Kasus            :              Partai dengan track record sebagai partai politik terkorupsi ternyata mempunyai elektabilitas paling tinggi.

Tanggapan    :

Sangat menggelikan memang jika fakta diatas terbukti benar. Bagaimana mungkin negara sebesar ini mempercayakan kepemimpinan mereka kepada sekelompok orang yang paling tidak bisa dipercaya. Sekali lagi, mereka mempercayakan urusan paling besar bagi negaranya kepada sekelompok orang yang tidak bisa dipercaya!

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi didalamnya. Pertama, pernyataan itu bukanlah fakta sebenarnya. Tak ada kevalidan yang berbicara didalamnya. Termasuk juga data-data pendukung yang menyokong dibelakangnya. Semuanya tidak merekam jejak validitas yang bisa ditelusuri kebenarannya. Atau kemungkinan kedua, pernyataan itu memang benar adanya. Pernyataan itu fakta, yang menyimpan kebenaran dibalik semuanya. Jika memang ini yang terjadi, matilah kita semua. Negeri sebesar ini ternyata hanya diisi oleh orang kerdil yang tak  bisa membedakan antara kebaikan dan kebenaran. Yang tak bisa memilih mana yang seharusnya dipilih.

Berbicara data     :

Ada dua titik tekan pembicaraan kita kali ini. Pertama, elektabilitas partai. Kedua, korupsi partai.

Dalam hal elektabilitas partai, hampir semua lemabaga survey memaparkan hasil survey mereka yang -katanya- dapat diuji kebenarannya. Berikut beberapa diantara hasil survey yang paling sering diberitakan:

  1. Hasil survei elektabilitas parpol pada akhir 2013 yang digelar oleh Litbang Kompas sebagaimana yang dilansir Kompas pada Kamis (9/1/2014):
    1. 1.      PDIP: 21,8%
    2. Golkar: 16,5%
    3.  Gerindra: 11,5%
    4. Partai Demokrat: 7,2%
    5. NasDem: 6,9%
    6. Hanura: 6,6%
    7. PKB: 5,1%
    8. PAN: 3,2%
    9. PPP: 2,4%
    10. 10.  PKS: 2,3%
    11. PBB: 1,1%
    12. PKPI: 0,1%
    13. Rahasia: 8,6%
    14. Tidak tahu: 6,7%
  2. Hasil survey elektabilitas partai di Pemilu 2014 Terbaru yang dirilis Pusat  Data Bersatu (PDB):

    1. PDIP: 14,53%
    2. Golkar: 14,1%
    3. PD: 9,4%
    4. Gerindra: 8,89%
    5. NasDem: 3,33%
    6. PKB: 2,56%
    7. PAN: 2,56%
    8. PPP: 2,31%
    9. PKS: 1,2%
    10. Hanura: 1,03%
    11. PBB: 0,3%
    12. PKPI: 0,09%

Partai Lain: 0,34%
Golput: 2,39%
Rahasia: 15,1%
Tidak Tahu: 21,11%

  1. Lembaga Survey Nasional (LSN) pada hari Selasa (16/7) menyebutkan, “Inilah hasil elektabilitas partai politik pemilu 2014 jika pemilu dilaksanakan hari ini (pada saat survei dilakukan)”:

Partai Golkar 19,7 persen 2. PDI Perjuangan 18,3 persen 3. Partai Gerindra 13,9 persen 4. Partai Hanura 6,9 persen 5. Partai Demokrat 6,1 persen 6. PKB 4,8 persen 7. Partai Nasdem 4,6 persen 8. PPP 4,3 persen 9. PAN 3,8 persen 10. PKS 3,8 persen 11. PBB 1,4 persen 12. PKPI 0,5 persen Tidak Memilih 11,9 persen.

  1. Survei yang dilakukan Political Communication Institute (Polcomm Institute) terhadap elektabilitas partai islam menempatkan PAN sebesar 9,7 persen, lalu disusul PPP ditempat kedua sebesar 9,2 persen, di tempat ketiga PKB dengan 6,4 persen, PKS dengan 4,7 persen dan PBB 4,4 persen.

Sekarang kita beralih ke data mengenai tingkat korupsi tiap partai politik. Dan inilah beberapa data yang berhasil terungkap:

  1. Berita Metro TV (Kamis 13/3/2014) merilis kasus korupsi yg menimpa partai politik. Dari 9 Parpol yg sekarang ada di DPR RI, PKS adalah partai yang lebih bersih, sedang PDIP menjadi JUARA PARPOL TERKORUP. Namun anehnya, seperti diberitakan metro TV ini, parpol yg kadernya banyak terjerat kasus korupsi malah banyak dipilih dalam survei-survei.

Berikut Ranking Korupsi Parpol yg dirilis Metro TV:

1.PDIP             : 84 Kasus
2.Golkar           : 60 Kasus
3.PAN              : 36 Kasus
4.Demokrat      : 30 Kasus
5.PPP               : 13 Kasus
6.PKB               : 12 Kasus
7.Hanura         : 6 Kasus
8.Gerindra        : 3 Kasus
9.PKS                : 1 Kasus

  1. Data yang dihimpun berdasar akun pemantau korupsi @KPKwatch_RI, kumpulan berita korupsi di website ICW, dan juga www.jpnn.com menempatkan PDIP sebagai partai terkorup dengan jumlah korupsi 205 M, disusul golkar 198 M, demokrat 124 M. partai yang paling sedikit melakukan korupsi adalah PKS dengan 300 juta.

Analisa         :

Berdasarkan paparan diatas, sangat jelas terlihat bahwa, PDIP adalah partai dengan tingkat korupsi paling tinggi. Ini berdasarkan data. Sedangkan paling rendah dalam urusan korupsi adalah PKS. Namun pemandangan tak lazim justru terjadi dalam survey elektabilitas partai. PDIP menempati urutan pertama sebagai pertai dengan elektabilitas tertinggi. Lalu PKS? Partai yang paling sedikit melakukan korupsi ini justru terseok-seok di urutan bawah. Dari fakta unik ini, berikut beberapa analisa saya:

Pertama, perbedaan yang paling signifikan yakni, eletktabilitas parpol itu adalah hasil survey, sedangkan parpol korupsi itu adalah berdasarkan data. Jelas ada perbedaan kualitas disana. Survey, sebagus apapun, sevalid apapun, tak bisa mewakili keseluruhan rakyat indonesia. Masih ada sejuta pertanyaan untuk memastikan bahwa survey itu benar-benar valid. Dan menurut saya, sebuah kesalahan besar jika hasil survey yang hanya dilakukan pada sekelompok orang lantas dikatakan bahwa itulah pendapat rakyat indonesia. Jumlah pemilih pada pileg 2014 yang mencapai 185 juta orang tentu tidak bisa disamakan dengan jumlah responden survey yang hanya berkisar pada angka 1250-an. Sungguh perbedaan yang sangat jauh.

Kita sedikit berkaca pada Pemilu 2004 dan 2009. Waktu itu, hampir semua lembaga survei merilis data yang menyebutkan bahwa elektabilitas PKS rendah. Namun setelah pemilu, PKS justru mengantongi suara yang lebih tinggi dari pada yang dilansir lembaga-lembaga survei. “2004 tidak ada survei yang bilang PKS di atas 3 persen. Faktanya kita dapat 7,4 (persen),” sebut ahmad heryawan.

Jadi fenomena ini adalah rekayasa politik. Lalu mengapa survey-survey tentang elektabilitas parpol ini terus dinaikkan? Direkayasa sana-sini dan di-boomingkan sebesar-besarnya? Menaikkan pamor. Itu salah satu alasannya. Berdasarkan laporan yang terbit di jawa pos, kemungkian golput masih menembus angka 56 persen. Tentu setiap parpol akan terus berlomba untuk mencari muka dihadapan orang-orang yang masih belum menentukan pilihan ini. Orang-orang yang memilih untuk golput, salah satunya, karena mereka tidak begitu yakin dengan semua partai yang akan mereka pilih. Disisi lain, mereka juga tidak terlalu mengikuti perkembangan yang sedang terjadi saat ini, lalu tidak mau mengambil pusing dengan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Mereka akan mengikuti siapa yang menurut banyak orang dinilai “lebih layak”. Maka inilah waktu yang tepat untuk menampakkan bahwa partai tersebut mempunyai elektabilitas tinggi. Harapannya adalah , orang-orang yang tidak mengikuti pemberitaan dan tidak mengetahui fakta-fakta yang ada akan terbawa arus trend survey abal-abal ini. Mereka akan mempercayai kebenaran yang tidak sepenuhnya benar ini.

Kedua, tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita bukanlah masyarakat yang terlalu dewasa. Kita terlalu gampang tersanjung dengan hal-hal kecil dan terlalu sering meninggalkan hal yang lebih esensial. Contoh, paras dan pencitraan.

Tokoh pemimpin yang mempunyai paras lebih ganteng dan berwibawa tentu mempunyai kans yang lebih tinggi untuk diterima di kalangan masyarakat. Lalu berikutnya, ketidak dewasaan itu tercermin dari terlalu menghambanya rakyat kita pada media. “Tokoh x blusukan, tokoh x merakytat”. Berita itu di-bom setiap hari, diangkat tinggi-tinggi, dan dijatuhkannya tokoh lain yang sebenarnya juga sama blusukannya. Masyarakat kita lebih suka pada media daripada fakta –yang memang sangat sulit ditemukan-.

Saya pernah berdiskusi dengan seseorang yang mendapat informasi dari rekan wartawan. Menurut wartawan tersebut, telah terjadi koordinasi diantara para bos-bos media bahwa mereka akan mengangkat salah seorang tokoh tertentu. Dia akan dijadikan dewa dalam segala pemberitan yang ada, lalu kemudian di waktu yang bersamaan, mereka menghancurkan salah satu partai politik yang waktu itu tersandung kasus korupsi. Berita itu dibesar-besarkan hingga jauh dari fakta sebenarnya, dan tetap menjadikan sang dewa terus mengangkasa.

Dampak dari pemberitaan itu adalah, partai politik yang mempunyai dewa itu punya elektabilitas tinggi. Padahal seharunya dibedakan antara elektabilitas tokoh dengan partai. Partai itu kumpulanmorang-orang. Sedangkan tokoh itu adalah bagian kecil dari gerak partai itu. Nah, masyarakat kita tidak terlalu dewasa dengan hal ini. Mereka menganggap bahwa jika partai tertentu punya potoh yang baik, maka baik pula partainya. Padahal tidak demikian. Inilah yang terjadi dengan PDI saat ini. Kehadiran jokowi dan bi risma ternyata berpengaruh besar bagi partai berlambang moncong putih ini. Elektabilitas mereka meningkat. Padahal lihat saja data korupsi diatas.

Pun dengan kondisi yang berbeda. PKS yang seharusnya paling diterima karena paling sedikit melakukan korupsi, dengan peran media yang membabi buta menghabisinya karena kasus korupsi LHI, kini harus terima berada di urutan bawah.

Kesimpulan     :

Pertama, ada perbedaan yang tidak bisa disamakan antara hasil survey dan berdasarkan data. Elektabilitas itu adalah hasil survey yang harus dipertanyakan kevalidannya. Dan sangat lucu jika hasil survey yang hanya melibatkan 1250-an responden itu dikatakan mewakili pendapat rakyat indonesia yang mencapai 180 juta pemilih di tahun ini. Sedangkan data partai terkorup itu adalah murni data, fakta yang jelas kebenarannya.

Kedua, ini adalah permainan media yang tak ingin partai islam menunjukkan taringnya. Maka dibuatlah rekayasa dan konspirasi sedemikian rupa yang sebisa mungkin menjatuhkan partai islam tertentu dari segala sisi, dengan menaikkan salah satu tokoh atau partai yang lain. Coba kita lihat siklus yang terjadi. Mereka mengangkat tinggi-tinggi satu partai, dan menenggelamkan se-tenggelam-tenggelamnya partai lain. Dan itu partai islam, dengan indeks korupsi terendah –yang seharusnya justru paling dipercaya-

Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah saatnya kehancuran –Muhammad SAW-