atau bahkan tidak mempedulikan ada tidaknya korupsi di negeri ini. Korupsi dalam bentuk ini merupakan suatu hal yang paling krusial, karena dapat menjadikan Indonesia sebagai negara terkorup meskipun jumlah koruptornya sedikit. Meskipun tidak secara langsung mencuri hak orang lain atau mencuri uang negara,  alur pikir corrupted  mind  dapat menyengsarakan masyarakat Indonesia. Paham ‘pikiran yang terkorupsi’ merupakan satu ‘virus’ saat ini sedang menjadi dalang  besar dalam kehancuran  bangsa ini.

            Lantas, siapa yang akan menjadi penyelamat kehancuran itu? Sebagian besar pemuda saat ini lebih suka menikmati euforia masa mudanya. Masyarakat Indonesia butuh penjelasan tentang wacana ini. Semakin banyak warga yang terjebak dalam corrupted mind ini akan memilih pemimpinnya dengan sembarangan, tanpa mengetahui keburukan dari partai tersebut. Mereka akan cenderung lebih terbuai dengan janji manis yang ditawarkan, serta euforia suara terbanyak di kalangan masyarakat. Membiarkan ‘virus’ ini menyebar, berarti membiarkan kebobrokan semakin merajalela di Indonesia. Tanpa membasmi ‘virus’ ini berarti menumbuhkan pemimpin dan tokoh masyarakat yang  semakin memarakkan perkembangannya.

            Berbicara tentang  kasus korupsi tidak akan ada habisnya, karena pelakunya dari kalangan atas hingga bawah, baik kasa mata maupun tidak kasa mata. Selama akhlak manusianya kasih korup, maka kasus korupsi tetap masih akan merajalela. Maka dari itu, memberantas korupsi berarti memperbaiki akhlak  manusianya. Sehingga berbagai tindakan baik pemberantasan maupun pencegahan harus senantiasa dilaksanakan secara bersamaan. Mulai dari perbaikan moral para pemimpin negara, sehingga pemimpin di Indonesia dapat menjadi contoh yang baik untuk rakyatnya.