Oleh: Aviaddina Ramadhani

 

Mahasiswa adalah siswa dengan embel-embel maha. Ia bukanlah seorang siswa biasa seperti ketika masih menggunakan seragam putih abu-abu, namun siswa yang telah mendapat julukan maha karena dianggap mampu dan luar biasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, maha berarti besar. Maka, seorang siswa yang maha berarti seorang pelajar dengan kemampuan yang besar, peran besar, dan tanggung jawab yang besar.

Seorang mahasiswa dituntut untuk tidak hanya belajar demi kepentingan dan tanggung jawabnya terhadap diri sendiri, namun juga dibebani beberapa tanggung jawab untuk memikul peran atas nama kedudukannya sebagai mahasiswa.  Mahasiswa diibaratkan sebagai seseorang yang berada di tengah-tengah. Dia memiliki peran yang bermacam-macam sesuai dengan lingkungan di sekitarnya yang saling berkaitan.

Mahasiswa merupakan bagian dari sebuah civitas akademika perguruan tinggi, maka seorang mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab atas nama perguruan tingginya. Mahasiswa tetap merupakan bagian dari sebuah masyarakat, maka mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab kepada masyarakat. Mahasiswa juga tetap menjadi bagian dari sebuah keluarga pribadi sehingga memiliki peran dan tanggung jawab terhadap keluarga dan dirinya sendiri.

Peran Atas Nama Perguruan Tinggi

Sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah perguruan tinggi selayaknya seorang mahasiswa memaknai perannya sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ketiga peran tersebut adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Ketiga peran tersebut harus dapat dilaksanakan dengan seimbang. Mahasiswa perguruan tinggi bukan hanya menjadi siswa yang sibuk mengejar pendidikan, namun lupa dengan kewajiban pengembangan ilmu pengetahuan, atau menjadi mahasiswa yang terlalu asyik belajar sehingga tak peduli untuk terjun ke masyarakat. Untuk itu, ketiga peran pendidikan, pengembangan, dan pengabdian harus tetap dilaksanakan oleh seorang mahasiswa.

Tak dapat dipungkiri bahwa tugas utama mahasiswa sebagai pelajar adalah untuk belajar. Amanah yang diberikan orang tua dengan memberikan biaya pendidikan memang agar anak dapat menuntut ilmu di perguruan tinggi. Untuk itu, seorang mahasiswa tetap harus menjadikan peran sebagai pembelajar pada urutan pertama. Peran ini tidak serta merta hanya menerima ilmu yang diberikan oleh dosen, tetapi juga berarti meningkatkan rasa ingin tahu untuk mengeruk ilmu sebanyak-banyaknya dari dosen maupun dari sumber-sumber pustaka.

Hanya menerima atau mencari ilmu saja bukanlah ciri pembelajar yang sejati. Seorang pembelajar yang benar-benar menjiwai ilmunya akan merasa tertantang untuk menggali lebih jauh ilmu yang dipelajarinya. Salah satu bentuk nyata dari sikap tersebut adalah dengan mengadakan pengembangan ilmu pengetahuan. Pengembangan ilmu pengetahuan dapat diwujudkan dengan membuat forum-forum diskusi ilmiah atau mengadakan penelitian untuk menemukan hal-hal baru yang mendukung ilmu pengetahuan.

Tak lupa, fungsi akademis mahasiswa adalah mengabdi kepada masyarakat. Ilmu akan sia-sia dan tidak menjadi ilmu yang bermanfaat jika hanya dipendam dan tidak diamalkan. Maka seorang mahasiswa sebagai penuntut ilmu memiliki kewajiban untuk mengamalkan ilmu tersebut kepada masyarakat. Pengabdian yang diberikan kepada masyarakat dapat berupa mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-sehari sang mahasiswa atau bisa juga dengan menyampaikan secara langsung isi dari ilmu tersebut kepada masyarakat melalui pelatihan atau diskusi-diskusi.

Peran terhadap Masyarakat

Terlepas dari kewajibannya sebagai bagian dari sebuah perguruan tinggi, mahasiswa sering digadang-gadang memiliki tiga fungsi tambahan yang merupakan manifestasi dari harapan besar masyarakat terhadapnya. Ketiga peran tersebut adalah mahasiswa diharapkan dapat menjadi agent of change, iron stock, dan moral force.

Sebagai agent of change telah terbukti bahwa mahasiswa memang memiliki peran yang dapat mengubah suatu keadaan. Soekarno-Hatta sebagai pemimpin bangsa membuktikan peran tersebut bahwa sebagai mahasiswa yang terpelajar dan terdidik mampu untuk membuat sebuah perubahan besar. Hal ini bukan suatu perkara mustahil untuk dilakukan. Kekuatan besar yang dimiliki mahasiswa sekaligus jiwa muda yang dipenuhi semangat pembaharu dapat menjadi modal utama untuk terus bergerak dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Mahasiswa dapat memberikan masukan-masukan sesuai ilmu yang dipelajarinya dan tentunya dengan perkembangan informasi yang lebih up to date kepada para pemegang kekuasaan. Upaya ini tak selamanya dilakukan dengan aksi demo yang terkesan anarki. Mahasiswa dapat memuwujudkannya melalui dialog ilmiah atau dengan menulis opini kepada media massa. Meskipun tidak serta merta mengubah keputusan, peran yang dilakukan mahasiswa melalui metode ini akan disoroti dan menjadi pertimbangan tersendiri dalam pengambilan keputusan selanjutnya.

Mahasiswa disebut juga sebagai iron stock. Dikatakan begitu karena mahasiswa diharapkan sebagai stok cadangan yang keras dan tangguh setangguh besi. Mahasiswa sebagai seorang intelektual diharapkan dapat mendalami ilmu sepenuh-penuhnya sehingga kelak dapat diaplikasikan dengan baik. Pengaplikasian dengan pemahaman yang benar tentunya akan menjadi sebuah kehebatan sendiri. Jika semua mahasiswa menyiapkan dirinya untuk memenuhi tanggung jawab tersebut, tak dapat dipungkiri bahwa kelak akan bermunculan pemimpin-pemimpin baru yang tangguh dan dapat diandalkan sesuai dengan bidang yang dikuasai masing-masing.

Mahasiswa yang dianggap sebagai siswa dengan pendidikan tinggi diharapkan memiliki kepribadian dan moral yang tinggi pula. Itulah mengapa mahasiswa juga memiliki perang sebagai moral force. Dengan ilmunya yang tinggi tentunya mahasiswa memiliki kesadaran dan penalaran yang tinggi pula untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Kesadaran tersebut tak hanya berlaku untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk diterapkan kepada lingkungan di sekitarnya. Dengan kemampuan ilmunya yang tinggi, mahasiswa diharapkan mampu mengubah keburukan yang terjadi di sekitarnya mulai dari lingkungan kampus maupun lingkungan negara dengan vokal menyuarakan protes terhadap ketidakadilan dan ketidakmoralan yang terjadi dalam lingkup negara.

Peran terhadap Keluarga dan Pribadi

Terlepas dari semua peran yang harus diemban mahasiswa di luar, mahasiswa tetap memiliki peran dan tanggung jawab terhadap keluarga dan dirinya sendiri. Peran ini barangkali terkesan sepele dan dianggap remeh, namun untuk memberikan sebuah peran dan tanggung jawab yang besar harus dimulai dari sebuah peran dan tanggung jawab yang kecil karena semuanya dimulai dari yang paling kecil dan paling dekat dengan diri mahasiswa itu sendiri. Demikian pula Allah SWT mengingatkan agar setiap insan menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (Q.S At-Tahrim ayat 6). Tentunya, kewajiban ini harus dilakukan sebagai pondasi utama untuk menyelamatkan masyarakat dan negara dari keburukan lainnya.

 Peran ini diwujudkan dengan meningkatkan integritas setiap mahasiswa sehingga memiliki jati diri yang tangguh dan tak terpengaruh dengan kondisi yang buruk. Peningkatan integritas merupakan upaya paling penting yang harus dilakukan karena seseorang tanpa integritas tak akan mampu menopang segala peran dan tanggung jawab lainnya. Upaya peningkatkan integritas dapat dilakukan dengan meningkatkan iman dan menggali potensi serta minat dan bakat masing-masing mahasiswa. Keimanan yang kuat dapat menjadi rem ampuh bagi mahasiswa dalam menjalankan setiap perannya. Penggalian potensi, minat, dan bakat dapat menjadi petunjuk khusus bagi mahasiswa agar dapat berperan dalam jalur yang tepat sehingga peran yang diberikan benar-benar bermanfaat dan tepat pada sasaran.

Semua peran di atas adalah tanggung jawab yang dibebankan kepada seorang mahasiswa. Setiap mahasiswa memiliki kewajiban untuk menjalankan semua peran tersebut tanpa terkecuali. Hal ini tidak dapat dianggap remeh karena setiap tanggung jawab yang dibebankan kepada setiap insan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Untuk itu setiap mahasiswa harus berusaha untuk menjalankan semua peran dan tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya.

Barangkali semua peran tersebut terkesan banyak dan sangat berat untuk dilaksanakan, namun setiap mahasiswa harus mengingat bahwa Allah tak akan pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya (Al-Baqarah 286). Maka, sudah sepantasnya seorang siswa yang maha memiliki peran maha serta tanggung jawab yang maha pula.