Indonesia merupakan negara kaya baik dari kekayaan alam maupun keanekaragaman hayati. Negara kepulauan  yang terbentang dari sabang sampai merauku dengan indahnya alam dan luasnya lautan yang dimilikinya, saat ini berada  di ujung tanduk kehancurannya.

Kekayaan yang dimiliki Indonesia saat ini belum bisa mensejahterakan rakyatnya. Kemiskinan, pengangguran senantiasa menjadi pekerjaan rumah yang hingga saat ini belum terselesaikan. Ditambah lagi banyaknya kejahatan korupsi yang dilakukan oleh wakil rakyat yang mencuri dan merampok uang rakyat untuk kepentingan pribadinya. Semakin menderitanya bangsa ini. Partai politik yang diharapkan rakyat untuk menjadi sarana menyampai apresiasi dari rakyat tidak bisa berperan secara langsung. Hanya memikirkan anggota partainya saja. Masalah korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan dari berbagai partai politik menandakan bahwa keberadaan partai poltik tidak berpihak kepada rakyat namun sebaliknya hanya berpihak kepada golongan tertentu.

Menyikapi data dari ICW dan KPK mengenai keterlibatan semua partai yang tersangkut masalah korupsi akan berdampak negatif terhadap elektabilitas partai politik itu sendiri. Partai politik yang diharapkan membawa perubahan bagi masyarakat justru sebaliknya menyelengkan amanat rakyat.

Sejumlah partai politik islam juga ikut terlibat masalah korupsi justru tanggapan yang ada dimasyarakat pasti fobia terhadap islam dan partai politik islam tertentu. Kalau partai sekuler melakukan korupsi itu memang sudah biasa, mengingat landasan mereka yang jauh dari nilai-nilai islam. Sedangkan partai politik berbasis islam berlandasankan islam pula jika nelakukan tindakan itu jangan disalahkan islamnya, yang pantas disalahkan adalah oknum yang tidak bertanggungjawab yang mengatasnamakan islam, sehingga menimbulkankan stigma negatif terhadap islam itu sendiri.

Kenapa itu bisa terjadi, ada 2 faktor yang menyebabkan korupsi yang saat ini merajalela di negara Indonesia. (1.) Faktor Internal, pada faktor internal ini penyebab tindakan korupsi berasal dari diri pribadi. (2.) Faktor Eksternal,menyebabnya adanya dari pengaruh luar untuk melakukan tindakan korupsi.

Pada faktor internal ini, disebabkan sikap pribadi yang melakukan korupsi bersikap antara lain sebagai berikut :

  1. Tamak terhadap dunia.

Tokoh Islam, Mohammad Natsir, jauh-jauh sebelumnya pernah mengingatkan bahaya ”tamak dunia” yang sedang mengancam negara Indonesia. Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, Mohammad Natsir menulis sebuah artikel berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.”  Melalui artikelnya ini, Natsir menggambarkan hilangnya budaya cinta pengorbanan pada manusia Indonesia pasca kemerdekaan: “Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara  yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau. Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menuntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya yang setimpa. Sekarang timbulpenyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri.”

Di tahun 1980-an, Natsir juga pernah berpesan kepada para sejumlah cendekiawan Muslim yang mewawancarainya: ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia…Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi,  gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.”

Moral yang kurang kuat menghadapi godaan.

Keterlibatan partai politik tersangkut kasus korupsi diakibatkan oleh moral yang dimilki pejabat yang jauh dari nilai-nilai agama. Ketika agama dijauhkan dari politik yang saat ini sedang terjadi berakibat semakin hancurnya moral pejabat saat ini. Pejabat yang terlibat kasus korupsi yang terjadi pasti ada sekandal wanita didalamnya, ini menandakan bahwa semakin hancurnya moral para pejabat saat ini.

Gaya Hidup konsumtif,

Dengan hidup yang konsumtif tidak produktif akan menimbulkan sikap yang hedoisme sehingga untuk memeruhi kebutuhanya terpaksa mengambil uang rakyat.

Malas Bekerja keras.

Korupsi yang saat ini terjadi, tidak berhenti-henti  melanda bangsa Indonesia, para koruptor mengambil uang rakyat dengan sekejap jutaan uang berada direkeningnya pribadi mereka. Malas bekerja dan dengan korupsi mereka cepat menjadi milyarder.

Sedangkan faktor eksternal disebabkan sebagai berikut :

Faktor Politik

Perilaku korup seperti  penyuapan, politik  uang  merupakan  fenomena  yang sering  terjadi. Terkait dengan hal itu Terrence Gomes (2000) memberikan  gambaran  bahwa politik  uang (money politic) sebagai use of money and material benefits in the pursuit of political influence

Faktor Hukum

Faktor hukum ini  bisa lihat dari dua sisi, di satu sisi dari aspek perundang-undangan dan sisi lain adalah lemahnya penegakan  hukum. Tidak  baiknya substansi hukum, mudah ditemukan dalam aturan-aturan yang diskriminatif dan tidak adil; rumusan yang tidak jelas-tegas (non lex certa) sehingga multi tafsir; kontradiksi dan overlapping dengan peraturan lain (baik yang sederajat maupun yang lebih tinggi). Tidak baiknya substansi hukum, mudah ditemukan dalam aturan-aturan yang diskriminatif dan tidak adil; rumusan yang tidak jelas-tegas (non lex certa) sehingga multi tafsir; kontradiksi dan overlapping dengan peraturan lain (baik yang sederajat maupun yang lebih tinggi).

Faktor Ekonomi

Tidak baiknya substansi hukum, mudah ditemukan dalam aturan-aturan yang diskriminatif dan tidak adil; rumusan yang tidak jelas-tegas (non lex certa) sehingga multi tafsir; kontradiksi dan overlapping dengan peraturan lain (baik yang sederajat maupun yang lebih tinggi).

Faktor Organisasi

Organisasi dalam hal ini adalah organisasi dalam arti yang luas, termasuk sistem pengorganisasian lingkungan masyarakat. Organisasi yang menjadi korban korupsi atau di mana korupsi terjadi biasanya memberi andil terjadinya korupsi karena membuka peluang atau kesempatan untuk terjadinya korupsi. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Kompas 29/7/2004 di kota Surabaya, Medan, Jakarta dan Makasar mengenai korupsi yang terjadi di tubuh organisasi kepemerintahan (eksekutif) maupun legislatif disebutkan bahwa tidak kurang dari 40% responden menilai bahwa tindakan korupsi dilingkungan birokrasi kepemerintahan dan wakil rakyat di daerahnya semakin menjadi-jadi. Hanya 20% responden saja yang berpendapat bahwa perilaku korupsi di Pemerintah Daerah dan DPRD masing-masing sudah berkurang.

Untuk itu dilakukan upaya dari semua pihak khususnya ulama dan umat islam memingat mayoritas penduduk Indonesia adalah islam, untuk berupaya memenangkan pemilu pada 9 April 2014 nanti. Untuk itu berlu diluruskan tujuan partai politik untuk kepentingan rakyat atau kepentingan partai politiknya saja. Sehingga rakyat begitu antusius untuk memilih partai politik islam yang dasarnya jelas Al-qur’an dan Al-hadist, demokrasi sebagai jalan bukan tujuan untuk Indonesia yang lebih baik.