Indonesia merupakan negara yang menerapkan sistem demokrasi dalam memilih anggota legislatif dan presiden serta wakil presiden. Di tahun 2014 merupakan tahun politik untuk Indonesia. Pemilihan umum atau pemilu langsung yang dilaksanakan untuk ke-3 kali nya ini semakin dinamis dan terlihat semakin ketat dalam bersaing untuk menuju RI 1. Pesta rakyat yang digelar setiap 5 tahun sekali ini diikuti oleh beberapa partai politik yang sudah disahkan oleh KPU sebagai peserta pemilu tahun 2014. Peserta pemilu tahun 2014 terdiri dari 12 partai nasional yang sudah tidak asing, antara lain : PDIP, Demokrat, PKS, Golkar, Demokrat, PKB, PAN, P3, PBB dan PKPI. Dan 2 partai yang sudah muncul di tahun 2009 dalam pemilu yang ke-2 yaitu Gerindra dan Hanura. Tahun ini dalam pemilu semakin ramai dengan adanya partai lokal yaitu Partai Aceh, Partai Damai Aceh, dan Partai Nasional Aceh dan partai baru yaitu partai Nasdem. Akan tetapi partai-partai lama yang tetap menduduki posisi dalam elektabiltas dan sorotan media serta berbagai survey yang dilakukan oleh  beberapa lembaga survey di Indonesia.

Musuh terbesar bangsa Indonesia adalah Korupsi. Label sebagai musuh itu layaknya sesuatu yang harus dilawan. Akan tetapi sesuatu yang harus dilawan tersebut kian marak seperti virus yang sudah memasuki rongga-rongga sel dalam tubuh bangsa ini. Terbukti bahwa partai politik yang ada di negeri ini banyak yang terjangkit virus korupsi dan semakin menyebar luas. Berdasarkan data yang dihimpun oleh elemen masyarakat dengan dasar utama dalam penyusunannya berasal dari situs Indonesia Corruption Watch (ICW) adalah sebagai berikut :

Berdasarkan hasil resume data update buan maret 2014 di atas, partai yang paling korup adalah PDIP dengan logo bantengnya kemudian di susul oleh Partai Golkar, Partai Demokrat, PAN, PKB, PPP, Gerindra, Hanura, PKB, PKPI, dan yang terakhir PKS. Seperti yang masyarakat ketahui, bahwa PDIP merupakan partai yang memiliki elektabilitas tertinggi dibanding partai lain dalam peserta pemilu 2014. Terjadi suatu fenomena yang aneh di masyarakat sekarang ini. Ideologi Marhaenisme/Soekarnoisme yang dibawa oleh PDIP dari dahulu sudah mengakar di kalangan masyarakat. Dimana masyarakat percaya bahwa Soekarno adalah founding father Bangsa Indonesia. Pada zaman soekarno banyak hidup veteran-veteran dan masyarakat percaya bahwa Soekarno dan keturunannya ke bawah pasti akan memakmurkan rakyat Indonesia.

Dari segi pelayanan yang diberikan oleh PDIP kepada masyarakat, antara lain : layanan mobil ambulance ketika ada yang sakit atau meninggal, Satgas PDIP yang siap sedia saat ada agenda warga. PDIP juga didukung oleh preman-preman yang berada di daerah karena ada permainan money politik. Pencitraan dari media-media yang merupakan corong parpol tersebut akan berusaha menyesatkan opini pulik dengan ditampakkan kader yang selalu bagus, blusukan dan terkesan partai tersebut bersih dari korupsi. Namun jika parpol lain yang melakukan korupsi walupun kecil maka isu tersebut akan terus di sorot dan jadi trandding topic oleh media. Jadi masyarakat beranggapan bahwa partai lain yang terkorup dan persepsi tersebut mengakar pada masyarakat sekarang. Seharusnya media berimbang dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Untuk menilai suatu kinerja hanya bisa dilakukan dengan bukti nyata berupa data. Namun, untuk membetuk opni public dapat dilakukan dengan pencitraan yang kontinyu.

Fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini seperti pepatah “Gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman di sebrang lautan tampak” . Fenomena menyoroti partai yang sudah sangat jelas korupsinya paling sedikit. Namun selalu diekspos terus-menerus sepanjang tahun. Seluruh keluarga dan kader-kader lainnya dicari-cari titik masalah agar bisa dijatuhkan dan di blow up ke media untuk membentuk opini public. Padahal dalam realita seperti PKS, partai tersebut termasuk partai dengan indek korupsi 0,4 % dan paling rendah disbanding semua parpol nasional peserta pemilu 2014.

Beruntung sekali partai yang terkorup namun memilik elektabilitas tertinggi di negeri ini. Jika di teliti secara detail, adanya suatu logika berpikir yang sudah dikonsep secara matang. Ada pihak-pihak yang sudah mengatur dibalik layar dalam menaikkan rating elektabilitassalah seorang kader seperti Jokowi dan mengusung untuk pilpres tahun 2014 ini dengan tujuan besar agar PDIP meninggalkan trah kepemimpinan Bung Karno selama ini dan dapat mengganti ideology yang dibawa oleh Soekarno dengan mengambil alih kepemimpinan dalam tubuh PDIP dan mengganti ideology selama ini menjadi kapitalis liberal negara Amerika Serikat dan China. Mafia-mafia besar AS dan China berada di balik layar besar dalam panggung politik di negeri ini.

Menurut Mr. Kim yang juga adalah Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi di Korsel (sejenis BPPT di Indonesia) mengatakan bahwa Indonesia itu seperti raksasa yang sedang tidur (The Sleeping Giant). Ucapkan analogi itu karena melihat potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Maka tak heran banyak negara lain terlebih mafia-mafia, konglo hitam, koruptor BLBI, China Connection, Arkansas Connection yang semua memiliki tujuan besar untuk berkuasa dan berdaulat di RI setelah dominasi mereka di ekonomi Indonesia.

Berdasarkan faktanya korupsi sudah menjadi teman bangsa ini. Seperti layaknya teman, berarti berkawan dan memperbolehkan. Dan tidak melawan ketika mendekat. Kita harus pintar memilih, artinya korupsi anggap sebagai virus yang tidak untuk dijadikan teman, tapi dijadikan lawan agar tidak tertular ke dalam tubuh. Maka perlu dukungan dari berbagai pihak dalam mencerdaskan pemilih dalam pemilu 9 april mendatang. Lembaga survey seperti ICW seharusnya mengeluarkan data resume partai yang melakukan korupsi sebelum pemilu tanggal 9 april. Agar masyarakat dapat menilai dan menjadi pemilih yang cerdas. Bukan seperti membeli kucing dalam karung, yang suaranya terdengar bagus dan sangat memikat. Akan tetapi dapat mencakar- cakar dan liar tidak terkontrol. JADILAH PEMILIH YANG CERDAS.